Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: MERCHANDISE ATAU DOI?
"Sesuatu yang disembunyikan Alya?" tanya Dimas heran
"Apaan emangnya?" Dimas nanya lagi dengan nada penasaran.
"Ya itu makanya, gue juga bingung..." Raka menyilangkan kedua tangannya di dada seraya membuang pandangan ke atas kiri, mencoba menerka-nerka.
"Mau diselidiki, Rak?" usul Dimas.
Raka menggeleng pelan. "Gak, gausah. Mending nanti aja..."
Mata Raka mendadak berbinar cerah. Dengan nada penuh semangat dan kepala tersengat antusiasme, ia melanjutkan,
"Soalnya setelah pelajaran terakhir ini, gue mau berburu merchandise terbatas!"
Dimas menatap Raka dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Aduh... Gue kira apaan. Ternyata hal gak penting."
Mendengar merchandise impiannya disebut 'tidak penting', jiwa Raka seketika terbakar. Ia melesat maju, menarik kerah baju Dimas dengan heboh.
"Apa?! Lu bilang gak penting?!" seru Raka dramatis. "Bagi gue, itu surga dunia, Mas!"
"Ya, ya, ya... Bacot," balas Dimas malas-malasan. "Mending gue lanjut tIdur aja."
Tanpa rasa bersalah, Dimas meletakkan kepalanya di atas meja dan kembali melakoni rutinitas utamanya: TIDUR!
Melihat Dimas yang begitu santai mengabaikan ocehan berapi-apinya, Raka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum tipis. Namun, baru saja Raka berniat mengusik tidur temannya itu, suara yang paling dihindari
murid sekolahan mendadak bergema.
KREEEENGGG!
Bel masuk jam pelajaran terakhir berbunyi nyaring. Raka mendesis kesal. "Aduh, kenapa malah bunyi sekarang sih!"
Dengan langkah menghentak yang seolah membuat lantai koridor bergetar di setiap pijakannya, Raka mempercepat langkah kembali ke bangkunya. Begitu mendarat di kursi, ia menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan, meratapi nasib.
Tak lama kemudian, sang guru melangkah masuk dan memulai jam pelajaran terakhir. Penjelasan demi penjelasan dilontarkan, sesi tanya-jawab bergulir, hingga akhirnya... suara penyelamat itu membahana ke seluruh penjuru sekolah!
KREEEENGGG! KREEEENGGG!
Bel pulang sekolah!
Mendengar nada keramat itu, Raka langsung terperanjat dari mejanya. Bukannya kesal, wajahnya seketika menyala gembira. Ya jelas senang, ini kan jam bebas menuju kebebasan!
"Wah, udah bel ternyata!" seru Raka girang. "Gue beresin barang dulu ah!"
Dengan gerakan cepat kilat, ia merapikan buku tulis dan peralatan belajarnya ke dalam tas. Setelah menyampirkan tas di bahu, Raka langsung melangkah menuju pintu keluar dengan senyum merekah, siap menjemput merchandise impiannya!
Raka mulai menuju tempat parkir.
Begitu sampai ke tempat parkir
Raka langsung tancap gas menuju rumah!
Setibanya di gerbang rumah
Raka melaju ke arah pintu dan mengetuk agak keras.
Membuat ibunya kesal.
"bentar!, ibu sedang masak!"
Tak dengar perkataan ibu, Raka masih mengetuk pintu dengan nada keras.
ibu nya langsung teriak dari dapur
"Hey! Kalau masih kek gitu ibu gak jadi masak nih!"
Raka langsung menghentikan tangannya.
ULTI ibunya tidak bisa Raka lawan!
Tak lama kemudian ibunya membuka pintu.
"nah gitu dong!"
"dasar!, bukannya sabar!"
Raka dijewer ibunya karena perbuatannya sendiri.
"aduh, aduh sakit Bu!"
"rasain!" ibunya langsung melepaskan tangannya.
Raka merebahkan diri di sofa, diikuti helaan nafas yang lelah karena sekolah.
saat raka mau ambil Hp di tas
Aroma tempe goreng yang gurih menyeruak, seolah menarik paksa hidung Raka untuk mengikuti jejaknya menuju dapur.
Begitu menginjakkan kaki di ambang pintu, matanya seketika terkunci pada tumpukan tempe keemasan di atas piring.
Tanpa basa-basi, ia menyambar piring itu dan segera melahapnya di meja makan.
"Pelan-pelan makannya," celetuk Ibu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Iya, iya..."
"Uhuk! Uhuk!" Raka tersedak seketika.
"Tuh, kan! Dasar nakal, dibilangin juga," gerutu Ibu, tapi tangannya dengan sigap menyodorkan segelas air. Raka langsung menyambarnya dan menenggaknya sampai kandas.
Plak! Raka memegangi perutnya yang kini elastis karena kekenyangan. Karena urusan perut sudah tuntas, pikirannya langsung melayang ke merchandise impian yang takut kehabisan.
Ia melangkah cepat menuju pintu. Namun, baru saja tangannya menyentuh ambang pintu, suara tegas sang ibu mendadak menghentikan langkahnya.
"Woi! Mau ke mana kamu?" sahut Ibu curiga.
Raka menoleh cengengesan. "Mau beli merchandise, Bu."
"Jangan pulang malam-malam!"
"Siaaap, Ibu!"
Raka bergegas keluar, memutar gagang pintu, lalu menutupnya rapat. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar-lebar membelah malam menuju toko merchandise.
Namun, di tengah perjalanan, langkah Raka mendadak tertahan. Matanya menangkap sosok yang sangat familiar di bawah remang lampu taman.
Itu Alya. Cewek itu duduk sendirian di bangku taman dengan kepala menunduk dalam, seolah sedang menanggung beban berat.
Rasa empati Raka mendadak mengambil alih. Langkah kakinya yang tadinya terburu-buru kini beralih perlahan mendekati bangku taman tersebut.
"Lu kenapa?" tanya Raka pelan.
Alya terperanjat. Ia buru-buru menegakkan kepalanya, terkejut mendengar suara yang menyapa.
"Ah? Gak... gak apa-apa," sahut Alya cepat. Ia bergegas berdiri, mencoba menutupi kerapuhanNya dan bersiap melangkah pergi.
Namun, sebelum Alya sempat melangkah jauh, Raka mengulurkan tangan dan menahan lengannya pelan.
"Alya... sini duduk dulu," bujuk Raka lembut.
Alya ragu sejenak, tetapi akhirnya ia kembali duduk di posisinya.
Raka ikut duduk di sampingnya, memiringkan kepala sedikit untuk menatap wajah Alya. "Ada apa?"
Alya menghela napas panjang, menatap lurus ke kegelapan malam. "Itu... aku cuma lagi ingat masa lalu."
"Masa lalu?" ulang Raka.
"Iya."
"Masa lalu apa? Boleh menceritakan gak?"
Alya menggigit bibir bawahnya pelan. "Dulu... aku itu selalu semangat. Tapi karena orang tuaku sering menjodohkan aku sama orang yang sembarangan, aku akhirnya memilih kabur."
Raka mengerutkan dahi. "Emangnya orangnya gimana?"
"Orangnya... obsesif banget sama aku."
Raka manggut-maggut paham, tapi kemudian sebuah keheranan kecil melintas di pikirannya. "Ohh... Btw, kenapa tiba-tiba pakai 'aku-kamu'?"
Alya menyisipkan helai rambutnya ke belakang telinga, agak canggung. "Uhmm, sebenarnya... aku lebih nyaman pakai itu."
"Ohh..." Raka tersenyum tipis.
Hening sejenak menyelimuti mereka. Angin malam berembus pelan, menerpa dedaunan dan membawa kesegaran dingin, diiringi suara jangkrik yang bersahut-sahutan di balik semak-semak.
Keheningan yang makin menebal itu mendadak membuat Raka serba salah. Ia sama sekali tidak terbiasa dengan suasana sepopuler awkward silence begini.
Gemas karena bingung harus berbuat apa, Raka refleks
menendang sebuah batu kecil di depan kakinya.
TAK!
Batu itu terlempar keras menabrak tiang bangku, menciptakan suara nyaring yang seketika memecah kecanggungan di antara mereka.
Alya terperanjat. Cewek itu serta-merta menoleh ke arah Raka dengan mata membelalak. Menariknya, hilang sudah aura cewek dingin yang biasanya ia pasang. Kini, Alya justru memiringkan kepalanya sambil mengomel dengan nada yang sangat lembut.
"Rak, kamu kenapa sih tiba-tiba nendang batu? Bikin aku kaget aja..." cetus Alya pelan.
Raka malah tertawa cengengesan sambil menggaruk kepalanya. "Hahaha! Habisnya sepi banget, canggung tau!"
Raka kemudian bangkit berdiri, menepuk-nepuk celananya sebentar, lalu melirik Alya. "Uhm... aku sebenarnya mau ke toko merchandise nih. Mau ikut?"
Alya menengadah, mengamati wajah Raka sejenak sebelum akhirnya mengangguk tipis. "Iya, mau."
"Sip, oke!"
Alya ikut bangkit dari duduknya. Mereka berdua pun mulai menyusuri trotoar jalanan malam menuju tempat merchandise tersebut.
Di sepanjang perjalanan, Raka tak henti-hentinya bertingkah konyol. Mulai dari melontarkan lelucon garing, melakukan gerakan-gerakan aneh, sampai menceritakan kebodohannya sendiri. Semua itu sengaja Raka lakukan hanya untuk satu hal: memastikan tidak ada lagi jeda canggung, sekaligus mengalihkan pikiran Alya dari bayang-bayang masa lalunya yang kelam.
Usaha konyol Raka ternyata tidak sia-sia.
Begitu mereka sampai di toko merchandise, Raka berhasil menangkap hal yang sangat langka: sebuah senyum lebar dan tulus yang terukir di wajah Alya. Cewek itu bahkan tampak ikut larut bersenang-senang, melupakan sejenak beban yang tadinya mengimpit dadanya.
Raka menatap senyuman itu dengan lega. Bagi Raka, malam itu mendadak terasa jauh lebih menyenangkan daripada merchandise apa pun yang ingin ia beli.