Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Kiandra menunduk, jemarinya saling mengait kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Dadanya sesak, bukan cuma karena marah, tapi karena rasa dikhianati yang masih menempel di dadanya dan belum mau pergi. Di hadapannya, ibu mertuanya duduk sambil menggenggam tangannya
“Kiandra, mama minta maaf atas semua kesalahan Adam. Mama mohon kamu jangan tinggalin Adam, pertahankan rumah tangga kalian. Demi Zayyan, jangan pernah mau kalah dari gundik itu.,” ucap Ina lirih. Ada rasa bersalah yang jelas di wajahnya. Sebagai seorang ibu, dia malu setengah mati atas apa yang sudah dilakukan oleh putranya sendiri. Dia tidak pernah menyangka Adam bakal sejauh ini,menginjak harga diri istrinya sendiri.
Kiandra menghembuskan napas panjang, berusaha menahan air matanya yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata. Kepalanya dipalingkan ke arah lain, dia takut pertahanannya akan runtuh ketika berhadapan dengan Ina.
“Aku belum tahu, ma, Aku masih kecewa dan juga sakit hati dengan apa yang putra mama lakukan. Dua tahun, ma… dua tahun dia berselingkuh di belakangku. Selama itu juga dia membuatku seperti orang bodoh yang mempercayai semua kebohongan dia. Aku senyum, aku percaya, sementara dia asik main di belakang.” ucap Kiandra mengeluarkan uneg-unegnya.
Suasana jadi hening. Ina hanya bisa menelan ludahnya, dadanya ikut nyeri mendengar ucapan menantunya. Walaupun dia tidak pernah mengalami diselingkuhi, tapi melihat luka di wajah Kiandra, dia sudah cukup membuat hatinya ikut remuk.
“Mama ngerti perasaan kamu,” ucap Ina setelah beberapa saat. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena penyesalan. “Mama nggak mau maksa kamu. Mama cuma minta kamu mikir baik-baik sebelum ambil keputusan. Apa pun pilihan kamu nanti, mama cuma pengin itu keputusan yang bikin kamu nggak nyesel.”
Kiandra terdiam. Pikirannya penuh, kepalanya rasanya mau pecah. Antara ingin bertahan demi anaknya, atau pergi demi harga dirinya sendiri.
Ina lalu mendekat sedikit, tangannya terulur ragu sebelum akhirnya menggenggam tangan Kiandra. “Kalau kamu mau marah, marah saja. Kalau kamu mau nangis, nangis saja. Kamu boleh shopping sesuka hati kamu, beli apa aja yang kamu mau. Lampiaskan semua sedih kamu itu sampai hati kamu sedikit lega, sampai kamu merasa lebih kuat dan bangkit”
Kiandra menunduk lagi. Bahunya sedikit bergetar. Air matanya akhirnya jatuh juga, satu per satu, tidak bisa ditahan lagi. Menetes ke punggung tangannya sendiri yang sejak tadi saling menggenggam. Tangis itu bukan karena tawaran belanja, bukan juga karena kata-kata manis yang baru saja dia dengar. Tapi karena untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar diakui. Dianggap korban, bukan sekadar istri yang harus selalu kuat, selalu sabar, selalu disuruh ngalah demi nama keluarga.
Selama ini, setiap orang cuma lihat dia dari satu sisi. Istri sah yang katanya harus dewasa. Harus bisa nerima, harus bisa memaafkan. Tapi nggak ada yang benar-benar nanya, seberapa hancur hatinya waktu tahu suaminya hidup dua wajah di belakangnya. Dan sekarang, dari mulut mertuanya sendiri, pengakuan itu akhirnya keluar.
Ina menarik napas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya ke Adam. Tatapannya tajam, penuh amarah yang ditahan setengah mati.
“Dan kamu, Adam,” suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya. “Jangan pernah marah sama apa pun yang Kiandra lakuin. Kalau dia cuek, kalau dia nganggep kamu nggak ada, terima. Itu resiko dari semua kelakuan kamu sendiri.”
Adam diam. Rahangnya mengeras, tapi dia nggak berani membantah.
Ina melangkah lebih dekat, jaraknya tinggal sejengkal dari anaknya sendiri. “Dia butuh waktu. Bukan sehari, bukan seminggu. Entah sampai kapan. Dan kamu nggak punya hak buat nuntut apa pun.”
Nada suaranya naik. “Sampai kamu berani bentak atau marahin Kiandra, awas saja kamu,” ancam Ina tanpa bercanda sedikit pun. Matanya menyala, benar-benar geram. “Mama nggak bakal tinggal diam. Jangan kira cuma karena kamu anak mama, kamu bisa seenaknya.”
Adam menghela napas panjang, kasar. Kepalanya terasa makin berat. Semua suara di ruangan itu seperti berisik di telinganya. “Iya, ma, “Sudah, mama pulang aja. Mama bikin aku tambah pusing." katanya akhirnya, nada suaranya lelah.
Ucapan itu bikin Ina terdiam sesaat. Lalu matanya membelalak, nggak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dadanya naik turun menahan emosi.
“Kurang ajar kamu, Sudah bikin masalah segunung, masih berani mengusir mama.” seru Ina.
Ina menatap Adam dengan kecewa, lalu melirik Kiandra yang masih tertunduk sambil menyeka air matanya. Ada rasa bersalah yang makin menekan dadanya. Dia sadar, terlalu lama dia tutup mata. Terlalu sering membela anaknya sendiri tanpa mau dengar luka orang lain.
Ina mendengus pelan, lalu mengambil tasnya. “Jaga sikap kamu, Adam, “Dan ingat, kalau sampai Kiandra kenapa-kenapa karena kamu, mama sendiri yang bakal berdiri paling depan lawan kamu.” katanya dingin sebelum melangkah pergi.
Drrtt.....
Drtt....
Tiba-tiba suara dering dari ponsel Adam memekikan telinga. Kini semua mata tertuju pada Adam.
"Siapa yang menghubungimu, Adam?" seru Ina sambil menatapnya tajam.
Jantung Adam deg-degan, perlahan dia melihat ponselnya yang berada di genggamannya.
"Kenapa diam saja? Siapa yang menghubungimu" desak Ina.
Sedangkan Kiandra tetap diam sambil melihat ke wajah suaminya yang terlihat tegang, dia bisa menebak jika yang menghubunginya adalah Nayla.
"Gundik itu lagi" tanya Kiandra sinis.
Ina melototkan matanya, dia yang geram pun segera merebut ponsel Adam.
"Nayla" gumam Ina saat melihat nama muncul di layar ponsel tersebut.
"Ma....." belum sempat Adam bersuara, Ina sudah lebih dulu mengangkat panggilan itu.
"DASAR GUNDIK TIDAK TAHU DIRI, UNTUK APA KAMU MENGHUBUNGI SUAMI ORANG HAH? KALAU GATAL ITU GARUK, JANGAN GANGGUIN RUMAH TANGGA ORANG" sentak Ina.
Ina masih memegang ponsel itu dengan tangan gemetar, dadanya naik turun karena emosi. Adam cuma bisa berdiri kaku, wajahnya pucat pasi. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Di seberang sana, terdengar suara Nayla yang sempat terdiam beberapa detik. Mungkin kaget, mungkin takut.
“Ini siapa? Saya hanya ingin bicara dengan Adam,” ucap Nayla akhirnya, suaranya dibuat selembut mungkin.
“Bicara apa lagi? Kamu masih punya muka ya? Dua tahun kamu mengacak-ngacak rumah tangga anak saya, sekarang masih berani menelpon?” bentak Ina keras.
Kiandra menyilangkan tangannya di dada. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum bahagia, tapi senyum pahit. Entah kenapa, mendengar semuanya terbuka seperti ini malah bikin dadanya terasa sesak.
“Ma, udah ma…” Adam mencoba mendekat, tapi Ina langsung menepis tangannya.
“DIAM KAMU! Urusanmu dan mama belum selesai" ucap Ina tanpa menoleh ke arah Adam.
Nayla di seberang sana mulai terdengar terisak. “Tante, saya sama Adam saling cinta. Saya juga korban…”
“KORBAN KEPALA KAMU! Yang korban itu istri sahnya, bukan kamu yang numpang hidup dari uang laki orang!” sentak Ina.
"Dengar ya Nayla, selama ini kamu enak-enakan pakai uang anakku. Mobil, apartemen, liburan. Sekarang jangan sok paling tersakiti.”
Adam menunduk, bahunya merosot. Dia sadar, semua ini akibat ulahnya sendiri.
Ina menarik napas panjang, lalu bicara lagi ke ponsel dengan nada dingin. “Mulai sekarang, jangan pernah hubungi Adam lagi. Semua yang pernah dikasih ke kamu bakal ditarik. Anggap aja mimpi indah kamu sudah selesai.”
Tanpa nunggu jawaban, Ina langsung mematikan panggilan itu. Ponsel Adam dilempar ke sofa dengan kasar.
Ruangan mendadak sunyi. Sunyi yang menyesakkan.
Kiandra mengusap wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku capek, ma… capek banget,” ucapnya lirih.
Ina menoleh ke arah menantunya, amarahnya sedikit mereda, berganti rasa bersalah. “Maaf, Kiandra. Mama benar-benar minta maaf.”
Adam masih diam, tenggelam dalam rasa takut dan penyesalan. Dia tahu, setelah ini, hidupnya nggak akan pernah sama lagi.
kejam ya tapi si nayla nya aja nggak niat berubah
dijauhkan dari nayla dan nayla2 yg lain 😅😅😅
apapun niat nayla semoga gagal
atau haris bakal berubah jd mucikari??😅😅😅
atau cerita ini akan segera tamat??