NovelToon NovelToon
Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Pesona Suami Yang Tidak Dicintai

Status: tamat
Genre:Duda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Alfiana

"Aku tidak menerima pernikahan ini. Aku nggak cinta sama kamu, apalagi di usiaku yang masih muda sudah harus mengurus seorang anak!"

Bianca, gadis manja dan pecicilan harus dipaksa kedua orang tuanya untuk menikahi seorang duda beranak 1.

Ia yang tidak suka akan perjodohan tentu saja menolak, apalagi ditambah dengan seorang duda memiliki anak. Bianca tidak siap menjadi ibu sambung.

Akan tetapi paksaan tetap paksaan, ia akhirnya menikah dengan pria dewasa yang merupakan tetangganya saat ia kecil.

Bianca yang tidak cinta justru sebaliknya dengan sang duda, Raka Dewangga. Pria itu mencintai Bianca sejak gadis itu masih duduk di bangku SMP.

Ia yang ditawarkan untuk menikahi anak tetangga nya dulu tentu saja tidak menolak, Raka bertekad akan membahagiakan Bianca.

Akankah Bianca luluh dengan cinta Raka dan menerima semua takdirnya? Atau ia malah kabur bersama sang kekasih karena tidak siap menjadi ibu sambung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keinginan Raka

Bianca dan Raka pergi ke wisata kulineran di dekat pantai. Kulineran ini juga tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap, sehingga mereka akan jalan kaki setelah makan.

Raka merogoh ponselnya, ia lalu mengarahkan kamera ke depan wajah cantik istrinya.

"Bia, coba hadap sini." Pinta Raka.

Bianca menoleh, ia tidak siap sama sekali sehingga saat suara kamera berbunyi, dapat Bianca yakini itu akan jadi jelek.

"Mas, ahh hapus! Aku nggak mau muka aku jelek!" seru Bianca kesal.

Raka terkekeh, ia menunjukkan hasil fotonya kepada sang istri. Bianca memang tidak tersenyum, namun tetap terlihat cantik.

"Cantik banget." Puji Raka dengan sungguh-sungguh.

"Nggak ih, aku lagi mangap gitu. Mas hapus!!" pinta Bianca merengek.

Raka tetap pada keputusannya untuk menyimpan foto itu. Ia tidak mau menghapusnya, karena menurutnya itu sangat lucu.

"Nanti pajang di kamar ya." Tutur Raka dengan senyuman yang begitu lebar.

Bianca mendengus, ia memilih untuk menyantap makanan nya dengan wajah di tekuk. Percuma saja jika terus meminta di hapus, Raka pasti tidak akan mau.

Bianca menatap Raka yang juga menyantap makanan nya dengan usil, ia lalu merogoh tas kecil yang ia bawa lalu mengambil ponselnya.

"Mas, ayo foto berdua." Ajak Bianca.

Raka menatap istrinya, ia sangat bahagia mendengar ucapan sang istri yang mengajaknya untuk foto bersama.

"Ayo!" balas Raka antusias.

Bianca mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka. Raka dan Bianca sudah memasang wajah sebaik mungkin agar terlihat bagus nantinya.

Namun nyatanya Bianca mau membalas dendam, ia mencubit kaki suaminya sampai Raka meringis. Saat itu, Bianca langsung menekan tombol kamera.

"Sayang …." Raka menatap istrinya dengan sedikit merengek.

Bianca tertawa, ia memperlihatkan hasil fotonya dimana ia tersenyum manis, sementara Raka seperti orang teraniaya.

"Nanti ini yang kamu pajang di kamar kita ya, biar Kiano tahu maminya bahagia." Tutur Bianca.

Raka terkekeh, ia mengusap-usap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.

"Jadi kamu bahagia?" tanya Raka.

Bianca mengangguk. "Iya, sangat bahagia." Jawab Bianca.

Bianca terdiam setelah beberapa saat, ia lalu menoleh menatap Raka yang juga menatapnya.

"Saya senang kamu bahagia, Bi. Selalu begini ya, saya akan berusaha lebih keras lagi." Tutur Raka dengan suara yang mendayu-dayu di telinga Bianca.

Bianca tidak menjawab, ia meletakkan ponselnya, lalu lanjut menyantap makanan nya.

Raka mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi istrinya singkat.

Bianca melotot, ia menoleh ke arah suaminya. "Mas, apa-apaan sih!" tegur Bianca.

Raka tidak membalas, hanya tersenyum lalu kembali menyantap makanannya juga.

Selesai makan, Raka dan Bianca pun pergi meninggalkan wisata kulineran itu. Bianca bilang mereka harus segera pergi, atau bisa-bisa berat badannya naik nanti karena tergiur makanan.

Raka dan Bianca sama-sama membuka alas kaki mereka, sehingga kaki masing-masing bisa merasakan kelembutan pasir pantai.

"Bia." Panggil Raka tanpa menatap istrinya.

"Apa?" sahut Bianca menoleh, menatap wajah suaminya yang tampan.

"Boleh saya minta hadiah saya sekarang?" tanya Raka. Kali ini pria itu menoleh ke wajah istrinya.

Bianca menelan gumpalan salivanya, ia mendadak gugup dan takut akan hadiah apa yang Raka inginkan.

Bianca mengangguk, ia tidak mau berbuat curang.

"Iya, Mas. Kamu mau apa?" tanya Bianca balik.

Raka tersenyum, ia menggenggam tangan kiri Bianca dengan tangan kanan nya, lalu mengajaknya untuk duduk di pinggir pantai.

"Kita duduk disini ya, sekalian saya akan katakan apa yang saya inginkan." Ucap Raka.

"Iya, Mas." Timpal Bianca pasrah.

Suara deburan ombak menemani pasangan suami istri yang sedang menikmati angin pantai yang begitu sejuk.

Suara teriakan beberapa orang yang ada di sana bahkan seperti tenggelam dan terbawa oleh angin yang memang cukup kencang.

Bianca memejamkan matanya, menikmati sejuknya udara yang menerpa wajah dan seluruh tubuhnya.

"Bia." Panggil Raka, tangannya menyelipkan anak rambut di belakang telinga gadis itu.

Bianca membuka matanya, ia menatap sang suami penuh pertanyaan.

"Hmm?" sahut Bianca membalas tatapan sang suami.

"Saya mau minta hadiah saya sekarang." Ucap Raka pelan, meskipun begitu Bianca masih bisa dengar sebab posisi wajah mereka yang sangat dekat.

Bianca menganggukkan kepalanya perlahan, rasa takut kembali hinggap di dalam hati gadis itu.

"Jangan takut, Sayang. Saya nggak akan minta macam-macam, termasuk meminta hak saya." Tutur Raka.

Tangan Raka yang tadi menyelipkan anak rambut, kini beralih mengusap pipi halus Bianca.

Bianca antara syok dan senang mendengar ucapan Raka. Ia sudah berpikir bahwa Raka akan meminta haknya malam ini, namun ia salah.

"Saya nggak mau egois, Bi. Saya mencintai kamu lebih dari apapun, jadi saya tidak akan meminta sesuatu jika kamu terpaksa melakukannya." Ucap Raka lagi.

"Jadi mas minta apa?" tanya Bianca pelan.

Raka menarik kepala Bianca untuk bersandar di dada, sementara ia akan mengusap-usap bahu istrinya.

"Saya cuma minta kamu belajar untuk menerima saya, Bi. Saya hanya ingin kita berdua sama-sama bisa saling mengenal lebih jauh." Jawab Raka.

"Sisa waktu kita di Bali ini, saya harap bisa membuat kita berdua sama-sama mengenal dan memahami satu sama lain. Demi Tuhan, Bi. Bulan madu ini saya nggak berharap untuk meminta hak saya, saya lebih ingin kamu bisa menerima saya sebagai suami, atau mungkin teman." Tambah Raka dengan tulus dari hati.

Bianca menarik diri dari pelukan suaminya, ia menatap Raka yang tersenyum begitu tenang.

"Saya menikahi kamu bukan hanya ingin saya jadikan teman ranjang, tapi ingin saya bahagiakan. Bahagia itu bisa dari mana saja, bahkan saat kita duduk berdua seperti ini saja saya sudah sangat bahagia." Kata Raka tanpa menatap istrinya.

Bianca hanya diam, matanya terus memperhatikan wajah Raka yang menatap lurus ke arah laut.

"Bertahun-tahun saya mencintai kamu dalam diam, dan sekarang saat kamu sudah menjadi milik saya, saya tidak akan membiarkan kamu pergi hanya karena keegoisan saya." Ucap Raka lagi.

"Mas." Panggil Bianca.

Raka menoleh dengan senyuman, dan tatapan yang hangat seperti biasanya.

"Apa, Sayang?" sahut Raka.

Bianca tidak bicara, ia malah menatap lurus seperti yang Raka lakukan tadi.

"Kamu tahu, Sayang? Buat saya, cinta itu seperti pasir …" Raka mengambil pasir pantai di genggaman tangannya.

"Semakin kita genggam, maka dia akan semakin berkurang." Tambah Raka lalu menggenggam pasir sehingga pasir di dalam tangannya itu perlahan mulai jatuh dan habis.

"Maksud mas?" tanya Bianca.

"Itu sama seperti kamu, Bia. Saya nggak mau terlalu memaksa kamu, saya nggak mau kamu pergi." Jawab Raka.

"Memiliki kamu dengan status yang sudah halal seperti sekarang saja bagi saya adalah anugrah Tuhan. Kamu dan Kiano, adalah anugrah Tuhan yang tidak ternilai." Ucap Raka lagi.

Mendengar ucapan Raka justru membuat dada Bianca terasa sesak. Ada perasaan tidak enak dalam diri gadis itu saat menyadari segitu besarnya cinta pria itu untuknya.

"Kenapa kamu sangat mencintaiku, Mas?" tanya Bianca.

Raka tertawa. "Nggak ada alasan untuk saya tidak mencintai kamu. Kamu gadis yang baik, cantik dan juga penyayang." Jawab Raka.

Bianca hendak bicara, namun Raka memotongnya.

"Ya, saya ingat bagaimana sikap kamu sama Kiano dulu. Tapi saya juga tahu bahwa sikap yang kamu tunjukkan bukanlah kamu yang sebenarnya. Kamu hanya butuh waktu. Dan terbukti kan, sekarang kamu sangat menyayangi Kiano." Ucap Raka yang mengerti bahwa sang istri ingin mengungkit tentang sikap yang dulu terhadap Kiano.

"Kamu bisa terus begini, Mas. Kamu bisa hidup dengan gadis yang tidak mencintai kamu?" tanya Bianca serius.

"Bisa, selama gadis itu adalah kamu. Saya siap menunggu sampai kapanpun, bahkan sampai saya mati. Asalkan, kamu selalu ada di samping saya." Jawab Raka dengan sungguh-sungguh.

Bianca terdiam, semakin ia bicara maka jawaban Raka semakin membuatnya sesak.

"Hanya itu yang saya inginkan, Bi. Sekarang ayo kembali ke hotel," ajak Raka.

Pria itu bangkit dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya kepada sang istri.

Bianca membalas uluran tangan suaminya, ia mengikuti langkah Raka di sampingnya.

YANG KIRA BAKAL MP, SABAR YA🤣

Bersambung..............................

1
Dira
Gantengnya mas raka
Lilik Juhariah
padahal SDH baca , adem banget punya suami yg mencintai bukan dicintai
Alra
👍
Darmawansah
benar benar cari masalah ini anak
Darmawansah
/Curse//Curse//Curse//Curse/
Darmawansah
bagus klu ada komplitnya sedikit
Darmawansah
ha ha ha /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Darmawansah
ini yang membuatku bingun.kenpa klu di novel istri lagi marah.tpi suaminya gemes,kayak gak nyambung
Darmawansah
semoga nanti kau dapat balasannya .kiano yang akan menolakmu
Darmawansah
itulah resikonya klu mencintai orang hanya dari fisik.maka hrus sabar
Dedi Rusmana
uuhhh mantap banget pak duda udah bisa ngejebol gawang bia
Rosdiana Azwar
jengkel aku sama Bia
Bapak Anak-anak
Alurnya ringan, tipikal keluarga ideal versi orang kebanyakan
Bapak Anak-anak
Hindari orang2 reseh, kasihan debay nya
Intan Wulandari
ro.antis
Intan Wulandari
adem nya
Fakhirah Nurfathanah
Bianca angkuh tdk pnya hati. Kiano kan tdk salah setidaknya bersikaplah baik dgn anak kecil
Avril
astaga mba intan 🤦🏻‍♀️
Avril
suka bgt ya godain raka 😂
Avril
sabar raka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!