Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melakukannya
Zafira duduk di atas ranjang, tangan terkepal di pangkuannya, matanya menatap lantai seolah mencari keberanian. Arthav berdiri di dekatnya sesaat, kemudian duduk perlahan di tepi ranjang, menjaga jarak tapi matanya tidak lepas dari Zafira.
“Malam ini, kita akan melewati semuanya bersama,” katanya lembut, suaranya tenang tapi mantap. “Aku ingin kau merasa nyaman, Zafira. Bukan dipaksa.”
Zafira menelan ludah, dadanya terasa sesak, tapi ada sedikit keberanian yang memuncak.
“Aku belum terbiasa,” katanya pelan, suaranya hampir berbisik.
Atharv mencondongkan tubuhnya sedikit, tangannya bergerak ringan di udara seolah menunggu izin.
“Kau tidak perlu terburu-buru. Kita bisa mulai dari hal-hal kecil, hanya untuk saling merasakan sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Zafira mengangkat kepala, menatap mata Atharv untuk pertama kalinya malam itu. Ia bisa merasakan ketegangan dan ketulusan yang bercampur.
“Aku mau mencoba. Tapi, hanya kalau kau tetap sabar,” katanya, suara lembut namun mantap.
Atharv tersenyum tipis, kemudian perlahan meraih tangan Zafira, menggenggamnya dengan lembut. Sentuhan itu ringan, tapi cukup untuk membuat Zafira merasakan kehangatan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
“Aku tidak akan terburu-buru, Zafira. Kita akan melakukannya sesuai irama kita,” ucapnya.
Zafira menutup mata sejenak, perlahan merasakan ketenangan yang berbeda bukan takut, bukan cemas, tapi hangat dan menenangkan. Ia menunduk, menempelkan wajahnya ke bahu Atharv.
“A-aku serahkan pada waktumu,” gumamnya.
Atharv menyesuaikan posisi tubuhnya, memeluk Zafira dengan lembut, menjaga jarak dan tekanan yang nyaman.
“Langkah demi langkah, malam ini kita mulai dari sini,” katanya, suaranya rendah tapi penuh pengertian.
Di atas ranjang itu, keheningan terasa hangat dan nyata. Sentuhan pertama mereka bukan hanya fisik, tapi juga awal dari keintiman emosional sebuah langkah kecil untuk membangun kepercayaan dan kedekatan yang selama ini hilang.
Atharv menatap Zafira dengan tatapan yang sulit dibaca, kemudian dengan hati-hati menaruh tangannya di pipi Zafira, jemarinya menelusuri wajahnya perlahan.
“Zafira, kau tidak perlu takut. Aku hanya ingin dekat denganmu,” bisiknya pelan, suara rendah dan hangat.
Zafira menatap mata Atharv, dadanya berdebar kencang, tetapi ada rasa penasaran dan kehangatan yang merayap.
“Arthav, aku tidak tahu harus bagaimana” gumamnya, suaranya gemetar, tangan kecilnya mencoba menahan tangan Atharv.
Atharv tersenyum tipis, mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
“Tidak apa-apa. Hanya ini izinkan aku menunjukkan bahwa aku tulus,” ucapnya, napasnya terasa hangat di dekat wajah Zafira.
Dengan perlahan, bibir Atharv menyentuh bibir Zafira untuk pertama kalinya.
Sentuhan itu ringan, lembut, seakan mengatakan tanpa kata-kata bahwa ia ingin melindungi dan menghargainya. Zafira menutup mata, tubuhnya menegang sesaat, lalu sedikit demi sedikit merasa nyaman dengan sentuhan itu.
“Arthav,” bisiknya pelan, sedikit terengah, “apa ini benar-benar?”
“Ya, Zafira,” jawab Atharv lembut, sambil menahan diri agar tidak terlalu mendesak. “Hanya aku dan kau. Tidak ada yang lain. Aku di sini, hanya untukmu.”
Zafira menarik napas panjang, perlahan membiarkan tangannya menggenggam lengan Atharv.
“Kalau begitu, aku akan mencoba merasakannya,” gumamnya, suara lirih tapi mantap.
Atharv tersenyum, menekankan sedikit lebih lembut pelukan tangannya, seakan ingin memberi rasa aman dan kehangatan.
Bibir mereka tetap bersentuhan ringan, perlahan-lahan menyesuaikan ritme masing-masing, membiarkan malam itu menjadi milik mereka sentuhan pertama yang bukan hanya fisik, tapi juga membuka hati dan kepercayaan yang selama ini tertutup.
Tubuh mereka berdua kini semakin dekat, saling menempel di atas ranjang. Atharv menatap Zafira dengan mata lembut tapi penuh gairah, tangannya menjelajahi punggung dan lengan Zafira dengan hati-hati, memastikan setiap gerakan membuatnya merasa aman.
“Zafira, kau tidak perlu ragu,” bisik Atharv di telinganya, napasnya hangat menyentuh kulitnya. “Aku ingin ini menjadi milik kita, bukan karena paksaan, tapi karena kita berdua.”
Zafira menunduk, pipinya memerah, tubuhnya bergetar tapi perlahan melepaskan ketegangan.
“Aku ingin Arthav, tapi aku takut salah langkah,” ucapnya lirih.
Atharv mengangkat dagunya perlahan, menatap matanya penuh tekad.
“Tidak ada salah di sini. Aku di sini, untuk menjaga kau. Hanya kau dan aku, aku ingin kau merasakan itu,” ucapnya, kemudian bibir mereka bertemu lagi, kali ini lebih lama dan intens, tapi tetap penuh kelembutan.
Zafira menggenggam bahu Atharv, membiarkan dirinya menyesuaikan diri dengan setiap sentuhan, setiap desahan kecil yang keluar dari bibir mereka.
“Arthav, rasanya aneh tapi hangat,” bisiknya, suaranya terdengar lembut tapi bergetar.
Atharv mengelus rambut dan punggungnya, menenangkan Zafira dengan setiap sentuhan.
“Aku ingin kau merasa nyaman, percayalah padaku. Ini malam kita, Zafira. Tidak ada orang lain, tidak ada rasa terpaksa,” katanya sambil menunduk dan membisikkan kata-kata hangat ke telinganya.
Zafira menutup mata, membiarkan dirinya larut dalam keintiman itu, napas mereka saling bersentuhan.
Mereka berdua mulai menyesuaikan ritme satu sama lain, saling menahan diri tapi juga membiarkan perasaan dan emosi mengalir.
Setiap gerakan, setiap desahan kecil, menandakan mereka mulai menyatu bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional.
“Arthav, a-aku merasa aman untuk pertama kalinya,” bisik Zafira, tubuhnya menempel erat ke tubuhnya Arthav
Atharv tersenyum tipis, memeluknya lebih erat.
“Aku di sini hanya untukmu Zafira. Kita akan jalani ini perlahan, tapi kita akan melakukannya bersama.”
Malam itu, di atas ranjang Mansion Utama, mereka menemukan sesuatu yang lama hilang: kehangatan, kepercayaan, dan kedekatan yang tidak hanya menyentuh tubuh, tapi juga hati mereka masing-masing.