NovelToon NovelToon
Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:69.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mirna Samsiyah

Hidayah itu milik Allah, jika Dia telah berkehendak memberikan hidayah pada seseorang maka siapapun tidak dapat mencegahnya.

Termasuk pada Atalie—gadis chindo tersebut tidak pernah mengira bahwa berawal dari iseng ikut kajian Ustadz Umar dapat membawanya menemukan hidayah untuk memeluk Islam.

"Mas Umar, bantu aku, selama ini kamu udah banyak bantu aku tanpa diminta."

"Bantu apa?"

"Bantu aku bersyahadat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Rumah

Setelah satu bulan tinggal dan belajar banyak hal di pondok pesantren Adz-Zaidan, hari ini Aisyah memutuskan untuk pindah. Itu adalah satu bulan yang Aisyah lalui dengan tidak mudah. Alasan utamanya adalah karena Aisyah harus tinggal tanpa orangtuanya. Banyak hal baru juga yang sebelumnya tidak Aisyah ketahui terutama memasak. Meski sulit tapi Aisyah dilimpahi cinta Allah yang tidak henti mengisi seluruh ruang di hatinya. Jalannya dimudahkan oleh Allah untuk mendalami Islam. Kegelisahan yang selama ini menghantui Aisyah seketika sirna. Aisyah tidak menduga jika ia bisa tenang meski tanpa kemewahan yang sejak kecil akrab dengannya.

Alasan lain Aisyah mantap keluar dari situ, ia mendengar Umar akan melamar Hilya. Aisyah tak sepatutnya bersedih meski ia harus melepas cinta nya. Ia sudah punya cinta yang lebih besar dan akan selalu berpihak padanya, cinta yang selalu memperhatikannya dan mencukupinya.

"Kamu bisa tinggal lebih lama disini." Maryam berat melepas Aisyah karena sudah terbiasa dengan kehadiran gadis itu. Namun Maryam juga tidak bisa memaksa Aisyah untuk tetap tinggal disini.

"Saya akan datang untuk berkunjung Ummi, terimakasih Ummi sudah memberikan banyak hal untuk saya, saya tidak akan pernah bisa membalasnya."

"Lalu kamu akan tinggal dimana?"

"Saya akan pulang ke rumah tapi kalau Papa dan Mama belum menerima saya kembali, mungkin saya akan mencari tempat kos dekat kampus."

"Pesantren ini selalu terbuka untuk kamu, Aisyah."

"Terimakasih Ummi, saya akan belajar lagi dan mengembangkan diri di luar sana."

"Ummi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu." Maryam merangkul Aisyah, sejak pertama kali Aisyah datang kesini, Maryam memang sudah menyukai Aisyah.

Aisyah menahan diri agar tidak menangis, mereka masih bisa bertemu tapi Aisyah amat berat meninggalkan tempat ini. Disini Aisyah dikelilingi oleh orang-orang baik yang mau membantu dan memaklumi ketidaktahuannya terhadap banyak hal.

"Saya akan selalu mengingat semua nasehat Ummi." Dan Umar tentu saja.

"Datanglah ke kajian shubuh Ummi kalau kamu sempat."

"Baik Ummi." Aisyah sudah membereskan barang-barangnya yang hanya sedikit karena saat pergi dulu ia memang dilarang membawa apapun. Sebagian besar baju yang ia punya di rumah juga tidak bisa dipakai lagi karena modelnya kurang bahan. Sekarang penampilan Aisyah sudah jauh berbeda, orang-orang hanya bisa melihat tangan dan wajahnya.

Aisyah sudah berpamitan pada semua orang semalam, ia akan selalu mengingat mereka sebagai orang-orang yang ada saat masa sulitnya.

"Saya akan mengantar mu." Umar tiba-tiba muncul ketika Aisyah dan Maryam keluar dari kamar.

Aisyah hanya mengangguk pelan tanpa bersuara.

Umar mengambil tas Aisyah dan meletakkannya di jok depan sedangkan Aisyah duduk di belakang.

"Saya pergi dulu, assalamualaikum." Aisyah melambaikan tangan sekali lagi pada Maryam dan Khawla yang mengantarnya hingga depan rumah.

Suara ban mobil menggilas kerikil di depan rumah mulai terdengar semakin jauh lalu menghilang di balik gerbang tinggi pondok pesantren.

Suasana di dalam mobil berubah canggung, Aisyah biasanya banyak bicara saat bersama Umar tapi kali ini ia tidak dapat bersuara. Aisyah takut jika air mata lolos bersama suaranya.

Sesekali Umar melihat Aisyah dari spion atas, gadis yang selalu membuatnya tersenyum bahkan tertawa dengan kelakuannya itu akan segera pergi. Haruskah Umar mengungkapkan perasaannya sekarang? Lalu bagaimana perjodohannya dengan Hilya. Umar bisa menyakiti semua orang terutama abah nya. Hilya juga sepertinya dapat menerima perjodohan itu dengan penuh keikhlasan.

"Saya pikir kamu akan tinggal lebih lama." Umar memecah keheningan antara mereka.

"Aku kangen Papa dan Mama." Suara Aisyah gemetar, jauh di lubuk hatinya ia ingin mengatakan bahwa ia jatuh cinta. Jatuh cinta pada Umar.

"Tapi aku bisa lebih tenang karena kamu sudah belajar banyak hal, bahkan sudah bisa membaca Alqur'an."

"Berkat adik-adik pondok yang baik, oh iya—aku baru tahu kalau tato itu haram."

"Iya."

"Kamu tahu aku punya tato tapi kamu nggak pernah bahas soal itu sama aku."

"Karena kamu bikin tato itu sebelum menjadi muslim."

"Aku harus hapus kan?"

"Allah itu sayang dengan umat-Nya, tato haram karena menimbulkan rasa sakit saat membuatnya, kalau menurutmu untuk menghapusnya terlalu sakit maka kamu boleh membiarkannya."

"Aku mau melakukan yang terbaik untuk Allah, gimana kalau aku dipandang sebelah mata?"

Umar tertawa, "Allah tidak begitu."

Melihat tawa Umar membuat Aisyah semakin sedih, ia tak akan bisa melihat tawa itu lagi. Sebentar lagi Aisyah juga akan menyelesaikan studi magister nya, mereka tidak akan bertemu bahkan di kampus. Walau bagaimanapun Aisyah tidak harus mengkhawatirkan hal seperti ini karena Allah sudah mengatur semuanya.

"Allah memandang kamu dengan diri kamu sepenuhnya."

Aisyah menunduk tidak berani bertemu pandang dengan Umar meskipun melalui spion. Itu hanya akan membuatnya semakin berat untuk pergi. Mereka sudah setengah jalan.

"Aku dengar kamu akan melamar Ning Hilya." Suara Aisyah sangat pelan teredam suara kendaraan lain.

"Benar, semuanya sudah ditentukan oleh Abah dan Kyai Abizar termasuk tanggal lamarannya."

Umar bukannya tidak punya hak untuk menolak, itu adalah bentuk pengabdiannya terhadap orangtua. Mereka telah membesarkan dan mendidik Umar maka tidak ada yang bisa Umar lakukan selain mengabdi terhadap orangtunya.

Aisyah berniat pura-pura kuat dan mengatakan semoga mereka bahagia tapi ia tak bisa. Kalimat itu hanya tercekat di tenggorokannya dan membuat lehernya semakin tercekik.

"Ada apa?" Umar melihat Aisyah terus memegangi jilbab di bagian dagunya. "Gerah ya?" Maklum itu adalah mobil tua yang belum menggunakan AC jadi tak ada pendingin kecuali dari jendela yang hanya dibuka sedikit.

"Peniti nya terlalu kenceng." Aisyah beralasan.

"Kamu bisa pakai jilbab yang tidak perlu pakai peniti jadi lebih nyaman."

"Kamu bilang jangan pakai jilbab tipis jadi aku pakai jilbab tebal yang bikin aku budek, sekarang pakai peniti juga nggak boleh."

Umar kembali terkekeh, hanya Aisyah yang berani bicara ceplas-ceplos dengannya.

"Kamu pasti bisa menemukan gaya jilbab yang nyaman untuk mu sendiri."

Setelah ini Aisyah akan mencari atau membuat jilbab yang syar'i sekaligus nyaman dipakai. Cita-cita Aisyah tidak jauh dari dunia fashion.

Ketika mobil berhenti tepat di depan bangunan megah nan mewah milik Jaya, Aisyah ragu untuk turun meskipun hatinya bergejolak ingin segera bertemu papa dan mama nya. Selama satu bulan ini Aisyah hanya bisa foto yang Daniel kirimkan padanya melalui BlackBerry Messenger. Foto yang diam-diam diambil oleh Daniel saat Jaya dan Renata sedang beraktivitas.

Aisyah tersentak ketika Umar membuka pintu mobil untuknya. Mau tidak mau Aisyah turun dari mobil menenteng tas kecil sedangkan Umar membawa tas pakaian Aisyah.

"Makasih udah antar aku, kamu boleh pulang Gus, Mas, Ustadz." Aisyah melebarkan senyum yang menular pada Umar.

"Aku tungguin kamu masuk."

Aisyah melangkah ragu menekan bel dekat gerbang, ia bisa saja membuka kunci gerbang dan masuk ke rumah tapi ia tidak yakin jika mereka masih bisa menerimanya kembali.

"Papa mungkin udah berangkat kerja, Daniel juga pasti udah ke sekolah."

"Oke, kalau gitu." Umar berjalan masuk ke mobilnya tapi ia tidak segera pergi karena harus memastikan Aisyah masuk ke rumah dengan selamat.

Aisyah kembali menekan bel satu kali, beberapa saat kemudian gerbang terbuka lalu muncul seorang satpam yang langsung mengenali Aisyah.

"Cici!" Satpam tersebut sedikit terkejut melihat penampilan Aisyah, ternyata benar kabar yang sering digosipkan oleh para ART di rumah ini bahwa Aisyah telah berpindah keyakinan. "Silakan Ci." Ia membuka gerbang lebih lebar mempersilakan Aisyah masuk.

Langkah Aisyah terhenti ketika menemukan sosok Jaya berdiri di belakang gerbang.

"Pa,"

Tatapan Jaya tajam bagai pedang yang menusuk tepat ke jantung Aisyah. Jaya dapat melumpuhkan siapapun dengan tatapan itu.

"Kamu berani pulang—dengan penampilan seperti ini?"

"Aku masih dan akan terus menjadi anak Papa dan Mama."

"Kamu pikir kami mengharapkan mu?"

"Lalu siapa yang Papa harapkan?"

"Papa punya Daniel, lupakan soal perusahaan, kamu nggak mungkin mendapatkannya."

"Aku nggak apa-apa asal Papa dan Mama memaafkan ku."

"Jangan mimpi." Jaya sedikit mendorong Aisyah dengan punggung tangannya lalu segera menutup gerbang.

Melihat itu Umar segera turun dari mobil dan menghampiri Aisyah. Bahu Aisyah tampak naik turun dengan cepat, kini ia tidak dapat menahan tangisannya lagi. Air matanya tidak terbendung membahasi pipi.

"Pak Jaya!" Panggil Umar segera menggedor gerbang dengan keras berharap Jaya bisa mendengarnya. Melalui celah gerbang Umar dapat melihat Jaya membalikkan badan dan berjalan ke arah mereka. "Pak Jaya, tolong dengarkan saya."

Sesuai harapan Umar, Jaya kembali membuka gerbang.

"Kenapa kamu disini?" Jaya mengerutkan kening melihat Umar, ia pikir Aisyah datang sendiri.

"Maaf Pak, selama ini Aisyah—maksud saya Atalie tinggal di pondok pesantren milik orangtua saya, tolong maafkan Atalie, walau bagaimanapun Atalie tetap anak Pak Jaya."

"Kenapa dia tinggal di tempat mu Umar?"

"Atalie belajar Islam disana."

"Apa karena kamu juga Atalie memutuskan untuk berpindah keyakinan?"

"Bukan Pa, itu sepenuhnya keputusan ku." Sahut Atalie cepat, ia tidak mau Umar terkena imbas kemarahan Jaya.

"Semoga Pak Jaya berkenan menghargai keputusan Atalie dan menerimanya kembali, siapa lagi yang dapat menerimanya jika bukan keluarganya sendiri?"

Pandangan Jaya perlahan menghangat, sebenarnya ia dan Renata mengkhawatirkan Aisyah selama anak itu pergi dari rumah. Kemarahan mereka telah luntur dimakan waktu. Tidak ada orangtua yang membenci anaknya sekalipun dia telah membuat kesalahan paling fatal dalam hidup.

"Masuklah, Mama mu sakit." Jaya mundur selangkah memberi ruang untuk Aisyah masuk.

"Mama sakit?" Aisyah terkejut mendengar mama nya sakit, selama ini Daniel tidak memberitahu hal itu. Aisyah segera berlari masuk ke rumah, ia bahkan meninggalkan tas pakaiannya di luar.

"Mari bicara." Jaya mengajak Umar masuk, ia yakin Umar berpengaruh besar terhadap perubahan Aisyah.

Mereka duduk di kursi taman depan, saat pagi pemandangan disitu mampu menyegarkan mata. Berbagai jenis tanaman hias begitu terawat ditambah kolam ikan di tengah taman sama seperti di taman belakang.

"Atalie tinggal dengan keluarga kamu?"

"Benar Pak, kebetulan orangtua saya mengelola lembaga pembelajaran Islam, disana Atalie juga belajar dengan para santri."

"Kenapa keluarga kalian mau menerima Atalie, sebelumnya Atalie tidak pernah memberitahu jika dia dekat dengan keluarga mu."

"Setelah menjadi muslim maka Atalie adalah bagian dari kami, dia saudara kami."

"Hanya karena dia muslim?"

"Itu sudah cukup untuk kami."

Jaya tak habis pikir dengan keluarga Umar yang bisa menerima dan menampung Aisyah semudah itu. Dengan alasan yang sangat sederhana Umar mengatakan jika Aisyah adalah bagian dari mereka.

"Maka sekarang saya tidak punya alasan untuk tidak menerima Atalie kembali, dia anak yang kami besarkan dengan penuh perhatian."

"Saya lega mendengarnya." Umar tersenyum lebar seolah beban di bahunya terlepas seketika.

"Saya lega karena Atalie tinggal dengan mu selama satu bulan ini." Jaya tahu persis jika Umar adalah laki-laki baik, alasan utama Jaya menyukai Umar adalah karena Umar pandai berbahasa mandarin. Alasan sederhana yang cukup bagi Jaya.

1
Lina Siti
Luar biasa
Rahmi Ami
bagus
Bundanya Abhipraya
udh baca sampe cerita anaknya daniel br tau cerita ini pokoke capcus baca maraton
Nina
kalo baca cerita yang pasangan suami istri belum di kasih keturunan,kadang tuh suka inget ke diri sendiri
Nina
di balik itu semua pasti ada hikmah nya
☝ℕ𝕦𝕟𝕦𝕥𒈒⃟ʟʙᴄ
semoga aisyah cepat hamil, jadi ikutan sedihh dehh
Immha Gadlys
alhmdulilah akhirnya yg di tggu2
✿⃝⭕🌼Ohti
ikut sedih
Nina
enak loh jantung pisang kalo di olah,bisa di sayur sama santan,di bikin bakwan,bisa di pepes,enak deh pokoknya
Nina
seharus nya Nelly bicara dulu baik baik jangan asal ngambil aja,belum tentu kan orang yg kita ambil uang nya orang yg gak punya kesulitan
Nina
ujian dalam kehidupan itu gak pernah gak ada,pasti selalu ada,itu lah cara Allah supaya kita bisa sabar, ikhlas,kuat,Allah tau yg terbaik buat kita
Nina
semangat terus Aisyah dalam segala hal apapun
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
aku banget ini kaak mirna.. 😭
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ: Aaamiin Ya Allah.. 🤲🤲
total 2 replies
Anis Hasan
lanjut semoga aisyah selalu bahagia dan istikomah
Nina
rutinitas kehidupan sehari2
Nina
dalam rumah tangga harus ada yggg saling mengalah,Yang satu api yg satunya jadi air
Nina
selalu banyak cobaan di rumah tangga,entah itu dari saudara,orang tua,kerabat,teman
Nina
semangat Aisyah,jangan sedih
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
salah satu obat mujarab ketika jadi istri itu, bagaimanapun rasanya sakit hati, sesesak apapun dadamu ketika dikecewakan.. harus bisa dan wajib diutarakan. biar g mengakibatkan penyakit datang bermunculan..
semangat terus kak Atali🥰
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
kasian aisyahh, jd ikutan nyesek berada diposisi aisyah🥲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!