Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Langkah kaki Alya sore itu terasa sedikit lebih ringan, didorong oleh sebuah tekad baru yang membakar dadanya. Penolakan halus yang ia berikan kepada Adel dan Jesica di kantin tadi siang bukanlah sebuah kepasrahan, melainkan awal dari perjuangannya sendiri. Sebagai anak yang tumbuh di tengah kerasnya himpitan ekonomi, Alya sudah terbiasa memutar otak. Jika waktu yang tersisa hanya sampai hari Jumat, maka ia harus mulai bergerak detik ini juga.
Sepanjang jalan pulang di atas angkutan umum, pikiran Alya tidak lagi dipenuhi oleh rasa sedih, melainkan deretan resep dan kalkulasi bahan makanan. Selain dianugerahi otak yang encer di bidang akademik, Alya memiliki satu bakat tersembunyi yang jarang diketahui orang lain di sekolah ia sangat pandai memasak. Sejak kecil, ia selalu memperhatikan jemari ibunya yang lincah mengolah bahan-bahan sederhana menjadi kudapan pasar yang menggugah selera. Dari sanalah Alya belajar bahwa rasa yang lezat tidak selalu lahir dari bahan yang mahal, melainkan dari takaran yang pas dan ketulusan dalam membuatnya.
*Klek.*
Alya mendorong pintu kayu rumahnya yang sedikit berderit. Suasana rumah sepi ibunya sedang pergi ke pinggiran kota untuk mengantarkan sisa pesanan kain tenun tetangga, sementara ayahnya belum pulang dari panggilan kerja serabutan.
"Alhamdulillah, Ibu belum pulang. Jadi aku bisa pakai dapurnya sekarang," gumam Alya pelan.
Setelah berganti pakaian dengan kaos rumahan yang nyaman dan mencuci tangannya hingga bersih, Alya langsung melangkah ke area dapur yang sangat bersahaja di bagian belakang rumah. Di atas meja kayu kecil berpola semen, ia mulai mengabsen bahan-bahan makanan yang tersisa di dalam wadah penyimpanan.
Bahannya benar-benar seadanya. Hanya ada satu kilogram tepung terigu, beberapa butir telur ayam, gula pasir yang tinggal seperempat bungkus, santan kelapa instan, dan sisa bubuk cokelat serta pandan wangi yang ditanam ibunya di pot depan rumah. Namun, di tangan Alya, keterbatasan itu berubah menjadi peluang. Dengan cekatan, ia memutuskan untuk membuat dua jenis kue: Bolu Kukus Mekar Pandan yang harum dan Brownies Kukus Cokelat Mini yang legit.
Jemari Alya bergerak dengan sangat teratur dan tangkas. Tanpa bantuan mikser elektrik karena mereka harus menghemat tagihan listrik Alya mengocok telur dan gula menggunakan pengocok adonan manual dari kawat. Tangannya yang ramping bergerak cepat, ritmis, dan bertenaga hingga adonan tersebut mengembang sempurna dan berwarna putih pucat. Ia kemudian memasukkan tepung, santan, dan ekstrak daun pandan asli secara perlahan, menjaga agar udara di dalam adonan tidak terbuang.
Aroma harum pandan dan pekatnya cokelat perlahan mulai menguar, memenuhi seluruh ruangan dapur yang sempit dan merembes keluar lewat celah dinding papan. Setelah adonan dituang ke dalam cetakan-cetakan kecil, Alya menyalakan kompor gas satu tungku dan menaikkan panci kukusan besar yang sudah berumur.
Sembari menunggu kue-kue itu matang, Alya tidak membuang waktu. Ia mengambil buku saku sejarahnya, bersandar pada pilar dapur, dan mulai menghafal poin-poin penting materi Bu Ani di bawah temaram lampu bolam. Bagi Alya, waktu adalah kemewahan yang tidak boleh terbuang sia-sia.
Tiga puluh menit berlalu. Uap panas membubung tinggi saat Alya membuka tutup panci kukusan. Senyum tulus akhirnya terbit di wajah cantiknya yang sedikit memerah terkena hawa panas kompor. Bolu kukus pandannya mekar dengan sangat sempurna, menyerupai kelopak bunga yang merekah indah, sementara brownies mini cokelatnya terlihat mengkilap dan bertekstur lembut.
Setelah didinginkan sejenak, Alya menata kue-kue tersebut ke dalam dua wadah mika plastik besar milik ibunya. Ia menghitung jumlahnya; total ada empat puluh buah kue yang siap jual. Jika satu kue dijual dengan harga yang terjangkau namun tetap mendatangkan untung bersih, ia bisa mengumpulkan modal yang lumayan untuk setoran hari pertama.
Tepat pukul empat sore, dengan mengenakan pakaian rapi dan membawa dua wadah mika besar di kedua tangannya, Alya melangkah keluar rumah. Langit sore yang mulai meneduh mengiringi langkah tegapnya membelah gang sempit pemukiman.
Target pertama Alya adalah beberapa warung kelontong yang menjadi pusat keramaian di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Ia berjalan menuju warung milik Nyak Ani, sebuah warung makan dan kelontong yang paling ramai dikunjungi warga saat jam pulang kerja.
"Assalamu’alaikum, Nyak Ani," sapa Alya sopan, berdiri di ambang pintu warung.
Nyak Ani, wanita paruh baya bertubuh subur yang sedang merapikan dagangannya, menoleh dan langsung tersenyum lebar. "Wa'alaikumsalam, eh, Neng Alya. Mau beli apa, Neng? Tumben sore-sore ke sini."
Alya mengangkat sedikit wadah mikanya dengan gestur hormat. "Nyak, maaf mengganggu waktunya. Alya mau izin menitipkan kue buatan Alya di sini, boleh? Ini ada bolu kukus pandan sama brownies cokelat mini. Masih hangat dan baru matang, Nyak."
Nyak Ani menyipitkan mata, menatap deretan kue yang tertata sangat rapi di dalam mika. Aroma wangi pandan yang menguar dari wadah mika yang sedikit berembun itu langsung menggoda indra penciumannya. "Wah, kelihatannya enak banget ini, Al. Ya sudah, taruh saja di meja depan dekat stoples kerupuk itu. Biasanya jam-jam segini banyak bapak-bapak pulang kerja nyari temen ngopi."
"Terima kasih banyak ya, Nyak. Nanti malam setelah magrib Alya ke sini lagi buat cek," ucap Alya penuh rasa syukur. Setelah menyepakati harga titip jual, Alya pamit dan menyusuri beberapa warung lain di sepanjang jalan utama gang untuk melakukan hal yang sama. Dari empat puluh kue, dua puluh lima di antaranya berhasil ia titipkan di tiga warung berbeda.
Tersisa lima belas kue di dalam wadahnya. Alya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia memilih berjalan kaki menuju area taman ramah anak dan lapangan voli di ujung kompleks, tempat di mana para ibu biasanya berkumpul menyuapi anak-anak mereka dan remaja sekitar duduk bersantai menghabiskan sore.
Dengan keberanian yang dipupuk dari rasa sayangnya pada orang tua, Alya menyingkirkan segala rasa gengsi yang tersisa sebagai seorang remaja SMA.
"Permisi Ibu-ibu... barangkali mau mencoba kue bolu kukus dan brownies mininya untuk camilan sore. Masih baru dan dijamin manisnya pas," ujar Alya ramah, menghampiri sekelompok ibu-ibu yang sedang duduk di bangku taman.
Paras Alya yang cantik, pembawaannya yang sopan, serta aroma kue yang sangat menggugah selera langsung menarik perhatian.
"Eh, ini Alya anaknya Pak Rahman kan ya? Yang pinter itu?" tanya salah seorang ibu berbaju daster kuning. "Wah, pinter sekolah, pinter bikin kue juga ternyata. Sini, Neng, Ibu beli bolu kukusnya tiga, browniesnya dua. Kelihatan empuk banget."
"Gue juga mau dong, Al! Beli browniesnya empat ya, buat anak-anak di rumah," timpal ibu yang lain.
Satu per satu kue di dalam wadah mika Alya berpindah tangan. Respon positif dan pujian tentang rasa kue yang manisnya pas serta teksturnya yang lembut membuat hati Alya membuncah hangat. Rasa lelah di kakinya karena berjalan berkeliling seolah menguap begitu saja digantikan oleh gemerincing uang receh dan ribuan rupiah yang masuk ke dalam dompet kecilnya.
Tanpa Alya ketahui, dari kejauhan di seberang jalan taman, sebuah motor matik kustom berhenti di bawah rindangnya pohon talas. Di atas motor itu, Devan Narendra duduk diam dengan helm yang masih terpasang. Laki-laki itu kembali datang, memantau Alya dari kejauhan setelah berhasil melacak waktu kepulangan dan aktivitas gadis itu dari info anak-anak sekitar gang.
Devan memperhatikan bagaimana Alya dengan sabar melayani pembeli, bagaimana gadis itu mengusap pelipisnya yang berkeringat, dan bagaimana tegapnya punggung Alya berdiri menjajakan kue tanpa ada rasa malu sedikit pun di wajah cantiknya.
Hati Devan bergetar hebat. Ada rasa kagum yang teramat dalam yang menelusup di sela-sela rasa penasarannya. Di dunia Devan, perempuan-perempuan sebaya mereka sibuk menghabiskan uang orang tua di kafe-kafe mahal. Namun di sini, Alya berjuang dengan peluh dan bakatnya sendiri demi sebuah nilai dan impian sekolah.
Devan meremas stang motornya, senyum tipis terukir di bibirnya. 'Lo bener-bener luar biasa, Alya Saraswati,' batin Devan hangat. 'Gua makin tahu, lo gak butuh belas kasihan gua... tapi gua bakal mastiin perjuangan lo gak akan sia-sia.'