Kita Sama sebagai seorang Abdi Negara, mengabdi untuk Negara tercinta. Dimana dengan seragam yang kita kenakan di baliknya ada sebuah tanggung jawab.
Di balik seragam kita, ada Cinta yang tulus selain untuk Negara , Cinta untuk kamu Abdi Negara pujaan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Yang Bingung
Nafas anak buah Pak Bowo, Jhoni naik turun saat tembakan meleset ke sebuah plafon hingga berlubang.
" Katakan jujur, yang ini benar - benar akan melukai tubuh kamu." Ucap Dimas.
" Benar Saya nggak tahu."
Door
Aaaarrrrggh
Sebuah tembakan mengenai kaki Jhoni, timah panas itu menembus kaki nya hingga air mata Jhoni membasahi kedua pipi lelaki sangar tersebut.
" Sakit? "
Tio pun memasuki ruangan khusus tersebut, saat melihat di kamera Dimas menembak anak buah Pak Bowo tersebut.
" Sudah, dia memang benar tidak tahu apa - apa. Ini bagian Saya, kamu sudah interogasinya." Ucap Tio.
" Dia masih berbohong." Ucap Dimas.
" Kamu mau menembak dia sampai mati? " Bentak Tio.
" Kamu tahu dia itu licik, sama kayak bos nya. Dia rela mati demi melindungi bos nya."
" Tapi dia akan mati bila kamu terus ancam untuk buka mulut sedang kan dia nggak mengaku terus. Kita tunggu besok, untuk dia mengaku."
Dimas akhirnya keluar dari ruangan tersebut, dan terlihat Pak Kapolsek berdiri di depan nya.
Plaaaak
Plaaaaak
" Tahanan nanti siang akan di pindah kan ke Polres, kamu sudah membuat kesalahan menyiksa tahanan tersebut. Saya tidak pandang kamu anak Bupati atau bukan." Ucap Pak Kapolsek setelah menampar kedua pipi Dimas.
" Maaf Saya melakukan ini, mereka melakukan tindakan kejahatan di bawah wilayah Saya. Dan tentang kejadian yang dulu, nyawa Saya jadi ancaman. Untuk Saya berhenti menyelediki kasusnya, warga jadi taruhannya. Lantas kasusnya hilang begitu saja."
" Kamu juga tahu diamnya kami nama tersangka sudah kita dapatkan. Kita sedikit - sedikit korek informasi dari dia, jangan pakai kekerasan."
******
" Saya sampai ketawa Bu saat Pak Bowo bilang, Saya menyuruh dia untuk menanyakan langsung ke Ibu Camat pulang nya kapan, malah dia marah kamu sudah berani menyuruh Saya, kalau Saya sudah jadi suami Annisa Saya akan pindah kan kamu ke daerah terpencil." Ucap Putri meniru ucapan Pak Bowo.
" Lucu sekali dia, menghayal nya ketinggian kalau jatuh sakit dong." Ucap Annisa sambil tersenyum.
" Benar Bu, sudah tua seharusnya banyak - banyak beribadah dan beramal itu malah banyakin istri." Ucap Putri.
" Dia kaya loh Put, kalau kamu mau sama dia aja nanti Saya jodohkan kamu sama dia."
" Idih ogah gini - gini Saya masih normal suka sama pria muda dan ganteng."
******
" Mamah kembali ke rumah Dinas ya sayang, nanti mamah setiap weekend kesini."
Gadis kecil itu terus menangis hingga memeluk erat tubuh Annisa, hati seorang Ibu pun timbul merasakan sesak di dada saat anak semata wayang nya tidak Mau berpisah.
Hiks... hiks... hiks...
" Jangan pergi mah." Ucap Shakira semakin menangis kencang.
" Mamah kan mau kerja sayang, kamu disini sama Nenek, kalau ikut Mamah kamu sama siapa disana." Bujuk Annisa.
Hiks... hiks... hiks...
" Nggak mau, Shakira ingin ikut sama Mamah."
" Lihat lah Annisa anak kamu, lebih baik kamu terus terang ke Dimas kalau anak kalian masih ada." Ucap Ibu Susi .
" Nggak Bu, Annisa nggak bakalan kasih tahu dia. Annisa biar rawat anak kami sendiri, Dimas saja sampai sekarang tidak mencintai Saya, buat apa bilang ada anak, dia akan hidup bersama kami hanya untuk Shakira tapi kami tidak ada rasa apa pun. Sampai kita pura - pura bahagia pun sama, rasa itu tak ada."
" Hanya karena itu kamu masih merahasiakan nya, kamu tahu kita tidak tahu bila Dimas tahu akan menerima anak nya, hati seorang Ayah akan terlihat bila tahu anaknya masih ada. Dan kamu ingat Annisa, suatu saat Shakira membutuhkan Dimas.Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
" Lantas dengan Bang Arka bagaimana?"
" Arka hanya calon Ayah Sambung yang menyayangi Shakira, ingat Dimas dia Ayah kandung Shakira." Ucap Ibu Susi.
***
Annisa masih mengingat Shakira yang terus menangis saat diri nya pergi meninggalkan Panti, wajah cantik anaknya terlihat mirip hidung dan mata nya seperti Dimas.
" Maaf kan Mamah sayang, Mamah janji suatu saat nanti kita akan sama - sama. Kamu tahu sayang perjuangan Mamah masih panjang." Ucap Annisa sambil menatap photo Shakira di wallpaper ponsel nya.
******
" Kamu makan nya sedikit sekali Dimas?" Ucap Ibu Riana saat makan malam bersama.
" Kalau datang kesini ingat sama Annisa Bund." Ucap Dimas yang membuat Pak Ibrahim dan Ibu Riana saling pandang.
" Kamu kangen Annisa bukan?" Ucap Pak Ibrahim sambil tersenyum.
" Nggak tahu keingat saja."
" Itu nama nya kangen Dimas." Ucap Ibu Riana.
" Setiap datang kesini kan selalu sama Annisa, dan selalu kita pura - pura bahagia di depan Ayah Bunda, sekarang sudah nggak ada lagi sandiwara itu."
" Kamu masih suka komunikasi sama Annisa?" Tanya Pak Ibrahim.
" Masih Ayah." Jawab Dimas.
" Apa yang kamu rasa kan saat sudah bercerai?" Tanya kembali Pak Ibrahim.
" Apa ya, nggak ada malah nggak tahu." Jawab Dimas.
" Yakin..? "
" Iya Ayah yakin."
*******
" Bang ini buat Saya? " Tanya Annisa saat melihat sebuah jam tangan yang berlapis emas dan berlian seharga milyaran.
" Buat calon istri Abang." Jawab Arka.
" Bang ini Mahal, harga nya melebihi gaji Abang, gaji Abang satu tahun juga kurang kecuali Abang punya tabungan di kuras semua."
" Kamu meragukan Abang ya nggak mampu beli ini untuk kamu?"
" Ya bukan begitu Bang, nanti kalau kena penyidik bagaimana ini ada transaksi nya loh Bang, kita ini bisa di pertanyakan orang seperti kita belanja barang Mahal ini."
" Lebay kamu, silahkan siap untuk di periksa barang kali di kira korupsi."
" Ya bukan begitu Bang ini Mahal banget sayang uang nya."
" Untuk kamu sayang, apapun Abang lakukan. Hadiah Ini tidak ada apa - apa nya di banding dengan Cinta Abang sama kamu."
*****
Dimas memandangi hadiah yang di berikan Arka untuk Annisa, sebuah jam tangan mewah yang hanya orang - orang tertentu yang memiliki nya dengan harga fantastis dan limited edition.
" Kamu percaya kan, selain jadi Camat Arka punya usaha lain?"
" Nggak ada."
" Kamu percaya sama Abang?"
Annisa hanya diam, dan menundukkan kepalanya terlihat wajah kecewa dengan mata yang berkaca - kaca.
" Suatu saat Arka akan tertangkap oleh penyidik, mereka masih mengumpulkan bukti. Dan barang ini bisa jadi bukti, Abang akan selalu di samping kamu saat ini kamu sedang terlibat dan menjadi saksi, jadi kerja sama lah."
" Saya sudah nyaman dengan Bang Arka, hanya dia yang bisa membuat Saya tersenyum selama hati Saya rapuh. Bila memang terjadi apakah Cinta kami akan tetap berlanjut dengan di batasi jeruji atau berakhir saat semua nya tahu."
" Apakah kamu sangat mencintai Arka? "
Annisa hanya diam dengan menatap kedua mata Dimas, begitu pun juga Dimas menatap lekat kedua mata Annisa.