Squal dari novel Dosenku sang Casanova dan Istri Simpanan Tuan Jeremy, author Tessa Amelia Wahyudi.
~Aku tidak pernah memilih kepada siapa jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, hati tak bisa menolak.
Aku sudah berusaha untuk mengubur dalam-dalam cintaku padamu, Dave. Kenyataannya aku tak bisa!~
Anastasia Laurencia Lemos.
~Aku tidak bohong aku mencintaimu, cinta yang berusaha kusembunyikan dalam setiap sikap dinginku, karena aku tak ingin akhirnya hanya akan menyakitimu.~
David Sanjaya Grey.
***
"Tidak apa-apa kau belum mencintai ku. Tapi, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan cintamu, Dave." Kata Ana yakin sembari memandang wajah dingin Dave yang saat ini ada didepannya.
"Silahkan, berjuanglah sampai kau merasa bosan mengejar ku. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa mencintai gadis boddoh seperti mu!" Tekan Dave sembari menoyor kening gadis cantik di depannya, tanpa memikirkan perasaan gadis itu.
Yuk simak kelanjutannya,
CEKIDOT
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Azzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
"Lepaskan saya, Pak!" Ana berusaha melepaskan belitan tangan Dave yang sedang mencengkeram kuat pinggang nya.
"Pak, jangan seperti ini. Jika ada yang melihat, nanti mereka bisa salah paham." Kata nya lagi. Wajah nya terlihat memelas agar Dave mau melepaskan nya.
Namun Dave tak menanggapi sedikit pun rengekan Ana. Bola mata Dave masih menatap tajam wajah Ana, sangat terlihat kalau laki-laki itu sedang memendam kemarahan.
Entah apa yang sedang di pikirkan Dave, tapi dari pandangan Ana sendiri, Dave terlihat sangat marah.
"Pak, lepaskan! Saya takut nanti ada yang melihat. Saya tidak mau nanti di cap sebagai pelakor." Ana terus meronta-ronta dalam dekapan Dave. Bukan nya terlepas, tapi belitan tangan Dave semakin erat memeluk pinggang nya.
"Sudah ku bilang jangan panggil aku seperti itu, Ana!" Suara berat Dave berhasil membuat bulu kuduk Ana merinding. Tapi ia tak menggubris sedikit pun, Ana tetap menghiraukan perkataan Dave karena ia berpikir Dave tak mungkin berani menghukum nya.
Mulai saat ini Ana tidak akan menjadi gadis lemah lagi, dia tidak akan takut pada siapa pun jika memang Ana tidak bersalah.
"Tidak, pak. Saya tidak ingin di anggap tidak sopan pada atasan." Sahut Ana tanpa ketakutan.
"Jangan membantah ku, Ana! Atau kau ingin merasakan hukuman dari ku!" Kata Dave penuh penekanan. Mata nya terus menatap tajam Ana seakan ingin menelan nya hidup-hidup.
Ana menelan ludah nya kasar, tapi sedetik kemudian ia tersadar kalau ia tak boleh takut pada Dave. Ia membalas tatapan tajam Dave dengan menatap nya tajam juga.
"Tapi memang seharusnya saya memanggil Anda dengan sebutan bapak! Saya tidak ingin orang lain menganggap saya tidak sopan kepada Anda." Sahut Ana tak mau kalah.
Bahkan Ana tak takut menatap mata tajam Dave yang terlihat begitu menyeramkan.
"Rupa nya kau memang ingin ku hukum Ana!" Suara berat Dave sudah seperti monster yang siap menerkam mangsa.
Mata tajam nya tak bisa lepas menatap wajah Ana dengan penuh kemarahan.
"Hahaha ... Bapak ini lucu sekali! Mana ada bawahan di hukum atasan hanya karena saya Mmmpphhh..." Perkataan Ana tenggelam begitu saja saat tiba-tiba bibir nya di bungkam habis oleh bibir sensual Dave.
Tangan nya meronta-ronta meminta untuk di lepaskan. Namun Dave sama sekali tak melepaskan nya.
Bahkan kini lidah Dave sudah ia telusup kan ke dalam rongga mulut Ana saat tadi ada kesempatan untuk memasuki mulut gadis nya.
Dave sengaja menggigit bibir bawah Ana agar gadis itu mau membuka mulut nya dan akhirnya berhasil.
Semakin lama ciumaan itu semakin menuntut, Dave semakin brutal memainkan benda kenyal yang begitu memabukkan.
Lama-kelamaan Ana ikut terhanyut dalam permainan Dave, tanpa sadar Ana ikut membalas ciuman Dave.
Dave menyunggingkan senyum saat merasakan Ana mulai membalas permainan nya.
Tangan Dave mulai menyusuri punggung Ana yang masih terhalang kemeja warna putih.
Tak lama kemudian, Ana memukul dada bidang Dave saat merasakan dirinya kehabisan nafas.
Dave yang tersadar gadis nya mulai kehilangan nafas akhirnya ia melepaskan tautan bibir itu, meski sebenarnya sedikit tak rela karena ia belum puas menghukum gadis pembangkang nya.
"Huh huh huh." Ana mencoba mengatur nafas nya memburu. Dia menghirup oksigen sebanyak-banyak nya untuk memenuhi pasokan oksigen yang tadi sempat terhenti.
"Lepaskan!" Ana kembali memukul dada bidang Dave saat belitan tangan Dave tak kunjung di lepaskan.
"Pak, jangan_"
Ting
Pintu lift terbuka, dengan segara Dave kembali memencet tombol lift paling atas.
Lift itu berjalan ke atas menunju rooftop gedung perkantoran.
Ana tak bisa berkata apa-apa lagi, melihat bagaimana menyeramkan nya Dave saat ini.
"Rupa nya hukuman yang ku berikan tadi belum cukup, Ana!" Bisik Dave tepat di depan telinga Ana.
Senyum nya terlihat menyeringai mengerikan sembari menatap Ana yang saat ini wajah nya merona.
Ya, wajah Ana merona karena malu. Ia sangat malu karena tanpa sadar dia juga ikut membalas ciuman Dave.
Padahal saat awal Dave mencium nya ia masih dalam keadaan sepenuh nya sadar hingga tak goyah sedikit pun dengan permainan Dave.
Tapi saat tiba-tiba Dave menggigit bibir bawah nya lalu menyelusup kan lidah nya hingga membelit lidah Ana, tanpa sadar ia ikut membalas permainan Dave.
Astagaaa tolong ... tolong siapa pun bantu Ana agar melupakan kejadian tadi ... Ana benar-benar sangat malu mengingat nya.
"Ja_jangan seperti ini, pak." Kata Ana terbata-bata saat jari-jari Dave menelusuri wajah nya lalu berakhir di bibir mungil Ana yang saat ini terlihat sedikit membengkak akibat ulah nya.
Ana benar-benar tak menyangka Dave akan mencium nya se ganas ini.
Ana sedikit memalingkan wajah karena tak ingin di tatap terus oleh Dave. Apalagi saat ini tatapan Dave sudah tidak lagi tajam seperti tadi, tapi sudah berubah menjadi tatapan me sum yang sangat mengerikan menurut Ana.
"Pak, lepaskan say_mmmpphh ... "
Dava kembali mencium bibir Ana dengan brutal. Padahal saat ciuman pertama tadi saja sudah brutal, namun seperti nya saat ini dave bertambah mencium nya. Apalagi kini Dave sudah tersulut gai rah.
Ciuman yang di berikan Dave sangat agresif dan begitu menuntut. Tangan nya sudah bergerak kemana-mana membuat Ana benar-benar kuwalahan.
Untung lah kesadaran Ana masih sepenuh nya, jadi ia tak ikut membalas ciuman Dave.
Tiba-tiba saja Dave menggiring tubuh Ana hingga membentur dinding lift. Tangan Dave mulai beraksi mencari sesuatu yang ingin di pegang nya.
"Mmphh..." Ana terus memberontak saat Dave mulai tak wajar menyentuh nya.
Bahkan sesuatu yang selalu di rawat dan di jaga Ana tiba-tiba di sentuh oleh Dave.
Ana benar-benar ketakutan melihat Dave yang sudah sangat ber gai rah.
Saking takut nya ia sampai mengeluarkan air mata.
Tes
Ana menangis tertahan karena ciuman namun tangan Dave berhasil membuka kancing baju nya lalu menyentuh aset berharga milik nya.
Saat merasakan ada sesuatu yang basah mengaliri pipi, Dave tersadar akan kelakuan nya.
Ia segera melepaskan tautan bibir itu serta melepaskan tangan nya yang saat ini sedang menyentuh dua aset berharga gadis itu.
Dave menyesal, sangat menyesal, bahkan. Niat nya hanya ingin menghukum gadis nya, tapi diri nya sendiri tak bisa mengontrol naf su nya.
"Maafkan aku, Ana." Batin Dave saat melihat mata teduh itu meneteskan air mata.
Tangan nya beralih mengusap air mata itu yang ada di wajah Ana namun langsung di tepis oleh pemilik nya.
Ana membenarkan kancing kemeja nya yang sudah berantakan akibat ulah laki-laki yang ada di hadapan nya.
Sempat menduga Dave tp sambil berpikir ga mgkn ga ada background jd dosen kan
Ternyata....oh ternyata dosennya si Edo
Si kutu kupret yg sok cool kepedean hbs kalo Ana bs ditaklukan no...no...no....😛😃
iy aj skeg masih datar muka ny kalau udh jatih cintrong gee berbunga bunga tuuh wajah ketemu ana,,
duduk diem aj anak di bangku meja makan jgn buat gaduh 😒
tpi apapun it aku ttep mampir,,