Araya seorang gadis cantik terpaksa menikahi seorang Ceo buta dan Arrogant yang terkenal sangat dingin dan angkuh.
Akan kah Araya bertahan dengan sikap Evan yang sangat buruk?
yuk simak novel author 🤗🤗
Maaf yah novel ini terpaksa tamat karena masalah tapi kalau kalian suka, aku bakal lanjut cerita ini di akun yang berbeda. Yuk mampir ke novel author yang lain nya. Cari aja Author SENJA atau judul novel baru author "Dinikahi Ketua Geng Motor" jangan lupa like komen yahh😌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
"June" June yang sigap segera menghampiri Evan.
"Ya Tuan Muda"
"Antar aku ke kamar"
Semua orang menatap Evan yang tiba-tiba saja ingin ke kamar padahal makanan nya belum habis dan masih sangat banyak.
"Evan habiskan makanan mu" kata Tuan Abraham namun Evan terus melangkah tanpa perduli ucapan Tuan Abraham.
"Aku sudah kenyang" kata Araya berbohong padahal sedari tadi Araya belum makan. "Aku akan menyusul suami ku, selamat malam" Araya membungkuk kan tubuh nya sedikit memberi hormat untuk kelurga besar Evan.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka Araya berlari kecil mengikuti langkah Evan yang sudah berada di lantai atas. "Biar aku saja yang mengantarnya" kata Araya saat sudah berada di samping Evan dan June.
"Maaf Nona saat ini Tuan Muda tidak ingin di ganggu" June melirik Araya yang sedang ngos ngosan karena mengejar nya barusan.
Araya mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. "Dia suami ku. Minggir" kata Araya lalu menggeser tubuh June kesamping memberi ruang untuk Araya menggandeng tangan sang suami.
Evan melirik tangan mungil istri kecil nya lalu mengikuti langkah Araya yang menuntun nya masuk ke dalam kamar. "Mengapa anda pergi padahal makanan anda belum habis". Araya menuntun Evan duduk di pinggir ranjang lalu berjongkok di hadapan Evan.
"Jangan sok peduli"
"Sampai kapan anda akan bersikap dingin pada ku" tanyak Araya sembari melepaskan sepatu yang di kenakan oleh Evan.
Baru kali ini Evan di perlakukan sangat istimewa oleh seseorang, Evan tidak menyangkah jika istri kecil nya yang dia nikahi beberapa minggu lalu kini memegang kaki nya tanpa rasa jijik.
Evan tidak menjawab ucapan Araya saat mata nya fokus menatap wajah istri nya yang berjongkok di depan nya hingga suara perut Araya yang lapar terdengar oleh Evan membuat Araya sangat malu.
"Akh memalukan sekali" gumam Araya namun Evan masih bisa mendengar nya.
"Pergilah"
Araya menggeleng. "Aku tidak mau pergi" kata nya dengan lukas.
"Jika kau lapar suruh pelayan untuk mengantarkan makanan"
Entah mengapa terukir senyuman lebar di wajah Araya saat Evan mulai perhatian pada nya. "Aku akan makan jika anda juga ikut makan" kata nya dengan manja.
Evan diam sejenak lalu akhir nya menganggukan kepala nya dengan pelan. Araya kembali tersenyum lebar saat suami nya mau makan bersama nya.
Araya berdiri dari jongkok nya. "Tunggu di sini, aku akan segera kembali" dengan semangat gadis nakal itu berlari keluar.
Deg
Deg
Deg
Tangan Evan yang sejak tadi bergetar menyentuh dada nya sendiri. Selama ini Evan tidak perna merasakan perasaan seperti ini. Entah mengapa saat berada di samping Araya membuat jantung nya berdetak tiga kali lebih cepat. Evan menyentuh dada nya agak lama hingga sebuah senyuman tipis nampak di wajah nya tampan.
Brak
Dengan cepat Evan mengubah expresi nya stay cool saat Araya datang dengan mendorong meja yang berisi penuh hidangan. Evan menoleh pada Araya yang sedang tersenyum melihat nya lalu dengan cepat Evan mengalihkan pandangan nya.
"Tuan, ayo kita makan, biar aku suap kan" kata nya sembari menaruh beberapa menu lauk ke dalam piring mereka.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri" tanpa memandang wajah istri kecil nya Evan menolak niat baik Araya.
Gadis nakal itu dengan lancang menyentuh pipi Evan lalu mengarahkan wajah Evan tepat di depan nya hingga mereka pun saling tatap. "Sayang nya anda tidak bisa menolak karena piring nya hanya ada satu jadi kita saling berbagi" kata Araya dengan senyuman termanis nya.
Evan di buat melongo dengan keberanian istri kecil nya. Araya mengulurkan sesendok nasi di hadapan Evan namun Evan enggan untuk membuka mulut tapi beberapa saat kemudian akhir nya Evan membuka mulut nya lalu menerima suapan Araya.
Evan terus menatap Araya hingga kejadian beberapa saat yang lalu saat mereka berciuman di bawah deras nya hujan kembali berputar di pikiran Evan membuat wajah Evan memerah dengan cepat.
"Tuan, mengapa wajah anda memerah seperti itu, apakah anda sakit" tanyak Araya dengan wajah khawatir.
Tangan Araya replex menyentuh kening Evan dengan lembut merasakan hawa tubuh Evan. "Anda tidak demam" kata nya setelah memastikan suhu tubuh Evan.
"Aku baik-baik saja" Evan dengan cepat menepis tangan Araya karena entah mengapa jantung nya saat ini seperti sedang berolahraga di dalam.
"Keluar!" Evan yang gugup segera mengambil air yang berada di atas meja.
"Kenapa aku harus keluar? Aku juga akan tidur di kamar ini"
Byurrr
Setelah mendengar jawaban Araya secara tidak sadar Evan menyemburkan air nya.
Uhuk!
Uhuk!
ni udah lama gak up
hmm ngomong² tuh ank deg deg kn knp lg