Ini kisah kejiwaan seseorang yang diakibatkan oleh trauma masa lalu, bercerita tentang seorang gadis yang tidak bisa melepaskan kenangan masa lalu yang telah merenggut kehormatannya. Dia habiskan bertahun-tahun hanya untuk bertemu dengan pria yang ternyata tidak pernah mengingatnya sama sekali.
Akankah dia menemukan kebahagiaan yang telah hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simple Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTSD - 28
Astri menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata tak dapat dibendung lagi. Sakit hatinya mendengar pengakuan anak semata wayangnya itu, anak yang selama ini dikasihi dan dijaga sedemikian rupa, ternyata malah jadi korban pemerkosaan.
Ingin menjerit, ingin menjerit sekuat tenaga.
Tak bisa membayangkan kondisi anak yang sangat disayanginya ketika kejadian itu berlangsung. Dia pasti sangat ketakutan. Dia pasti sangat ketakutan dan kesakitan, dan aku tidak ada di sana untuk melindunginya. jerit hati Astri.
Mel merangkul bahu Astri, mencoba menenangkannya.
“Maafkan aku Tante,” bisiknya pelan.
Astri menggelengkan kepalanya pelan, mengangkat wajah basahnya menatap Melinda, “Tidak, kamu tidak salah. Malah Tante berterima kasih kamu bisa mengorek kejadian yang sebenarnya dari Ayya. Dia sangat tertutup, tapi dia mau terbuka padamu,” Astri mengusap wajahnya dengan tisu.
“Apakah Tante ingin melanjutkan mendengarkan rekaman ini?”
“Ya, lanjutkan Mel. Tante ingin tahu semuanya,” Astri menarik nafas dalam, mencoba untuk tegar.
“Baik Tante.”
Audio kembali diputar.
“Apa yang terjadi setelah itu Mbak?” [suara Mel].
“Dia pergi meninggalkan aku yang menangis.” [suara Ayya].
“Apa Mbak Ayya mengenal laki-laki itu?” [suara Mel].
“Tentu saja aku mengenalnya, dia idola di kampusku Mbak.” [suara Ayya].
“Ohh… jadi dia teman kuliah.” [suara Mel].
“Dia kakak tingkatku yang sedang merayakan kelulusan.” [suara Ayya].
Hening.
“Setelah itu, aku sakit Mbak, berbulan-bulan, tidak mau keluar dari kamar. Aku mengurung diri dan mengisolasi diriku sendiri. Aku menolak siapapun yang datang termasuk temanku yang mengajakku ke pesta itu. bahkan aku membencinya dan menganggap kalau dia telah menjerumuskan aku. Kerjaku hanya berbaring di tempat tidur. Kejadian itu terus menghantuiku. Aku sering bermimpi dan menjerit-jerit histeris. Yang aku rasakan saat itu adalah bahwa masa depanku hancur karena sekarang aku sudah tidak suci lagi, aku membenci dia setengah mati karena telah merenggut kehormatanku.” [suara Ayya].
“Tentu saja itu yang akan dirasakan oleh setiap korban pemerkosaan, Mbak.” [suara Mel].
“Segala pengobatan dilakukan oleh kedua orangtuaku, dari mulai memanggil dokter, psikiater, bahkan orang pintar. Mereka ingin agar aku kembali ceria seperti dulu. Tapi karena aku tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya maka tidak ada satupun yang mampu mengobatiku, selain diriku sendiri.” [suara Ayya].
“Akhirnya…” [suara Ayya].
Hening.
“Setelah sekian lama, aku merasa kasihan pada Mama yang sering menangis dan memohon di hadapanku agar aku sembuh, dan aku juga merasa bahwa dia harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukannya atas diriku, maka perlahan aku bangkit Mbak. Aku mencoba hidup normal kembali.” [suara Ayya].
Astri tersedu-sedu mendengarkan rekaman itu
“Setelah aku sembuh, aku menolak untuk kembali kuliah, aku lebih memilih belajar pastry dan tata boga. Aku merasa bisa menumpahkan seluruh rasaku pada masakan karyaku. Makanya mbak Mel bisa melihat karyaku lebih didominasi oleh warna putih dan warna-warna gelap, seperti hitam, biru tua, dan abu, aku juga menggunakan warna merah tua sebagai symbol warna darah yang tidak segar lagi, seperti lukaku yang sudah bertahun-tahun menganga.” [suara Ayya].
Mel mengakhiri audionya.
Astri mengusap air matanya yang tak mau berhenti luruh. Dia berusaha tegar, tapi tidak bisa. Ini terlalu menyakitkan. Sungguh menyakitkan. Bagaimana kalau suaminya tahu, apakah dia akan mampu menguasai emosinya? Apakah dia mampu menahan diri? Bagaimana caranya menceritakan ini pada Mahen?
“Tante,” Mel menyentuh tangan Astri yang sedang menangis, yang sedang bergumul dengan pikirannya sendiri.
Astri menarik nafas dalam, membuangnya kasar. Mata tuanya menatap Melinda.
“Aku minta maaf dan turut bersedih atas apa yang telah terjadi.”
Astri menggeleng-gelengkan kepalanya tak sanggup bicara.
“Tapi menurut aku, sekarang bukan saatnya untuk terus bersedih,” suara Mel lembut.
“Aku melihat kilatan aneh pada mata Ayya. Aku rasa sekarang ini hatinya dikuasai oleh dendam,” lanjutnya, “Kita harus segera menyelamatkannya Tante, sebelum semuanya terlambat.”
“Siapa laki-laki itu, Mel?!” Astri seolah tak mendengar perkataan Melinda.
“Aku juga tidak tahu Tante. Ayya tidak mau mengatakannya padaku.”
“Mengapa dia tidak mengatakannya sejak awal? Seandainya saja dia jujur, pasti laki-laki itu sudah mendekam di penjara!” suara Astri geram.
Mel diam.
“Aku tidak rela anakku dirusak! Aku tidak rela!”
“Tante, istighfar Tante,” Mel kembali mencoba menenangkan. Dia menyodorkan botol berisi air mineral yang dibawanya pada Astri, “Minum Tante, biar tenang.”
Astri menerimanya, lalu meneguk air itu dengan cepat seolah dia sangat kehausan.
“Sekarang ayo kita pikirkan bersama bagaimana caranya menyelamatkan Ayya agar tidak jatuh untuk kedua kalinya,” ucap Mel.
“Memangnya apalagi yang kamu tahu, Mel?” tanya Astri menatap Mel.
“Sebenarnya, setelah Ayya bangkit dari keterpurukannya, dia mencoba mencari laki-laki itu, Tante. Tapi tidak ditemukannya,” ucap Mel, “Hingga suatu hari, tiga bulan yang lalu, Ayya bertemu dengannya di sebuah mini market.”
“Jadi laki-laki itu sekarang ada di kota ini?!” suara Astri meninggi. Tiba-tiba saja amarahnya bangkit.
Mel menganggukkan kepalanya, “Tapi Ayya tidak memberitahuku siapa dan dimana dia tinggal.”
“Sepertinya dia punya tujuan tertentu, Tante. Mungkin untuk balas dendam. Itu yang aku tangkap dari pembicaraannya dan sorot matanya,” suara Mel tegas, “Makanya aku menghubungi Tante agar kita bisa bekerja sama untuk mencegah itu jangan sampai terjadi.”
Astri menarik nafas lalu menganggukkan kepalanya pelan, iya benar jangan sampai Ayya gelap mata hingga melakukan sesuatu yang akan membahayakan dirinya sendiri. Jangan sampai dia celaka untuk kesekian kalinya.
“Apa yang harus kita lakukan, Mel?” Astri menatap Mel menunggu jawaban yang akan menjadi solusi baginya untuk menyelamatkan Ayya. Dia tidak dapat berpikir jernih saat ini. Tiba-tiba saja otaknya beku.
“Menurut aku sih, yang pertama harus kita lakukan adalah memberitahu Papanya Ayya, Tante. Setelah itu, sebaiknya kita melakukan penyelidikan terhadap aktivitas Ayya sehari-hari, agar kita tahu apa yang sedang direncanakannya.”
Astri mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Tante akan menceritakan ini pada Papa-nya Ayya. Tapi sekarang dia sedang ke luar kota untuk urusan bisnis, lusa baru pulang. Semoga dia kuat mendengar semua ini,” ucap Astri lemah.
“Semoga,” jawab Mel mengamini, “Tapi usahakan jangan sampai Ayya tahu kalau Tante dan Om sudah tahu cerita yang sebenarnya.”
“Ya, tentu saja Mel, Tante akan berusaha bersikap wajar di depannya,” jawab Astri.
“Ya Tuhan… anakku…” ujarnya pelan.
Hening.
“Kita bisa bicara lagi bertiga ya Tante, segera.”
“Iya, segera.”
“Mel, Tante sangat berterima kasih sama kamu, kamu sudah mau membantu anak Tante, bahkan memikirkan keselamatannya. Terima kasih sudah memberitahu Tante kejadian yang sebenarnya. Kalau kamu tidak cerita, sampai kapanpun Tante tidak akan pernah tahu kejadian itu,” Astri menggenggam tangan Mel. Air mata kembali luruh di pipinya.
“Tolong temani anak Tante, jangan sampai dia merasa sendirian.”
“Sama-sama Tante. Buat aku Ayya sudah seperti saudaraku sendiri,” jawab Mel tersenyum tipis, memberi ketenangan dan kekuatan pada Astri.
Perbincangan mereka berakhir dengan pelukan hangat. Astri sangat berterima kasih pada Mel. Demikian pula dengan Mel, hatinya lega karena rencananya berjalan dengan baik.
🖤
Mel menatap kepergian Astri. Dipandangnya punggung yang melangkah menjauh menuju ke luar taman.
Kasihan Tante Astri, gumamnya. Dia ikut merasakan kepedihan yang saat ini dirasakan oleh Astri. Sebagai seorang ibu tentu sangat berat mengetahui kenyataan yang menimpa anak gadisnya. Di usia senjanya, Astri malah menerima cobaan yang sangat berat.
🖤🖤🖤🖤
Selamat membaca semuanya, semoga terhibur.
Maaf author gak bisa mengakomodir keinginan kalian satu persatu. Ini hanya hiburan dan sebagai bahan pembelajaran bagi kita, jadi jangan terlalu serius bacanya apalagi sampai bawa perasaan 😍😍😍
Salam sejahtera semoga bahagia selalu, aamiin...
𝚝𝚞 𝚕𝚊𝚑 𝚢𝚐 𝚊𝚍𝚊 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚢𝚢𝚊
𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚢𝚊