Gia tidak menyangka jika rekan kerjanya tega menaburkan bubuk beracun ke dalam perlengkapan make up-nya sehingga membuat wajahnya yang cantik berubah menjadi penuh koreng busuk dan menjijikkan. Karena hal itu pula Gia dihina dan dijauhi teman-temannya bahkan sampai dipecat dari pekerjaannya.
Setahun kemudian Gia kembali ke perusahaan itu untuk mengembalikan nama baiknya sekaligus membalas orang yang telah menghancurkan wajahnya.
Bagaimana cara Gia memberikan pembalasan yang setimpal kepada orang-orang yang telah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Peringatan
Gia sudah di tangani oleh dokter. Kondisinya sudah lebih baik meskipun disarankan untuk di rawat secara intensif. Arnold bertindak cepat dengan langsung membawa Gia ke rumah sakit terdekat.
Gia melamun, memikirkan bagaimana hal ini bisa kembali terjadi kepadanya. Setelah meracuni wajahnya, Gia pikir mereka tidak akan meracuninya lagi tetapi ternyata dia salah. Sekarang mereka justru melakukannya pada tubuhnya. Ya, sudah pasti mereka pelakunya, siapa lagi?
"Dokter mengatakan jika kulitmu terkena racun, semacam obat keras yang sangat berbahaya jika terkena kulit." Arnold terus menemani Gia mulai dari diperiksa sampai dia di rawat di ruang perawatan.
"Ya, aku tahu. Aku sudah pernah mengalaminya, dulu," balas Gia datar. Gia tidak terkejut karena pernah mengalami ini sebelumnya. Dia hanya tidak habis pikir, kok bisa?
"Kamu pernah mengalami ini?!" Sebenarnya Arnold sudah tahu ini, tetapi dia ingin mendengarnya dari Gia sendiri. Jadi dia pura-pura bertanya.
Gia mengangguk. "Ya, aku baru menyadarinya. Rasa panas yang tadi aku rasakan sama seperti waktu wajahku terkena racun, tetapi tadi rasanya jauh lebih panas. Aku tadi tidak sempat berpikir ke arah sana. Setelah membuka baju tadi dan melihat kulitku memerah, aku baru sadar jika ini racun yang sama."
"Aku akan mengusut siapa pelakunya!"
"Tidak usah Arn, aku sudah tahu siapa mereka. Aku sudah memiliki rencana untuk mereka."
"Baiklah, terserah kamu saja. Yang penting sekarang kamu tidak apa-apa. Aku sudah memberikan pakaian yang tadi kamu pakai untuk diambil sampel racun yang mungkin masih menempel di sana."
Gia tersipu. Barulah sekarang dia merasa malu. Tadi Arnold memintanya untuk melepaskan pakaiannya hingga hanya menyisakan pakaian dalam yang melekat di tubuhnya. Gia melakukannya tanpa sadar karena memang rasanya seperti terbakar dan sangat menyakitkan. Lalu Arnold memberikan kemeja yang sedang dia pakai untuk menutup tubuh Gia, sehingga laki-laki itu sekarang hanya memakai singlet saja sebagai atasannya.
"Terima kasih Arn, aku tidak tahu bagaimana kalau tidak ada kamu tadi."
"No problem, baby. Istirahatlah. Aku akan keluar sebentar untuk membeli pakaian untukmu. Melihatmu memakai kemejaku membuat pikiranku tidak fokus." Sekali lagi Gia tersipu.
"Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sendirian?"
"Aku tidak apa-apa. Pergilah."
Lalu Arnold pun pergi meninggalkan rumah sakit. Dia melihat Gia sudah ditangani dengan baik jadi dia tidak begitu khawatir meninggalkannya sendirian. Sekarang ada sesuatu yang lebih penting yang harus dia urus.
Sementara itu, Rivani sudah pulang ke rumah. Dia melihat ibunya sedang menonton televisi tetapi tidak melihat tanda-tanda keberadaan Gia. "Dimana kakak?" tanyanya.
"Tadi pergi dijemput anak kaya raya itu," jawab Sumi sambil terus memperhatikan televisi.
"Oh ... Apa sudah lama?"
"Lumayan, sudah hampir dua jam."
"Apa tadi dia pulang kerja langsung pergi lagi, atau dia mandi dulu dan ganti baju?"
"Berisik banget sih kamu, Van?! Kenapa juga hal seperti itu kamu tanyakan?! Mau dia mandi atau tidak, ganti baju atau tidak, itu terserah dia! Ganggu orang nonton tv saja!" semprot Sumi yang merasa terganggu dengan pertanyaan tidak penting dari Rivani.
Rivani hanya menggaruk-garuk kepalanya. Sebenarnya dia hanya ingin memastikan apakah Gia sudah memakai pakaian yang dia taburi racun atau belum. Sudah hampir dua jam, Kalau Gia sudah memakai pakaian yang dia taburi racun, maka seharusnya efek racun itu sudah bekerja. Kulit Gia harusnya sudah merah-merah dan harusnya dia pulang ke rumah. Atau setidaknya memberi tahu orang rumah kalau dia kenapa-kenapa. Tetapi kenapa sampai sekarang belum ada kabar?
Rivani terlihat gelisah. Kemudian ponsel berbunyi, tanda sebuah pesan masuk.
"Sudah kamu berikan obat itu? Kamu campurkan ke dalam krim wajahnya lagi atau bagaimana?"
"Sudah, aku taburkan di pakaiannya." Rivani segera membalas pesan itu.
"Wow, pintar! Itu tidak terpikir olehku. Bagaimana hasilnya?"
"Aku belum tahu. Dia pergi dan belum pulang sampai sekarang. Perasaanku tidak enak."
"Tenang saja. Meskipun dia tahu, dia tidak akan berbuat apapun kepadamu, karena kamu adiknya. Kamu bisa minta lagi obat itu kalau sudah habis. Aku masih ada stoknya. Kabari aku nanti!"
"Oke!" Rivani pun menutup handphonenya. Tidak seperti kemarin yang terlihat santai dan tenang, kali ini Rivani merasa gelisah. Seperti ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya tetapi dia tidak tahu apa.
Lalu terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Rivani dan Sumi saling melempar pandangan. Mereka berpikir itu pasti Gia dan Arnold yang datang.
Sumi bergegas bangkit untuk membukakan pintu, bahkan sebelum terdengar suara ketukan.
"Loh, mana Gia? Kenapa nak Arnold kembali sendirian?" tanya Sumi melihat Arnold turun dari mobil sendirian.
"Dia akan menginap di rumahku, untuk sementara atau mungkin selamanya," jawab Arnold sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah, melewati Sumi yang sedang berdiri di depan pintu.
"Eh ... Kak Arnold," Rivani gelagapan melihat Arnold tiba-tiba berdiri di hadapannya. Laki-laki itu tidak mengatakan apapun dan hanya menatapnya tajam.
"Yang mana kamar Gia?" tanya Arnold.
"Di belakang, di dekat dapur, kak!"
"Tunjukkan padaku!"
Lalu Rivani berjalan menuju kamar Gia, diikuti Arnold.
"Nak Arnold, ada apa? Kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik, kan?" Sumi mengekor di belakang. Arnold terlihat marah jadi Sumi pikir mungkin hubungan Arnold dan Gia sedang bermasalah.
"Yang ini," ucap Rivani begitu sampai di depan kamar.
"Masuk, dan ambil semua pakaiannya di dalam lemari lalu taruh di halaman!" titah Arnold tegas.
"Untuk apa, kak?!" Rivani tidak mengerti.
"Lakukan saja perintahku!"
"I ... Iya, Sebentar, aku ambil sarung tangan dulu!" ucap Rivani tanpa sadar.
"Sarung tangan?!" Arnold mengernyit. "Untuk apa?!"
Rivani mati kutu. Dia keceplosan bicara.
"Tidak apa-apa. Ya sudah aku ambil semua bajunya." Akhirnya Rivani mengambil semua pakaian di dalam lemari Gia, tanpa sarung tangan, lalu membawanya ke halaman seperti yang Arnold perintahkan. Sementara Arnold terus mengawasinya.
Setelah semua pakaian Gia terkumpul di halaman, Arnold menuangkan minyak yang tadi telah dia siapkan, lalu membakar pakaian itu tepat di depan mata Rivani dan Sumi.
"Nak Arnold, apa yang kamu lakukan?!" pekik Sumi. Dia sangat terkejut melihat Arnold tiba-tiba saja membakar semua pakaian Gia tanpa alasan.
"Ini baru pakaian yang aku bakar! Lain kali, rumah ini yang akan aku bakar, beserta kamu di dalamnya!" ucap Arnold persis ditujukan kepada Rivani. Ini baru peringatan, mungkin Arnold benar-benar akan melakukannya nanti, siapa tahu.
Rivani mematung hampir tidak bisa bicara. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya terlihat pucat. Arnold terlihat sangat marah seperti tahu apa yang telah dia lakukan.
Direktur biasanya atasannya manager bukan?
Dulu waktu aku bekerja gitu siy..
Direktur Pemasaran membawahi bbrp manager.
🙏🏼🙏🏼
sukses utk karya2 selanjut nya tor...