Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Kesadaran Senja kembali perlahan, seperti kabut yang menyingkir sedikit demi sedikit.
Yang pertama ia rasakan adalah hangat.
Bukan hangat mimpi, melainkan hangat yang nyata, membungkus tubuhnya hingga ujung jemari.
Ia membuka mata. Langit-langit putih langsung menyambutnya. Langit-langit yang terlalu tinggi, terlalu bersih, terlalu… asing, sangat berbeda dari apapun yang pernah ia kenal.
Beberapa detik ia hanya menatap kosong, sampai ingatan semalam menimpa seperti gelombang kecil. Senja seketika terhenyak, langsung terduduk. Selimut melorot dari bahunya, memperlihatkan ranjang besar dengan sprei rapi dan aroma sabun yang lembut. Jantungnya berdegup cepat, napasnya tertahan.
Ini bukan taman.
Ini bukan bangku besi.
Ini bukan dunia beku yang semalam memeluknya.
Ia menoleh ke sekeliling. Kamar itu luas, jendela besar tertutup tirai tipis. Cahaya pagi menyusup masuk dengan sopan. Ada sofa kecil, meja kayu, dan lemari yang ukurannya bahkan lebih besar dari seluruh ruang tidur di rumahnya dulu.
"Ini… di mana?" gumamnya pelan.
Kepanikan sempat naik, tapi hanya sebentar. Karena ingatan itu datang.
Pelukan.
Suara berat yang ia kenal.
Dan bisikan, 'Iya, aku di sini'.
Dadanya menghangat sekaligus perih.
Matanya berkaca-kaca.
Sepertinya itu bukan mimpi, terkanya di dalam hati.
Perlahan ia menuruni ranjang. Pandangan masih menyisiri kamar luas yang membuatnya merasa kecil. Ini bukan rumah orang tuanya. Ini bukan tempat yang pernah ia datangi. Ini… terlalu layak untuk seseorang sepertinya.
Langkah kakinya ragu saat membuka pintu. Aroma makanan langsung menyentuh hidungnya. Dari arah dapur, terdengar bunyi piring dan sendok.
Ia mengintip.
Sagara berdiri di sana, membelakanginya. Tegap, gagah, dan rapi, seolah dunia selalu tunduk pada garis bahunya. Gerakannya tenang, terkontrol, seperti seseorang yang terbiasa memegang kendali, bahkan dalam hal sekecil menyiapkan segelas susu hangat.
Senja mematung. Rasanya aneh. Pria yang menjadi sebab keruntuhan hidupnya kini juga menjadi satu-satunya alasan ia masih bisa bernapas dengan tenang.
Sagara menoleh. Matanya langsung menangkap keberadaan Senja. "Kamu sudah bangun," katanya datar. Bukan dingin, tapi terkendali.
"Masih lemes?" imbuh Sagara lagi.
"Sedikit," jawab Senja lirih.
"Duduk."
Satu kata, tegas tanpa bisa dibantah. Senja menurut. Ia kian mendekat, lalu duduk di kursi. Tangannya saling meremas di pangkuan. Sagara meletakkan segelas susu hangat di depannya.
"Minum. Tubuhmu butuh tenaga."
Senja menatap gelas itu lama, seolah takut itu hanya mimpi.
"Om… aku merepotkan, ya?"
Sagara berhenti bergerak. Menatap wajah polos Senja lurus. "Tidak."
Satu kata lagi, pendek, tegas. Tidak membuka ruang untuk sanggahan.
Senja menunduk. "Seingatku semalam… aku tertidur di taman."
"Aku yang membawamu ke sini," jawab Sagara, lalu lanjut berkata. "Dan aku tahu kondisi rumahmu."
Senja terkejut kecil. Ia mengangkat wajah. "Om tahu?"
"Tahu," jawabnya tenang. "Orang tuamu sudah mengusirmu."
Kalimat Sagara tidak diucapkan dengan emosi, tapi justru karena itulah rasanya berat.
Senja menggigit bibir, menahan getar di dadanya. "Aku… sudah nggak punya rumah."
"Aku tahu."
"Aku juga… hamil."
"Aku tahu itu juga."
Senja terdiam. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena takut, tapi karena ia tidak perlu lagi menjelaskan atau membela diri.
Senja mengaduk supnya pelan. Sendoknya beradu dengan mangkuk, bunyinya kecil, tapi cukup untuk menandai kegelisahan yang sejak tadi ia tahan.
"Om…," panggilnya ragu.
Sagara mengangkat pandangannya. "Apa?"
Senja menunduk lagi. Satu tangannya meremas ujung lengan bajunya. "Waktu aku… nyoba hubungi Om… sebelum semuanya berantakan… nomor Om nggak aktif." Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan suara lebih lirih. "Aku nelepon berkali-kali. Kirim pesan juga. Tapi semuanya nggak terkirim. Aku sampai mikir…" Ia menggigit bibir. "Om Sagara sengaja menghilang."
Ruangan terasa hening sesaat.
Sagara tidak langsung menjawab. Ia berdiri, menuang air minum ke dalam gelas, lalu meletakkannya di depan Senja dengan gerakan tenang. Seolah ia ingin memastikan emosinya tetap di tempat sebelum berbicara.
"Ponselku hilang di Singapura. Dicopet," katanya akhirnya. Nada suaranya datar, tapi tegas.
Senja mendongak kaget. "H-hilang…?"
"Nomor itu ikut mati. Aku baru bisa pulang setelah semuanya selesai."
Senja menelan ludah. "Jadi… Om nggak pernah baca pesanku?"
"Tidak satu pun."
Wajah Senja berubah. Perih, lega, sekaligus malu bercampur jadi satu.
"Aku kira… aku kira Om pergi karena menyesal."
Sagara menatap Senja lurus. "Kalau aku ingin pergi, aku tidak akan meninggalkan pesan."
Senja terdiam. Kalimat Sagara tidak terdengar manis, tapi justru itulah yang membuatnya terasa jujur.
"Aku kembali ke Indonesia kurang dari satu jam," lanjut Sagara. "Dan hal pertama yang kulakukan adalah mencarimu."
Senja menatapnya, matanya berkilat. "Padahal Om pasti capek…"
"Itu bukan alasan untuk menunda tanggung jawab." Nada Sagara terdengar dingin, dewasa, tanpa drama, tapi di dalamnya ada keteguhan yang membuat Senja merasa aman.
"Aku datang ke rumahmu," kata Sagara lagi. "Dan aku tahu apa yang terjadi dari orang tuamu."
Senja menunduk. "Orang tuaku… kasar."
Sagara tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras sedikit, bukan marah, melainkan menahan sesuatu yang lebih berat. Ia menarik napas pendek sebelum bicara.
“Yang pantas menerima amarah mereka itu aku.” Nada suaranya datar, tapi tegas. Tidak membuka ruang bantahan. Sagara menatap Senja lurus. "Bukan kamu."
Hening jatuh di antara mereka.
"Aku pria dewasa di situasi itu," lanjutnya, lebih pendek lagi. "Dan aku bertanggung jawab."
Tidak ada kata-kata berlebih. Tidak ada pembelaan panjang. Hanya pernyataan yang berdiri seperti garis lurus, dingin, kokoh, dan tak tergoyahkan.
Senja menelan napas. Dadanya bergetar, bukan karena sedih, tapi karena merasa kini tak sendirian menanggung aib.
Beberapa detik hening berlalu. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, tapi penuh tekad Senja berkata.
"Kalau… kalau boleh… untuk sekarang… aku ingin tinggal di sini." Ia mengangkat wajahnya. Tatapannya jujur, polos, dan rapuh. "Aku cuma ingin punya tempat pulang, bukan pulang yang selalu berarti dimarahi," ucapnya. Bukan karena ia ingin nyaman, tapi karena ia ingin kuat.
Senja tidak sedang meminta dengan emosi, tidak dengan tangis yang meledak, tidak pula dengan drama yang mengiba. Ia meminta karena ia mulai mengerti satu hal sederhana, hidup butuh tempat berpijak.
Ia sudah terlalu lama hidup sebagai anak yang bertahan dari hari ke hari. Sebagai anak yang cukup dengan asal ada, asal tidak merepotkan, asal tidak dimarahi. Tapi sekarang, ia membawa kehidupan lain di dalam tubuhnya.
Dan untuk pertama kalinya, Senja tahu… bertahan saja tidak cukup. Ia butuh rumah. Bukan hanya untuk tidur, api untuk tumbuh, untuk berpikir, untuk menata masa depan.
Di kepalanya terlintas samar mimpi yang dulu pernah ia simpan rapi, kuliah, punya pekerjaan yang layak, berdiri dengan kakinya sendiri. Ia tidak ingin selamanya bergantung.
Ia hanya ingin punya waktu untuk bangkit. Maka ketika bibirnya bergerak, itu bukan suara anak yang manja. Itu suara seorang perempuan muda yang sedang belajar menjadi dewasa terlalu cepat.
Sagara menatap Senja lama. Raut wajahnya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang bergetar jauh di balik mata itu. Sesuatu yang tidak ia izinkan keluar.
"Kau boleh tinggal,” katanya akhirnya. “Selama kau butuh.”
Dan Senja tahu, kalimat itu bukan sekadar izin. Itu adalah pintu pertama menuju hidup yang tidak lagi sekadar bertahan.
"Terima kasih, Om…"
"Habiskan makananmu."
“Kita akan bicara pelan-pelan nanti.” Nada suaranya tetap sama, tenang, terkontrol, penuh tanggung jawab. Namun, di dalam dirinya, konflik itu bergolak diam-diam.
Sagara tahu Senja masih terlalu muda. Dunia gadis itu masih panjang. Terlalu panjang untuk dikurung dalam hidup seorang pria dewasa yang penuh beban seperti dirinya. Namun, itu bukan sesuatu yang akan ia ucapkan hari ini. Bukan di saat Senja masih membutuhkan rumah.
Bersambung~~