Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Matahari belum sepenuhnya naik ketika mereka mencapai punggungan yang disebut Ki Sura. Kabut masih menggantung rendah, membuat jarak pandang hanya beberapa puluh langkah. Tanah di bawah kaki mulai berubah—lebih berbatu, lebih curam, dengan akar-akar yang mencuat seperti jebakan alami.
Jayengrana berjalan di depan. Tombaknya tidak lagi disamarkan sepenuhnya. Ujungnya sesekali menyentuh tanah, menguji kestabilan batu sebelum ia memberi isyarat kepada yang di belakang. Istrinya memegang tangan Jaka erat-erat. Pengemis Tua menutup barisan, sesekali berhenti untuk menatap ke belakang dengan kepala miring, seolah mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar oleh telinga biasa.
Gua itu muncul tiba-tiba di sela tebing. Mulutnya tidak besar, tertutup sebagian oleh akar gantung dan semak berduri. Dari luar, hampir tidak terlihat. Hanya angin yang keluar dari dalamnya yang memberi tahu bahwa ruang di balik gelap itu cukup dalam.
Jayengrana memberi isyarat berhenti. Ia mengaktifkan pecahan Mata Pemburu. Dunia di sekelilingnya menjadi lebih tajam. Ia memeriksa mulut gua, mencari benang perangkap, jejak kaki, atau goresan lambang yang sama. Tidak ada. Hanya bau tanah lembap dan kelelawar yang terganggu.
“Bersih,” gumamnya pelan. “Untuk saat ini.”
Mereka masuk satu per satu. Di dalam, ruangannya lebih luas dari yang terlihat dari luar. Langit-langit cukup tinggi, dan di bagian belakang ada celah kecil yang membiarkan sedikit cahaya abu-abu masuk. Tanahnya kering. Cukup untuk beristirahat tanpa harus berdesakan.
Pengemis Tua langsung menuju ke celah di belakang, mengamati jalur keluar darurat. “Ada jalan sempit ke arah barat. Jika terdesak, kita bisa keluar dari situ. Tapi curam.”
Jayengrana mengangguk. Ia menancapkan tombaknya di dekat dinding, lalu duduk dengan punggung menempel batu dingin. Istrinya memaksa Jaka duduk dan minum sedikit air. Anak itu menurut, tetapi matanya terus bergerak, mengamati setiap sudut gelap.
“Aku tidak suka di sini,” bisik Jaka tiba-tiba. “Bukan karena gelap. Ada sesuatu yang pernah tinggal di sini. Lama.”
Jayengrana menoleh. “Makhluk?”
Jaka menggeleng. “Bukan. Lebih seperti… menunggu. Seperti tempat ini pernah dipakai untuk menunggu seseorang.”
Pengemis Tua yang mendengar itu hanya bergumam pelan. Tidak menjelaskan.
Mereka beristirahat dalam diam. Bekal yang tersisa dimakan sedikit-sedikit. Tidak ada yang berbicara tentang jejak di pohon atau api yang berkedip di kabut. Semua sudah paham bahwa kejaran itu belum berhenti. Hanya menunda.
Setelah beberapa saat, istri Jayengrana mendekat. Ia duduk di samping suaminya, bahu mereka saling bersentuhan lagi.
“Kau belum bilang apa yang dikatakan Ki Sura semalam,” ujarnya pelan, cukup hanya untuk didengar Jayengrana. “Tentang perjanjian itu.”
Jayengrana menatap ke gelapnya gua. “Dia bilang semakin kuat ikatan yang kulindungi, semakin terang jejakku. Pria bertopeng itu memberi waktu tiga hari supaya aku semakin terikat. Semakin sulit meninggalkan kalian. Semakin mudah dilacak.”
Istrinya terdiam sejenak. “Jadi keputusan kita pergi sebelum fajar… sudah benar?”
“Benar. Tapi belum cukup.” Jayengrana menoleh, menatap mata istrinya di setengah gelap. “Mereka sudah menandai jalur kita. Artinya mereka tidak hanya mengikuti. Mereka mengatur.”
Di dada Jayengrana, tanda perjanjian berdenyut sekali. Sangat pelan. Hampir seperti napas.
Penunggang masih belum berbicara sejak malam di sungai. Diamnya kini terasa lebih berat. Bukan ketidakhadiran, melainkan perhatian yang menahan diri.
Tiba-tiba Jaka berdiri. Wajahnya tegang.
“Ada yang mendekat.”
Semua langsung siaga. Jayengrana meraih tombak. Pengemis Tua sudah berada di dekat mulut gua, tubuhnya menempel ke dinding batu.
Bukan suara langkah. Bukan gema senjata. Hanya perubahan kecil di aliran udara yang masuk ke gua—seperti ada yang menghalangi angin dari luar.
Kemudian, suara itu terdengar.
Pelan. Tenang. Sangat dekat.
“Kalian memilih gua yang sama.”
Pria Bertopeng Kayu tidak berdiri di mulut gua. Suaranya datang dari luar, dari arah yang sedikit lebih tinggi, seolah ia berdiri di atas tebing.
“Aku sudah menunggu di sini sejak sebelum kalian tiba. Ki Sura selalu mengirim orang-orang yang dilindunginya ke tempat yang sama. Kebiasaan yang mudah ditebak.”
Jayengrana melangkah ke depan, tubuhnya menutupi istri dan Jaka. “Kau bilang tiga hari.”
“Aku bilang aku bisa menunggu tiga hari,” jawab suara itu. “Bukan berarti aku akan menunggu. Apalagi setelah kau memutuskan untuk memutus jejak lebih cepat. Keputusan yang menarik. Tapi sia-sia.”
Api legam menyala di luar. Cahaya kemerahan yang dingin menyusup masuk ke mulut gua, memperlihatkan bayangan tongkat hitam yang menancap di tanah.
“Keluarlah, Senopati. Atau aku akan membuat gua ini menjadi kuburan kalian berempat.”
Pengemis Tua berbisik cepat. “Jalur belakang. Sekarang.”
Jayengrana menoleh ke istrinya dan Jaka. Matanya tegas.
“Pergi. Ikuti dia. Jangan berhenti.”
Istrinya menahan lengan suaminya sejenak. Genggamannya kuat. “Jangan mati.”
“Aku tidak berniat.”
Ia mendorong mereka pelan ke arah Pengemis Tua. Anak itu dan perempuan itu menghilang ke celah sempit di belakang gua bersama Pengemis Tua. Jayengrana berbalik, menghadap mulut gua yang kini diterangi oleh cahaya api legam yang semakin terang.
Di luar, pria bertopeng berdiri sendirian. Tidak ada pasukan yang terlihat. Hanya dia, tongkat hitamnya, dan api yang menari di ujungnya tanpa mengeluarkan panas yang biasa.
“Hanya kita berdua,” kata pria itu. “Lebih baik.”
Jayengrana memutar tombaknya sekali. Ujungnya menangkap sedikit cahaya api yang masuk.
“Ya,” jawabnya datar. “Lebih baik.”
Ia melangkah keluar dari gua.