Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan bi Mirma : 24
Siska menahan napas, hatinya panas, merasa terhina lantaran statusnya dipertegas — pembantu.
Yang lebih memuakkan, dia tidak bisa berkutik. Hanya berdiri mematung seraya meredam emosi mendidih.
Kepala Alandi terasa nyeri, efek kurang tidur dan juga diserang keterkejutan yang membuatnya harus berpikir keras bagaimana caranya mengembalikan sikap lemah lembut Helyara.
Pagi itu benar-benar berbeda, setelah pemilik rumah menegur, tak lagi tinggal diam, suasana terasa sunyi, sepi.
Kartika tidak berani berteriak, berlarian seperti biasanya. Enggan lepas dari gendongan sang ayah.
Keluarga Wandi pulang dengan mengendarai mobil Avanza Helyara. Mereka juga mengajak serta orang tua Alandi, dan Rianti berikut Alamsyah.
Tanpa terlebih dahulu sarapan, Alandi berpamitan pergi kerja. Menyempatkan diri memeluk, membisikkan kata-kata cinta yang tak lagi mampu menggetarkan hati wanita malas-malasan membalas dekapan.
“Jangan marah-marah lagi. Kamu masih dalam masa program hamil, Sayang. Tahan emosi, perbaiki suasana hati. Lebih baik menggambar saja, biar menghasilkan banyak desain perhiasan, dan pikiranmu tenang, tidak stress. Menurut ya, cintaku?” Dibalik bahu, ia mengedip-ngedipkan mata tertuju ke wanita tengah menatap marah.
Siska berdiri dekat pasangan suami istri berpelukan. Ingin sekali dirinya berteriak, dan lagi-lagi terhalang status pembantu.
Sewaktu Helya melepaskan pelukan, Siska langsung bersembunyi di balik dinding penyekat ruang santai.
“Aku usahakan. Mas juga, gitu sampai toko pesen sarapan pagi.” Genggaman tangan dieratkan, pancaran mata dilembutkan.
Alan mengecup kening Helya, menggoda dengan mencubit pipi tembamnya, barulah dia menuruni teras, masuk ke dalam mobil mewah.
Cih! Bibir Helya naik sebelah, tersenyum mencemooh. Ia masih berdiri di teras sampai pagar tertutup sempurna.
Helyara masuk lagi ke dalam rumah, memperhatikan lantai memeriksa ada tidak debu dan jejak kaki, lalu mencolek kusen jendela.
Hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, sekarang sengaja demi membuat Siska lelah.
Siska kesal luar biasa, perubahan sikap Helyara mulai memunculkan tanda tanya dalam benaknya.
Meskipun tidak terlalu kentara, tetapi tetap terasa janggal.
‘Aku gak boleh gegabah.’ Siska keluar dari pintu belakang.
Helyara masuk ke dalam ruang kerja, mengunci pintunya, lalu mengambil ponsel baru tersimpan di dalam laci meja.
Ponsel itu dikunci menggunakan angka dan huruf tidak ada sangkut pautnya dengan tanggal penting. Untuk antisipasi.
Kinan mengirim pesan, menanyakan kabar. Dia khawatir akan keselamatan sahabatnya.
Kemudian ada chat singkat dari bi Mirma, Helya langsung menghubungi nomor yang dibeli khusus oleh bibi dan dititipkan ke anaknya.
“Ada apa, Bi?” tanyanya pelan. Walaupun jarak meja kerja sama pintu terbilang jauh, ia tidak mau sampai bertindak ceroboh.
“Nyonya, barusan mbak Ganira nelpon, nyuruh saya ngirim adik kandung ke sana. Gantiin tugas bibi, tapi belum tak iyakan, gimana baiknya, Nya?”
Senyum tipis tersungging di bibir mungil hampir tertutup pipi. Ini yang ditunggu-tunggu, dia tidak mungkin menghadapi seorang diri, yang ada kedoknya cepat terbongkar.
“Aku kirim alamat, sebelum ke rumah ini, suruh adik bibi ke sana dulu!” titahnya memberi arahan.
“Ke tempat siapa itu, Nyonya? Adik saya gak tau jalan, baru pertama kali ke kota. Takutnya nyasar,” ungkap bibi jujur sekaligus mengkhawatirkan saudari kandungnya.
Helyara pun tampak berpikir, lalu mengambil keputusan cepat. Ia berbicara serius, dan hanya ditanggapi kata ‘iya. Baik,’ oleh bibi.
Sambungan ponsel itu tidak bisa berlangsung lama, dirumah ini bukan tempat aman, masih banyak hama.
Sebuah pesan dikirim ke nomor pengacara bernama Yudis, entah kenapa dia lebih nyaman berinteraksi dengan pria itu daripada Abi Sakta Haujan.
Sakta baik, cuma berada di dekatnya, Helya seperti terintimidasi, padahal sang laki-laki tidak ada menunjukkan sikap mendominasi.
Nanti sore saya usahakan mampir sekalian membawa pesanan Ibu yang kemarin dan barusan.
Balasan Yudis diterima dengan perasaan senang.
‘Yah, Bu, Dek … dampingi Helya ya, semoga kuat, lancar, gak sampai terjebak berakhir mengenaskan,’ Ia memejamkan mata. Perasaan takut itu ada, terlebih bukan satu orang yang mencuranginya, tapi satu keluarga.
“Ya Tuhan, besok hasil laboratorium keluar. Aku takut semisal ada penyakit berbahaya menggerogoti badan ini.” Tangannya disilangkan memeluk badan bagian depan.
Helyara menggeser roda kursi agar menyamping, lalu dia berdiri mendekati bed sofa panjang di bawah jendela, menggunakan kaki ditariknya timbangan badan.
Sandal jepit dilepaskan, kaki kanan naik, disusul sebelahnya. Sebelum menunduk melihat angka tertera, Helya menghela napas panjang.
“Tujuh puluh enam kilogram? Gak salah ini?” Dia turun, kemudian naik dan mencoba menimbang badannya lagi.
Tetap sama hasil 76,2 kilogram. “Perasaan tiga hari ini makanku kurang, terus muntah-muntah, masa jadi daging juga?”
Perasaannya pun diselimuti cemas, dia kalut. Semakin hari bobot badan terus bertambah, kulit kendur, bukan gemuk yang dagingnya padat.
Demi mengenyahkan rasa cemas, pikiran liar, Helyara menyibukkan diri mendesain sebuah cincin dan gelang kaki dengan model kekinian.
***
Matahari sudah tidak lagi bersinar terlalu terik, cahayanya meredup di jam setengah empat sore.
Siska benar-benar menyikat kolam sedari satu jam lalu dibawah terik matahari masih terasa panas dikulit.
Pakaiannya setengah basah, keringat bercucuran, rambut lengket, lepek.
“Angin sialan! Ngapain pakek mampir kesini, buat susah diriku saja, hah!” Sikat bertangkai panjang dilempar menghantam dinding.
“Kenapa hari ini semua orang ngeselin?!” mulutnya terus menggerutu.
Alandi mengabaikan pesan dan panggilannya.
Baru saja mengomeli pria berstatus suami Helyara, ternyata dia balik menelepon.
Siska tidak keluar dari dalam kolam renang, duduk di pinggiran yang terlindungi dedaunan pohon rambutan. Diambilnya ponsel sudah dilengkapi anti air, tersimpan di saku celana.
“Aku gak mau tau, Mas! Buruan cari pengganti Mirma! Kulitku perih tersengat matahari. Kakiku gatal karena air kaporit campur kotoran tanah,” rengekny manja, air mata pun ikut menyuarakan kesialan.
“Sabar sayang, besok malam pembantu sebenarnya sudah datang. Kamu sabar sehari lagi ya cantiknya mas Alan,” sahut sebuah suara tengah membujuk.
“Nanti pulang kerja bawain cincin terbaru hasil rancangan si gendut! Jangan sampai lupa lagi!”
Di atas kolam renang, sedikit jauh dari tepian, Helyara bersedekap tangan, mendengarkan percakapan di loudspeaker.
‘Dasar miskin tapi bergaya sok jadi orang kaya!’ cibirnya dalam hati, lalu cepat-cepat pergi ke depan.
Helyara hanya ingin memastikan kalau Siska masih di kolam renang karena dia mau menerima paket dari Yudistra. Dia tidak lagi berminat menguping, memilih pergi ke depan.
Begitu sampai teras, ternyata sang pengacara sudah menunggu di luar gerbang, terlihat dari sela ukiran besi.
Tergopoh-gopoh Helya melangkah mengikis jarak sambil memperhatikan sekitar. Sangat pelan dibukanya pintu samping, lalu keluar.
Yudistra tidak turun dari motor, kaca helm dinaikan. Penampilannya seperti pengantar pesanan makanan atau barang ke pelanggan.
Helya menerima plastik cukup besar itu berisi barang yang kemarin disarankan kedua pengacaranya. “Ini gimana cara kerjanya, Pak?”
.
.
Bersambung.
kamar kita???
helllooowwwwww