NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian di Kafe Tua

Lonceng di atas pintu Kafe Tua berdenting pelan, menyambut kedatangan Arlan dengan aroma yang familiar: perpaduan antara biji kopi yang terpanggang dalam, bau debu dari tumpukan buku lama, dan sedikit aroma kayu lembap. Arlan menarik tudung jaket denimnya lebih rendah, seolah-olah kain itu bisa melindunginya dari tatapan siapa pun yang ada di dalam.

Ia memilih meja di sudut paling gelap, sebuah area yang jarang dijamah oleh cahaya matahari sore yang mulai merambat turun. Di depannya, sebuah jendela kaca besar yang buram karena debu memberikan pemandangan ke arah gerbang sekolah. Dari tempat ini, ia bisa menjadi pengamat tanpa perlu menjadi subjek.

Arlan melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul 15.55. Lima menit lagi.

Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, jauh lebih cepat daripada shutter speed tercepat di kameranya. Tangannya yang dingin meraba-raba saku jaket, memastikan tutup lensa berukir "A.R." itu masih ada di sana. Benda itu memberinya sedikit ketenangan, sebuah jangkar di tengah badai kecemasan yang sedang berkecamuk di dadanya.

"Gila, apa yang gue lakuin?" bisiknya pada diri sendiri.

Pikirannya melayang kembali ke mading sekolah pagi tadi. Bayangan Maya yang menyentuh fotonya terus berputar di kepalanya seperti rol film yang macet. Ia merasa seperti seorang sutradara yang telah kehilangan kendali atas skenarionya sendiri. Ia yang biasanya mengatur jarak aman lewat lensa, kini justru mengundang "objek" itu masuk ke dalam ruang pribadinya.

Ting!

Lonceng pintu kembali berdenting. Arlan tersentak, bahunya menegang seketika. Ia segera menyambar menu yang tergeletak di atas meja dan mengangkatnya setinggi mata, berpura-pura sangat tertarik dengan daftar harga kopi hitam yang sebenarnya sudah ia hafal di luar kepala.

Dari balik pinggiran menu, Arlan mengintip. Itu dia.

Maya melangkah masuk dengan gaun terusan berwarna pastel yang tampak kontras dengan suasana kafe yang suram. Di lehernya melingkar sebuah syal rajut merah, dan di tangannya, ia menggenggam lembaran foto siluet yang Arlan tempel tadi pagi. Wajahnya tampak penuh selidik, matanya yang tajam mengedar ke seluruh penjuru kafe yang hanya berisi tiga orang pelanggan.

Arlan merasa dunianya seolah berhenti berputar. Melihat Maya di balik lensa kamera adalah satu hal, namun melihatnya berdiri secara nyata dalam jarak kurang dari lima meter adalah hal lain yang sama sekali berbeda. Maya tampak begitu hidup, begitu nyata, dan begitu... mengancam zona nyamannya.

Maya mulai melangkah. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai kayu tua itu terdengar seperti dentuman drum di telinga Arlan. Gadis itu berjalan menuju area belakang, tempat Arlan duduk meringkuk.

"Permisi?" suara Maya memecah keheningan, lembut namun memiliki ketegasan yang membuat Arlan hampir menjatuhkan menunya.

Arlan semakin menenggelamkan wajahnya. Pikirannya buntu. Logikanya yang biasanya tajam mendadak tumpul. Ia membayangkan skenario terburuk: Maya mengenalinya, Maya menertawakannya, atau yang lebih buruk, Maya merasa terganggu karena dipotret secara diam-diam. Rasa malu yang luar biasa menyengat syarafnya, sebuah dorongan primitif untuk melarikan diri tiba-tiba menguasai seluruh tubuhnya.

"Gue nggak bisa... gue belum siap," batinnya panik.

Saat Maya membelakanginya sejenak untuk bertanya pada pelayan kafe tentang seseorang yang memakai jaket denim, Arlan melihat celah. Ini adalah momentumnya—bukan untuk memotret, tapi untuk menghilang.

Tanpa suara, Arlan menyambar tas kameranya. Dengan gerakan merunduk, memanfaatkan pilar kayu besar sebagai penghalang pandangan, ia menyelinap keluar melalui pintu samping yang biasa digunakan oleh karyawan untuk membuang sampah. Langkahnya cepat dan tidak menentu, seperti seekor binatang yang baru saja lolos dari perangkap.

Begitu sampai di trotoar jalan yang ramai, Arlan terus berlari kecil. Ia tidak berani menoleh ke belakang. Napasnya tersengal-sengal, bukan karena lelah fisik, tapi karena tekanan adrenalin yang memuncak. Ia terus berjalan hingga sampai di sebuah gang sempit beberapa ratus meter dari kafe. Ia bersandar di tembok bata yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu.

"Payah lo, Lan. Benar-benar payah," rutuknya sambil memukul pelan tembok di sampingnya.

Ia merasa bodoh. Ia yang memulainya, ia yang memberikan undangan, tapi ia juga yang pertama kali mengibarkan bendera putih. Ia merasa seperti pecundang yang hanya berani bersembunyi di balik bayangan mading.

Arlan membuka tas kameranya untuk memastikan alat berharganya itu tidak terbentur saat ia berlari tadi. Ia meraba-raba bagian dalam tas, mencari sesuatu yang biasanya selalu ia pasang setelah selesai memotret.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat tangannya tidak menemukan apa pun.

Ia segera meraba saku jaket denimnya. Kosong. Saku satunya lagi. Juga kosong. Dengan panik, ia membongkar seluruh isi tasnya di atas sebuah kotak kayu bekas. Baterai cadangan, kartu memori, kain pembersih lensa—semuanya ada, kecuali satu hal.

Tutup lensa berukir "A.R." itu hilang.

Darah Arlan terasa berdesir dingin. Ia segera memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat. Bayangan dirinya yang gemetar saat memegang menu di kafe tadi muncul. Ia ingat sempat meletakkan tutup lensa itu di atas meja kayu kafe yang mulai mengelupas, tepat di samping cangkir kosongnya, agar tangannya bebas memegang menu.

"Nggak... jangan di sana," bisiknya lirih.

Ia membayangkan meja pojok gelap itu sekarang. Ia membayangkan Maya yang mungkin sekarang sudah menyerah mencari dan memutuskan untuk duduk di meja itu—meja yang baru saja ia tinggalkan dalam ketergesaan.

Di sana, di atas permukaan kayu hitam yang kusam, sebuah benda kecil melingkar tertinggal. Benda itu bukan sekadar plastik pelindung; itu adalah identitasnya. Inisial "A.R." yang ia ukir sendiri dengan penuh ketelitian akan menjadi petunjuk yang tak terbantahkan.

Arlan menyandarkan kepalanya ke tembok, menatap langit sore yang kini berubah menjadi warna ungu kemerahan. Ia telah melakukan kesalahan fatal. Ia ingin tetap menjadi anonim, namun ia justru meninggalkan jejak paling pribadinya di tangan orang yang paling ia hindari.

Kini, bukan hanya fotonya yang ada di tangan Maya, tapi juga sebuah kunci menuju namanya. "Sebuah kenangan tertinggal di tangan yang salah," gumamnya getir, mengutip sebuah kalimat yang pernah ia baca di buku tua.

Arlan menatap kameranya yang kini "telanjang" tanpa pelindung. Tanpa tutup lensa itu, kameranya terasa rapuh, persis seperti pertahanannya yang kini telah runtuh total. Ia tahu, pelariannya hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah pengejaran yang tidak bisa ia hindari lagi.

Di balik kaca jendela kafe yang jauh di belakangnya, ia seolah bisa merasakan Maya sedang memungut benda itu, mengamati inisialnya, dan tersenyum karena akhirnya menemukan "titik fokus" dari misteri yang ia cari.

Arlan menarik tudung jaketnya lagi, kali ini bukan untuk bersembunyi, tapi untuk menutupi rasa malu yang luar biasa. Ia berjalan pulang dengan langkah berat, membiarkan lensanya terpapar debu jalanan, sebuah hukuman kecil bagi dirinya yang terlalu takut untuk menunjukkan wajahnya sendiri.

Malam itu, Arlan tahu satu hal pasti: hari esok di sekolah tidak akan pernah sama lagi. Tutup lensa itu telah berpindah tangan, dan bersamanya, kendali atas dunianya kini berada di jemari Maya.

Pesan untuk Arlan: Terkadang, sesuatu harus "hilang" agar kita bisa benar-benar "ditemukan".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!