NovelToon NovelToon
WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU

Status: tamat
Genre:Tamat / Patahhati / Romansa-Tata susila / Percintaan Konglomerat
Popularitas:9.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Moena Elsa

Mutia Arini seorang ibu dengan satu putra tampan dan juga pengusaha bakery wanita tersukses. Kue premium buatannya telah membuat dirinya menjadi seorang pebisnis handal. Banyak cabang telah dibukanya di berbagai kota besar. Pelanggannya adalah golongan menengah ke atas. Di balik kesuksesannya ternyata ada sebuah rahasia besar yang disimpannya. Karena kejadian satu malam yang pernah dilaluinya, mengubah semua arah kehidupan yang dicitakan oleh seorang Mutia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 28

Sungguh terlalu" gerutu Dewa menirukan ucapan seorang penyanyi dangdut senior itu.

Meski menggerutu Dewa tetap melaksanakan perintah Sebastian. Dewa memesankan makanan online, dan minta langsung dikirim ke kamar VVIP enam kosong tiga.

.

Mutia dan Dena saling berpandangan saat ada yang mengetuk pintu.

"Bukain Den, siapa juga malam-malam gini ke sini," celetuk Mutia.

"Tuan Sebastian kali," balas Dena terus meloncat membuka pintu dan menghindari timpukan tisu Mutia.

"Mba, ini ada kiriman makanan atas nama tuan Dewa," bilang pengantar makanan online itu.

"Maaf kak, di sini nggak ada yang namanya Dewa," jawab Dena.

"Tapi ini kamar enam kosong tiga kan?" tanyanya lagi.

"Benar," sergah Dena.

"Berarti saya nggak salah mba. Pesenan ini memang atas nama tuan Dewa, tapi disuruh ngirim ke kamar ini," celetuk mas nya.

"Diterima aja mba, lagian sudah dibayar sama tuan Dewa kok," ujarnya lagi.

Dena mengetuk keningnya, berpikir sejenak. Dewa....siapa Dewa...??? pikir Dena.

"Mba....lama kali mikirnya. Tinggal terima doang. Mubazir juga kalau nggak diterima mba," ulas mas nya lagi.

"He...he...bener juga ya mas," Dena cengengesan dan langsung menyambar bungkusan makanan itu.

Dena masuk kembali ke kamar Langit.

"Siapa Den?" tanya Mutia.

"Ada rejeki nomplok kak. Ada yang kirim makanan ke kita," jelas Dena.

"Lah, tadi katanya kau mau pesan??" Mutia ikut duduk dekat Dena.

"Nggak jadi kak. Kakak sih tidur duluan sebelum aku sempat nanya ingin makan apa," urai Dena.

"He...he...." Mutia menertawakan ekspresi Dena.

"Ayo kak, buruan. Cacing di perut sudah demo nih,"

Dena buru-buru buka bungkusan yang dikirim barusan.

"Wah kak, lumayan. Ini kan menu di resto yang ada di mall 'X' itu???" Dena membelalakkkan mata melihat menu di depannya.

"Kamu tadi nanya nggak siapa yang suruh kirim ini?" tanya Mutia.

Dena mengangguk, "Nanya sih kak, tapi anehnya aku kayak asing dengan nama orang itu," seloroh Dena.

"Kalau nggak salah, mas nya tadi bilang kalau yang pesan makanan ini namanya tuan Dewa," lanjutnya.

Mutia termangu, mencoba mengingat nama yang seolah pernah didengarnya itu.

"Kakak kenal?" tanya Dena.

"Nggak sih Den, cuma kayak pernah dengar nama itu?" tukas Mutia.

"Sudahlah kak, mikirnya ntar aja. Makan dulu aja yuk!!! Lagian nunggu orang sakit butuh energi yang cukup," ajak Dena.

Akhirnya mereka makan dengan menu yang dikirimkan oleh Dewa.

Tengah malam Langit yang kembali naik suhu tubuhnya meracau lagi. Mutia tergopoh memberikan kompres di kening putranya itu. Sementara Dena memanggil perawat. Perawat masuk dengan membawa obat penurun panas yang akan dimasukkan lewat infus.

"Papa...papa..." racau Langit dalam tidurnya.

Mutia mendekap tubuh Langit yang menggigil.

"Kak..." panggil Dena.

"Hussssss," jari tengah Mutia dia tempelkan di mulut, pertanda minta Dena diam dulu.

"Papa..." teriak Langit kali ini dan terbangun.

"Bun...aku mimpi bertemu dengan papa," ucap Langit begitu membuka mata.

"Papa ingin mengajakku Bun," lanjut Langit.

Mutia meneteskan air mata. Begitu ingin mu punya seorang papa nak, batin Mutia.

"Bun, boleh aku menelpon uncle Sebastian?" tanya Langit.

"Ini sudah tengah malam nak, besok pagi-pagi aja ya. Uncle sekarang pasti sedang istirahat," tolak Mutia halus.

Mata Langit berkaca-kaca mendengar penolakan Mutia. Tega tak tega Mutia tetap dengan pendiriannya. Mutia tentu sungkan menelpon Sebastian, yang bukan apa-apanya itu.

"Kak, kasihan Langit. Bolehin ya?" bisik Dena di belakang Mutia.

Mutia mendongak dan menatap putranya yang terdiam dengan wajah sendunya.

"Kamu ini kenapa nak?" Mutia mengelus kepala putranya, tapi ditolak oleh Langit. Mode ngambek ditunjukkan Langit.

Mutia akhirnya menurunkan egonya dan memberikan ponsel ke Langit. Dengan semangat Langit menggeser kunci ponsel bundanya dan lekas menghubungi uncle Sebastian.

.

Sementara di apartemen, entah kenapa malam ini Sebastian susah memejamkan matanya. Akhirnya Sebastian menghabiskan waktu di ruang kerjanya untuk membaca buku koleksinya.

Sebastian langsung meraih ponselnya yang berbunyi. Tanpa melihat siapa yang memanggil, dia geser icon hijau itu.

"Halo uncle," sapa Langit terlihat di layar. Sebastian terkaget saat tau kalau yang nelpon adalah Langit.

"Loh kok belum tidur? Sudah tengah malam ini" tanya Sebastian.

"Uncle tadi pergi kok nggak bangunin Langit sih?" tanya Langit.

"Tadi kamu boboknya pules banget, uncle jadi nggak tega deh" tukas Sebastian.

"Langit, bobok lagi ya. Kasihan bunda tuh, tengah malam belum bisa istirahat," seloroh Sebastian.

"Tapi temenin Langit ya uncle? Jangan ditutup dulu sampai aku tidur ya," mohon Langit.

"Oke, tapi janji ya langsung tidur," ucap Sebastian. Langit pun menurut apa yang dikatakan Sebastian.

Saat Langit sudah tertidur, Mutia mengambil alih panggilan telpon yang dilakukan Langit. Saat hendak mengucapkan terima kasih, malah dilihatnya wajah tampan Sebastian yang juga telah pulas tertidur. Mutia tersenyum sendiri melihat pemandangan langka itu. Sampai akhirnya Mutia menyadari bahwa tampang kedua laki-laki itu sangat mirip sekali, apalagi dalam keadaan tertidur. Sampai-sampai layar ponselnya dia dekatkan ke samping wajah Langit.

Deg, Mutia tersentak. "Jangan...jangan...." gumam Mutia.

"Nggak...nggak mungkin dia yang melakukannya," Mutia bicara sendiri di tengah malam itu sambil geleng kepala.

Selama tiga hari Mutia dan Langit menghabiskan waktunya di rumah sakit. Karena kesibukannya di Blue Sky, Sebastian belum muncul lagi untuk menengok Langit. Tapi Sebastian selalu meluangkan waktunya untuk melakukan panggilan video hanya untuk menanyakan kabar Langit.

Seperti siang itu, "Uncle aku sudah dibolehin pulang nih" cerita Langit antusias.

"Benarkah....???? Alhamdulillah," sahut Sebastian.

"Tunggu uncle ya, habis ini kujemput," ujar Sebastian.

"Nggak usah uncle, Langit sudah dijemput aunty Dena," tolak Langit.

"Baiklah, hati-hati ya. Salam juga buat bunda," Sebastian mengakhiri panggilan itu.

Semenjak itu Sebastian dan Langit seakan tak terpisahkan. Tiada hari tanpa panggilan video. Bahkan Langit juga sering diajak naik ke apartemen Sebastian. Sebastian bahkan menyempatkan mampir ke apartemen Mutia untuk menghampiri Langit.

"Bun, malam ini boleh ya aku tidur di tempat uncle??" pamit Langit.

"Besok kan libur. Boleh ya bun???" rayu Langit menciumi bunda.

"Hmmmmm....pasti ada maunya nih" celetuk Mutia. "He...he...he...." Langit tertawa.

Sebastian tersenyum melihat keakraban ibu dan anak itu.

"Bunda ijinin, sekali ini aja ya. Uncle Sebastian pasti akan repot nanti," jelas Mutia.

"Uncle, Langit nggak ngerepotin kan?" Langit menoleh ke Sebastian dan dijawab gelengan oleh Sebastian.

"Kalau gitu makan dulu, baru boleh pergi," tegas Mutia.

"Horeeeeeee" teriak Langit kegirangan.

"Uncle, ayo sekalian makan!!!" ajak Langit.

"Eh..." Sebastian tergagap. Tapi tak menunggu jawaban Sebastian, Langit sudah menggandeng dan menyeret Sebastian ke meja makan.

Sebastian hanya bisa garuk kepalanya. Sekarang mereka bertiga sudah duduk di meja makan.

"Kok sepi? Mana yang lain?" pura-pura Sebastian.

"Aunty Dena sama bik Sumi sedang belanja. Nggak usah nungguin mereka ayo makan uncle," ucap Langit semangat.

Mutia mengambilkan makanan ke piring Langit.

Melihat Sebastian yang nampak kikuk, akhirnya Mutia mengambilkan makanan untuk Sebastian juga. Sudah persis laiknya keluarga kecil bahagia..he...he...

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

to be continued

1
Nita Kelung
Penipu kena tipu😂
Nita Kelung
ternyata Janetra yg bodoh😂
Nita Kelung
Opa tinggal aja dgn Mutia dan sebastian
Nita Kelung
terbongkar sdh
Nita Kelung
pasti opa itu yg Tian cari
Nita Kelung
opa yg di cari juga oleh Tian
Nita Kelung
pasti ttg kalung dan liontin yg pernah di lihat
Nita Kelung
Sebastian ngidam
Nita Kelung
Dewa sama Dena aja
Nita Kelung
mutia sepupuan dgn Janetra
Nita Kelung
pasti Bibi kaget, krn mukax Sebastian mirip Bintang
Nita Kelung
pasti itu Mutia
Khairul Azam
ini othornya gak konsisten bukanya diawal si bibik mangil mutia dgn mutia aja gak pakek nyonya?
Khairul Azam
boleh song komen kan gunanya kolom komentar untuk komen 🤭🤭🤭

ceritanya bagus cuman sedikit menganjal dan gak enak dibaca trs feelnya kurang greget, seperti bastian bilang " aku gak punya no tlf bunda km lhoo" apa gak enak bilang "om tidak punya" kan lbh enak, tts basti ada " hahaha hehhehe" itu menggangu sih gak harus ditulis begitu sih. trs cara percakapan anak anak seumuran langit dan bintang terlalu dewasa
Khairul Azam
umur lima tahun cara ngomongnya seperti orang dewasa, malah gak imiut jadinya
Neneng Tejaningsih
bagus karya mu thor aku suka
Khairul Azam
bagus ceritanya tp cara nulisnya kq begini bikin pusing bacanya
moenaelsa: proses edit kak...maafin msh belajar nulis
total 1 replies
Neneng Tejaningsih
Luar biasa
George Lovink
Bagus ceritanya cuman kekurangan penulis nggak pisahkan percakapan.Dalam satu bab percakapan menumpuk tak ada jeda pisah sambung menyambung...jadi malas baca walau cerita bagus...mengagungkan diri penulis tapi hal sepele ini saja terlewati
moenaelsa: makasih masukannya, otewe revisi
total 1 replies
George Lovink
Kayaknya cerita bagus...tapi pisahkan donk percakapannya...numpuk gitu...seorang penulis kok nggak teliti sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!