Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beri Saya Kesempatan
Citra terperangah mendengar pengakuan Bima yang sudah mengaguminya sejak lama. Pantas saja, selama dirinya berumah tangga dengan Bayu, Bima jarang menampakkan dirinya. Apakah itu sengaja dilakukan Bima untuk meredam perasaan terhadapnya? Citra menduga-duga.
"Ummm ..." Citra tidak tahu harus bicara apa, sementara semu merah kembali mewarnai pipinya.
"Saat ini kamu sudah tidak terikat pernikahan dengan siapa pun. Saya rasa ini waktu yang tepat untuk saya mengungkapkan keinginan saya untuk memiliki kamu." Bima tak ragu lagi mengungkap perasaannya terhadap Citra, karena ia sangat percaya diri Citra akan menjadi miliknya. Tak ada rintangan berarti yang ia anggap akan menghalangi keinginannya menjadikan Citra sebagai istrinya.
Citra tertunduk dan salah tingkah. Dia benar-benar tak menyangka, dirinya disukai Bima, bahkan sejak pertama kali ia menjadi istri Bayu.
"Jadi, apa kamu mau menjadi istri saya?" tanya Bima berharap kepastian jawaban dari Citra.
"I-ini terlalu mendadak buat saya, Mas. Lagi pula Mas masih terikat hubungan keluarga dengan mantan suami saya. Saya rasa keluarga saya tidak akan merestui keinginan Mas itu." Citra pesimis, karena ia yakin ibunya dan keluarganya yang lain pasti akan menentang dan melarang dirinya dekat, apalagi menjadi istri Bima, jika mereka tahu siapa Bima yang sebenarnya. Karena sejak dirinya dan Bayu bercerai, keluarganya sudah mem-blacklist keluarga Bayu dari hidup mereka.
"Saya sudah katakan jika saya bukan pria bod0h seperti Bayu yang menyia-nyiakan kamu!" tegas Bima tak ingin disangkutpautkan dengan Bayu meskipun ia adalah kakak tiri Bayu.
"Tapi Mas tetap keluarganya dan saya juga nggak ingin lagi berurusan dengan mereka!" Citra tidak kalah memberikan penekanan kalau dirinya sudah tidak ingin lagi berurusan dengan apa pun dan siapa pun yang berhubungan dengan keluarga Bayu.
Bima terdiam beberapa saat dengan mata menatap lekat Citra hingga dengusan nafasnya terdengar.
"Baiklah, pulang dari sini, saya akan bicara pada keluarga kamu kalau saya kakak tiri Bayu." Bima tak punya pilihan dan berniat menjelaskan siapa dirinya dan apa tujuannya mendekati Citra, agar keluarga Citra mengetahuinya. Sebenarnya ia memerlukan waktu untuk bisa membuktikan keseriusannya ingin menikahi Citra, agar seluruh keluarga Citra tidak ada satu pun yang menolaknya.
"Jangan, Mas!" Namun, Citra melarang, membuat kening Bima berkerut. "Sebaiknya Mas lupakan saja keinginan Mas itu! Mas bisa mencari wanita lain, saya yakin banyak wanita yang lebih baik dari saya yang bisa menjadi pendamping Mas. Saya nggak ingin melihat keluarga saya kecewa kalau tahu Mas adalah kakak tiri Bayu." Citra menyarankan Bima melupakan perasaan terhadapnya. Dia tidak ingin mengecewakan keluarganya karena saat ini mereka terlihat bahagia dengan kehadiran Bima yang mereka anggap sebagai calon suaminya. Mungkin lebih baik Bima menjauh sekarang agar keluarganya tak lagi berharap.
"Ini tidak adil, Citra! Kenapa saya harus terkena imbas untuk hal buruk yang tidak saya lakukan?" Bima memprotes, karena tak diberi kesempatan untuk memiliki Citra, hanya karena hubungan kekeluargaan dirinya dengan Bayu.
Citra menundukkan kepala tak berani menatap mata Bima yang menyiratkan kekecewaan terhadap keputusannya.
"Tolong beri saya kesempatan, Citra! Saya akan buktikan ke kamu juga keluargamu kalau saya bisa memberikan apa yang tidak pernah bisa Bayu berikan kepadamu dulu." Bima memohon dan berjanji akan menjadi suami yang baik dan memberikan kebahagiaan yang tak pernah didapat Citra dari pernikahan sebelumnya.
Citra menarik nafas dalam-dalam. Sejujurnya ia ingin seperti wanita lainnya, berumah tangga dan mendapatkan pendamping hidup yang benar-benar mencintai dan menerimanya. Tapi, dia takut akan gagal lagi, apalagi dia akan dipertemukan dengan keluarga yang sama dengan mantannya dulu.
"Kamu tidak usah mencemaskan Tante Arini! Dia bisa mempengaruhi Bayu, tapi tidak dengan saya. Dia tidak punya hak mengatur hidup saya." Bima seperti merasakan apa yang sedang dicemaskan Citra saat ini dan berusaha meyakinkan Citra agar percaya pada janjinya.
"S-saya, saya belum bisa menjawab sekarang, Mas. Saya butuh waktu untuk memikirkannya." Citra menunda memberi jawaban, sebab Bima terkesan tidak menerima penolakan darinya.
"Baiklah, saya beri kamu waktu untuk bisa menerima saya. Tapi, selama kamu berpikir, jangan larang saya untuk dekat dengan kamu, supaya saya bisa membuktikan keseriusan saya ini." Bima mengajukan syarat. Dia tak ingin disuruh menjaga jarak dengan Citra selama Citra berpikir sebelum menentukan pilihan.
Citra menghempas nafas panjang. Percuma ia melarang, karena Bima pasti akan terus berusaha mendekatinya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyetujui permintaan pria itu.
"Terima kasih. Saya berjanji, saya akan membahagiakan kamu." Secara refleks Bima menggenggam tangan Citra, membuat Citra terkesiap dan dengan cepat menarik tangannya.
"Oh, maaf." Bima buru-buru minta maaf supaya Citra tak marah dan menganggapnya kurang ajar. "Saya hanya senang kamu memberi saya kesempatan," alasannya. Sementara wajah Citra kembali merona karena bersentuhan dengan Bima tadi.
Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam berbincang dan menikmati makanan, Bima berniat membawa Citra kembali ke rumah Uwa Ujang. Dia memilih menghabiskan malam Minggu dengan mengobrol dengan keluarga Citra agar dirinya makin akrab dengan mereka.
Buugghh
"Aakkhh!"
Ketika Citra dan Bima berjalan menuju ke parkiran mobil, tiba-tiba seseorang berjalan terburu-buru hingga menabrak Citra dan membuat tubuh Citra terhuyung kehilangan keseimbangan. Untungnya lengan kekar Bima sigap menahan tubuh Citra dan merengkuhnya, membuat wanita itu urung terjatuh.
"Hei, hati-hati kalau jalan!" Bima juga menegur dengan menghardik laki-laki muda yang tadi menabrak Citra tadi.
"Sorry, Om. Nggak sengaja." Orang itu meminta maaf dan langsung pergi meninggalkan Citra dan Bima.
"Tidak sopan!" Bima menggerutu karena pria muda itu langsung pergi tanpa menyadari dirinya masih memeluk Citra.
Citra tercengang menyadari dirinya berada dalam pelukan. Jantungnya berdegup kencang, hatinya berdebar merasakan pelukan hangat dari tubuh kekar Bima.
"Ummm, Mas." Citra menjauhkan tangan Bima yang merangkulnya. Bergenggaman tangan saja sudah membuatnya salah tingkah, apalagi saat ini berpelukan.
"Oh, Maaf, saya tadi refleks takut kamu terjatuh." Bima pun terkaget menyadari dirinya tadi secara spontan memeluk Citra.
"Makasih Mas sudah menolong saya." Grogi karena kejadian tadi, Citra langsung melangkah cepat menuju mobil Bima.
Bima melihat Citra yang tampak salah tingkah. Dia lalu menoleh ke arah pria yang menabrak Citra tadi menghilang. Mungkin dia layak berterima kasih pada pria muda itu, karena ini seperti keuntungan baginya yang secara tak sengaja bisa memeluk Citra. Senyumnya pun mengembang dan tak lama akhirnya ia menyusul Citra ke mobil.
❤️❤️❤️
❤️❤️❤️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best