NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Nyonya tidur di perusahaan semalam?"

Kirana masuk dengan tumpukan dokumen baru, matanya langsung tertuju pada tray sarapan yang hampir habis.

Anindita menyeka bibirnya dengan serbet. "Ya, aku ketiduran. Terlalu fokus dengan laporan kuartal kemarin."

Kirana menghela nafas panjang—nafas yang terdengar seperti campuran kekhawatiran dan... rasa bersalah?

"Nyonya, Anda terlalu keras pada diri sendiri." Kirana meletakkan dokumen, menatap Anindita dengan mata berkaca-kaca. "Sekali-kali beristirahatlah dengan benar. Pulang ke rumah, tidur di kasur yang nyaman, makan dengan teratur. Saya... saya takut Nyonya sakit."

Anindita tersenyum lembut—senyum yang jarang dia tunjukkan. "Iya, Kirana. Terima kasih atas perhatiannya. Aku janji akan lebih menjaga diri."

Tapi mereka berdua tahu itu bohong. Anindita tidak akan berubah. Dia tidak bisa. Bekerja adalah satu-satunya cara dia tetap waras.

Kirana kembali ke mejanya di luar ruangan, duduk dengan berat di kursinya. Tangannya terkepal di atas meja, rahangnya mengeras.

Andai saja Nyonya tahu...

Andai saja Nyonya tahu bahwa Tuan Zaverio adalah orang yang selalu menyiapkan sarapan itu...

Andai saja Nyonya tahu bahwa setiap malam, Tuan Zaverio datang diam-diam, memastikan Nyonya tertidur dengan nyaman, menyelimuti Nyonya dengan blazer miliknya sendiri, menatap wajah tidur Nyonya dengan tatapan yang sangat... sangat menyedihkan...

Andai saja Nyonya tahu bahwa Tuan Zaverio yang memberi instruksi padaku untuk selalu menjaga Nyonya, melaporkan kesehatan Nyonya, memastikan Nyonya tidak bekerja terlalu keras—walau itu hampir mustahil...

Andai saja Nyonya tahu bahwa walaupun Nyonya sekarang sudah... sudah menikah dengan Tuan Hardana... cintanya pada Nyonya tidak pernah pudar. Bahkan sedikit pun.

Kirana menatap kearah Anindita yang sedang sarapan dengan tatapan sedih. Sebuah air mata jatuh ke pipinya, tapi dia cepat menghapusnya.

Ini bukan urusannya. Dia hanya asisten. Dia tidak berhak ikut campur dalam urusan cinta majikannya.

Tapi Tuhan, betapa menyakitkan melihat dua orang yang masih saling mencintai tapi tidak bisa bersama.

"Kirana?"

Suara Anindita membuyarkan lamunannya. Kirana cepat menghapus sisa air mata, merapikan wajahnya, dan masuk kembali ke ruangan.

"Ya, Nyonya?"

"Ada apa? Kenapa menatapku begitu?" Anindita mengangkat alis, bingung dengan tatapan aneh Kirana tadi.

"Tidak, Nyonya. Hanya..." Kirana memaksakan senyum. "Hanya ingin mengingatkan kalau Anda ada jadwal makan malam dengan Pak Darma malam ini. Di kediaman Paramitha."

"Ah ya, aku ingat." Anindita tersenyum—senyum tulus pertama hari ini. Makan malam dengan kakek selalu membuatnya senang. "Apa ada yang lain?"

"Anda harus menandatangani dokumen-dokumen penting ini." Kirana membuka map demi map, menjelaskan setiap kontrak yang perlu approval.

Anindita mendengarkan dengan seksama, membaca setiap klausul dengan teliti sebelum menandatangani. Tapi di tengah fokusnya, matanya terus melirik ke ponsel yang tergeletak di meja.

Tidak ada pesan dari Hardana. Tidak ada missed call. Tidak ada apa-apa.

Sudah semalaman ini suaminya pergi ke Singapura, tapi komunikasi mereka minimal. Hanya beberapa pesan singkat, tidak ada video call, tidak ada telepon.

Anindita mencoba memahami—Hardana sedang menangani krisis perusahaan, tentu saja dia sibuk. Tapi... bukankah seharusnya di saat sibuk pun, seorang suami menyempatkan diri untuk menghubungi istrinya? Bahkan hanya untuk berkata "Aku baik-baik saja"?

Keraguan kecil mulai tumbuh. Keraguan yang dia coba kubur dalam-dalam.

"Kirana," panggil Anindita tiba-tiba.

"Ya, Nyonya?"

"Kau... kau punya nomor asisten suamiku? Rania Sekar Ayu?"

Kirana terlihat ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. "Seharusnya ada di database, Nyonya. Saya akan cari."

Beberapa menit kemudian, Kirana kembali dengan ponselnya, sudah menghubungi nomor Rania. Dia menekan speaker.

"Halo? Dengan siapa?" Suara Rania terdengar lembut, merdu—terlalu merdu.

"Halo, selamat pagi. Ini Kirana, asisten pribadi Nyonya Anindita Kusuma. Apa benar ini Rania Sekar Ayu, asisten Tuan Hardana Kusuma?"

"Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu?"

"Maaf mengganggu. Apakah Tuan Kusuma sedang bersama Anda? Nyonya Anindita ingin berbicara."

Jeda sejenak. Terlalu lama. Anindita bisa mendengar nafas Rania di seberang sana.

"Mohon maaf, Nyonya Kirana. Tuan Hardana sedang sangat sibuk saat ini. Beliau dalam rapat besar untuk mengatasi krisis perusahaan cabang. Saya harap Nyonya Anindita bisa memahami. Saya akan menyampaikan kepada Tuan bahwa Nyonya ingin berbicara."

"Baiklah. Terima kasih."

Sambungan terputus.

Anindita menatap kosong ke ponsel itu. Ada yang aneh. Sesuatu di nada suara Rania. Sesuatu yang... tidak tulus.

"Bagaimana, Nyonya?" tanya Kirana hati-hati. "Apakah Tuan Kusuma baik-baik saja?"

Anindita memaksakan senyum. "Ya. Dia hanya sibuk. Sangat sibuk."

Tapi di dalam hatinya, ada suara berbisik: Atau mungkin dia tidak ingin bicara denganmu?

Anindita menggeleng, mengusir pikiran negatif itu. Dia meraih ponselnya, mengetik pesan:

"Sayang, aku tahu kamu sibuk. Tapi tolong jaga kesehatanmu ya. Jangan lupa makan dan istirahat. Aku merindukanmu. Aku mencintaimu. ❤️"

Send.

Status pesan berubah menjadi 'terkirim'. Kemudian 'dibaca'.

Tapi tidak ada balasan.

Anindita menatap layar ponselnya sampai blur. Air matanya menggenang, tapi dia tidak membiarkannya jatuh. Tidak di sini. Tidak di hadapan Kirana.

"Aku akan fokus bekerja," katanya dengan suara datar. "Tolong jangan ganggu kecuali urgent."

"Baik, Nyonya."

Kirana keluar dengan hati berat, meninggalkan Anindita sendirian dengan tumpukan dokumen dan hati yang mulai retak.

...****************...

Malam itu - Kediaman Keluarga Paramitha

Mobil Mercedes hitam Anindita meluncur melewati gerbang megah kediaman Paramitha—estate seluas lima hektar dengan mansion bergaya kolonial Belanda yang sudah berusia hampir seratus tahun. Taman yang terawat indah, air mancur besar di tengah halaman, lampu taman yang menyala hangat.

Rumah ini penuh kenangan. Kenangan indah masa kecilnya bersama papa dan mama—mama yang tidak pernah sempat dia kenal. Kenangan sedih saat papa meninggal. Kenangan pahit saat Savitha mengkhianatinya.

Tapi juga kenangan hangat bersama kakek—satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkannya.

Kirana membukakan pintu mobil, dan Anindita turun dengan anggun. Di tangga depan, sudah berdiri seorang pria tua berusia 88 tahun—posturnya masih tegap walau sudah menggunakan tongkat. Rambutnya putih semua, wajahnya keriput tapi matanya masih tajam dan penuh kehangatan.

Darma Paramitha. Kakeknya. Legenda bisnis Indonesia yang membangun Paramitha Corp dari nol.

"Dita! Cucu kesayangan Kakek!" Suaranya lantang, penuh kebahagiaan. Lengannya terbuka lebar.

"Kakek!" Anindita berlari—benar-benar berlari seperti anak kecil—dan memeluk kakeknya erat. Di pelukan ini, dia merasa aman. Di pelukan ini, semua beban terasa lebih ringan.

"Bagaimana kabarmu, Cucuku? Kamu menginap di sini kan malam ini? Kakek sudah siapkan kamarmu."

Anindita mengangguk di dada kakeknya. "Iya, Kek. Aku menginap. Aku merindukanmu."

"Kakek juga merindukan cucuku." Darma mengecup puncak kepala Anindita dengan sayang. "Ayo masuk. Kakek sudah suruh Bi Atun masak semua makanan kesukaanmu."

Mereka masuk ke ruang makan yang besar—meja panjang dengan kursi ukir antik. Tapi malam ini, mereka tidak makan di ujung-ujung meja seperti orang asing. Mereka duduk berdampingan, seperti dulu saat Anindita masih kecil.

Makanan disajikan—sop buntut, ayam panggang, tumis kangkung, sambal terasi, dan es kelapa muda. Semua kesukaan Anindita.

Mereka makan sambil bercerita. Tentang perusahaan, tentang kehidupan, tentang hal-hal kecil yang membuat mereka tertawa. Untuk beberapa jam, Anindita melupakan semua masalahnya. Undangan aneh dari Savitha. Komunikasi dingin dari Hardana. Kehadiran Zaverio yang menghantui.

Untuk beberapa jam, dia hanya menjadi cucu yang dicintai kakeknya.

Setelah makan malam, mereka pindah ke perpustakaan pribadi kakek—ruangan dengan rak buku setinggi langit-langit, perapian yang menyala hangat, dan dua kursi malas yang saling berhadapan.

"Kek, boleh aku tidur di kamarmu malam ini?" tanya Anindita dengan suara kecil. "Seperti dulu?"

Darma tersenyum lembut, mengusap kepala cucunya. "Tentu saja, Sayang. Kakek justru senang. Sudah lama kita tidak tidur bareng seperti dulu."

Mereka berbincang sampai larut malam. Tentang masa lalu, tentang papa, tentang mimpi-mimpi Anindita waktu kecil. Kakek menceritakan lagi—untuk kesekian kalinya—tentang betapa hebatnya papa Anindita, betapa papa sangat mencintainya, betapa papa pasti sangat bangga melihat Anindita sekarang.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, Anindita tertidur dengan tenang.

Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada kecemasan. Hanya kehangatan pelukan kakek yang sudah tua tapi masih sangat kuat untuk cucunya.

Di luar jendela, hujan mulai turun—rintik-rintik lembut yang menenangkan.

Tapi Anindita tidak tahu, di kegelapan malam itu, di gedung Paramitha Corp yang kosong, seorang pria berdiri di ruang CEO-nya—menatap meja kerja yang rapi, meja di mana beberapa jam lalu Anindita bekerja keras sampai ketiduran.

Zaverio Kusuma berdiri di sana dengan tray berisi bahan-bahan sarapan untuk besok pagi—kalau-kalau Anindita ketiduran lagi di kantor.

Tapi malam ini, kantor kosong.

"Dia pulang ke rumah kakeknya," gumam Zaverio pelan, senyum tipis di bibirnya. "Bagus. Setidaknya dia tidak sendirian malam ini."

Dia meletakkan tray itu di meja, menatapnya sejenak, kemudian berbalik untuk pergi.

Tapi sebelum keluar, matanya tertangkap oleh sesuatu—amplop berwarna krem di pojok meja.

Undangan pernikahan.

Zaverio mengambilnya, membuka, membaca.

Dan wajahnya berubah—dari netral menjadi dingin, sangat dingin. Rahangnya mengeras, tangannya meremas undangan itu sampai kusut.

"HK & SP," bisiknya, suaranya seperti es. "Hardana Kusuma dan Savitha Paramitha."

Dia melempar undangan itu kembali ke meja, kemudian mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang.

"Selidiki tentang pernikahan ini. Aku ingin tahu semua detailnya. Sekarang."

Dia mengakhiri panggilan, menatap undangan itu dengan tatapan yang bisa membunuh.

"Hardana," gumamnya pelan, suaranya penuh ancaman. "Kalau kau berani menyakiti Anindita... aku akan hancurkan kau. Adik atau bukan."

Dan di malam yang sunyi itu, badai mulai bergulir—badai yang akan menghancurkan atau menyelamatkan, tidak ada yang tahu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!