Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Jualan apa
Selama jam pelajaran sisa hari itu, Arga lebih banyak melamun dan menatap ke luar jendela kelas.
Beberapa kali guru menegurnya, tetapi ia tidak terlalu ambil pusing.
Ketika bel pulang berbunyi tepat pukul dua siang lewat tiga puluh menit, Arga malah ketiduran di mejanya.
Saat ia terbangun, suasana kelas sudah sepi dan seluruh murid ternyata sudah pulang.
Ia mengucek matanya lalu menoleh ke arah jam dinding. "Lah, sudah jam 3 lewat. Wah, ini pasti sengaja gak ada yang mau ngebangunin," gumamnya.
Arga membereskan buku-buku dan tasnya dengan santai, lalu berjalan keluar kelas.
Sembari melangkah, ia memeriksa ponselnya, sebuah ponsel pintar model lama yang ia ingat betul dibeli dari hasil keringatnya sendiri di masa lalu.
"Langsung pulang gak ya?" Arga menimbang-nimbang. "Ah, nanti saja. Lagi pula buat apa pulang cepat? Di rumah itu aku cuma diabaikan seolah gak ada, atau paling ujung-ujungnya cuma diomelin."
Ia menuruni tangga menuju gerbang sekolah dan sempat menyapa satpam yang sedang bertugas.
Begitu sampai di pinggir jalan raya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. "Enaknya pergi ke mana ya?"
Pada akhirnya, Arga hanya mengikuti langkah kakinya secara acak.
Sembari berjalan santai, ia kembali memikirkan kejadian aneh yang menimpanya.
Kembali ke masa lalu adalah hal yang sulit dipercaya, tetapi nyata ia alami saat ini. "Aneh bin ajaib ini mah," pikirnya.
Langkah Arga mendadak terhenti di dekat sebuah tempat pembuangan sampah.
Matanya tertuju pada sebuah gitar akustik yang tergeletak di sana.
Arga mendekat dan mengambilnya untuk diperiksa. "Bisa-bisanya barang sebagus ini dibuang. Padahal cuma lecet sedikit dan masih bagus loh," gumamnya.
Ia membawa gitar itu lalu menoleh ke arah sebuah minimarket di seberang jalan. "Pengen beli rokok, tapi gak punya duit."
Arga menghela napas. Seingatnya, sebagian besar uang hasil kerjanya dulu selalu ia simpan di tabungan bank dan dihemat seketat mungkin demi biaya kuliah.
Namun sekarang, ia sudah tidak peduli lagi dengan urusan kuliah atau mengejar pengakuan semu dari keluarganya.
Karena bingung harus ke mana lagi, Arga memutuskan untuk duduk di bangku sebuah halte bus.
Ia mulai memetik senar gitar tersebut secara asal.
Dulu, ia sengaja belajar bermain gitar secara otodidak hanya karena cemburu melihat Devan yang tampak keren saat bermain musik.
Walaupun jemarinya agak kaku, alunan nada yang dihasilkannya tetap cukup enak didengar.
Saat Arga sedang asyik memejamkan mata menikmati petikannya, beberapa orang pejalan kaki tiba-tiba berhenti di depannya.
Mereka mendengarkan sejenak, lalu melemparkan beberapa lembar uang receh ke dalam wadah di dekat kakinya.
Arga tertegun melihat uang itu. 'Memangnya tampangku mirip pengamen jalanan ya?' batinnya keheranan.
Namun, ia tetap memungut uang itu karena lumayan untuk tambahan.
Saat itulah, telinganya menangkap suara yang tidak asing dari kejauhan. "Kacang-kacangan! Minuman dingin juga ada!"
Arga mengernyitkan dahi dan memperhatikan sosok remaja yang sedang berjalan memanggul kotak dagangan. "Bukannya itu anak berkacamata yang di kantin tadi? Ngapain dia di sini?" tanya Arga dalam hati.
Remaja itu adalah Dimas, yang ternyata sedang sibuk berjualan asongan.
"Jualan apa, Dim?" tanya Arga saat Dimas melintas di depannya.
Dimas menoleh spontan. "Jualan jajanan ring—" Kalimatnya terputus dan matanya melotot syok saat mengenali siapa yang menyapanya. "K-kamu?!"