Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NGAJAK PULANG BARENG
Awan mendadak menggumpal, kelabu dan berat, seolah menahan hujan yang kapan saja bisa tumpah. Bel sekolah pun akhirnya berbunyi nyaring, memecah sisa-sisa pelajaran dan menandai akhir hari.
Suara riuh murid-murid pun berhamburan keluar kelas, bercampur tawa dan langkah tergesa.
Usai Salma berpamitan izin pulang lebih dulu kepada guru-guru lain yang masih berada di lingkungan sekolah, tak menunggu lama, ia segera melangkah keluar dari ruang guru.
"Bu Salma, tunggu." Seru seorang guru menghentikan langkah.
Dialah Bu Hana. Guru Matematika sekaligus wali kelas Putra. "Ibu ninggalin kue ulang tahun Ibu pemberian anak-anak?"
Salma melempar senyum. "Oh iya, Bu. Saya sengaja tinggalkan kue buat Ibu dan yang lain."
"Wah, rejeki!" Celetuk Pak Edo. Pria berusia lebih dari empat puluh lima tahun itu segera beranjak dari mejanya menuju kue ulang tahun yang seharusnya Salma bawa pulang. "Enak nih, kuenya!"
"Yeeee!" Sergah Bu Hana menepis jemari Pak Edo saat tangannya hendak meraih satu iris kue. "Biar saya aja yang bagi, Pak! Kalau sama Pak Edo... bisa-bisa gula darah Bapak kambuh!"
"Saya gak punya riwayat gula, Bu... Ibu kali!" Balas Pak Edo sambil menunjuk ke arah perut Bu Hana yang usianya tak beda jauh darinya itu. "Tuh... lihat, ada gula... ada lemak!"
Salma tertawa dengan gelengan di kepala. "Ya udah Bapak... Ibu, kalau begitu saya pamit pulang duluan ya. Sepertinya mau hujan."
"Gak di jemput suami, Bu?" Tanya Bu Hana.
Salma menggeleng. "Suami saya kebetulan baru pergi keluar kota tadi siang. Ya udah kalau gitu, saya permisi pulang duluan ya, Bu."
"Iya bu. Hati-hati, ya." Balas Pak Edo dengan lambaian tangan yang lagi-lagi di tepis Bu Hana.
Lagi, Salma hanya tertawa kecil lalu berbalik pergi, meninggalkan ruang guru dengan langkah tergesa.
Ia mulai melewati lorong yang mulai lengang. Udara terasa lembap kian terasa seiring angin berembus dingin menyentuh kulitnya.
Begitu keluar dari gerbang sekolah, Salma mempercepat langkah. Tas diselempangkan erat di bahu dan kepalanya sedikit tertunduk. Sungguh, angit yang menggelap seakan menyatu dengan perasaannya—penuh, sesak, dan menggantung.
Gak di jemput suami, Bu?
Pernyataan itu menggema di pikirannya. Sejak kapan, Erwin, suaminya mengantar atau menjemputnya bekerja?
Sungguh, setiap langkahnya kini terasa berat, dan ia terus berjalan, ingin segera sampai rumah sebelum hujan benar-benar turun, sebelum perasaannya runtuh di hadapan siapa pun.
"Bu Salmaaa!" Seru seseorang.
Beeep. Beeeep!
Salma menoleh. "Pu-Putra?"
"Bu Salma pulang jalan kaki?" Tanya anak lelaki itu, menurunkan kecepatan sepeda motornya, menjaga jarak dan menyesuaikan laju langkah Salma.
Mesin motor itu berdengung pelan, tak lagi meraung seperti biasanya. Putra tak bercanda, tak cengengesan. Wajahnya tampak serius, bahkan sedikit canggung. Tangannya mantap di setang, matanya sesekali melirik ke langit yang kian menggelap. "Sepertinya mau hujan, Bu."
“Iya, emang! Gak usah dibahas.” Salma menjawab cepat, suaranya sedikit meninggi, seolah ingin menutup topik itu rapat-rapat.
Putra menyengir lebar. “Hehe…”
Ia menggaruk tengkuknya sendiri, lalu kembali menatap jalan di depan. Tak ada komentar lanjutan, tak ada candaan berlebihan. Hanya senyum kecil yang tersisa—canggung, namun tulus.
Mesin motor kembali berdengung pelan, mengikuti langkah Salma yang masih berjalan di sisinya. "Ibu mau pulang bareng aku, gak?" Tawarnya tanpa ragu.
Salma tersentak. "Uh?"
"Rumah Ibu dimana?"
"Udah gak perlu. Udah sana pulang cepat! Nanti Ibu Bapak kamu nyariin kamu!"
"Serius, Bu." Angguk Putra.
Salma menghentikan langkah. Begitu pun Putra, motor yang ia tumpangi mendadak berhenti, bahkan mesinnya mati. "Serius kamu mau bonceng Ibu pakai motor beginian?! Kamu tahu kan... setiap pagi Ibu yang selalu razia kamu karena knalpot brong kamu itu!"
Putra mengangguk sambil tersenyum lebar. "Dan sekarang Ibu naik motor aku! Yeeee... yeeee! Ibu bisa ngerasain sensasi naik motor brong. Jamin, gak akan lagi kena marah ataupun razia lagi!"
"Sembarangan!" Balas Salma menepuk pundak anak itu, terasa kokoh dan hangat, jauh dari kesan rapuh yang sering ia bayangkan tentang murid-muridnya.
"Hayu, Bu!" Desak Putra. "Awannya semakin gelap nanti Ibu kebasahan terus sakit."
"Ya kalau Ibu sakit emang kenapa?!"
"Ibu jangan sakit...." Nada Putra merendah, nyaris merengek manja. "Kalau Ibu sampai sakit, besok gak akan ketemu Ibu ke kelas aku dong!"
Salma tertawa. "Ya ampun... tugas kamu aja belum kelar dari minggu kemarin."
Putra menyengir lagi. "Jadi gimana nih, Bu?"
“Ya udah!” Salma mengangguk mantap.
Tanpa perintah lebih lanjut dari si pemilik motor, ia segera menaiki motor itu dan duduk di belakang Putra, menjaga jarak sewajarnya. Tangannya berpegangan pada sisi jok, tubuhnya tegak.
“Ayo jalan!” Perintahnya, bak seorang komandan kecil yang memberi aba-aba.
Putra terkesiap sesaat, lalu tertawa kecil. “Siap, Bu!” Jawabnya refleks. Ia menyalakan gas perlahan, membawa motor itu melaju dengan hati-hati.
Awalnya gerimis kecil, hanya butiran halus yang menyentuh aspal dan dedaunan di tepi jalan. Namun semakin lama, hujan turun kian rapat. Langit seperti benar-benar membuka pintunya, menumpahkan air tanpa ragu membasahi tubuh mereka berdua.
"Hujan, Bu!"
"Udah maju aja!"
"Gak akan neduh dulu, Bu?"
"Gak usah!" Pinta Salma. "Lagian rumah Ibu bentar lagi nyampe, kok."
"Rumah Ibu emang dimana?" Tanya Putra, suaranya terselip di antara udara dan suara knalpot motornya sendiri.
"Jalan Anggrek nomor tujuh belas." Jawab Salma, nadanya tak kalah tinggi.
"Okeee!"
Putra refleks mengencangkan laju motornya saat jalanan sedikit menurun. Tanpa sadar, tubuh Salma ikut maju sedikit ke depan. Tangannya nyaris menyentuh punggung Putra hanya sekilas, samar, sekadar menjaga keseimbangan. Di balik seragam putihnya, ada aroma ringan yang tercium. Parfum anak muda—bersih, tipis, bercampur bau hujan dan angin sore.
Sementara itu, Putra menelan ludah. Dadanya berdesir aneh saat merasakan sesuatu menempel singkat di punggungnya—hangat, lalu hilang secepat kilat. Ia memperbaiki posisi duduk, memusatkan perhatian sepenuhnya pada jalan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba tak beraturan.
Dan saat itu, hujan terus turun, jalanan memanjang di depan mereka. Keduanya terdiam—masing-masing menyimpan rasa kikuk yang tak diucapkan, memilih membiarkan angin dan suara mesin menghapus momen itu begitu saja.
****