mengkisahkan seorang wanita yang di ajak menikah oleh seorang laki laki yang adalah CEO sebuah perusahaan besar di jakarta. yang hanya nya seorang gadis miskin dan sederhana tiba tiba menjadi angsa yang indah.
namun semua tidak berjalan dengan baik, ada rahasia yang tidak pernah di ketahui oleh laki laki yang menikahi nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - Keributan pagi.
Pagi Itu.
Adrian terbangun dan melihat Senja sudah tidak ada di samping nya. Ia pun merenggang kan tubuh nya lalu beranjak turun dari tempat tidur.
Ia melihat pakaian nya yang tergantung di depan lemari membuat Adrian tersenyum karena Senja menyiapkan pakaian nya sama seperti yang di tertulis di buku tentang apa yang harus di lakukan setelah menjadi istrinya.
Bryan lalu berjalan masuk ke kamar mandi. Senja tampak sedang bergelut di dapur dengan beberapa pembantu di rumah keluarga Adrian.
"Senja apa yang kamu lakukan sayang sepagi ini?." Tanya Bu Mira saat melihat senja tampak sudah di dapur sejak pagi.
"Saya sudah meminta Nona Senja jangan melakukan nya Nyonya, tapi Nona senja bilang mau memasak sendiri untuk sarapan."Jelas Pembantu yang ada di dapur.
Menantu keluarga itu tiba tiba terjun ke dapur tentu membuat para pelayan ketar ketir karena takut di salahkan oleh tuan rumah.
"Iya Tante, saya ingin memasak sendiri untuk sarapan, soal nya saya sudah terbiasa memasak."Balas Senja.
Bu Mira tersenyum. "Kok masih panggil Tante, Mama dong senja." Saut Bu Mira.
"Maaf Ma." Senja menggaruk kepala nya yang tidak gatal karena salah tingkah.
"Ya sudah, tidak apa apa Senja, kamu boleh melanjutkan nya, Adrian beruntung punya istri seperti kamu, rajin dan pandai memasak."Kata Bu Mira. Senja pun hanya membalas dengan senyuman.
Setelan menyiapkan sarapan. Ia pun menyajikan di atas meja. "Wah sudah siap ya?." tanya Bu Mira.
"Iya Ma."
"Wah seperti nya enak."Balas Pak Herman yang lansung duduk di kursi.
"Panggilkan suami mu, dia harus mencoba nya."Ucap Bu Mira. Senja pun mengiyakan dan berjalan pergi menuju ke kamar mereka.
Senja berjalan masuk ke dalam kamar nya, ia pun melihat Adrian yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk putih dari perut hingga lutut.
Senja di buat terperangah melihat bentuk tubuh Adrian yang atletis, perut itu terlihat kotak kotak seperti roti sobek.
"Jangan terlalu membayangkan menyentuh tubuh ku, karena itu tidak akan terjadi."Ucap Adrian yang seketika membuat Senja terbangun dari lamunan nya.
"Heh, anda terlalu pede sekali Tuan, lagi pula tubuh seperti kamu, di luar sana begitu banyak."Balas Senja.
"Apa kata mu." Adrian menatap senja dengan sorotan tajam yang seperti bersiap untuk menerkam nya.
"Em, Mama mu meminta aku memanggilmu untuk sarapan, aku akan menunggu mu di meja makan." Senja dengan cepat melarikan diri dari hadapan Adrian.
Adrian menarik nafas dan membuang nya dengan kasar, melihat wanita itu melarikan diri setelah mengatakan tubuh seperti nya banyak di luar sana.
Beberapa saat kemudian, Adrian pun ke meja makan, menatap senja dengan tatapan mengintimidasi, senja tentu menghindari tatapan seperti itu.
"Sayang, coba makanan buatan istri mu, dia sangat pandai memasak."Ucap Bu Mira.
"Iya Ma."Balas Adrian.
Senja pun lalu memberanikan diri melihat Adrian yang mulai menikmati makanan nya, berharap laki laki itu suka dengan masakan nya.
"Enak ya."Ucap Bu Mira.
"Di luar sana malah ada yang lebih enak ma dari ini."Ucap Adrian menyindir senja. Bu Mira dan Pak Herman pun saling menatap dengan heran.
"Dasar pendendam, bisa nya dia membalas ku begitu."Batin senja melihat Adrian dengan kesal.
"Kamu ini, harus memuji masakan istri mu, agar dia lebih semangat lagi memasak."Ucap pak Herman. Bu Mira pun tampak mengangguk setuju.
"Seperti nya Mas...Adrian harus belajar dari papa cara menyenangkan hati istri."Ucap Senja. "Iya kan mas."lanjut senja lagi.
Bu Mira dan Pak Herman pun tersenyum. sementara Adrian tampak diam datar namun mata nya bersinggung tatap dengan wanita itu.
"Ih kalian ini, mengemas sekali, malah bercanda Pagi pagi."Ucap Bu Mira.
Senja pun tersenyum membalas ibu mertua nya.
"Adrian, kapan kalian akan pergi bulan madu?." Tanya Pak Herman.
Adrian menatap senja. Senja pun tampak mengisyaratkan Adrian dengan gelengan kecil, agar Adrian menjawab tidak untuk bulan madu. "Secepat nya Pa."Balas Adrian. Senja pun mengendus kesal menatap pria itu. lagi lagi Adrian mengambil keputusan sepihak.