Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Orangtua
Pagi-pagi sekali bahkan sebelum terbitnya matahari, berbekal sebuah peta yang semalam ditemukan di sela-sela lemari tua, Alina telah tiba di sebuah tempat, tempat yang berada beberapa langkah dari rumah kayunya.
Tempat Alina berada saat ini sangatlah sunyi, bahkan burung pun jarang singgah di tempat itu.
Menggenggam erat peta yang terbuat dari kulit binatang yang telah dikeringkan, sekali lagi Alina memastikan tanda-tanda yang ditemuinya sesuai dengan gambaran peta.
Sungai kecil di kejauhan, batu pipih yang setengah tertanam di tanah, dan arah matahari pagi.
“Aku yakin ini memang tempatnya,” ucapnya pelan, sambil menatap pohon tinggi besar yang diperkirakan usianya sudah ratusan tahun.
Sengaja ia tidak meminta bantuan Sistem untuk memastikan keberadaan tempat yang tengah dicari.
Bukan karena lupa, melainkan karena sejak awal, catatan di peta menegaskan satu hal, yaitu apa yang tertulis di peta bukanlah milik Sistem.
Alina berjalan mendekati akar pohon besar itu.
Di sela akar, ia menemukan tanah yang terlihat sedikit lebih gembur dibandingkan sekitarnya, walau jelas itu tidak seperti tanah yang baru digali.
Alina berlutut, lalu ia mulai menggali dengan cangkul kecil yang biasa digunakan untuk membersihkan rumput.
Tanah yang digali terasa lembap dan hangat.
Semakin dalam Alina menggali, semakin kuat perasaannya mengatakan kalau apa yang sedang digali bukanlah milik orang lain, tapi sejak awal itu adalah miliknya.
Tak lama kemudian, jemari tangan Alina menyentuh sesuatu yang keras.
Sebuah peti besi kecil berlapis kayu jati tua tertanam rapi di dalam tanah.
Sejenak Alina menahan napasnya.
Setelah napasnya kembali normal, ia membersihkan permukaan peti itu secara perlahan.
Tidak ada kunci atau gembok yang perlu dibuka, hanya ada pengait besi sederhana yang dengan mudah bisa dibuka.
Dengan tangan sedikit bergetar, Alina membuka pengait besi.
Klek.
Peti itu terbuka.
Di dalamnya, tersusun rapi beberapa benda yang langsung membuat pandangan Alina kabur oleh air mata.
Bukan karena sedih, tapi ia begitu bahagia karena begitu tutup kotak kayu terbuka, benda pertama yang ia lihat adalah secarik foto, foto sebuah keluarga, ada ayah, ibu, dan putri kecil yang sepertinya baru berusia beberapa hari.
Tanpa perlu bertanya pada siapa-siapa termasuk pada Sistem. Alina yakin foto itu adalah dirinya yang baru lahir dan orangtuanya.
Cepat ia menyimpan foto itu di ruang penyimpanan Sistem, tempat paling aman untuk menyimpan barang.
Begitu kembali mendapatkan ketenangannya, Alina fokus pada map cokelat tebal berisi dokumen.
Ia mengambilnya dan membuka halaman pertama dokumen.
“Surat Tanah!” gumamnya.
Nama pemilik tercantum jelas. “Atas Nama Alina Grace?!”
Sebuah nama yang disandangnya sejak terusir dari keluarga Kalingga, yang mana nama itu dulunya digunakan oleh wanita yang sekarang telah kembali ke keluarga kandungnya.
Wanita itu walau sudah memiliki nama yang bagus, tapi ia lebih suka dipanggil penduduk desa dengan panggilan Lilia, sampai akhirnya namanya dirubah total begitu kembali ke keluarga kandungnya.
Sekarang nama Alina Grace kembali ke pemilik aslinya, yang artinya surat tanah itu adalah milik Alina, bukan milik orang lain.
Kembai fokus pada surat tanah di tangannya, Alina kini mengetahui luas tanah itu jauh lebih besar dari ladang kecil yang selama ini ia rawat.
Bukan, sebuah ladang lain di Desa sebelah, melainkan ada surat tanah lain yang lokasinya tersebar di beberapa tempat, bahkan ada yang berada di pusat kota.
Dengan tangan bergetar, Alina perlahan menutup map yang ia pegang.
“Ayah, Ibu, apa yang kalian tinggalkan, aku pasti menjaganya!” suaranya tercekat.
Melihat ada map lain, ia mengambil map itu dan dengan tangan masih bergetar, pelan ia membuka map itu.
Sebuah surat kepemilikan rumah, yang mana alamatnya berada di kota.
Itu bukan rumah biasa.
Dari spesifikasinya, Alina tahu itu adalah rumah mewah yang sangat luas, dan berada di kawasan elit yang tenang.
Dia lama tinggal di kota, dan dia tau alamat rumah itu.
Mengetahui semua itu, Alina termenung cukup lama.
Pagi ini ia benar-benar dikejutkan dengan semua hal baru yang benar-benar baru diketahuinya, dan itu semua berkaitan dengan orangtuanya.
Cepat menyimpan barang-barang penting itu ke ruang penyanyi menyimpan Sistem, Alina fokus pada kantong kain kecil berwarna hitam.
Saat ia membuka ikatan kain, saat itu juga kilau kuning keemasan memantul terkena cahaya pagi.
“Ba...Batangan emas!” Alina terperangah.
Jumlahnya memang tidak banyak, tapi jelas mas-mas itu bernilai sangat tinggi.
Disusun rapi, terawat, dan disertai catatan berat serta tanggal penyimpanan.
Dengan gerakan cepat, Alina memasukkan kantong berisi emas batangan ke ruang penyimpanan sistem.
Kini fokusnya tertuju pada benda terakhir di dalam kotak kayu.
Dilihat saja, benda itu tipis, dan jelas itu bukan benda yang berbobot.
“Buku tabungan dan ini juga ada kartu bank~”
Alina ragu antara membuka dan mengecek isi buku tabungan, atau membiarkan tetap tertutup rapat.
Tetapi karena penasaran, ia pun membukanya dengan hati-hati.
Begitu terbuka, tepat di halaman terakhir muncul angka saldo yang seketika itu juga membuat Alina menarik napas dalam-dalam.
Bukan jumlah yang tidak masuk akal.
Namun cukup untuk membuat siapa pun hidup tenang tanpa harus bekerja selama bertahun-tahun, bahkan sampai dia keturunan selanjutnya.
Tetapi perhatian Alina cepat tertuju ke sesuatu yang melekat di halaman belakang buku tabungan.
Itu selembar kertas kecil, dan begitu Alina membukanya, ternyata itu adalah sebuah surat yang ditulis menggunakan tulisan tangan.
“Untuk Alina.”
Jika kamu membaca ini, berarti kau sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri.
Harta ini bukan untuk membuatmu hidup nyaman.
Melainkan agar tidak ada satu orang pun di luar sana yang meremehkanmu!
Oh iya, sebenarnya kami sudah tau apa yang akan terjadi di masa depan berkat Sistem ajaib milik Ayahmu, tapi kami tidak berencana merubah takdir karena resikonya bisa merusak dunia.
Kami memang tidak bisa merubah takdir, tapi kami bisa bersiap sebelum takdir kematian datang, juga takdir dimana kamu akan tertukar dengan putri orang lain.
Selain itu, kami juga telah menjalin kesepakatan dengan para Tetua Desa, dimana kami memberitahu mereka tentang peristiwa dimana kamu akan tertukar.
Putriku, para Tetua Desa adalah orang yang sangat bisa dipercaya, jadi jangan ragu menjalin hubungan dengan mereka!
Terakhir, aku ibumu dan juga ayahmu, kami sangat menyayangimu!
***
Membaca surat yang ditulis langsung oleh Ibunya, Alina seketika tak kuasa menahan keluarnya air mata.
Ia tidak menangis, hanya saja air mata itu terus keluar, sebuah air mata yang menandakan kesedihan juga kebahagiaan.
Tetapi tak lama kemudian perhatiannya tertuju pada pesan singkat di balik surat~
“Putriku~, hubungi nomor orang ini jika kamu membutuhkan bantuan!”
[Ding!]
Nama Pemilik Nomor: Adrian Pratama
Jabatan: Asisten Keuangan Keluarga Grace
Nomor Telepon: (masih aktif)
Alina tertegun, bingung, terkejut, juga tak menyangka jika masih ada orang yang memiliki hubungan dengan orangtuanya.
“Asisten keuangan keluargku?” ujarnya.
Tiba-tiba Alina tersenyum, dan setelah menyimpan semua barang temuannya termasuk kotak kayu yang isinya sudah dikeluarkan, ia bermaksud pulang, tapi seketika perhatiannya tertuju ke dalam lubang, dimana dia melihat sesuatu di bawah sana.
“Apa itu?~”