(season 2)
Adira dan Abrisam terpaksa menjalankan hubungan jarak jauh karena impian dan cita-cita masing-masing. Namun, tidak semua orang bisa menjalankan itu termasuk mereka. Awalnya semua berjalan dengan lancar hingga suatu ketika ada saja masalah yang menguji cinta keduanya.
Kepercayaan mereka pun diuji, saling menyalahkan dan jarang kumunikasi. Apa mereka masih bisa mempertahankan hubungan yang sudah dirakit bertahun-tahun ini?
(season 1)
Adira Verbena, gadis kelas 12 SMA yang hanya ingin ketenangan dalam hidupnya. Ia ingin melewati masa sekolah dengan tidak terlibat masalah satu pun.
Jadi siswi teladan sepanjang sekolah adalah impian besarnya. Namun, tidak semulus itu. Nampaknya sejak mengenal Abrisam Pradipta impiannya itu harus hancur.
Banyak masalah yang datang melibatkan mereka berdua. Dira berusaha menghindarinya, tapi takdir seperti ingin menyatukan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tinkeerz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28
“Sam lempar ke sini!” teriak Manha mengangkat tangannya ke atas.
Dengan bersemangat Sam melempar bola basket itu ke arah Manha.
Ia terlihat semringah, tapi senyumnya memudar saat tidak sengaja melihat Adira berjalan dengan Afraz di pinggir lapangan. Sam terus memperhatikan mereka, hingga kakinya bergerak untuk mendekati.
“Sam mau ke mana?” panggilan dari Emran saja tidak ia gubris.
“Bagaimana dengan jawaban dari pertanyaan gue dua hari lalu?” Afraz menunduk untuk melihat Adira yang lebih rendah darinya, “gue sengaja nggak nanya beberapa hari ini biar lo ada waktu buat mikirin itu.”
Adira terus melangkah perlahan dengan tangan menggenggam buku di depan dada.
“Apa jawabannya Dira?” Afraz menarik lengan gadis ini agar ikut menghentikan berjalan, “lo mau ‘kan jadi pacar gue?”
Dira mendongak, matanya bertemu dengan mata Afraz. Ia ingin sekali jadi pacar cowok di depannya itu. Ini kesempatan yang selalu ia tunggu-tunggu. Namun, entah kenapa mulutnya susah untuk berkata, iya.
“Adira itu pacar gue.” Dira tersentak saat lengannya di tarik oleh Sam, “lancang banget lo nembak cewek yang udah ada cowoknya.”
Mata Dira melebar. Ia begitu terkejut saat Sam berucap begitu. Sam yang merasa diperhatikan Dira menunduk menatap gadisnya sambil tersenyum.
“Iya ‘kan sayang?”
Dahi Adira berkerut, ia melepaskan rangkulan tangan Sam di pundaknya.
“Apa-apaan sih lo, Sam? Kapan kita jadian?” beberapa pertanyaan Adira lontarkan.
“Lo pasti mengada-ngada doang ‘kan?” tanya Afraz tak percaya.
“Dia bohong gue nggak pernah jadian sama dia. Nggak sudi!” tolak Dira mentah-mentah.
Abrisam menarik dan merangkul Adira kembali, “sayang, gue tahu lo pasti masih malu-malu ‘kan buat ngakuin itu. Masa lo udah lupa kita jadian baru kemarin.”
Afraz menggelengkan kepala pelan, “bisa-bisanya lo, Dir terima dia jadi pacar sedangkan pertanyaan gue lo gantung.”
Adira meringis dan menggelengkan kepala dengan cepat, “bukan begitu.”
Sam tersenyum lebar melihat kekecewaan dari raut wajah Afraz.
“Sudahlah itu memang nasib lo cinta bertepuk sebelah tangan.” Sam tertawa pelan, “Woi semuanya, gue sama Adira udah pacaran. Bagi yang ganggu dan nyakitin Dira berurusan sama gue!”
Sam berteriak mengumumkan kepemilikannya atas Adira. Semua siswa-siswi termasuk sahabat Sam terkejut mendengar itu. Orang-orang yang tahu kalau Adira dan Abrisam ini seperti Tom and Jerry setiap harinya masih tak percaya kalau mereka bisa pacaran.
“Gue peringatkan sama lo jangan dekat-dekat cewek gue lagi, mengerti?” ucap Sam pada Afraz yang ada di depannya.
Ia melangkah sambil merangkul Adira dan sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Afraz hingga laki-laki itu sedikit bergeser. Sam terus berjalan dan mengeluar senyum smicknya.
“Aaaa kesel!” Adira membanting buku yang sedari tadi ia pegang ke meja sambil berteriak hingga Violet dan Yara yang ada di dalam kelas sedang mengobrol terkejut oleh ulahnya.
“Katanya buku ini mau dikembaliin ke adik kelas itu? Kok dibawa lagi?” tanya Vio dengan mendongak menatap Adira yang masih berdiri.
“Belum jadi.” Dira menjatuhkan bokongnya ke kursi, “gue kesel sama Sam.”
“Kesel-kesel kenapa sih?” tanya Yara masih tidak paham.
“Lo diganggu apa lagi sama anak itu? Biar gue omelin nanti,” ujar Violet menggebu-gebu.
“Dir!” Adira mengangkat kepalanya saat ada yang memanggil, “lo beneran jadian sama Sam?”
Violet dan Yara kaget. Tidak percaya akan semua itu. Adira juga tidak pernah cerita pada mereka. Yang mereka tahu Dira membenci Abrisam.
“Itu bohong. Jangan percaya Sam!” teriak Dira menjawab pertanyaan teman sekelasnya yang baru masuk ke kelas.
“Santai aja kali jawabnya,” ujar siswi itu berjalan ke mejanya.
“Kok bisa jadian Dir?” tanya Yara.
“Bilang sama gue! Ini nggak benar ‘kan?” kali ini Violet yang mendesak Adira.
“Begini guys gue bisa jelasin.” Adira membenarkan posisi duduknya yang sekarang menyerong menghadap kedua temannya itu,” sebenarnya gue di tembak Afraz.” Dira berucap sangat pelan.
“Terus kenapa kata mereka jadian sama Sam?” Yara sudah memotong saja.
“Dengarin dulu ini belum kelar. Terus ketika gue sama Afraz lewat lapangan dan Afraz nanya soal jawaban dari pernyataannya itu.
Abrisam datang dan bilang gue pacarnya. Gue belum jawab pernyataan Afraz,” jelas Adira dengan berbisik-bisik karena kelas cukup ramai di jam istirahat ini.
“Uh, Sam itu terus bikin masalah sama lo. Lo jadi gagal jadian sama Afraz,” ujar Violet yang emosinya tersulut.
“Sttt!” Adira meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, “bacot lo kecilin dikit. Nggak enak kedengaran yang lain.”
“Maaf.”
“Sam mengumumkan di lapangan kalau kita udah jadian. Banyak murid-murid sekolah ini yang mendengar itu. Gue harus gimana?” Dira menempelkan dahinya ke meja.
“Gue juga nggak tahu harus gimana, Dir. Pasti banyak orang yang percaya itu. Sementara lo jalanin aja dulu,” ujar Yara memberi sarannya.
“Woi lo!” teriak Violet menunjuk ke arah pintu saat melihat Sam masuk ke dalam kelas.
Sam berhenti dan menoleh, “gue?” tunjuk cowok itu pada dirinya sendiri.
“Iya, lo.” Violet keluar dari barisan kursinya dan berjalan mendekati Sam, “maksud lo apa bilang Adira pacar lo?”
Sam tersenyum tipis dan memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana, “gue emang jadian kok sama dia. Tanya aja orangnya.”
Violet menatap Adira. Gadis itu menggeleng pelan pada Violet.
“Ahh...” Sam mendesah halus, “gue jadi malas masuk ke kelas.”
Laki-laki penggemar Valentino Rossi itu pergi kembali keluar dari kelasnya dan tidak menghiraukan teriakan dari Violet yang menuding dengan pertanyaan.
yg salah dia kenapa anaknya yg kena dampak nya. siapa suru Uda tua masih jatuh cinta
pas di tipu marah".