"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Malam di Jakarta terasa jauh lebih dingin dari biasanya, seolah-olah atmosfer kota ikut membeku setelah badai emosi yang meluluhlantakkan kondominium pribadi Arka. Rumah Kirana, yang biasanya menjadi benteng kesunyian dan tempat pelariannya dari hiruk-pikuk dunia korporasi, kini telah berubah total menjadi pangkalan militer swasta yang dijaga ketat.
Di setiap sudut halaman yang biasanya hanya dihiasi gemericik air mancur dan lambaian daun palem, kini pria-pria dengan setelan hitam tampak bersiaga. Mereka berdiri dengan posisi taktis, mengawasi setiap inci tanah seolah-olah Kirana adalah permata paling langka di jagat raya yang sedang diincar oleh sindikat internasional. Sinyal radio sesekali terdengar pelan di antara semak-semak, menciptakan suasana yang mencekam namun sekaligus memberikan rasa aman yang aneh bagi penghuninya.
Kirana berdiri di balkon kamarnya di lantai dua, memandangi kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang tampak seperti hamparan berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Ia mengenakan jubah tidur sutra tipis berwarna putih gading yang tertiup angin malam, memperlihatkan siluet tubuhnya yang rapuh namun tegar.
Tangannya menggenggam pagar besi balkon yang sedingin es, berusaha menenangkan badai yang masih berkecamuk di dalam dadanya, badai tentang pengkhianatan Roy, rahasia ibunya, dan kehadiran Arka yang kini menguasai seluruh ruang dalam pikirannya.
"Kau seharusnya tidak berada di luar tanpa pengawasan, Kirana. Angin malam ini tidak ramah untuk seseorang yang baru saja melalui trauma."
Suara itu rendah, serak, dan memiliki getaran bariton yang selalu berhasil menyentuh saraf paling sensitif di tubuh Kirana. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang berdiri di sana. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau antiseptik dari luka-luka baru, serta sisa aroma hujan, segera memenuhi udara di sekitarnya.
Kirana menoleh perlahan. Arka berdiri di ambang pintu geser balkon, tampak seperti sosok dari kegelapan yang mencoba masuk ke dalam cahaya. Ia hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan balutan perban putih yang melingkari dada dan bahunya akibat pertarungan maut dengan anak buah Roy.
Wajahnya yang tampan masih memiliki memar keunguan di sudut bibir dan pelipis, namun matanya menatap Kirana dengan intensitas yang nyaris tak tertahankan, sebuah tatapan yang merupakan perpaduan antara posesif dan pemujaan.
"Rumah ini milikku, Arka. Aku berhak berdiri di mana pun aku mau tanpa harus meminta izin dari pengawalmu," sahut Kirana, mencoba mengembalikan nada dingin yang biasanya menjadi perisai terbaiknya. Namun, suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat, mengkhianati perasaan hangat yang mulai mencair di dalam dirinya.
Arka melangkah maju, langkahnya tenang namun pasti, menyerupai predator yang sedang mendekati pasangannya di bawah sinar rembulan. Ia berhenti tepat di belakang Kirana, begitu dekat hingga Kirana bisa merasakan hembusan napas Arka di tengkuknya. Ia tidak menyentuhnya, namun panas tubuh Arka merambat ke punggung Kirana, membuat bulu kuduk wanita itu meremang dalam sensasi yang memabukkan.
"Roy mungkin sudah lumpuh di tanganku, tapi pengikutnya, dan mereka yang lebih besar di belakangnya, masih berkeliaran di luar sana seperti serigala lapar. Aku tidak akan membiarkan celah sekecil apa pun terbuka bagi mereka untuk menyentuhmu lagi," bisik Arka tepat di telinga Kirana.
Kirana berbalik dengan cepat, membuat jarak mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja. "Kenapa, Arka? Kenapa kau harus melangkah sejauh ini? Kau hampir mati di kondominium itu demi membongkar rahasia pria yang kau benci dan melindungi wanita yang selama setahun ini selalu menghinamu sebagai penipu?"
Arka menatap mata Kirana yang berkaca-kaca, mencerminkan cahaya lampu kota. Ia perlahan mengangkat tangannya yang terbalut perban tipis di bagian buku jari, menyentuh lembut helai rambut Kirana yang tertiup angin.
"Karena menghinamu atau merendahkanmu adalah hakku yang kurebut dengan cara yang salah di masa lalu, Kirana. Dan melindungimu... itu adalah satu-satunya tujuan hidupku yang tersisa sekarang. Aku tidak peduli jika seluruh kerajaanku hancur, asalkan kau tetap berdiri tegak sebagai Ratu di tengah reruntuhannya."
Jantung Kirana berdegup sangat kencang, suaranya seperti genderang perang yang berdentum di telinganya sendiri. Ia melihat luka-luka di tubuh Arka, luka fisik yang didapat pria itu demi nyawanya. Rasa benci yang selama ini ia pelihara dengan susah payah, ia pupuk dengan air mata dan dendam, kini mulai terasa seperti beban yang terlalu berat untuk terus dipikul.
"Kau adalah pria yang sangat buruk bagi kesehatan mentalku, Arka Mahendra," bisik Kirana, matanya jatuh pada bibir Arka yang masih sedikit berdarah.
"Dan kau adalah racun yang dengan senang hati kuminum setiap hari sampai aku mati," balas Arka parau.
Tanpa peringatan lebih lanjut, Arka menarik pinggang Kirana, menyatukan tubuh mereka dalam satu sentakan yang mengejutkan namun terasa sangat pas. Kirana terpekik kecil, namun tangannya justru secara refleks mencengkeram kemeja hitam Arka, menarik pria itu lebih dekat seolah takut ia akan menghilang dalam kabut malam. Di bawah sinar rembulan yang pucat, Arka menunduk dan mencium Kirana dengan penuh rasa lapar dan pengakuan.
Ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman mereka sebelumnya yang penuh amarah atau dominasi kasar. Kali ini, ciuman itu terasa seperti sebuah permohonan maaf yang bisu. Ada rasa sakit yang dalam, rindu yang menggebu, dan keinginan untuk saling memiliki yang selama ini terkunci rapat di balik dinding ego dan trauma mereka masing-masing.
Kirana mendesah pelan, menyerahkan seluruh pertahanannya saat lidah Arka menuntut akses lebih dalam. Ia merasakan kekuatan pria itu yang protektif, kekasaran yang justru membuatnya merasa aman, dan gairah yang membakar habis sisa-sisa kedinginan di hatinya.
Arka mengangkat tubuh Kirana, mendudukkannya di atas pagar balkon yang lebar dan tinggi. Tangan Arka merayap masuk ke balik jubah sutra Kirana, menyentuh kulit pahanya yang halus. Kirana merangkul leher Arka dengan erat, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang memabukkan di ketinggian yang berisiko.
Tiba-tiba, sebuah lampu sorot besar dari salah satu pos penjagaan di gerbang bawah berputar dan mengenai area balkon mereka. Kirana tersentak kaget, wajahnya memerah padam karena malu. Ia segera menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arka yang hangat.
"Tuan Arka? Apakah ada gangguan keamanan di atas?" suara seorang penjaga terdengar melalui interkom yang terpasang di pinggang Arka.
Arka tidak melepaskan pelukannya pada Kirana. Ia justru menarik jubah Kirana untuk menutupi tubuh wanita itu lebih rapat, sementara tangannya yang satu lagi meraih interkom dengan tenang. "Matikan lampu sorot itu sekarang. Aku hanya sedang melakukan pemeriksaan perimeter pribadi di balkon. Jangan ada yang berani melihat ke atas dalam sepuluh menit ke depan. Dimengerti?"
"Siap, dimengerti, Tuan!"
Lampu sorot itu segera mati, kembali menyisakan kegelapan yang intim dan hanya diterangi cahaya bulan. Kirana tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat langka, jernih, dan jujur di telinga Arka. "Kau benar-benar gila, Arka. Kau memerintah anak buahmu untuk menutup mata saat bos mereka sedang melakukan... hal memalukan seperti ini?"
Arka menatap Kirana dengan senyum tipis yang mematikan, senyum yang menunjukkan sisi nakalnya kembali. "Aku tidak ingin berbagi pemandangan indah ini dengan siapa pun di dunia ini. Kau adalah rahasia terbesarku, Kirana. Milikku sendiri."
Arka membantu Kirana turun dari pagar balkon dan membimbingnya masuk ke dalam kamar yang hangat dan harum aroma lavender. Ia mendudukkan Kirana di tepi tempat tidur yang empuk, lalu ia sendiri berlutut di atas karpet bulu, menatap Kirana dari bawah dengan tatapan yang sangat tulus dan lembut.
"Kirana... aku tahu aku memulai semua ini dengan cara yang sangat menjijikkan. Taruhan di meja judi itu, kebohongan tentang Roy... semuanya adalah noda hitam yang mungkin tidak akan pernah bisa kuhapus sepenuhnya dari sejarah kita," ujar Arka, suaranya terdengar jujur tanpa sedikit pun kesombongan.
Kirana menatap tangan Arka yang menggenggam jemarinya. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan pria itu, sebuah kontras dari dinginnya pagar besi tadi. "Aku tidak bisa menjanjikanmu bahwa aku akan langsung memaafkanmu besok pagi, Arka. Luka itu masih menganga, dan kebenaran tentang ibuku serta Roy... itu terlalu berat."
"Aku tidak butuh dimaafkan dengan cepat, dan aku tidak sedang menuntut pengampunanmu," balas Arka. Ia mengambil sebuah kotak beludru hitam kecil dari saku celananya dan membukanya.
Di dalamnya bukan lagi cincin berlian megah atau perhiasan mahal dari Roy, melainkan sebuah cincin perak sederhana tanpa mata, namun memiliki ukiran nama mereka berdua di bagian dalamnya. "Aku hanya butuh kau memberiku satu kesempatan, hanya satu untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi pria yang pantas berdiri di sampingmu tanpa topeng apa pun."
Kirana menatap cincin itu cukup lama, lalu menatap Arka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat kejujuran murni di mata pria yang dulu ia labeli sebagai penipu ulung. Ia mengambil cincin itu, namun tidak memakainya di jari manis. Ia justru melepaskan sebuah rantai emas tipis dari lehernya dan memasukkan cincin itu ke sana, menjadikannya sebuah liontin baru di samping kalung GPS yang sudah ia pakai.
"Aku akan menyimpannya dekat dengan jantungku," bisik Kirana. "Anggap ini sebagai langkah pertama dari gencatan senjata kita. Jangan buat aku menyesal telah membiarkanmu masuk ke rumah ini, Arka."
Arka tersenyum lega, sebuah senyuman yang benar-benar mencapai matanya. Ia mencium kening Kirana dengan sangat lama dan penuh rasa hormat. Malam itu, mereka tidak melanjutkan gairah fisik mereka ke arah yang lebih jauh. Mereka hanya berbaring berdampingan di atas tempat tidur besar itu, saling berpelukan dalam keheningan yang nyaman, mendengarkan detak jantung satu sama lain yang saling bersahutan.
Bagi Kirana, momen ini jauh lebih berharga daripada pesta mewah atau kemenangan bisnis mana pun. Ini adalah momen di mana dua jiwa yang rusak, yang saling menyakiti, mulai mencoba untuk saling menyembuhkan di tengah ancaman dunia yang kejam.
...----------------...
Next Episode.....