Cerita ini adalah kelanjutan dari Reinkarnasi Dewa Pedang Abadi.
Perjalanan seorang dewa pedang untuk mengembalikan kekuatannya yang telah mengguncang dua benua.
Di tengah upaya itu, Cang Yan juga memikul satu tujuan besar: menghentikan era kekacauan yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, sebuah era gelap yang pada awalnya diciptakan oleh perang besar yang menghancurkan keseimbangan dunia. Demi menebus kesalahan masa lalu dan mengubah nasib umat manusia, ia kembali melangkah ke medan takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Dimulainya Kompetisi Antar Sekte
Setelah hadiah kompetisi diumumkan, semangat para peserta langsung memuncak. Sorak-sorai penonton menggema memenuhi arena, membuat suasana semakin panas. Namun kegaduhan itu perlahan mereda ketika Kaisar Lei Guang mengangkat tangannya. Seluruh arena seketika sunyi, dipenuhi dengan ketegangan.
“Dengan ini, aku resmi membuka Kompetisi Antar Sekte,” ucapnya dengan suara berat yang menggema ke seluruh arena.
Dentuman gong raksasa terdengar tiga kali berturut-turut, menandakan kompetisi resmi dimulai. Para peserta segera bersiap di tempat masing-masing, sementara sebuah layar raksasa muncul di udara, disusul empat pilar naga yang menjulang di setiap sudut arena, masing-masing dijaga oleh kultivator tahap menengah Transformasi Jiwa.
Di area Sekte Pedang Langit, Wang Tian menatap arena dengan mata menyala.
“Akhirnya dimulai,” ucapnya singkat.
Zhao Fan hanya menganggukan kepalanya “Hati-hati nanti.”
Ketua Sekte Tian Ling berdiri di belakang mereka. “Ingat, bertarunglah dengan kepala dingin.”
Gong kembali berbunyi, menandai dimulainya pertarungan pertama.
Dua sosok berdiri berhadapan di tengah arena. Bai Chen dari Sekte Langit Suci tampil tenang dengan aura percaya diri, sementara Yun Mei dari Sekte Bunga Teratai berdiri dengan anggun, pedang tipisnya berkilau memantulkan cahaya arena. Setelah saling memberi hormat singkat, pertarungan pun dimulai.
Yun Mei bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat ringan, pedangnya menari menciptakan kelopak-kelopak energi yang berputar indah namun mematikan. Bai Chen mundur cepat, ia melepaskan serangan petir untuk menjaga jarak, memaksa Yun Mei berputar menghindar sebelum kembali menekan dengan tebasan cepat.
Benturan senjata mereka memercikkan energi dan membuat arena bergetar. Sorakan penonton menggema, terpukau oleh kecepatan dan ketepatan teknik keduanya. Bai Chen mulai mengumpulkan energi petir ke dalam pedangnya, kilatan ungu menyelimuti bilah senjata itu saat ia melesat maju dengan kecepatan kilat.
Yun Mei segera membentuk formasi pertahanan, memanggil kelopak-kelopak energi yang berputar rapat di sekeliling tubuhnya, mencoba menahan gempuran petir yang menghantam bertubi-tubi. Arena kembali bergetar oleh benturan energi, namun Bai Chen tetap tenang, mengamati pola pergerakan formasi tersebut dengan saksama.
Saat celah itu muncul, ia bergerak tanpa ragu. Satu tebasan tajam menghantam titik terlemah pertahanan Yun Mei, membuat formasi kelopak bunga itu runtuh seketika. Sebelum Yun Mei sempat mengambil langkah mundur, ujung pedang Bai Chen telah berhenti tepat di depan lehernya.
Yun Mei menghela napas panjang dan menurunkan pedangnya. “Aku kalah.”
Arena terdiam sejenak sebelum akhirnya dipenuhi sorak-sorai.
“Pemenangnya, Bai Chen dari Sekte Langit Suci!” seru juri utama.
Bai Chen menarik pedangnya dan sedikit membungkuk. “Pertarungan yang baik.”
Yun Mei mengangguk pelan. “Semoga kita bisa bertemu lagi.”
Suasana arena kembali memanas ketika layar besar menampilkan nama-nama peserta pertarungan kedua. Sorak penonton memuncak saat juri utama mengumumkan duel berikutnya, mempertemukan Sekte Langit Suci dengan Sekte Seribu Senjata.
Dua sosok melangkah ke tengah arena. Feng Zhi berdiri tenang dengan jubah putih keperakan, auranya stabil dan juga luar biasa.
Di seberangnya, Guan Tao memancarkan tekanan yang sepenuhnya berbeda. Tubuhnya besar dan kokoh, tiga senjata tergantung di tubuhnya siap dilepaskan kapan saja, mencerminkan gaya bertarung brutal khas Sekte Seribu Senjata.
Begitu aba-aba dimulai, Guan Tao langsung menyerbu. Rantai berduri melesat dari tangannya, mengoyak udara dengan suara tajam.
Feng Zhi bergerak dengan ringan, pedangnya terangkat tepat waktu untuk menangkis sebelum ia melompat mundur untuk menjaga jarak. Serangan susulan datang tanpa jeda.
Kapak besar menghantam tanah dan retakan terjadi di segala arah, namun Feng Zhi sudah berpindah posisi sebelum dampak kehancuran itu mencapainya.
Kecepatan dan ketenangannya mulai mengubah ritme pertarungan. Guan Tao, yang terbiasa menekan lawan dengan kekuatan brutal, justru semakin kehilangan kendali.
Saat ia berbalik, Feng Zhi telah berada di belakangnya. Cahaya pedang menyambar bertubi-tubi dengan presisi dan dingin, memaksa Guan Tao bertahan sambil mundur. Beberapa tebasan berhasil menembus pertahanannya, cukup untuk melukai namun belum bisa menjatuhkannya.
Menyadari dirinya terdesak, Guan Tao segera mengaktifkan teknik pertahanannya. Pedang-pedang energi muncul dari tanah dan berputar membentuk perisai rapat untuk menahan setiap serangan yang datang. Sorakan penonton terdengar ketika pertahanan itu berhasil menghentikan laju Feng Zhi.
Namun Feng Zhi tidak tergesa gesa. Ia mengamati dengan napas terkontrol, lalu menghilang dari pandangan. Dalam sekejap, cahaya pedangnya turun dari langit menghantam pertahanan itu dari sudut yang tak terduga.
Perisai energi pecah, dan Guan Tao terlempar keras ke belakang sampai kehilangan keseimbangan dan tak mampu bangkit sepenuhnya.
Juri utama segera mengakhiri pertarungan. Feng Zhi dinyatakan menang. Arena kembali bergemuruh, sementara Guan Tao hanya menghela napas panjang menerima kekalahannya tanpa protes.
Feng Zhi sendiri kembali ke tempatnya dengan langkah tenang seolah olah kemenangan itu hanyalah hasil yang seharusnya.
Tanpa jeda, juri utama mengumumkan pertarungan ketiga. Nama Sekte Gunung Es dan Sekte Awan Suci muncul bersamaan, membangkitkan antusiasme baru di tribun. Dua sekte dengan gaya bertarung yang sepenuhnya bertolak belakang kini berhadapan.
Han Fei melangkah ke arena, dan hanya dengan kehadirannya, suhu di sekitarnya mulai turun. Lapisan es tipis menjalar di permukaan tanah.
Sementara di seberangnya, Shen Mu berdiri dengan ringan, jubahnya berkibar tertiup angin.
Begitu pertarungan dimulai, Shen Mu bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat cepat, hampir menghilang dari pandangan. Sementara Han Fei tidak mengejar. Ia menghentakkan kakinya dan lapisan es menjalar cepat, mengubah arena menjadi medan beku.
Shen Mu melayang di udara, menghindari jebakan itu, namun Han Fei telah menguasai medan. Pecahan es runcing terbentuk dan melesat dari segala arah, memaksa Shen Mu bertahan dengan badai angin.
Meski serangan awal berhasil ditahan, ia terlambat menyadari bahwa suhu di sekelilingnya terus menurun. Gerakannya mulai melambat, udara yang ia kendalikan terasa berat dan dingin.
Han Fei melangkah maju dengan tenang. Seluruh arena kini berada di bawah kendalinya. Saat Shen Mu memaksakan diri dengan sisa kekuatan angin, tombak es raksasa terbentuk di tangan Han Fei dan melesat tanpa ragu. Badai angin terakhir Shen Mu tidak mampu menghentikannya.
Tubuh Shen Mu terhempas ke tanah beku dan tak mampu bangkit. Arena terdiam sesaat sebelum juri utama mengumumkan kemenangan Han Fei.
Sorak-sorai kembali mengguncang arena, sementara para tetua Sekte Gunung Es menunjukkan kepuasan yang tak mereka sembunyikan.
Di tribun VIP, Chang Yan dan Xue Er menyaksikan pertarungan itu dengan saksama. Xue Er melirik Cang Yan yang sejak awal tetap diam tanpa ekspresi, seolah hasil pertarungan tersebut sudah berada dalam perhitungannya. Sikap tenangnya justru membuat kehadirannya terasa semakin sulit ditebak.
Di arena, Han Fei mendekati Shen Mu yang perlahan bangkit dan mengulurkan tangannnya. Shen Mu menerimanya tanpa ragu. Keduanya kemudian kembali ke tempat masing-masing, meninggalkan arena yang masih dipenuhi gemuruh antusiasme.
Kompetisi baru saja dimulai, namun ketegangan telah terasa semakin tajam.