Zainna Keisha Nugraha, seorang Mahasiswi kampus ternama di Jakarta harus menerima pernikahannya dengan seorang Profesor yang merupakan salah satu dosennya yang berstatus sebagai duda beranak satu. Inna menerima pernikahan ini karena sudah terlanjur sayang pada Putri kecil yang sangat manis dengan nasib yang sama dengannya yaitu ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Namun Inna juga harus menelan pahit bahwa suaminya masih sangat mencintai istri pertamanya dan sangat sulit untuk Inna dapat menggantikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Delapan
Disebuah kafe, seorang wanita terlihat duduk sendirian di meja paling sudut. Sesekali ia melirik jam tangannya.
"Kenapa lama sekali?" Kesal wanita itu seraya menatap tajam seorang lelaki yang baru saja datang.
"Aku ada urusan. Apa yang ingin kamu bicarakan?" Sahut lelaki itu yang langsung duduk dihadapannya.
"Bagaimana dengan tawaranku kemarin? Apa kau sudah putuskan?" Tanya wanita dengan senyuman liciknya.
"Aku tidak tertarik. Aku tidak akan meyakiti wanita yang aku cintai. Dia sudah bahagia dengan suaminya." Balas lelaki itu menatap sengit sang wanita.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya wanita itu sambil memutar gelas kopinya. Pria itu tampak berpikir keras.
"Jangan terlalu lama berpikir, kau akan menyesal suatu saat." Kata wanita itu dengan angkuh.
"Besok aku putuskan." Ujar lelaki itu yang langsung bergegas pergi."
Sang wanita tersenyum licik sambil menatap punggung lelaki itu yang mulai menghilang di balik pintu masuk.
"Tunggu saja tanggal mainnya, Zainna Keisha Willson. Kau akan mendapatkan apa yang pantas kau dapat." Kata wanita itu sambil meneguk kopinya dengan seringaian ngeri.
***
"Mas, kita kerumah Mama ya? Inna kangen Elya." Pinta Inna sepulangnya dari restoran.
"Iya, Sayang." Sahut Samuel seraya mengusap kepala istrinya dengan lembut. Saat ini mereka masih dalam perjalanan pulang.
"Mas, Inna lupa. Mobil Inna masih di kampus." Inna membalikkan tubuhnya menghadap Samuel. Ia melupakan mobil kesayanganya yang sudah dua hari berada di kampus.
"Jangan khawatir. Mas akan suruh orang untuk mengambil mobil kamu." Kata Samuel yang berhasil membuat Inna senang. Samuel menggenggam tangan Inna dengan mesra.
"Terima kasih, Mas." Ucap Inna mengeratkan genggaman tangan suaminya.
Sesampainya di rumah keluarga Willson, Inna langsung keluar dari mobil dan sedikit berlari masuk ke rumah. Samuel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Inna yang seperti anak kecil. Lalu menyusulnya di belakang.
"Assalamualaikum." Ucap Inna masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumusalam." Jawab seorang wanita yang kebetulan sedang bermain ponsel di ruang utama. Wanita itu pun langsung memberikan tatapan tak bersahabat pada Inna. Inna yang melihat itu memutar matanya jengah dan hendak pergi sebelum wanita itu menahan tangannya.
"Bukanya Lo ilang ya? Ngapain pake balik segala sih? Kalau bisa nih ya, Lo pergi jauh-jauh dari kehidupan Kak Sam. Dia itu sama sekali gak menginginkan Lo." Sarkas Gina menatap Inna sinis.
"Jaga ucapan kamu Gina." Hardik Samuel yang mendengar perkataan Gina barusan. Sontak Gina pun terkejut dan melepaskan cengkraman tanganya dari Inna. Ia mengira Inna pergi sendirian dan menunduk takut akan tatapan tajam Samuel.
"Ayok sayang," ajak Samuel merangkul pinggang istrinya. Inna menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya. Dan itu benar-benar membuat Gina kesal setengah mati. Inna tersenyum penuh kemenangan.
"Elya, Mama datang Sayang." Teriak Inna saat tak menemukan keberadaan putrinya. Samuel yang mendengar itu cuma bisa menggeleng. Ia tidak pernah menyangka jika istrinya bisa bersikap konyol juga. Samuel pergi meninggalkan Inna menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu.
"Mama." Sahut Elya yang muncul dari arah belakang. Dan langsung berhambur kepelukan Inna.
Inna melerai pelukan Elya dan menyejajarkan tubuhnya. Lalu mencium wajah putrinya bertubi-tubi. Benar-benar merindukan gadis kecilnya itu.
"Mama kangen benget sama Elya." Ucap Inna kembali memeluk Elya.
"Mama Elya sesak napas."
Inna langsung melepaskan pelukannya dengan wajah khawatir.
"Maafin Mama sayang." Ucap Inna merasa bersalah. Ia mengusap keringat dikening Elya.
"Elya becanda, Ma. Elya juga kangen... banget sama Mama." Kata Elya yang mencium kedua pipi Inna. Selang beberapa saat Diana muncul dari pintu belakang.
"Inna kamu sudah pulang?" Diana menghampiri Inna dengan perasaan senang.
"Iya Mama." Sahut Inna bangun dan mencium tangan Diana. Namun, Inna kaget karena tiba-tiba Diana memeluknya begitu erat.
"Terima kasih, Sayang. Kamu tidak meninggalkan El." Kata Diana semakin membingungkan Inna.
"Inna gak pergi ke mana-mana, Ma. Kemarin Inna pulang ke rumah karena kangen Papa." Jawab Inna melerai pelukan ibu mertuanya.
"Mama sangat takut saat El mencari kamu ke sini. El bilang kamu tidak ada di rumah. Mama benar-benar tidak bisa tidur semalaman." Ujar Diana yang lagi-lagi berhasil membuat Inna kaget. Inna tidak menyangka jika Samuel mencarinya. Ia merasa benar-benar dibutuhkan. Itu sangat membahagiakan.
"Ya Allah, Ma. Inna tidak akan lupa dengan janji Inna. Inna tidak akan meninggalkan Mas El apa pun keadaanya." Jelas Inna sambil tersenyum tulus. Lalu mereka terdiam sesaat. Dan di saat bersamaan juga Samuel muncul.
"Siang, Ma." Sapa Samuel menghampiri Diana dan mencium pipi wanita kesayangannya.
"El, Mama bahagia kamu kembali bersama Inna." Ujar Diana tersenyum senang. Samuel yang mendengar itu cuma membalas dengan anggukkan.
"Papa tumben sudah pulang?" tanya Elya pada Samuel. Samuel yang mendengar itu langsung menyejajarkan tubuhnya dengan Elya.
"Papa kangen Elya." Ucap Samuel membawa putrinya dalam gendongan.
"Elya juga kangen Papa." Balas Elya mengecup pipi Samuel. Inna dan Diana yang menyaksikan itu tersenyum bahagia.
"Papa, malam ini Elya mau ikut pulang kerumah kita ya? Elya mau tidur dengan Mama dengan Papa, Elya takut tidur sendirian terus." Rengak Elya dengan manja.
"Iya Sayang, kita akan pulang ke rumah dan tidur bersama." Jawab Samuel tersenyum manis.
Diana terkesiap melihat senyuman Samuel yang sudah lama tak ia lihat. Sontak Diana menatap Inna dan merangkul menantunya. Diana terus mengucapkan syukur pada Sang Maha Kuasa. Karena sudah mengirimkan Inna sebagai pengobat luka putranya.
Setelah berbincang singkat, Samuel langsung berpamitan pulang pada Mamanya. Diana sempat menahan agar mereka tetap di sana untuk beberapa saat. Tetapi Samuel mengatakan jika Inna harus istirahat. Diana pun memahami itu. Samuel pun langsung membawa anak dan istrinya pulang.
"Mama, Elya ngantuk." rangek Elya sambil mengucek kedua matanya.
"Tidur, Sayang." Sahut Inna membenarkan posisi Elya dipangkuanya.
"Biarkan Elya tidur dibelakang." Kata Samuel yang masih pokus menyetir.
"Tidak apa Mas, Inna masih sanggup kok." Sahut Inna mengelus kepala Elya yang sudah terlelap. Samuel terkesiap dengan ketulusan Inna.
"Inna, terima kasih sudah mau menyayangi Elya. Walaupun dia bukan putri kamu, tapi kamu memperlakukannya seperti anak sendiri. Mas tidak tahu harus mengatakan apa lagi, Inna."
"Mas, sejak awal Inna benar-benar tulus menyayangi Elya. Elya sudah Inna anggap seperti anak sendiri, jadi jangan bicara seperti itu. Inna merasa tersinggung." Balas Inna menatap Samuel lamat-lamat. Samuel tertawa renyah mendengarnya. Lalu mengusap kepala istrinya dengan lembut.
***
Malam hari, disebuah restoran mewah. Terlihat sepasang kekasih yang sedang terlibat dalam perberbincangan serius. Malam ini sang wanita terlihat sangat anggun dengan balutan gaun hitam yang senada dengan pakain sang pria.
Perlahan, pria itu bangun dari tempat duduknya dan menarik sang wanita untuk berdiri. Lalu ia berjongkok dan menggenggam tangan sang wanita begitu mesra. Sang wanita terkesiap dan merasa bingung. Kemudian alunan musik romatis pun mulai terdengar.
"Didi, will you merry me?" Ucap sang pria yang tak lain adalah Jidan. Ia mengeluarkan kotak beludru berisi sebuah cincin berlian. Didi sangat terkejut dengan mulut sedikit terbuka. Seakan tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Kak...." Didi meneteskan air matanya.
"Aku hanya ingin jawaban kamu Didi, bukan yang lain." Ujar Jidan menatap Didi penuh harap.
"Yes, i will." Ucap Didi menggangguk antusias. Jidan yang merasa senang pun langsung memasangkan cincin dijari manis kekasihnya. Lalu menarik gadis itu dalam pelukkannya.
Lalu terdengar suara sorakan dan tepuk tangan dari para pengunjung lain yang melihat aksi romantis mereka. Didi sangat terkejut dan melepaskan pelukan Jidan. Karena baru menyadari jika banyak mata yang menyaksikan mereka.
Didi kembali memandang kekasihnya. lalu tersenyum dan kembali memeluk Jidan. Hari ini adalah hari paling bersejarah baginya. Lelaki yang selama ini ia impikan akan benar-benar menjadi miliknya. Didi menangis haru dalam dekapan Jidan. Bahkan beberapa tamu ikut meneteskan air mata haru karena terbawa suasana.
Sedangkan di tempat lain, Inna tampak duduk diatas ranjang sambil memainkan jari lentiknya diatas keyboard. Dan di sebelahnya ada Elya yang sudah tertidur pulas sambil memeluk pinggangnya. Inna terlalu fokus, hingga tak menyadari Samuel sudah berdiri di sebelahnya.
"Ini sudah malam, kamu harus istirahat." Samuel menyita laptop milik istrinya.
"Ya ampun Mas, sedikit lagi Inna selesai loh." Ucap Inna menatap Samuel memelas.
"Ini sudah malam Inna. Kamu belum sehat sepenuhnya. Sekarang tidur." Kata Samuel meletakkan laptop istrinya di atas meja.
Inna pun menghela napas berat. "Baiklah suamiku," pasrah Inna. Ia pun membenarkan posisi Elya. Lalu menarik selimut dan segera berbaring.
Samuel tersenyum, kemudian mengecup kening istrinya dengan mesra. "Selamat malam, istriku." Inna tersanyum dan langsung memejamkan matanya.
Samuel mengitari ranjang dan ikut berbaring di sebelah Elya. Lalu mengecup kening putrinya dengan lembut. Namun, belum sempat memejamkan mata. Ponselnya berdering. Samuel mengurungkan niatnya untuk tidur. Lalu bangun untuk mengambil ponselnya di atas nakas. Samuel mengernyit saat melihat nomor tak dikenal muncul di layar ponselnya. Ia tidak berniat untuk menjawab dan menyimpan kembali ponselnya. Lalu kembali berbaring. Namun, ponselnya terus berdering. Samuel langsung bangun dan beranjak ke balkon untuk menjawab telpon. Karena tak ingin mengganggu tidur anak dan istrinya.
"Halo." Icap Samuel, tetapi tak ada jawaban dari sana.
"Halo." Ulang Samuel dan hasilnya masih sama. Tidak ada jawaban. Samuel kesal dan langsung memutuskan telpon. Lalu menonaktifkan ponselnya. Mungkin hanya nomor iseng, pikirnya. Kemudian ia kembali ke kamar untuk tidur.
ceritanya keren,bagus
dan mantap
sukses
semangat
mksh
Ini kata Jidan pada Samuel
"Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"
Tau tidak Jidan itu kekasihnya didi dan di episode 28 dia melamar didi. Ini keistimewaan pebinor di novel2 egois, apapun kelakuannya selalu dibenarkan,
Kenapa novel harus egois dan tidak adil, pelakor dilakanat dibuat hina dan dihancurkan sedangkan pebinor begitu dipuja2, diistimewakan, dispesialkan, apapun salahnya selalu dibenarkan
Simple pertanyaan untuk author
Jika suami atau kekasihmu sangat perhatian dan membela mati matian istri orang lain, dan suami mengatakan seperti Jidan katakan pada samuel, (ini kata Jidan pada samuel "Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"). Apa kau akan bilang suamiku hebat karena perhatian dan mau merebut istri orang dan mencintai istri orang ituu