NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 13: playing with heart [1]

MENGHINDARI perasaan mengganggu yang muncul setelah teatime tadi berubah dipenuhi air mata, aku menyibukkan diri tenggelam bersama kertas-kertas dan pekerjaan yang menumpuk. Proposal untuk dua hari ke depan telah selesai kukerjakan, catatan keuangan dan politik telah selesai kuperiksa, laporan pengerjaan penampungan air bawah tanah yang secara rutin dikirim oleh Duke of Astello bersama dengan paparan peninjauan kebijakan lainnya telah selesai kubaca. Semua pekerjaan untuk dua sampai tiga hari ke depan sudah selesai dan aku tidak tahu harus menghabiskan waktu dengan cara apa lagi selain bekerja tanpa istirahat.

Suara pintu yang diketuk dan diikuti dengan suara kepala pelayan dari luar kemudian mengalihkan atensiku. “Maaf, Yang Mulia. Apakah makan malam Anda ingin diantarkan ke ruang kerja?”

Bahkan tak terasa sudah waktunya makan malam. Aku melepas kacamata baca sebelum menyandarkan punggung ke sandaran kursi dan mengiyakan, “Makanan yang ringan saja. Tolong bawakan anggur juga.”

“Baik, Yang Mulia.”

Menghela napas panjang, aku memandang ke luar jendela. Langit malam yang tidak dipenuhi bintang hari ini, taman istana yang mendapat penerangan dari lampu taman yang menyala, lalu para ksatria yang bertukar shift malam, semuanya terlihat dari sini bersama dengan kesunyian istana yang seolah membunuhku. Melihat pepohonan di ujung sana, aku mulai berpikir bahwa hidup monoton seperti ini mulai sedikit membosankan. Menyibukkan diri dengan sesuatu sembari berlari meninggalkan perasaan tidak mengenakkan di saat diri ini enggan merasakan apapun. Perasaan-perasaan tersebut yang tak bisa dideskripsikan meski telah bekerja gila-gilaan membuat sudut di hatiku sedikit sesak.

Aku tidak tahu bagaimana orang biasa menyebutnya, perasaan aneh yang kurasakan sekarang mungkinkah karena aku sedang  banyak pikiran? Sebab yang memenuhi kepalaku saat ini hanyalah percakapanku dengan Elora sebelumnya. Mengalihkan tatapan pada tangan kanan, aku menatapnya selama beberapa detik sebelum memposisikannya di dada kiri. Lalu, secara tak sadar sudut bibirku terbuka, bergumam menyebut nama anak itu bersama dengan pembicaraan tadi.

“Ceritakan tentang dirimu.”

Kelopak mata bagian atasnya terangkat, alisnya melengkung ke atas, hanya sepersekian detik sebelum pandangannya berkabut dan wajahnya berkerut. Ada ekspresi bingung yang bercampur sedih di sana. Kemudian, dia menundukkan kepala, memainkan jari-jemarinya di atas paha.

“El juga tidak tahu. Waktu El buka mata, El sudah belada di tempat yang banyak pohon, lumput, dan suala. Lalu, El ketemu olang jahat saat beljalan. Dia akhilnya membawa El ke luangan yang gelap sebelum memasukkan El ke dalam kalung.”

“Siapa yang mengajarimu bicara?”

“El dengal lalu El ikuti.”

“Kau belajar sendiri rupanya.” Dia mengangguk dan aku kembali melanjutkan, “Pada akhirnya kau ternyata berbohong.”

“El tidak bohong, Papa.”

“Kau bohong.”

“Tidak! Dia bilang kalau Papa adalah Ayah El!” Dia menumpukan kedua tangan di meja, memandangku dengan sorot mata yang seperti terluka. “Dia menampilkan wajah Papa dan menyuluh El ke Papa. El belkata jujul. Tolong pelcayalah ….”

Aku mengerutkan dahi. “Dia siapa?”

“Olang belsinal.” Wajahnya kemudian menunduk dan tak lama suaranya bergetar saat Elora berbicara kembali. “Olang belsinal itu bilang kalau Papa adalah Ayah El. Dia bilang kalau El halus ke Papa ….” Dia memberi jeda sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih kecil. “... kalena Papa adalah satu-satunya kelualga El.”

***

Aku melirik ketika mendengar suara pintu diketuk. Hamon muncul dan mendekat. Tanpa menatapnya langsung, aku bertanya sembari menggoyangkan anggur merah yang ada di gelas. Ini sudah larut malam dan anak itu pasti sudah terlelap. Namun, aku tidak mengerti mengapa Hamon tiba-tiba mendatangiku di kamar tidur. Ya, ini pasti ada hubungannya dengan anak itu.

“Ada apa?”

“Setelah menangis Putri tertidur di kamar sambil memeluk boneka kelinci yang diberikan Marquess. Nafsu makannya memang sedikit turun, tetapi beliau tetap memakan puding cokelatnya setelah dibujuk oleh Ibu asuh.”

Aku hanya diam ketika mendengar Hamon memberikan laporan yang tidak pernah kuminta. Selama beberapa saat, ruangan menjadi hening kembali. Perhatianku sepenuhnya berada pada anggur merah yang ada di gelas sedangkan angin malam yang masuk dari jendela yang dibiarkan terbuka terus membelai kulit tangan dan dadaku yang terlihat ketika aku duduk di ambang jendela.

“Jika Yang Mulia terus terkena angin musim gugur seperti ini, Anda bisa saja sakit.”

Ujung bibirku terangkat ke atas, tersenyum kecut. “Rupanya kau masih menganggapku sebagai manusia setelah semua yang kulakukan di masa lalu.”

“Di mata saya, Anda adalah manusia.”

Aku melirik. Dia menatapku dengan sorot mata tegas tanpa keraguan di wajah yang berekspresi datar. “Pergila,” usirku lalu meneguk anggur merah yang masih tersisa setengah.

Namun, Hamon tidak juga beranjak dan malah mengajukan pertanyaan. “Apa Yang Mulia suatu saat akan mengusir Putri?”

Aroma kuat dari alkohol yang menguar masuk ke dalam hidung berkurang ketika aku menjauhkan bibir gelas dari mulut. Pantulan sinar rembulan yang ada di bagian atas badan gelas mengambil atensiku selama beberapa detik. Bersamaan dengan itu, pertanyaan yang dilontarkan Hamon hanya kubiarkan melayang di udara. Tanpa berniat menjawab, sebaliknya aku mengajukan pertanyaan.

“Menurutmu keluarga itu apa?”

“Sebuah rumah.”

“Aku sertamerta melirik. “Rumah?”

“Benar, Yang Mulia.” Hamon yang memasang ekspresi datar sebelumnya tiba-tiba melunak. “Rumah yang saya maksud adalah tempat di mana seseorang selalu menyambut Anda ketika Anda pulang. Seseorang yang merasa kehadiran Anda berharga dan menganggap Anda penting. Bukan karena status, kekayaan, atau kekuatan, melainkan karena itu adalah diri Anda.”

Setelah Hamon menyelesaikan kalimat, aku kembali menatap sinar rembulan yang terpantul pada anggur merah yang berada di dalam gelas. “Lalu kenapa dia mengatakan bahwa aku adalah keluarganya?”

“Itu karena Anda adalah Ayah Tuan Putri.”

“Aku bukan Ayahnya.”

“Memang benar secara garis keturunan Putri bukanlah anak Anda, tetapi hanya dengan kedua pihak menganggap satu sama lain berharga, itu sudah cukup untuk membuat Anda menjadi Ayah Tuan Putri, Yang Mulia. Meski darah lebih kental dari air, kenyataannya airlah yang selalu berada di sekitar kita dan saling terhubung dengan segala kehidupan. Maka itu tidak jauh berbeda dengan hubungan Anda dengan Putri.”

“Itu tidak masuk akal.”

“Meski perkataan beliau memang meragukan, saya harap Yang Mulia tetap mempertahankan hubungan Anda dengan Putri sampai saat kita menemukan bukti kuat tentang identitas asli beliau. Hanya sampai saat semuanya terlihat jelas, Yang Mulia.” 

Tangan yang memegang badan gelas kuarahkan keluar jendela dan dengan gerakan pelan memiringkan badan gelas tersebut, menumpahkan anggur sedikit demi sedikit hingga tak bersisa. “Mengapa aku harus melakukan itu?” Aku bertanya, sejujurnya permonanan Hamon sudah terdengar sangat tidak rasional. Setelah meletakkan gelas di ambang jendela yang sama, aku lantas melirik Hamon. “Berikan aku alasan mengapa aku harus melakukannya.”

Keberanian yang sejak tadi keluar dari dirinya menghilang. Dia mendadak gugup dan mengerjap beberapa kali sebelum menjawab pertanyaanku dengan nada tegas yang sempat beberapa detik lalu hilang. “Maaf jika saya lancang. Namun, entah Anda sadar atau tidak, kehadiran PUtri membawa pengaruh yang sangat besar pada Anda, Yang Mulia. Apakah Anda tidak sadar bahwa kehadiran beliau membawa sedikit kegembiraan di hidup Anda?”

“Meski dia membuatku sakit kepala dan harus membunuh banyak orang?” Aku menatapnya tajam dan memalingkan wajah ke jendela. “Keluarlah.”

Meski terlihat enggan, Hamon akhirnya memilih diam dan beranjak. “Semoga kebahagiaan selalu menyertai Anda.”

Langkah kaki yang perlahan menjauh lalu disusul dengan suara pintu yang ditutup rapat pada akhirnya membuatku mengembuskan napas panjang. Seluruh pikiranku kacau dan perasaanku campur aduk. Anak perempuan yang tidak jadi kubunuh, air mata darinya yang pertama kali keluar kemarin, tangan dan kaki mungilnya, wajah ceria yang khas, bunga krisan, dan semuanya adalah hal yang pertama bagiku. Termasuk sentuhan anak itu yang selalu dia lakukan maupun yang aku lakukan dengan tanganku sendiri. Semuanya adalah hal yang pertama kali dan asing. Jadi, bagaimana bisa aku bisa berpikir jernih sekarang jika saat ini pun seluruh isi kepalaku hanya terfokus pada anak itu? 

Tangan yang mengangkat tubuhnya, menggendongnya, membelai punggungnya dengan lemmbut adalah hal yang terjadi tanpa bisa kucegah. Sesuatu yang tidak pernah aku impikan maupun harapkan, tetapi itu terjadi atas kemauanku sendiri. Tanpa sadar, aku mulai meragukan diri sendiri. Apakah aku masih seorang manusia?[]

1
Sinchan Gabut
Baik-baiklah sama Putri Puding Coklat, Yang Mulia. Dia itu kunci dr segala kunci. Paham? 😏🍮
studibivalvia: betul lagi lah akak ini 🤣 emang paling joss komenmu kak wkwk
total 1 replies
Pengabdi Uji
Tau gk yg mulia ibu asli el itu saya lho🤭
Pengabdi Uji
Keknya elora itu bsa ngontrol bapaknya ya? Punya kekuatan sejenis apatuh
studibivalvia: nyembuhin lebih tepatnya kak 🤣 kekuatannya ntar dijelaskan di bab yg berikutnya tapi kayaknya masih agak lama ketahuan nya
total 1 replies
Alessandro
"hamon tidak mati kan?"
ya ampun.... elora
Alessandro
saripati darah dong, thor...
detil sekali penjelasannya
Laila Sarifah
Agak anomali Kaisar satu ini, masa anaknya disuruh lompat dari ketinggian😭
Alessandro: 🤣🤣🤣 aku jg gemes dr kmrn...
tp ya gmn lg terserah sang pemilik cerita 🤣
total 1 replies
Laila Sarifah
Mudahan dgn adanya Elora di samping Kaisar, hati Kaisar menjadi lebih lembut
Aruna02
😭😭sadis
Aruna02
iiiikh gumush bnget elola 🤣🤣
Sinchan Gabut
Lah... kmrin pingsan, skrg malah cengengesan liat bapaknya habis bantai penduduk desa. jd bokem kamu El? 🤔😆🤣
Sinchan Gabut
gemes bgt sama Elora... 😘
Pengabdi Uji
El apa dy calon calon bocil baddas nanti diajarin sma bapaknya?
Pengabdi Uji
Kan kata gua jg apa, ni bocil pasti dibawa org lucu bgini🤣🤣
Alessandro
agak lain bapak ini....
Alessandro
hati yang mulia keras juga ya.....
butuh siraman cinta agar lebih melunak
Laila Sarifah
Yang Mulia nggak mau kah cari siapa Ibu aslinya Elora😫
studibivalvia: nggak dong kak 😔
total 4 replies
Laila Sarifah
Ya jgn lah di bunuh anakmu sendiri Yang Mulia, nanti anda menyesal
Aruna02
😩😩😩nungguin bapak nya
Aruna02
babi nggak tuh 😭😭😭
Aruna02
jadi, elora beban ya yang mulia🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!