Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.Luka yang Disentuh dengan Sengaja
Selvina tidak tidur malam itu.
Bukan karena takut—ia sudah terlalu sering hidup berdampingan dengan ketakutan. Yang membuat matanya terbuka adalah kemarahan yang tidak menemukan jalan keluar.
Foto-foto itu.
Ibunya.
Klinik kecil dengan cat tembok mengelupas.
Ia membenci kenyataan bahwa Varrendra tahu. Bahwa seseorang bisa menyentuh masa lalunya hanya dengan satu map cokelat.
Keesokan harinya, Imperion terasa lebih sempit.
Saat Selvina berjalan melewati taman belakang, langkahnya terhenti.
“Sendirian?”
Suara itu tidak keras. Tidak mengancam. Justru terlalu santai.
Varrendra berdiri di bawah pohon mahoni, tangan bersedekap, wajahnya setengah tertutup bayangan daun. Ia tidak seharusnya ada di sana—tempat itu jarang dilewati siapa pun.
“Kau mengikuti aku?” tanya Selvina dingin.
“Tidak,” jawabnya. “Aku menunggumu.”
Selvina menahan diri untuk tidak berbalik pergi. Lari berarti kalah. Dan ia tidak akan memberi kepuasan itu.
“Apa lagi yang kau mau?” tanyanya.
Varrendra melangkah mendekat. Satu langkah. Dua. Cukup dekat hingga Selvina bisa melihat guratan tipis di antara alisnya—tanda seseorang yang terbiasa mengontrol.
“Aku penasaran,” katanya pelan. “Tentang ibumu.”
Selvina membeku.
“Jangan,” ucapnya tajam. “Bawa-bawa fraksi, sistem, Imperion—apa pun. Tapi jangan sentuh keluargaku.”
“Kenapa?” Varrendra memiringkan kepala. “Karena itu satu-satunya hal yang bisa membuatmu goyah?”
Tatapan Selvina menajam. “Kau tidak tahu apa-apa.”
“Aku tahu cukup,” balasnya. “Aku tahu kau tumbuh dengan dunia yang selalu merendahkanmu. Aku tahu kau membenci laki-laki yang merasa berhak atas segalanya.”
Ia berhenti tepat di depan Selvina.
“Dan aku tahu,” lanjutnya rendah, “itu sebabnya kau begitu terobsesi pada kesetaraan.”
Kata terobsesi menusuk lebih dalam daripada hinaan mana pun.
“Kau salah,” Selvina berbisik. “Aku berjuang karena aku benar.”
Varrendra tersenyum tipis. “Atau karena kau tidak ingin kembali merasa kecil.”
Detik itu juga, Selvina mendorong dadanya.
Tidak keras.
Tidak cukup untuk menjatuhkannya.
Tapi cukup jujur.
“Diam,” katanya gemetar. “Kau tidak punya hak—”
Tangannya tiba-tiba ditangkap.
Sentuhan pertama itu kasar. Jari Varrendra mencengkeram pergelangan tangan Selvina, menghentikan gerakannya di udara. Bukan sentuhan lembut. Bukan juga penuh amarah.
Ini sentuhan kepemilikan.
Selvina terkejut—bukan karena sakit, tapi karena tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya sempat menolak. Napasnya tersangkut. Jantungnya berdetak terlalu cepat.
“Lepaskan,” perintahnya.
Varrendra tidak langsung patuh.
Ia menatap tangan mereka yang terhubung, lalu naik ke wajah Selvina. Ada sesuatu yang berubah di matanya—bukan kemenangan, bukan kemarahan.
Pengakuan.
“Kau bergetar,” katanya pelan.
“Bukan karena kau,” balas Selvina cepat.
Varrendra mendekat sedikit lagi. Jarak mereka kini terlalu intim untuk disebut aman.
“Berbohong tidak akan menyelamatkanmu,” gumamnya. “Tidak di sini.”
Selvina menarik tangannya dengan kuat. Kali ini Varrendra melepas—bukan karena kalah, tapi karena memilih.
“Kau menikmati ini,” tuduh Selvina. “Menekan orang lain. Membuka luka.”
“Dan kau?” balasnya. “Kau menikmati dilawan.”
Kata-kata itu membuat Selvina terdiam.
Varrendra mencondongkan tubuh, suaranya hampir menjadi bisikan. “Kalau aku benar-benar ingin menghancurkanmu, aku tidak akan mulai dari fraksimu.”
Selvina menahan napas. “Lalu dari mana?”
“Dari dirimu sendiri.”
Ia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak yang terasa seperti ejekan.
“Kau kuat,” lanjutnya. “Terlalu kuat untuk dunia sepertimu. Dan suatu hari nanti, kekuatan itu akan menuntut harga.”
Selvina menggertakkan gigi. “Aku tidak takut padamu.”
Varrendra tersenyum samar. “Aku tahu.”
Ia berbalik pergi, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh.
“Tapi kau akan memikirkanku,” katanya. “Setiap kali kau merasa marah. Setiap kali kau merasa kecil. Karena aku satu-satunya yang melihatmu apa adanya.”
Langkahnya menjauh.
Selvina berdiri terpaku, pergelangan tangannya masih terasa hangat oleh bekas genggaman itu. Ia membenci sensasi tersebut—benci karena tubuhnya mengingat sesuatu yang seharusnya ditolak.
Ia membenci Varrendra.
Dan lebih dari itu—
ia membenci kenyataan bahwa sebagian dirinya terpancing.
Imperion Academy sekali lagi menelan rahasianya.
Dan perang ini, kini, bukan lagi soal ideologi.
Ini tentang siapa yang lebih dulu hancur.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍