Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balkon rumah keluarga Alister
"Kenapa aku melihat interaksi kau dan Aurelia seperti canggung sekali?"
Aurelia berhenti bergerak, kemudian melirik ke arah Giovani yang kemudian terkekeh kecil. Ia ikut tersenyum dengan canggung. Akhirnya, hubungan mereka dipertanyakan keluarga ini. Artinya... Aurelia dan Giovani memang benar-benar terlihat canggung satu sama lain. Bahkan orang lainpun dapat merasakan.
"Itu mungkin perasaanmu saja, Pradana. Tapi memang benar..." Giovani melirik pada Aurelia sekilas. "Aku dan Aurelia tidak terlalu dekat, anaku lebih dekat dengan ibunya." ucapnya seraya berusaha tetap tenang.
Aurelia menyela, "Benar, om. Aku lebih dekat dengan Mama. Tapi bukan berarti hubungan kami buruk. Aku dan Papa tetap dekat." Aurelia menggapai tangan Giovani dan menggenggamnya.
Giovani sedikit tersentak, tapi kemudian tersenyum hangat. Aurelia sedikit lega karena Papanya tidak mengelak. Ia usap punggung tangan Giovani dengan lembut. Meski ini hanya drama, tapi bagi Aurelia... ini adalah momen terbaiknya, ketika melihat Giovani kembali tersenyum tulus setelah sekian lama.
"Biasanya anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Seperti Sarah dan Pradana." Valerian menyahuti ucapan mereka.
"Mereka begitu dekat. Tapi karakter setiap anak memang berbeda ternyata. Aurelia lebih dekat dengan almarhumah Mamanya. Artinya... Kamu juga harus lebih dekat dengan tante, nanti." Valerian terkekeh. Keluarga Alister sudah tahu tentang kepergian Mama Aurelia.
Pradana menepuk pundak Valerian pelan. "Kamu ini. Dia harus dekat juga dengan Papa mertuanya." Ucapnya sambil ikut terkekeh.
Aurelia melepaskan tangannya dari Giovani. Ia ikut tersenyum melihat candaan Valerian dan Pradana. Memang benar kata Tyana. Mereka berdua tidak sedingin Nathaniel.
"Kalau begitu kita pindah ke ruang tamu untuk membahas masalah pernikahan." Ucap Valerian lalu beranjak berdiri.
Aurelia ikut berdiri kemudian mengambil tasnya.
"Apa aku boleh pamit mencari udara segar dulu, tante? Rasanya aku terlalu kenyang." Ucap Aurelia seraya tersenyum tipis. Ia memang benar ingin mencari udara segar, sebelum kembali membahas pernikahan yang membuatnya selalu tegang.
"Silahkan, sayang. Nanti tante sama om mau ngobrol sebentar sama Papa kamu." Valerian tersenyum. "Kamu bisa antar calon istri kamu ke balkon, Nath." Lanjutnya kemudian mulai berjalan mengikuti Pradana yang sudah lebih dulu.
Nathaniel mengangguk kemudian menoleh pada Aurelia. Wanita itu terdiam dan melirik Giovani yang bahkan acuh padanya, Pria itu lebih dulu berjalan mengikuti tuan rumah tanpa bertanya lebih dulu pada putrinya.
"Di sebelah sana."
Ucapan Nathaniel mengalihkan perhatian Aurelia. Pria itu menunjuk letak balkon yang berada di sebelah utara mansion. Aurelia mengangguk dan mengikuti Nathaniel yang mulai berjalan.
Aurelia baru menyadari satu hal. Keluarga ini menjamu Aurelia dan Giovani dengan begitu baik. Ketika di lorong, matanya terus tertuju pada beberapa letak furniture yang begitu menarik perhatiannya.
Ada beberapa foto yang terpajang di dinding. Kehangatan mereka dapat terlihat walau hanya dari sebuah foto. Kakinya terus melangkah, lalu matanya tak sengaja jatuh layda foto Nathaniel, Sarah, dan dua orang paruh baya, mungkin itu adalah kakek dan nenek mereka yang sudah meninggal. Tapi yang menarik perhatiannya adalah Nathaniel, karena hanya di dalam foto itu wajahnya terlihat begitu berseri, senyumnya merekah, lalu tangannya merangkul kedua orang itu.
"Kau mau duduk disana?"
Aurelia menoleh pada Nathaniel, tak terasa kakinya sudah sampai di balkon. Ia menggelengkan kepalanya, maju satu langkah dan memilih berdiri. Wajah Aurelia dapat merasakan setiap hembusan angin yang menyambutnya.
"Sandiwara anda cukup bagus." Ucap Aurelia dengan suara pelan. Kedua tangannya bertumpu pada pagar balkon, matanya menatap sekeliling pemandangan mansion.
Tak berselang lama Nathaniel berdehem. Ia memposisikan dirinya di samping Aurelia. Meletakkan tangannya sama persis dengan wanita itu, hingga tangan mereka hampir bersentuhan.
"Jangan bahas itu disini." Nathaniel tidak ingin ada yang mendengar, yang ia inginkan semua berjalan sesuai rencana.
Aurelia menoleh, tersenyum lebar dan meletakkan tangannya di pundak Nathaniel.
"Baiklah, calon suamiku." Aurelia menekan kalimat terakhir dengan sengaja. Entah menemukan keberanian dari mana hingga dirinya berani menyentuh Nathaniel.
Nathaniel hanya diam. Ia bahkan terlihat menahan napas, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi ia tidak bergerak, sehingga tangan Aurelia masih berada di pundaknya.
Aurelia terkekeh kecil.
"Bukankah kau terkejut?" Ia bertanya dengan nada datar. "Ini baru permulaan. Kita akan melakukan lebih dari ini setelah pernikahan." Aurelia sudah memikirkan semua ini. Hubungan romantis, kalimat rayuan, dan beberapa perlakuan yang akan membuat semua orang mengira bahwa mereka saling mencintai.
"Seperti apa yang kau maksud?" Nathaniel menggerakkan tubuhnya menghadap Aurelia lalu menyipitkan matanya.
Aurelia mengedipkan matanya beberapa kali. Ia menarik kembali tangannya dan beralih menghadap ke depan.
"Seperti yang saya lakukan barusan. Di depan media, keluarga, bahkan rekan bisnis...." Aurelia sudah membayangkan seperti apa kehidupan selanjutnya setelah pernikahan berlangsung.
"Bukankah kita akan membuat semua orang yakin bahwa kita benar-benar menginginkan pernikahan ini?"
Ekor mata Nathaniel menangkap sesuatu, ia semakin mendekatkan dirinya pada Aurelia hingga tangannya bergerak merangkul pundaknya.
Aurelia melebarkan pupilnya, tubuhnya menegang sempurna. Ia merasakan hangat rangkulan di pundak.
"Sudah saya bilang jangan bahas itu disini." Nathaniel sedikit berbisik.
Barulah Aurelia menyadari sesuatu setelah mendengar suara langkah kaki yang mulai menjauh.
"Saya mengerti." Ucapnya. Ia menghela napas panjang.
Detik berikutnya, Nathaniel melepas rangkulannya perlahan.
"Apa saya boleh bertanya satu hal?" Ucap Aurelia tanpa menoleh Nathaniel.
Awalnya pria itu terdiam, lalu kemudian bersuara.
"Silahkan."
Aurelia menoleh pada Nathaniel.
"Saya melihat salah satu foto yang terpajang di dinding. Diantara foto itu... Ada satu foto yang mencuri perhatianku." Aurelia menyadari jarak mereka terlalu dekat, tapi ia tidak bergerak menjauh ataupun mundur.
"Ada kau, Sarah, dan mungkin nenek dan kakekmu?" kedua alis Aurelia terangkat.
"Disana kau terlihat sangat bahagia. Berbeda sekali dengan foto lainnya." Ia menjeda sebentar kalimatnya.
"Kenapa?" Ucapnya dengan berusaha memberanikan diri. Entah kenapa rasa penasarannya saat ini lebih besar.
Nathaniel terdiam. Dia menatap wajah Aurelia cukup lama, sorot mata mereka bertemu. Kemudian Nathaniel memutuskan tatapannya dan beralih ke arah lain. Ia menghembuskan napas sebentar.
"Karena saya lebih dekat dengan mereka dibanding orang tuaku." Matanya menatap lurus pada pepohonan yang bergerak tertiup angin.
Beberapa kenangan terlintas dipikirannya, ia mencengkeram pagar balkon dengan erat.
"Mereka begitu berharga."
Aurelia menangkap sesuatu hal yang berbeda pada diri Nathaniel. Tatapan mata dingin itu berubah sendu, tubuhnya menegang sempurna, lalu tatapannya jatuh pada tangan Nathaniel yang masih mencengkeram pagar balkon.
Beberapa saat kemudian. Nathaniel menatap Aurelia hingga pandangan mereka saling bertemu.
"Hanya itu." ucapannya dengan nada rendah. "Sama halnya dengan kau, yang lebih dekat dengan Mamamu." Cengkraman tangannya melonggar. Dalam sekejap tatapan berubah seperti semula lagi.
Aurelia terpaku sesaat. Dalam jarak sedekat ini, ia dapat merasakan hembusan napas berat Nathaniel.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"