"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Sang Pelaku
"Cepatlah bangun."
Kalendra mengusap lembut kening Kanaya. Sudah satu minggu istrinya itu masih setia memejamkan matanya. Tampak tenang, tak terganggu meskipun ada Kalendra di sisinya.
Biasanya, Kanaya akan kesal saat Kalendra mendekatinya. Perempuan itu akan gugup saat Kalendra menggodanya. Kini, istrinya tampak diam. Tidak marah, tidak pula kesal, dan Kalendra tidak menyukainya.
Menundukkan kepala, Kalendra cium kening Kanaya lamat. Menyalurkan rasa rindu yang membuncah.
"Aku janji, siapapun yang membuatmu seperti ini, dia akan mendapatkan balasan lebih dari kata setimpal." bisiknya di sela-sela kecupannya.
Kemudian, dengan langkah berat, laki-laki dengan kantung mata yang menghitam itu meninggalkan ruang rawat inap sang istri. Ada hal penting yang harus dia urus.
Kecelakaan itu...Kalendra yakin, ada seseorang yang menjadi dalangnya. Dan Kalendra bersumpah, dia akan memberikan neraka kepada siapa saja yang telah menyakiti Kanaya-nya.
.
.
"Dugaan anda benar, Tuan. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, di dapatkan fakta bahwa mobil yang Nyonya Kanaya tumpangi telah disabotase."
Sialan. Telapak tangan Kalendra mengepal kuat. Rahangnya mengencang dengan matanya yang menghunus tajam.
"Rem mobil tidak berfungsi dan kehilangan kendali. Naasnya, secara bersamaan, ada truk bermuatan yang keluar dari jalurnya. Kemudian, kecelakaan besar itu tidak bisa terelakkan." tambah Rio. Ia lirik bosnya yang menampilkan wajah tak bersahabat. Menelan salivanya dalam, sekertaris itu hanya bisa berharap, dia tidak menjadi sasaran amukan sang atasan.
"Apakah ada kejanggalan pada supir truk? Dia juga merupakan komplotan dari orang yang telah menyabotase mobil Kanaya?"
"Untuk sementara, tidak Tuan. Berdasarkan penyelidikan, ditemukan laporan bahwa supir mengantuk pada saat itu, sehingga dia tidak menyadari jika truk yang dikendarainya keluar dari jalur yang seharusnya."
"Lalu, bagaimana keadaan supir itu sekarang?"
"Karena benturan yang keras menyebabkan kabin truk remuk. Selain itu, muatan yang dibawanya bergeser secara drastis saat terjadi kecelakaan, menekan dan menghancurkan bagian kabin dari atas, sehingga supir itu terjepit dan...tidak selamat."
"Dia dinyatakan meninggal di tempat."
Kalendra menggertakkan giginya. Seharusnya si supir tidak semudah itu meninggalkan kekacauan yang diperbuatnya. Gara-gara kelalaiannya, Kanaya harus berjuang antara hidup dan mati. Seharusnya supir itu mendapatkan hukumannya terlebih dahulu. Kalendra ingin sekali melindas tubuhnya menggunakan kendaraan berat, menghacurkanya menjadi berkeping-keping.
Sayang sekali, dia harus mati tanpa merasakan neraka dunia terlebih dahulu.
Tetapi, kesalahan supir itu tak lebih fatal dari orang yang telah menyabotase mobil yang Kanaya tumpangi. Dalang utama dari kondisi Kanaya saat ini.
Orang itu sepertinya sudah bosan hidup. Berani sekali dia mencari perkara dengannya. Setelah ini, akan Kalendra beri pelaku itu pengertian, bahwa kesalahan besar telah mengusik seorang Kalendra Wijaya.
"Rio, cek cctv rumahku. Tepatnya bagian garasi kendaraan." titah Kalendra pada sang sekertaris yang merangkap sebagai asistennya itu.
Rio-- laki-laki itu mengangguk patuh. Mulai mengotak-atik laptopnya. Ketika dia menekan tombol 'enter', layar laptop menunjukan video cctv yang Kalendra inginkan.
Tepat di bagian garasi. Semula, semuanya tampak baik-baik saja. Masih tenang dan aman. Sampai, seseorang masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi koleksi kendaraan milik Kalendra itu dengan mengendap-endap.
Kalendra menajamkan penglihatannya, dari postur tubuh, jelas sekali bahwa pelaku adalah perempuan.
"Hentikan video dan perbesar gambar."
Rio mengangguk patuh. Melakukan hal yang Kalendra minta dengan cekatan. Saat gambar diperbesar, kini Kalendra dapat lebih jelas melihat wajah pelaku. Menyipitkan matanya, laki-laki itu mencoba mengingat-ingat, di mana dia pernah melihat wajah pelaku yang sepertinya tidak asing.
Terlihat, pelaku itu tengah mengotak-atik mobil yang nantinya akan Kanaya tumpangi.
"Tuan, bukankah dia pembantu baru rumah anda? Saat berkunjung ke rumah anda, dia yang memberikan saya minuman." ucap Rio setelah ikut mengamati orang pada video.
Pembantu baru?
Pembantu bar--- ahh, sekarang Kalendra ingat. Dia juga perempuan yang sama yang Kanaya coba dekatkan dengannya. Perempuan yang sama yang menyelamatkannya dari pengeroyokan beberapa minggu yang lalu.
Zana Damara.
Jadi, dia biang keladinya. Setelah apa yang Kanaya berikan untuk ja-lang itu, dengan berani dia mengkhianati Kanaya? Tidak tahu malu.
Apakah kebaikan istrinya telah membuat ja-lang itu besar kepala dan lupa diri. Tidak bisa dibiarkan. Kalendra harus kembali menginginkan perempuan murahan itu di mana posisinya. Sampah rendahan yang telah dipungut Kanaya.
Akan Kalendra berikan ja-lang itu peringatan, sampai dia sendiri yang menginginkan kematian. Karena, siapapun yang menyentuh Kanaya-nya, berarti dia telah berani menantang maut.
Ponsel Kalendra yang tergeletak di atas meja bergetar. Menandakan ada panggilan masuk. Meraih benda pipih bersegi panjang itu, dia dial ikon hijau dan menempelkannya pada telinga.
"Tuan, Nyonya Kanaya sudah sadar. Dia...mencari anda."
Deg. sesaat, dunia terasa berhenti.
Kanaya-nya sudah sadar dan....mencarinya?
Mencari Kalendra?
.
.
Seharusnya dia mati.
Seharusnya Kanaya mati.
Kau memang tidak becus, Zana.
Kau gagal mendapatkan hak-mu.
Kau gagal, Zana.
Bodoh. Kau memang bodoh.
"DIAM!!"
Zana--- perempuan itu menutup kedua telinganya rapat. Suara-suara itu tidak ingin pergi. Selalu menghantuinya sehingga Zana merasa muak.
Kondisi Zana tidak bisa dikatakan baik. Rambutnya acak-acakan. Matanya merah dan sembab oleh air mata, pun dengan kamarnya yang tampak berantakan.
Berjongkok di pojok ruangan, tubuh perempuan itu bergetar. Nafasnya memburu. Zana--- seperti orang yang sedang ketakutan.
"Cukup. Aku bilang, cukup." bisiknya penuh keputusasaan.
Kanaya seharusnya mati.
Dia harusnya musnah.
Kaulah yang seharusnya menjadi pendamping Kalendra, bukan Kanaya.
Kau harus melenyapkannya.
"TIDAK!!" teriakan Zana menggelegar di dalam ruangan itu.
Untungnya, tidak ada orang di rumah. Ami sedang ke rumah sakit menjaga Kanaya. Para penjaga berada di luar, sehingga mungkin mereka tidak mendengarkan amukan Zana.
"A--aku tidak mau...aku tidak mau melakukannya!!"
Kau harus, Zana.
Tugasmu adalah menghabisinya.
Merebut apa yang seharusnya menjadi milikimu.
Kalendra--- dia adalah milikimu
Dia milikimu!!!
"AKU BILANG DIAM!!" Zana semakin menekan telapak tangannya pada telinganya. Berharap suara itu enyah.
Zana tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Sejak pertemuannya dengan sepasang suami istri itu, sejak Kanaya mencoba mendekatnya dengan Kalendra, suara-suara tak bertuan itu selalu menghantuinya bak bayangan.
Zana pikir, itu hanyalah pikiran buruknya yang iri dengan kehidupan sempurna milik Kanaya. Tetapi, semakin ke sini, suara itu semakin berusaha mengendalikannya. Memintanya untuk menyingkirkan Kanaya, merebut Kalendra dari Kanaya--- orang yang jelas-jelas telah membantu keuangannya.
Puncaknya, saat suara itu selalu mendenging di telinganya. Membuat Zana kewalahan, hingga akhirnya mematuhi apa yang suara itu perintahkan.
Mencelakai Kanaya.
"A--aku penjahat." lirih Zana tersendat-sendat.
Kau bukan penjahat. Yang kau lakukan adalah kebenaran.
"Aku--- aku membuat Nyonya Kanaya terluka."
Dia pantas mendapatkannya. Bahkan, seharusnya dia mati.
"Aku memang tidak tahu berterimakasih. Aku memang penjahat."
Tidak Zana. Kalendra adalah milikimu, jadi Kanaya sebagai penghalang sudah seharusnya musnah.
Sesaat hening, pandangan Zana tampak kosong. Bibirnya bergetar resah.
"Tu--Tuan Kalendra milikku?"
Ya. Dia milikimu.
"Aku--aku yang seharusnya menjadi istri Tuan Kalendra?"
Ya. Kau adalah takdir yang sesungguhnya.
"Aku-- aku yang seharusnya menjadi Nyonya rumah ini?"
Benar. Kaulah ratunya.
Jadi, kau harus mengambil kembali hak-mu.
Mata yang semula sayu penuh keputusasaan itu, kini berubah tajam. Sorotnya dipenuhi ambisi yang membara.
"Aku ingin mengambil hak-ku." bisik Zana menyerupai angin yang berhembus.
Bagus. Memang seharusnya begitu. Alur kehidupan tidak boleh berubah. Semuanya harus kembali ke tempatnya masing-masing.
"Aku menginginkan Kalendra-ku."
Ya. Ambil dia. Dan jadilah budakku yang baik.