NovelToon NovelToon
Merangkai Hasrat

Merangkai Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Komedi
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.

Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.

Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.

Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.

"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Pengakuan tanpa Paksaan

Setelah kepergian Ajeng dan juga kedua orang tuanya, Johan kembali masuk ke dalam kamarnya dan membuka pintu lemari.

"Mereka sudah pergi," ujarnya pada Jennie yang masih meringkuk dengan memeluk kotak kayu yang dia temukan tadi.

Jennie tidak langsung berdiri, dia menatap Johan dengan senyum miring. "Kucing ya?" ucapnya.

"Itu karena kamu tidak bisa menahan diri, padahal aku sudah bilang agar diam," balas Johan lembut sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Jennie keluar.

"Maaf," bisik Jennie. "Aku tidak sengaja menemukan kotak ini, dan butiran debu di atasnya membuatku bersin," lanjutnya dengan suara kecil, ekor matanya menatap Johan dengan takut, takut jika pria itu akan meledak seperti saat dia melihat foto di rak buku hari itu.

Tapi apa yang dia takutkan itu tidak terjadi, Johan terlihat tenang dan menarik pelan lengannya hingga dia berhasil keluar dari dalam lemari.

"Kamu sudah melihat isinya?" tanya Johan, dan Jennie langsung mengangguk dengan kaku.

"Lagipula cepat atau lambat kamu juga akan mengetahuinya," sambung Johan merangkul Jennie dan melangkah menuju ranjang kemudian duduk berdampingan di tepi kasur yang luas itu.

"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, dia adalah alasan aku malas berurusan dengan wanita yang berusaha masuk ke dalam hidupku," kata Johan mengawali pembicaraan tanpa di minta.

"Namanya Clara, foto itu diambil seminggu sebelum kami seharusnya menikah lima tahun lalu. Aku sudah menyiapkan semuanya, tapi hari itu dia tiba-tiba mengatakan aku tidak mencintainya, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, padahal aku sebisa mungkin memberikan dan melakukan apa yang bisa aku lakukan agar dia bahagia di sampingku,," sambungnya bercerita.

Jennie yang mendengar itu hanya diam, membiarkan Johan mengeluarkan beban di hatinya. Suatu hal yang sangat langka dari pria itu, jadi tugasnya hanya menjadi pendengar yang baik.

"Cincin itu, aku masih belum sanggup untuk membuangnya. Bukan karena aku masih mencintainya, tapi cincin itu adalah pengingat bahwa aku pernah gagal dalam membangun sebuah hubungan."

Jennie mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Johan. "Itu sebabnya kau takut ada wanita yang masuk lagi ke dalam hidupmu dan meninggalkanmu seperti dirinya?"

"Bukannya aku takut, tapi aku belum menginginkannya."

Jennie mengangguk paham, "Jadi itulah alasan kamu memintaku untuk menjadi tunangan pura-puramu? Agar aku ingat posisiku dan suatu hari nanti aku bisa kembali ke tempatku tanpa merusak kepercayaanmu."

Johan menoleh, menatap mata Jennie yang dalam, "Awalnya aku pikir akan semudah itu, tapi kamu benar-benar tidak terduga. Dengan segala tingkah lakumu entah kenapa membuatku perlahan mengikis tembok tinggi yang aku bangun sendiri, kamu berbeda, Jen," ungkapnya.

Keheningan mengikuti kalimat Johan, pria itu perlahan menempelkan dahinya ke dahi Jennie. "Untuk sekarang tetaplah di sampingku, entah sebagai tunangan pura-pura, objek fantasimu, atau seorang tetangga. Tetaplah seperti ini hingga aku berhasil keluar dari rasa takut yang sudah lama aku pendam."

Setelah mengatakan itu Johan mencium Jennie dengan sangat pelan, ciuman yang terasa sebagai permintaan maaf sekaligus ungkapan terima kasih.

Jennie menyambut hangat ciuman itu dan melingkarkan tangannya di leher Johan, mencoba meyakinkan pria itu dia ada di sini untuk menetap.

Johan membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan lembut, tangan kekarnya meraba tengkuk Jennie lebih dekat saat ciuman mereka semakin dalam dan menuntut.

Dengan perlahan Johan melepaskan kaos oblong yang dikenakan Jennie, lalu di susul dengannya yang juga menanggalkan pakaian yang menutup tubuhnya.

Saat mereka benar-benar tanpa sehelai benang pun Johan merangkak ke atas Jennie, menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangannya.

Dia mencium dahi, kedua mata, dan hidung Jennie sebelum kembali ke bibirnya. Tangannya menelusuri lekuk pinggang Jennie dan memberikan elusan-elusan lembut yang membuat wanita itu merinding akan gelombang gairah yang datang menguasai.

"Kamu sangat cantik saat tidak berdaya seperti ini," bisik Johan.

Dia mulai mencumbu leher dan tulang selangka Jennie, memberikan kecupan-kecupan basah yang membuat Jennie mendesah lembut.

Tidak ada paksaan, Johan memastikan setiap sentuhannya membawa kenyamanan sebelum dia melangkah lebih jauh.

Ketika tubuh mereka akhirnya bersatu, Johan berhenti sejenak untuk menatap mata Jennie yang sayu karena gairah.

Jennie membalas tatapan itu dengan senyum tipis dan menarik lembut bahu Johan untuk mempersilahkannya masuk lebih dalam.

Gerakan Johan di dalam tubuhnya terasa lambat dan penuh kasih sayang, sangat berbeda saat mereka pertama kali melakukannya.

"Ahhhh....Mas..." desah Jennie saat merasakan kehangatan menjalar di seluruh sarafnya.

Johan bergerak dengan ritme vanilla yang manis, dan Jennie melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, menariknya semakin dalam ke pelukannya.

Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jennie sembari terus memberikan sentuhan-sentuhan yang memabukkan.

Puncak gairah mereka datang seperti ombak yang tenang namun menghanyutkan. Johan mengerang rendah saat dia mencapai pelepasannya di dalam diri Jennie sedangkan jennie mencengkeram punggung kokoh Johan.

Setelah semuanya reda, Johan tidak langsung melepaskannya. Dia memeluk Jennie erat dan membiarkan napas mereka yang terengah-engah perlahan menjadi teratur.

"Jadi, apakah aku sudah mendapatkan bintang lima darimu?" tanya Johan dengan nada menggoda.

Jennie tersenyum tipis dan mengangguk, "Bintang seratus untuk hari ini."

Johan mencium puncak kepala Jennie dan mencabut miliknya keluar, setelahnya dia manarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.

Bersambung

1
qurro thul
tenyata somplak juga tetangga 5012🤣
qurro thul
ini mulud TDK bs d kontrol 🫣🤣
qurro thul
membayangkan semalu apa ituh 🤣🤣🤣
qurro thul
narsis juga kah 🤣
qurro thul
dasar usil si johan
HiLo
Suka, konfliknya ringan
HiLo
ditunggu kelanjutannya
Aria
lanjut kakkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!