Perjanjian antara sang Daddy dan Queena, jika dia sudah berusia 18 tahun dia diperbolehkan berpacaran.
"Daddy! Aku sudah mempunyai pacar! Aku sangat menyukainya."
Saat Queena mengatakannya, seakan dunia menjadi gelap. Vard Ramberd seketika emosi. Ia tak rela pria lain memiliki Queena, gadis itu adalah miliknya!
Dengan kasar Vard memanggul tubuh Queena di pundaknya, menjatuhkan gadis itu ke atas ranjang menindihnya. "Queena, kau selamanya adalah milikku!"
Setelah Vard menodai paksa Queena, gadis itu memandang penuh benci pada sang Daddy. "Aku membencimu, Vard Ramberd! AKU MEMBENCIMU!!!"
---Kuy ikuti kisahnya, lovers ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mommy Cepat Datang Kesini, Aku Kesakitan.
Setelah sampai di depan kantor nya, Esther turun dari dalam mobil Xavier. Ia membungkukkan tubuhnya, melihat ke dalam mobil. "Hati-hati di jalan, Xavier. Terima kasih sudah mengantarku."
"Oke, nanti siang aku jemput untuk makan siang. Ya."
"Aku tidak bisa, kemarin ada Klien baru yang meneleponku untuk meminta bertemu. Bagaimana kalau besok saja?"
"Bagaimana dengan makan malam?" pinta Xavier.
Esther memikirkan permintaan pria itu sebentar, karena Justin tidak ada mungkin dia bisa sedikit bersantai di malam hari. "Oke, jemput aku. Bagaimana jika pukul 19.30 malam?"
"Setuju, terima kasih Esther. Kamu mau memberikanku kesempatan untuk mendekatimu," ucap pria itu dengan suara lembut.
"Tak masalah, aku masuk." Esther masuk ke dalam kantornya, ia mendengar deru mesin mobil Xavier yang melaju pergi.
Di dalam sebuah mobil sepasang mata wanita elegan yang tidak jauh dari sana, menatap penuh perhitungan, "Felix, periksa data wanita yang baru masuk itu. Tertulis di atas plang kantornya, Esther financial consultant."
"Baik," Felix assisten Sabrina mencari data Esther dalam data sistem. Sekali mencoba, sistem menolak. Database tidak bisa ditemukan, failed.
"Nona Sabrina, failed. Ini aneh, data tentang wanita itu tidak bisa ditemukan."
"Coba lagi, itu tidak mungkin kecuali wanita itu ingin menyembunyikan identitasnya misalnya seperti seorang intel." Titah Sabrina.
"Saya akan coba lagi, Nona." Jawab Felix.
Tapi beberapa kali pun mencoba, Felix tak bisa menembus database.
***
Saat alrm iPad-nya berbunyi, Justin yang sedang menyikat gigi berlari ke arah iPad nya disimpan.
WARNING !!!!
Dengan cepat tangan ahli bocah itu mengotak ngatik iPad nya, mengamankan database info tentang Mommy-nya karena seseorang mencoba menerobos. Beberapa hari lalu, dia kalah oleh assisten sang Daddy. Sekarang dia tidak ingin kecolongan lagi, dengan keahliannya akhirnya dia berhasil mengunci.
"Hampir saja seperti beberapa hari lalu, meskipun aku sedikit mengalah pada Paman Taylor saat dia menerobos sistem. Kali ini siapa? Aku harus memeriksanya," ia mulai mencari alamat IP si penerobos.
"Hm, alamat IP-nya berada di depan kantor Mommy. Aku akan memeriksa Cctv di depan kantor Mommy, " gumam nya.
Justin mendapatkan rekaman Cctv di dekat mobil yang mencurigakan, ia memperbesar rekaman itu melihat wajah-wajah di dalam mobil dan menghubungkan ke dalam data sistem untuk mencari data orang-orang itu.
"Pantas saja aku seperti mengenalinya, ternyata kau Sabrina Oliver. Jadi kau sudah berada dekat dengan Mommy-ku..." lirihnya.
Di tenda Vard juga terjadi ke khawatiran, saat mendengar laporan dari orang suruhannya yang mengatakan Sabrina Oliver mengikuti Queena seketika dia cemas. "Bagaimana sekarang? Apa wanita itu berbuat sesuatu pada Queena?"
"Tidak ada yang terjadi, Presdir. Sepupu Nona Queena sudah pergi dari depan kantor."
"Hahhh! Bajingan itu, aku bilang lambat laun tunangan nya akan tau! Kenapa otaknya sangat bodoh, apa dia tidak tau sifat asli tunangannya sendiri!" umpat Vard kesal memaki Xavier.
"Apa Anda ingin kembali? Atau masih ingin disini bersama putra Anda?"
"Tunggu dulu saja, jika terlihat pergerakan dari Sabrina dan keadaan akan berbahaya untuk Queena baru kita pergi dari sini."
"Iya."
Malam hari pun tiba, Esther dijemput oleh Xavier. Mereka makan malam dengan nyaman, tidak teralu romantis atau pun santai. Bisa dibilang suasana makan malam sangat terasa hangat, sesekali Xavier mengatakan hal-hal konyol membuat Esther tertawa.
Setelah selesai makan malam, Xavier mengantar kembali Esther ke rumah. Pria yang memakai jas khusus untuk makan malam itu berjalan memutar mobil lalu membuka pintu mobil bagian kursi penumpang dimana Esther duduk.
"Terima kasih," ucap sopan Esther seraya menginjakkan sebelah kakinya ke tanah lalu mengeluarkan seluruh tubuhnya keluar dari dalam mobil.
Esther berjalan ke depan pintu, membuka kode pintu. Ia berbalik manatap Xavier yang mengikutinya di belakang. "Selamat malam."
Xavier masih betah berdiri, tiba-tiba pria itu mencondongkan tubuhnya mendekati wajah Esther.
Drrttttt... Drttttt....
Esther yang masih terkejut karena perilaku Xavier barusan di tambah dikagetkan dengan getaran ponsel di tangannya, ia mengangkat panggilan dari Justin dengan suara terbata-bata. "Y-ya, Honey?"
"Mommy... huhu, tanganku sakit. Mommy cepat datang kesini, aku kesakitan."
Tutttt....
"Halo, halo. Justin!" wajah Esther berubah khawatir.
"Ada apa, Esther?"
"Justin bilang tangan nya sakit dan memintaku datang ke perkemahan. Saat ingin bertanya ada apa, telepon nya terputus."
"Maaf, sebentar. Ada sesuatu di wajahmu, sepertinya bulu mata," Xavier mencodongkan kembali tubuhnya lalu mengambil bulu mata Esther yang terjatuh di pipi.
"Jadi itu bulu mata, aku kira kamu akan..." Esther mengigit bibirnya merasa malu sudah berburuk sangka sempat berpikir Xavier akan menciumnya tanpa meminta ijin.
"Aku akan apa?"
"Tidak! Tidak!" dengan cepat Esther menggeleng, "Aku harus bersiap pergi ke tempat putraku, Xavier. Pergilah, hati-hati membawa mobilmu."
"Aku akan mengantarmu kesana, berbenah lah. Aku tunggu di mobil."
Pria itu sudah berjalan pergi, Esther belum sempat menolak. "Biarlah, lebih baik ada teman di perjalanan. Akan lebih aman."
Di perkemahan Justin tersenyum di dalam tendanya, ia melihat Paman Xavier ingin mencium Mommy-nya dan langsung mengganggu dengan menghubungi sang Mommy. "Tapi, kenapa aku harus berbohong? Mommy pasti datang. Hah! Biarlah!"