Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 : Ketegangan Teh Beracun
Long Wei hanya mendengus, merasa muak melihat pemandangan di depannya. "Duduklah, Lin Yue. Jangan buat dirimu semakin tontonan."
Perjamuan berlangsung dengan penuh sindiran halus. Selir Ning berkali-kali menawarkan camilan manis kepada Lin Yue di depan semua orang, mencoba memancingnya untuk makan banyak agar terlihat seperti rakus. Namun, Lin Yue hanya meminum teh pahit, tidak menyentuh satu pun makanan berminyak itu.
"Yang Mulia Permaisuri, kudengar belakangan ini Anda sangat suka 'berolahraga' di paviliun," Selir Ning memulai pembicaraan dengan nada mengejek. "Apakah Anda sedang mencoba meniru tarian para prajurit? Sayang sekali, lantai paviliun mungkin harus sering diganti jika Anda terus melompat-lompat."
Tawa pecah di taman itu.
Lin Yue meletakkan cawan tehnya dengan suara dentingan yang cukup keras. "Tarian prajurit? Bukan. Aku hanya sedang mempersiapkan diri. Di duniaku... maksudku, di masa lalu, kami memiliki pepatah bahwa semakin besar targetnya, semakin mudah untuk dipukul."
Kalimat itu membuat suasana membeku. Ada nada ancaman yang tidak bisa dijelaskan dalam suara Lin Yue.
***
Perjamuan berakhir saat matahari mulai terbenam. Lin Yue meminta izin untuk kembali lebih awal dengan alasan kesehatan. Saat ia berjalan melewati koridor gelap menuju paviliunnya, ia menyuruh Xiao Xiao untuk pergi lebih dulu mengambil ramuan di tabib.
Di tengah koridor yang sepi, sebuah tangan tiba-tiba menarik bahu Lin Yue dan membawanya ke balik pilar besar.
Lin Yue secara refleks mengangkat kepalannya, siap melayangkan uppercut meskipun dengan tangan yang berat. Namun, gerakan itu terhenti saat ia melihat sosok pria berpakaian hitam di depannya. Han Shuo.
Tapi kali ini, Han Shuo tidak menutup wajahnya sepenuhnya. Matanya berkilat tajam di bawah cahaya rembulan.
"Kau terlalu berani hari ini," bisik Han Shuo. Suaranya tidak terdengar seperti pengawal, melainkan seperti seseorang yang memiliki otoritas penuh.
"Apa urusanmu?" tantang Lin Yue, meski jantungnya berdebar aneh.
Han Shuo mendekatkan wajahnya ke telinga Lin Yue, aromanya membuat Lin Yue terpaku. "Hati-hati dengan teh yang kau minum tadi. Dan ingat satu hal..."
Pria itu menjeda kalimatnya, matanya menatap lekat ke dalam mata Lin Yue, seolah mencari sesuatu yang hilang.
"Bunga Tang tidak pernah benar-benar layu, ia hanya menunggu musim dingin berakhir untuk membunuh orang yang memetiknya secara paksa. Pertanyaannya adalah... apakah kau benar-benar mawar yang asli, atau duri yang hanya meminjam kelopaknya?"
Sebelum Lin Yue sempat bertanya apa maksud dari kalimat ambigu itu, Han Shuo sudah menghilang ke atas atap, meninggalkan Lin Yue dalam keheningan yang mencekam.
Lin Yue memegang dadanya yang bergemuruh. Apa dia tahu? Apa dia tahu aku bukan Lin Yue yang asli? Dan apa maksudnya dengan teh itu?
***
Lin Yue melangkah terburu-buru memasuki paviliunnya. Kata-kata Han Shuo tadi terus berdenging di kepalanya seperti alarm bahaya. Hati-hati dengan
teh yang kau minum tadi.
Baru saja ia mendudukkan tubuhnya di kursi kayu, perutnya mulai terasa melilit hebat. Bukan rasa lapar, melainkan rasa panas yang membakar, seolah-olah ada cairan timah mendidih yang menjalar di pembuluh darahnya. Keringat dingin mengucur deras, membasahi hanfu hijaunya hingga lepek.
"Sial... Selir Ning benar-benar bergerak cepat," desis Lin Yue sambil mencengkeram pinggiran meja hingga kayu itu berderit.
Ia mencoba mengatur napasnya. Sebagai seorang petinju, ia terbiasa mengelola rasa sakit fisik, tapi ini berbeda. Ini adalah serangan dari dalam. Penglihatannya mulai kabur, warna-warna di ruangan itu seolah meleleh dan berputar.
"Xiao Xiao!" panggilnya, namun suaranya hanya terdengar seperti bisikan parau.
Xiao Xiao sedang pergi ke kediaman tabib, dan paviliun ini sengaja dikosongkan oleh para pelayan yang tidak setia. Lin Yue menyadari bahwa dia sendirian. Jika ia pingsan sekarang, ia mungkin tidak akan pernah bangun lagi.
Dengan sisa tenaganya, Lin Yue merangkak menuju meja tempat teko air putih berada. Ia ingat salah satu teknik darurat saat ia tidak sengaja mengonsumsi zat berbahaya di masa lalu: paksa keluar sebelum terserap total.
Ia memasukkan jari-jarinya ke tenggorokan, memicu refleks muntah.
Rasa pahit dan bau asam menyengat memenuhi indra penciumannya saat cairan teh berwarna keruh keluar dari tubuhnya. Ia melakukannya berulang kali hingga perutnya terasa kosong dan melintir.
Napasnya tersenggal-senggal. Ia terkapar di lantai dingin, menatap langit-langit dengan mata yang mulai merah.
Apakah ini racun mematikan? pikirnya.
Tidak, jika aku mati di perjamuan, Ibu Suri akan disalahkan. Ini pasti sesuatu yang bekerja perlahan.
Tiba-tiba, ia merasakan detak jantungnya meningkat drastis. Seluruh lemak di tubuhnya terasa gatal dan panas luar biasa. Ini bukan sekadar racun biasa; ini adalah stimulan yang dipadukan dengan obat pelumpuh saraf. Tujuannya bukan untuk membunuhnya seketika, tapi untuk membuat jantungnya berhenti karena beban tubuhnya yang terlalu berat.
"Mereka ingin aku mati karena serangan jantung... cara yang 'alami' untuk permaisuri yang kegemukan," gumamnya dengan kemarahan yang membuncah.
Lin Yue memaksakan diri untuk berdiri. Ia tahu jika ia berbaring, jantungnya akan semakin tertekan. Dengan gemetar, ia mulai menggerakkan lengannya. Satu... dua... satu... dua...
Ia melakukan gerakan tinju bayangan dalam kegelapan paviliun. Setiap pukulan terasa seperti mengangkat beban ratusan kilogram. Dadanya sesak, paru-parunya seolah terbakar, namun ia menolak untuk berhenti. Ia harus membakar zat stimulan itu melalui aktivitas fisik ekstrem sebelum zat itu menghancurkan jantungnya.
Di bawah rembulan yang mengintip dari celah jendela, sosok wanita bertubuh raksasa itu bergerak secara ritmis. Meskipun gerakannya terlihat aneh dan lamban, ada presisi yang mematikan di sana.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Lin Yue segera waspada. Ia menyambar sebuah vas keramik kecil dan bersiap di balik tirai.
"Yang Mulia? Hamba membawa ramuan teh hijau..." Suara Xiao Xiao terdengar panik saat melihat ruangan yang berantakan dan bekas muntah di lantai.
Lin Yue muncul dari balik tirai, wajahnya pucat pasi namun matanya berkilat tajam.
"Xiao Xiao... kunci pintu. Jangan biarkan siapapun masuk. Dan bawa ember air dingin."
Xiao Xiao terperangah melihat kondisi permaisurinya. "Yang Mulia! Apa yang terjadi?"
"Jangan banyak tanya. Lakukan sekarang!"
Sepanjang malam itu, Lin Yue berjuang melawan maut. Ia merendam kepalanya di air dingin berkali-kali untuk menjaga kesadaran. Ia memaksa Xiao Xiao untuk memijat titik-titik saraf di kakinya agar aliran darah tidak tersumbat.
***
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih banyak❤️
🧐