8 tahun yang lalu, seorang anak perempuan menatap penuh binar bahagia pada pangeran impiannya. Selalu mengingat apa yang pria idaman nya itu katakan.
"Tumbuh lah menjadi wanita cantik, karena aku tidak suka wanita jelek!!!"
Wanita itu pun tumbuh dengan baik, bahkan terlalu baik. Tumbuh yang ia yakini malah menjadi salah arti, setiap hari ia mengkonsumsi makanan yang menurutnya mempercepat pertumbuhan. Ya... Ia tumbuh... Tapi tumbuh menjadi besar dan lebar.
"You know me?"
Erlangga Saputra.
"Om Ganteng..."
Mia Sophia Adinata.
follow my ig @ismi_kawai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Kawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBT 28
Kediaman Sastroadji
"Angga, nanti malam kamu anter Mama ya!"
Ya ampun, Angga pulang dengan pikiran kusut. Nyonya Anggun seolah tidak melihat itu di wajah anaknya.
"Mau kemana malem-malem?" Angga membanting tubuhnya ke sofa. Memejamkan mata sambil mengurut pangkal hidungnya.
Hani datang menghampiri tunangannya itu. "Memangnya Bara gak bilang, klo kamu ada undangan pesta pembukaan perusahaan baru Adinata Group?" Hani duduk di samping Angga dan merebahkan kepala pada bahunya. "Kamu dari tadi kenapa seh? Udah ninggalin aku di Cafe, sekarang lupa klo ada undangan."
"Adinata Group?" Angga bergumam.
"Kamu sakit? Klo iya, kita gak usah datang!" Ujar Hani khawatir.
"Kita datang, harus datang! Aku mandi dulu." Angga langsung melesat pergi untuk membersihkan diri. Tanpa disadari ia menarik ujung bibirnya membentuk seringai.
Kita ketemu lagi, Mia.
Nyonya Anggun dan Hani menatap Angga heran. "Ada apa dengannya?" Hani hanya menggedikkan bahu tanda tidak tahu.
"Ayo kita bersiap, nanti sekalian Mama mau undang pernikahan kalian disana,"
"Iya Ma." Hani tersenyum senang, sedikit lagi impiannya terwujud. Menjadi Nyonya Erlangga.
🌷🌷🌷
Kediaman Haris Bintara
Haris sedang melamun dikamarnya, menatap langit-langit seolah ada yang menarik disana. Bayangan kejadian tadi sore terlintas dengan baik tanpa perduli dengan Haris yang menahan malu karena di tolak cintanya.
Beg* banget seh, harusnya tadi gue gak langsung nembak!
Menenggelamkan kepala pada bantal, berharap perasaannya lebih baik malah membuatnya sesak nafas. (Iya lah sesek, idungnya di sumpel bantal).
"Huaaaaahhh." Haris terengah-engah.
"Lagi ngapain lo?" Farel datang dengan tiba-tiba.
"Lo tuh ya seneng banget bikin gue jantungan!" Haris mengelus dadanya.
Farel tersenyum jenaka melihat wajah Haris yang memerah. Entah karena kaget atau malu karena ketahuan melakukan hal aneh seperti menyumpal muka dengan bantal.
Haris menatap penampilan Farel yang sangat rapi menggunakan setelan Jas hitam. "Mau kemana lo?"
"Hm... Nemenin ortu ke acara pembukaan perusahaan baru rekanannya." Farel merebahkan diri di samping Haris. "Tapi gue males, apa gue disini aja ya! Nginep di rumah lo."
"Pergi aja sana! kasur gue jadi sempit ada lo."
"Ck, pelit lo!" Farel berdecak kesal.
"Klo pulangnya lo mau nginep boleh, tapi bawa makanan!"
"Pamrih lo."
"Tadi gue nembak Mia."
Sejenak suasana hening. Farel mendadak menegang mendengar pengakuan Haris yang ia kenal tidak cukup berani untuk melakukan itu.
Farel memandang Haris dengan tatapan yang sulit diartikan. "A-apa?"
"Gue nembak Mia." Haris tersenyum penuh arti "trus..."
Dengan menafan nafas Farel menunggu Haria meneruskan kata-katanya. Seperti menunggu vonis hukuman mati, keringat dingin keluar dari pori-porinya. Ada rasa tidak rela ketika tau Haris bergerak cepat untuk menembak Mia.
Gue gak siap klo sampe Haris jadian sama Mia.
"Trus apa? Lo jadian? Dia terima lo?"
Farel memberondong pertanyaan beruntun pada Haris yang masih menggantung kata.
"Kenapa lo heboh banget? Emangnya gak boleh gue jadian sama dia?"
"Jelas gak boleh! Karena gue..."
"Lo apa?"
"Gue suka Mia."
Haris berdecak "Gue pikir lo gak serius, Raisa mau lo kemanain? Enak banget lo udah nyicip trus lo lepehin gitu aja!"
Bibir Farel terkatup rapat, ia bingung mau menjawab apa. Malam itu dia mabuk dan saat sadar Raisa ada di ranjang yang sama dengannya. Raisa mengaku Farel yang mengambil keperawanannya. Dulu dia tidak perduli akan hal itu, tapi kini setelah kenal Mia, Farel menjadi tidak tega.
Dia tidak mau menjadi pria yang makin brengsek dengan meninggalkan Raisa begitu saja. Tapi bagaimana hatinya? Hatinya yang telah pergi berhaluan arah, dan memilih Mia sebagai pemiliknya.
"Lupain Mia! gue udah jadian sama dia. Dia pacar gue sekarang, mending sekarang lo belajar mencintai Raisa."
Haris terpaksa berbohong, ia tidak mau Mia jatuh kedalam masalah karena berhubungan dengan Farel. Bukan Haris tidak percaya Farel, tapi dia lebih tidak percaya Raisa. Mia mungkin akan sakit hati jika tau sejauh mana Farel dan Raisa berpacaran. Karena itu Haris sebisa mungkin menjauhkan mereka. Meski ia tau sahabatnya itu benar menyukai Mia.
Sorry, gue begini demi Mia. Gue gak mau dia merasakan sakit hati lagi, karena hatinya saat ini sedang gak baik.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
btw ceritanya seruu....