Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah dinding kayu yang mulai lapuk, menyapu wajah Leo dengan kasar. Saat kelopak matanya terbuka, hal pertama yang menyapa pandangannya adalah gambar krayon buatan Lili yang ia pajang di dinding, sebuah potret sederhana yang kini menjadi harta paling berharga dalam hidupnya.
Leo mencoba bangkit, namun seketika erangan kecil lolos dari bibirnya. Ia merenggangkan tubuhnya yang terasa remuk, tulang-tulangnya seakan menjerit protes. Tidur beralaskan tikar pandan tipis di atas lantai kayu yang keras adalah siksaan fisik bagi pria yang terbiasa dengan ranjang king size dan seprai sutra. Namun, anehnya, meski tubuhnya sakit, batinnya terasa jauh lebih tenang.
Leo melirik arlojinya. Pukul 08.00 pagi.
"Sial, aku kesiangan," gumamnya sambil terburu-buru membasuh muka.
Ia segera melangkah keluar rumah, berniat menyapa Lili sebelum bocah itu memulai harinya. Namun, rumah di sebelahnya tampak sangat sepi. Tak ada suara tawa Lili, tak ada aroma masakan sederhana dari dapur Raya.
Leo melangkah mendekat ke pagar bambu yang miring. "Lili?" panggilnya.
Hening. Tidak ada sahutan.
"Mungkin dia sudah berangkat ke sekolah," gumam Leo pada diri sendiri. Ia mencoba menenangkan hatinya yang sedikit kecewa. "Dan Raya... pasti sudah di kebun teh."
Ia membayangkan Raya sedang memetik pucuk teh dengan capingnya, bekerja keras di bawah terik matahari demi menyambung hidup. Leo tersenyum tipis, memutuskan untuk menunggu mereka pulang. Tapi, Leo tidak mengetahui bahwa Raya tidak sedang bekerja dan lili tidak sedang berada di sekolah.
* * *
Di sisi lain kota, suasana hangat pegunungan berganti dengan aroma tajam disinfektan dan bunyi mesin yang berdengung ritmis. Di dalam ruang perawatan, Lili tampak begitu kecil di atas ranjang rumah sakit yang serba putih. Lengannya yang kurus sudah bersiap untuk terhubung dengan mesin dialisis,sahabat tak kasat matanya selama dua tahun terakhir.
"Lili takut?" tanya Dokter Nathan lembut. Ia adalah dokter muda yang menangani Lili, pria dengan senyum tenang yang selalu berhasil membuat suasana rumah sakit terasa tidak terlalu mengerikan.
Lili menggeleng pelan, rambut tipisnya sedikit berantakan di bantal. "Enggak, Om Dokter. Kan Lili sudah sering begini, jadi sudah biasa. Lili kuat, kok!" ucapnya dengan suara kecil yang berusaha tegar.
Nathan tersenyum hangat, hatinya selalu tersentuh setiap kali melihat keberanian bocah itu.
"Anak pintar," bisiknya sambil mengusap pucuk kepala Lili. Tangannya bergerak dengan sangat cekatan namun penuh kehati-hatian, memastikan jarum dan selang itu tidak menyakiti Lili sedikit pun.
Sementara itu, di luar ruangan, Raya duduk di kursi tunggu besi yang dingin. Punggungnya membungkuk, dengan kedua tangan yang saling meremas kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bagi orang lain, ini mungkin hanya prosedur medis biasa, tapi bagi Raya, setiap detik yang dilewati Lili di dalam sana adalah hukuman bagi hatinya.
Tak lama kemudian, pintu geser otomatis terbuka. Nathan keluar, melepas masker medisnya, dan langsung mendapati sosok Raya yang tampak rapuh. Ia berjalan mendekat dan duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk memberikan dukungan. Ada keakraban yang terbangun di antara mereka, sebuah hubungan yang tumbuh dari perjuangan panjang demi nyawa Lili.
"Semua sudah selesai. Lili sekarang sedang tidur, dia sangat kooperatif hari ini," ucap Nathan lembut.
Raya tidak menjawab. Ia tetap menunduk, membiarkan rambutnya menutupi wajah. Namun, Nathan bisa melihat tetesan air mata mulai jatuh satu per satu ke atas pangkuan wanita itu.
Nathan menghela napas panjang. Ia menoleh, menatap Raya dengan tatapan teduh yang sulit diartikan. "Anna... sampai kapan kamu mau menyimpan beban ini? Apa kamu masih menyalahkan dirimu sendiri atas kondisi Lili?"
"Memang nyatanya semua ini salahku, Nath," suara Raya bergetar hebat. "Andai aku tidak ceroboh malam itu... andai aku lebih waspada, Lili tidak akan menderita dengan mesin itu seumur hidupnya."
Nathan terdiam sejenak, lalu perlahan tangannya terulur mengusap punggung Raya. Ia memberikan kekuatan lewat sentuhan itu, mencoba meredam badai di dalam dada wanita itu.
"Anna, dengarkan aku," ucap Nathan lembut namun tegas. "Kita tidak pernah tahu takdir seperti apa yang dituliskan untuk kita. Berhentilah menghukum dirimu sendiri atas sesuatu yang sudah terjadi. Yang Lili butuhkan sekarang adalah ibunya yang kuat, bukan ibunya yang hancur karena rasa bersalah."
Raya terisak pelan. Tangannya menutup wajah, seolah ingin menyembunyikan kehancuran yang sudah terlalu lama ia pendam sendiri. Bahunya bergetar hebat, pertahanan yang selama ini ia bangun runtuh di hadapan Nathan.
"Aku sudah mencobanya, aku selalu meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi melihatnya kesakitan seperti itu... rasanya aku gagal menjadi pelindungnya," bisik Raya sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.