Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.
Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.
Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.
Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi itu, Qinghe masih sama seperti biasa. Kabut tipis menggantung rendah, ayam-ayam berisik di pekarangan, dan suara orang memanggul hasil ladang terdengar dari kejauhan.
Yun Ma sedang memeriksa seorang anak kecil yang demam.
Xuan berdiri di ambang pintu, tidak ikut campur, tapi jelas mengawasi.
Ye berbaring di bawah bangku, mata setengah terpejam, namun telinganya bergerak-gerak, menangkap suara yang tidak biasa.
Dan Hui?
Hui sedang mengupas buah dengan ekspresi bosan.
“Dia datang,” kata rubah itu tiba-tiba.
Xuan menoleh cepat. “Siapa?”
Hui mengangguk kecil ke arah luar. “Orang yang terlalu keras kepala untuk tahu kapan harus berhenti.”
Yun Ma menghela napas pelan.
“Akhirnya,” gumamnya.
Tidak lama kemudian, bayangan seseorang jatuh di ambang pintu balai obat.
Gu Changfeng berdiri di sana.
Tidak membawa senjata.
Tidak membawa sikap arogan.
Hanya wajah yang terlihat… terlalu penuh pikiran.
Beberapa warga Qinghe melirik, tapi tidak mendekat. Mereka sudah belajar membaca suasana.
Xuan melangkah satu langkah ke depan.
Posisinya tenang.
Namun jelas protektif.
“Ada keperluan?” tanyanya datar.
Gu Changfeng menatapnya sebentar.
Lalu memindahkan pandangan ke Yun Ma.
“Yu Mailan,” katanya.
Nama itu jatuh di udara seperti sesuatu yang lama terkubur.
Balai obat mendadak hening.
Anak kecil yang diperiksa Yun Ma menoleh bingung.
Ayin berdiri perlahan dari sudut ruangan, tatapannya dingin.
Yun Ma sendiri?
Tenang.
Sangat tenang.
Ia selesai membungkus obat, menyerahkannya pada ibu si anak, lalu berkata lembut, “Rebus dua kali sehari. Jangan lupa makan.”
Setelah itu barulah ia menoleh.
“Nama itu tidak kupakai lagi,” katanya datar. “Dan kau tidak berhak memanggilku begitu.”
Gu Changfeng terdiam sesaat.
Matanya sedikit melebar.
Shock.
Bukan karena ditolak.
Melainkan karena Yun Ma… tidak bereaksi seperti yang ia bayangkan.
Tidak marah.
Tidak gemetar.
Tidak terluka.
Hanya… biasa saja.
“Kau baik-baik saja,” katanya tanpa sadar.
Xuan mengernyit.
Yun Ma mengangguk kecil. “Ya.”
Satu kata.
Namun cukup untuk menghantam lebih keras dari ribuan penjelasan.
Gu Changfeng menarik napas.
“Aku tidak bermaksud mengganggumu.”
Hui terkekeh pelan. “Kau berdiri di balai obat dan memanggil nama lama. Itu definisi mengganggu.”
Gu Changfeng menatap rubah itu, lalu kembali ke Yun Ma.
“Aku hanya ingin bicara. Berdua.”
Xuan langsung buka suara, nada rendah tapi tegas. “Tidak.”
Yun Ma mengangkat tangan sedikit.
“Tidak apa-apa,” katanya pada Xuan.
Xuan menoleh cepat. “Yun Ma.... ”
“Di sini,” lanjut Yun Ma. “Kalau mau bicara, di sini.”
Gu Changfeng mengangguk pelan.
Ia tahu ini bukan kemenangan.
Ini… batas.
Percakapan yang Terlambat Bertahun-tahun
Mereka duduk di bangku kayu depan balai obat.
Jarak mereka tidak dekat.
Tidak jauh.
Namun jelas bukan lagi jarak dua orang yang pernah berjanji hidup bersama.
Xuan berdiri tidak jauh.
Ayin bersandar di tiang.
Hui duduk di atap.
Ye mengangkat kepala, menatap Gu Changfeng tanpa berkedip.
“Aku tidak tahu kau akan tinggal di tempat seperti ini,” kata Gu Changfeng akhirnya.
Yun Ma mengangkat bahu. “Aku juga dulu tidak tahu.”
“Kau meninggalkan segalanya.”
“Tidak,” jawab Yun Ma ringan. “Aku meninggalkan sesuatu yang memang tidak pernah benar-benar milikku.”
Gu Changfeng tersenyum pahit. “Aku salah.”
Yun Ma mengangguk. “Ya.”
Tanpa tambahan.
Tanpa penghiburan.
Gu Changfeng mengepalkan tangan.
“Aku pikir kau akan marah.”
“Aku sudah selesai marah,” jawab Yun Ma. “Aku juga sudah selesai berharap.”
Kalimat itu lebih menyakitkan dari makian.
Gu Changfeng menunduk.
“Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.”
“Namun kau tetap melakukannya,” kata Yun Ma. “Dan itu tidak apa-apa. Hidup berjalan.”
Ia berdiri.
Percakapan itu jelas selesai baginya.
Namun Gu Changfeng berdiri juga.
“Pria itu,” katanya, menoleh ke arah Xuan. “Dia tahu siapa dirimu dulu?”
Yun Ma tersenyum kecil.
“Dia tahu siapa aku sekarang.”
Xuan tidak berkata apa-apa.
Namun langkahnya maju setengah langkah.
Cukup.
Gu Changfeng menghela napas panjang.
“Aku mengerti.”
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Qinghe, ia benar-benar mengerti.
Ia tidak datang terlambat.
Ia datang ke hidup yang sudah selesai tanpanya.
Masalah Tidak Selesai dengan Kata “Mengerti”
Namun masalah tidak selalu selesai hanya karena seseorang mengerti.
Malam itu, Qinghe diguyur hujan ringan.
Dan bersama hujan itu, datang kabar buruk.
Seorang warga datang berlari ke rumah Yun Ma.
“Tabib Yun! Ada orang pingsan di gerbang barat! Luka aneh, seperti terbakar tapi tidak ada api!”
Yun Ma langsung berdiri.
Xuan mengambil mantel.
Ayin sudah siap membawa kotak obat.
Hui melompat turun. “Aroma ini… tidak bagus.”
Ye berdiri, bulu punggungnya sedikit berdiri.
Di gerbang barat, mereka menemukan seorang pria asing.
Pakaian robek.
Kulit lengannya menghitam seperti terbakar dari dalam.
Dan simbol samar di pergelangan tangannya.
Gu Changfeng berdiri tidak jauh.
Wajahnya tegang.
“Itu orang dari wilayah selatan,” katanya cepat. “Aku mengenali tanda itu.”
Xuan menoleh tajam. “Kenapa kau tahu?”
Gu Changfeng tidak mengelak.
“Aku mengejar mereka sebelum ke Qinghe.”
Yun Ma berhenti bergerak.
“Kau membawa masalah ke sini?”
“Aku tidak tahu mereka akan sampai sejauh ini,” jawab Gu Changfeng. “Aku pikir aku sudah memutus jejak.”
Hui mendesis pelan.
“Oh, ini buruk.”
Yun Ma berlutut memeriksa luka.
Ekspresinya berubah.
“Ini bukan luka biasa,” katanya pelan. “Ini segel rusak.”
Xuan menegang.
Segel seperti itu tidak muncul tanpa alasan dan biasanya disertai pemburu.
Seolah menjawab pikiran itu tiba tiba oeluit panjang terdengar dari kejauhan.
Ye menggeram rendah.
Ayin menggenggam pisau kecil di balik lengan bajunya.
Xuan berdiri tegak.
Gu Changfeng menatap Yun Ma.
“Aku minta maaf,” katanya sungguh-sungguh. “Kali ini… benar-benar.”
Yun Ma berdiri.
Wajahnya tenang.
Namun matanya tajam.
“Kita bicarakan penyesalan nanti,” katanya. “Sekarang, kita lindungi Qinghe.”
Xuan menoleh padanya. “Kau yakin?”
Yun Ma mengangguk.
“Aku memilih di sini,” katanya lagi. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya.”
Hui tersenyum lebar.
“Oh, akhirnya. Sudah lama Qinghe terlalu damai.”
Ye melangkah maju, berdiri di sisi Yun Ma dan untuk pertama kalinya Gu Changfeng menyadari. Ia tidak datang untuk mengambil kembali masa lalu.
Ia datang tepat saat Yun Ma sudah menjadi seseorang yang tidak lagi bisa ia sentuh.
Dan kali ini… Ia akan bertarung bukan sebagai mantan tunangan.
Melainkan sebagai orang luar yang menebus kesalahannya.
Bersambung.
tapi happy sesuai pribadi masing-masing🥰🥰🥰
makasih banyak, Thor 🥰
udah nyuguhin cerita yang seunik ini 🥰
lanjut ke cerita selanjutnya, semoga lebih menarik lagi 💪🏻💪🏻💪🏻
sehat selalu 💜💜💜
tapi menikmati 🥰🥰🥰