Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Plak.
Satu tamparan keras mendarat di pipi staf tersebut.
Staf pria itu langsung tersungkur ke lantai.
"Aku tidak pernah memberi kalian izin untuk berhenti bekerja."
"Aku ini pemilik rumah sakit ini."
"Kalian semua adalah pegawaiku."
Dimas menunjuk mereka semua dengan jari telunjuknya.
"Siapa yang menyuruh kalian pergi?"
"Cepat kembali ke meja kerja kalian masing-masing sekarang juga."
Para perawat itu saling pandang dengan ragu.
Staf pria yang ditampar tadi memegang pipinya dan perlahan berdiri.
"Tapi Tuan Dimas."
"Kontrak kerja kami sudah dibatalkan secara sepihak oleh manajemen baru pagi ini."
"Lagipula aliran listrik rumah sakit ini akan segera diputus kementerian."
"Kami tidak bisa bekerja di tempat yang sudah ditutup."
Dimas mencengkeram kerah baju staf pria itu.
"Manajemen baru siapa maksudmu?"
"Ini rumah sakit milik keluargaku."
"Tidak ada yang bisa merebutnya dariku."
Tap tap tap.
Suara langkah kaki pelan dan teratur terdengar dari arah pintu masuk.
"Sepertinya kau kekurangan informasi, Dimas."
Suara berat dan tenang itu membuat Dimas langsung menoleh.
Sony berjalan masuk ke dalam lobi dengan gaya elegan.
Leo berjalan di sebelah kanannya.
Sedangkan Nadhira mengikuti di belakang mereka sambil memegang kamera kecil.
Mata Dimas langsung memerah melihat siapa yang datang.
"Sony."
"Kau."
Dimas melepaskan cengkeramannya dari staf pria itu.
"Kau yang membuat kekacauan ini kan?"
"Kau yang menyabotase rumah sakitku."
Dimas berteriak dengan urat leher yang menonjol keluar.
Sony berhenti melangkah sekitar jarak tiga meter dari Dimas.
Dia melihat sekeliling lobi yang berantakan itu dengan tatapan meremehkan.
"Kau salah paham, Dimas."
"Aku tidak menyabotase apa-apa."
"Aku hanya mengambil alih manajemen yang sudah bobrok di bawah pimpinanmu."
Sony berbicara dengan nada yang sangat datar.
"Omong kosong."
"Ini adalah rumah sakit milik ayahku."
"Aku ahli waris tunggalnya."
Dimas mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Aku akan melaporkanmu ke polisi karena sudah mencuri perusahaanku."
Sony malah tertawa pelan mendengar ancaman itu.
"Rumah sakit milik ayahmu?"
"Kau yakin dengan ucapanmu itu?"
Sony menatap lurus ke mata Dimas.
Tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan menusuk.
"Rumah sakit ini dibangun menggunakan dana dari ayahku juga."
"Keluarga kita membangunnya bersama-sama sepuluh tahun lalu."
"Tapi ayahmu memanipulasi laporan keuangan."
"Dia mendepak ayahku dan mengambil semua keuntungan untuk dirinya sendiri."
Dimas menelan ludahnya mendengar rahasia masa lalu itu dibongkar.
"Itu tidak benar."
"Itu cuma karanganmu saja."
"Kau iblis miskin yang cuma mau merampas hartaku."
Dimas tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Dia berlari maju menerjang ke arah Sony.
Tangan kanannya terangkat ingin meninju wajah pria itu.
"Mati kau Sony."
Wush.
Sebelum tinju Dimas mengenai sasaran, sebuah bayangan hitam bergerak cepat.
Leo sudah berdiri tepat di depan Sony sebagai perisai.
Brak.
Leo menangkap pergelangan tangan Dimas dengan sangat mudah.
"Tangan yang kotor tidak pantas menyentuh Tuan saya."
Leo memutar pergelangan tangan Dimas ke belakang punggung.
Krek.
Suara tulang bergeser terdengar cukup jelas.
"Argh."
"Tanganku."
"Lepaskan aku, sialan."
Dimas menjerit kesakitan dan terpaksa berlutut di lantai marmer.
Rina yang melihat dari jauh hanya bisa menutup mulutnya ketakutan tanpa berani membantu.
Sony melangkah satu langkah ke depan.
Dia melihat ke bawah, menatap wajah Dimas yang sedang meringis kesakitan.
"Bagaimana rasanya, Dimas?"
"Melihat semua hal yang kau banggakan hancur satu per satu."
"Uangmu sudah habis."
"Koneksimu sudah kabur."
"Dan sekarang, rumah sakit kebanggaanmu ini juga resmi menjadi milikku."
Sony mengucapkan kata-kata itu dengan sangat perlahan agar Dimas mendengarnya dengan jelas.
"Bunuh saja aku sekarang."
Dimas menatap Sony dari bawah dengan mata penuh dendam.
"Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?"
"Kenapa kau harus menyiksaku seperti ini?"
Sony tersenyum sinis mendengarnya.
"Membunuhmu sekarang terlalu mudah."
"Kematian adalah hukuman yang terlalu ringan untuk orang sepertimu."
"Aku ingin kau hidup dan merasakan keputusasaan setiap harinya."
Sony memberi isyarat tangan kepada Leo.
"Lepaskan dia."
"Baik, Tuan."
Bruk.
Leo mendorong tubuh Dimas ke depan hingga pria itu jatuh tengkurap di lantai.
Dimas terbatuk pelan sambil memegangi pergelangan tangannya yang sakit luar biasa.
Sony merapikan kerah jas putihnya dengan tenang.
"Tapi jangan khawatir."
"Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir malam ini."
Sony membalikkan badannya bersiap untuk pergi.
"Malam ini jam sepuluh, datanglah ke mansion tua keluarga Pratama di pinggir kota."
"Tempat di mana ayahmu dulu menjebak ayahku."
"Kita selesaikan semuanya di sana."
Sony menoleh sedikit dari balik bahunya.
"Tentu saja, datanglah sendiri kalau kau memang masih merasa dirimu itu laki-laki."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Sony berjalan keluar dari lobi rumah sakit.
Leo mengikuti di belakangnya dengan langkah tegap.
Nadhira mengambil beberapa foto Dimas yang terkapar di lantai sebelum ikut pergi.
Klik klik.
Suara rana kamera itu terasa seperti hinaan terakhir bagi Dimas.
Kini Dimas hanya bisa duduk bersimpuh di lantai rumah sakit yang sudah bukan miliknya lagi.
Rina perlahan berlari mendekat dan memeluk tubuh pria itu.
Namun Dimas hanya diam membisu dengan tatapan kosong.