JANGAN BAYANGKAN KISAH CINTA SEPERTI DOTS karena kenyataannya tidak akan pernah semanis itu, jika ingin mengguak akan kerasnya kehidupan pernikahan bersama om loreng.
hidup itu keras jika ingin tahu drama didalamnya, silahkan baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Rasa cemburuku kini sulit kujelaskan dan susah di kuucapkan. Rasa nyeri akibat haid bahkan tidak sebanding dengan rasa sakit yang di dada saking sakit hatinya, aku sampai binggung harus menanggis ataukah tertawa.
Mataku terus tertuju pada mereka hingga tak menyadari jika sedari tadi ada sosok laki-laki berstatus suamiku yang melakukan hal yang sama dengan apa yang kulakukan.
cukup lama kami terdiam dan berkelana dengan pikiran kami masing-masing hingga dirinya berkata
"Kenapa? merasa flasback kenangan kita dulu?" tanyanya dengan alis kiri terangkat walau begitu, suaranya datar dan wajahnya juga tak menunjukkan ekspresi sama sekali, hal itu membuatku binggung sebenarnya apa sih maksud lelaki itu.
Jengah melihat wajahnya aku hanya bisa berkata "nothing" padanya.
"Mereka terlihat bahagia ya? sama seperti kita dulu" ucapnya enteng sembari memperhatikanku.
“Kebahagiaan mereka natural, kita buatan”
“Tapi kamu sepertinya sudah bahagia dengan cara yang natural” Katanya lagi masih dengan nada dan mimik wajah yang sama-sama datarnya. Dengan rasa dongkol yang kutahan setengah mati akhirnya aku menjawab
"Haha lawakan anda hebat om" kataku sarkis lalu meninggalkannya menuju stand makanan, perut sudah memulai perang, kakiku juga sudah lelah berdiri sedari tadi.
Apa yang kulakukan ternyata dikuti oleh bunglon, suamiku juga ikut mengambil makanan dan mengikuti langkah menuju kursi yang disediakan.
Aku baru saja melampiaskan amarahku melalui makanan namun ternyata salah langkah karena ketika akan duduk, aku duduk bersampingan dengan salah satu kerabat dari garis keluarga ibuku.
tidak salah jika ibuku cerewet dan ceplas ceplos wong keluarganya memang seperti itu kok. audah memastikan aku duduk nyaman tepat di sampingnya, bibirnya laknatnya lalu berkata
"Awee. kenapa ko baru datang nak, semalam itu na cari semua ko orang nah" katanya heboh sambil menepuk-nepuk pahaku
"....." Tak ada kata yang kulontarkan namun hanya senyum kecut yang dapat kutunjukkan padanya karena mulutku terisi penuh dengan makanan.
"Mapa ko je tappa lanyyag bang riolo? (kenapa dulu kamu tiba-tiba menghilang?)" tanyanya dengan dialeg khas orang bugis.
"Tidak ji tante" kataku disertai cengiran bodoh khas milikku.
"Masiriko iyo? aweee makkoro manas’i ana-ana'e makkoko'e. deg na iko bang masolang riyolo na botting ( kamu malu iya? aduhh sekarang itu anak-anak zamanmu banyak yang kecelakaan (hamil diluar nikah) dulu baru menikah)" katanya santai namun kalimatnya itu sukses membuatku hampir tersedak nasi.
Kalimatnya itu sukses membuatku terbatuk-batuk untungnya bunglon siaga memberi minuman miliknya. dengan rakus ku minum air itu lalu memperhatikan wanita yang dengan tidak berotaknya menyampaikan gosip yang beredar tentangku. ini nih yang membuatku enggan menggumbarkan pernikahanku.
"...." tak ada kata yang mampu ku lontarkan, akalku terus berpesan untuk menjaga sikap saat ini karena menggelak pun rasanya percuma.
Dengan rasa jengkel aku mengarahkan pandanganku pada orang yang menyebabkan nama baikku tercemar. Dengan cara kasar kujatuhkan piring milikku kelantai yang selimuti karpet tebal. dengan gerakan cepat kutegakkan tubuhku lalu meninggalkan mereka.
air mata sukses mengalir hingga di pipi tak ingin seorang pun melihat kelemahanku. kugerakkan kaki meninggalkan ruangan itu lalu menggarahkan kaki menuju lift, tidak butuh waktu lama lift tiba tepat dihadapanku.
Selama di lift kutenangkan diri hingga aku berada didalam kamar barulah dengan kuat kukeluarkan teriakkan, amarah, kebencian bahkan rasa cemburuku dengan cara memberantakkan isi kamar.
Aku terus menangis seorang diri dikamar ini hingga merasa lelah menemani akhirnya, kurebahkan tubuh diatas kasur. Mataku hampir saja terpejam ketika kudengar suara pintu terbuka, dari aromanya saja aku tahu jelas siapa yang memasuki kamar tidak kuhiraukan orang itu dan memilih melanjutkan kegiatanku menuju alam mimpi
udah manja dan keras kepala
saya selalu rindu mungkin karena saya orang Bugis JD apa yang diceritakan di dalamnya terasa nyata karena sering melihat seperti itu