NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4 — Anak yang Diperebutkan

Pak Hendra berdiri di depan Surya, seolah Kepala IGD itu benar-benar berubah menjadi pintu besi.

dr. Wahyu mendengus. "Anak Anda? Sejak kapan?"

"Sejak kalian mulai tidak tahu malu."

"Bakat ortopedi harus berada di Bedah Ortopedi. Saya sedang mengelola sumber daya manusia."

"Kalau begitu cari sumber daya lain. Yang ini milik IGD."

Kabar reposisi tiga fraktur dalam kurang dari lima menit menyebar sebelum pasien meninggalkan OK. Pagi berikutnya, dr. Qodir dari Bedah Digestif ikut datang membawa kopi dan proposal rotasi.

"Saya tidak mau merebut," katanya dengan wajah paling tulus. "Saya hanya menawarkan masa depan. Tangan seperti itu cocok untuk bedah digestif."

Pak Hendra mengambil kopi pemberiannya, menyeruput sekali, lalu menunjuk pintu.

"Kopinya tinggal. Orangnya keluar."

Rizki yang berdiri di belakang Surya menutup mulut. Bahunya berguncang menahan tawa.

dr. Qodir memandang Surya. "Pikirkan baik-baik, Dok. Di bagian saya, kasus operasinya banyak."

"Di IGD juga banyak, Pak. Bahkan dokternya yang lebih sering jadi kasus," jawab Surya.

Pak Hendra tertawa paling keras.

Setelah kedua dokter itu pergi, dia membawa Surya ke kantornya. Pintu ditutup. Tak ada lagi lelucon di wajahnya.

Di atas meja terdapat foto lama seorang lelaki muda memakai jas dokter. Di sebelahnya, foto Pak Hendra bersama istri dan putrinya.

"Ayahmu meninggal waktu kamu enam belas tahun, ya?" tanyanya.

Surya mengangguk. "Iya, Pak."

"Saya tidak akan menggantikan beliau." Pak Hendra menatapnya lurus. "Tidak ada orang yang bisa. Tapi kalau kamu bersedia, saya ingin menganggapmu anak. Bukan cuma murid di rumah sakit."

Surya tak langsung menjawab.

Selama bertahun-tahun dia terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri. Uang sekolah. Biaya hidup. Kabar buruk dari rumah. Bahkan saat ditampar Kevin, tak ada ayah yang berdiri di depannya.

Kemarin, Pak Hendra melakukannya tanpa diminta.

"Bapak yakin?" suara Surya lebih serak daripada yang dia inginkan. "Saya baru tiga hari bikin masalah besar."

"Makanya saya harus cepat. Kalau terlambat, masalahmu keburu diadopsi orang lain."

Surya tertawa pendek. Matanya terasa panas.

Dia mengulurkan tangan, tetapi Pak Hendra menepisnya dan menariknya ke dalam pelukan singkat yang keras.

"Mulai sekarang, kalau di luar urusan resmi, panggil saya Bapak."

"Baik... Bapak."

"Nah, begitu. Tapi jangan berharap uang jajan."

"Kalau warisan?"

"Keluar dari kantor saya."

Di lorong, Bu Ratna sudah menunggu dengan dua rekam medis. Dia melihat mata Surya yang sedikit merah, lalu melirik pintu kantor.

"Sudah resmi?"

"Apa, Bu?"

"Pak Hendra bicara soal mengangkatmu sejak semalam. Satu lantai sudah tahu."

Surya menghela napas. "Rumah sakit ini tidak butuh sistem informasi. Gosipnya lebih cepat."

Bu Ratna menyerahkan berkas pertama. "Kalau begitu, anak baru Pak Hendra bisa mulai bekerja. Pasien perempuan, dua puluh lima tahun, nyeri perut kanan bawah. USG dari klinik menyebut apendisitis akut."

Surya membaca hasil laboratorium sambil berjalan. Leukosit normal. Tidak ada demam. Nyeri memang berada di kanan bawah, tetapi pola buang air besarnya berubah selama dua bulan dan berat badannya turun enam kilogram.

Pasien mendadak kehilangan kesadaran ketika mereka memasuki ruang periksa.

Surya memeriksa nadi dan tekanan darah, memastikan jalan napas, lalu meminta akses intravena dan pemeriksaan darah ulang. Setelah pasien stabil, dia berjongkok di samping pacar pasien.

"Ada diare atau darah pada tinja?"

Pria itu mengangguk ragu. "Kadang diare. Katanya karena makanan pedas. Dua kali ada darah, tapi sedikit."

Surya berdiri. "Ini belum tentu apendisitis."

Bu Ratna mengerutkan kening. "USG menunjukkan peradangan di area apendiks."

"Bisa jadi reaksi di sekitar massa kolon. Leukositnya tidak mendukung apendisitis akut, dan gejalanya terlalu lama. Kita butuh kolonoskopi serta konsultasi Bedah Digestif sebelum memotong apa pun."

dr. Qodir kembali setengah jam kemudian. Kali ini tanpa kopi.

"Kamu memanggil saya untuk menggagalkan diagnosis apendisitis?"

"Saya memanggil Bapak supaya pasien tidak menjalani operasi yang salah."

dr. Qodir awalnya tampak tidak terkesan. Namun setelah mendengar riwayat lengkap, dia menyetujui pemeriksaan. Kolonoskopi memperlihatkan massa hitam yang melekat pada dinding kolon.

Ruangan pemeriksaan menjadi senyap.

Hasil biopsi cepat mengarah pada kanker kolon stadium awal.

dr. Qodir membaca laporan dua kali. "Kalau langsung dilakukan apendektomi, kita mungkin menunda terapi utama berminggu-minggu."

Bu Ratna menatap Surya. "Kamu menangkapnya hanya dari leukosit dan riwayat diare?"

"Ditambah penurunan berat badan dan darah pada tinja. Tubuh pasien sudah memberi petunjuk. Kita saja yang hampir tidak mendengar."

dr. Qodir menutup rekam medis. "Tawaran saya tadi masih berlaku. Bahkan sekarang naik."

Pak Hendra muncul di pintu seperti dipanggil oleh naluri. "Qodir. Kopi pagi tadi lumayan. Jangan buat saya memuntahkannya."

Sore itu, ketika Surya sendirian di ruang jaga, Botol Pahala muncul kembali. Cahaya dari pasien patah tulang, keluarga lelaki tua, ibu anak yang dijahit, dan pasien yang terhindar dari salah operasi menyatu hingga memenuhi botol.

『Botol Pahala penuh untuk kedua kalinya.』

Empat kartu terbuka.

『Pengalaman operasi kanker hati stadium empat tingkat dunia diperoleh.』

『Tangan Emas meningkat menjadi 80 persen.』

『Seratus pengetahuan medis khusus diperoleh.』

『Botol Energi Kecil diperoleh. Efek: memulihkan enam jam stamina.』

Jari Surya bergerak pelan. Jika Tangan Emas 50 persen membuatnya presisi, 80 persen membuat instrumen di meja terasa seperti bagian dari tubuhnya.

Ponselnya berbunyi.

Sebuah kabar dari kenalan lama masuk: RSUD Anak Surabaya memutus kontrak Tiara setelah video pertengkarannya dengan keluarga pasien menyebar dan sejumlah pelanggaran disiplin diperiksa. Surya membaca sekali, lalu menghapus notifikasi.

Hidup Tiara bukan lagi urusannya.

Pintu ruang jaga terbuka.

Pak Hendra melempar satu rekam medis ke meja. "Apendisitis tanpa komplikasi. Pasien sudah setuju dan tim lengkap. Kamu yang jadi operator utama."

Surya mengangkat kepala. "Saya?"

"Katanya bisa membedakan apendisitis dan kanker. Sekarang buktikan kamu bisa menangani yang benar-benar apendisitis."

"Komite medik mengizinkan?"

"Kamu bekerja di bawah supervisi saya. Semua kewenangan dan persetujuan dicatat. Jangan membuat saya menyesal mengangkat anak."

Di OK, Bu Ratna berdiri sebagai asisten. Pak Hendra mengawasi dari sisi meja.

"Mulai," katanya.

Sayatan pertama Surya rapi. Tangan Emas mengendalikan setiap milimeter gerak. Jaringan dibuka tanpa tarikan berlebihan, apendiks yang meradang diidentifikasi, pembuluh kecil ditangani, pangkal diikat, lalu lapisan ditutup kembali.

Tak ada gerakan yang terbuang.

"Waktu," kata Surya.

Perawat sirkuler melihat jam. "Lima belas menit."

Bu Ratna memandangi jahitan penutup. "Saya bahkan belum sempat merasa jadi asisten."

Pak Hendra berdeham, berusaha menyembunyikan kepuasan. "Jangan puji dia terlalu cepat. Nanti kepalanya tidak muat lewat pintu IGD."

Malamnya, Surya mengunggah satu foto sederhana ke grup alumni FK Universitas Airlangga: kartu identitas operator pada laporan operasi, tanpa wajah pasien dan tanpa data medis.

Operasi pertama sebagai operator utama. Lima belas menit. Pasien stabil.

Notifikasi dari bagian keuangan ikut masuk. Insentif kontrak awal, penghargaan tindakan, dan bonus kinerja yang disahkan rumah sakit berjumlah Rp90.000.000.

Ratusan pesan memenuhi grup.

Maya Salsabila mengetik: Serius? Operator utama?

Farhan mengirim deretan emoji api.

Di Jakarta, seorang dokter muda bernama Reza Firmansyah berhenti membaca laporan operasi. Dia memperbesar foto nama operator di layar ponselnya.

Surya Pratama.

Nama yang belum pernah dia anggap sebagai pesaing.

Sampai malam ini.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!