Bagaimana caranya untuk menjadi kaya? Bekerja? Berinvestasi? Itu adalah cara klasik. Semua orang bisa melakukannya.
Namun berbeda dengan Andi. Jika semua orang menjadi kaya dengan bekerja keras, maka yang Andi lakukan hanya diam menikmati harinya. Yang perlu ia lakukan hanyalah bernafas. Iya bernafas.
[Ding]
[Level : 1 (10000/100000)
[Host masih berada di level 1. Tingkat konversi : setiap nafas dihargai dengan satu rupiah]
[Host perlu mengeluarkan uang untuk bisa meningkatkan level. Semakin tinggi level semakin tinggi pula tingkat konversi]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
----
Yang perlu Andi lakukan hanyalah bersantai dan menghabiskan uangnya untuk bisa bertambah kaya. Cukup mudah bukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Efek Menerima Pengalaman
Kepala Andi terasa penuh ketika sistem mentransfer semua pengalaman-pengalaman itu pada ingatannya. Rasanya seperti ada sesuatu yang dimasukkan secara paksa ke dalam kepalanya. Hal tersebut sungguh menyakitkan hingga membuat kepala Andi pening.
Andi sampai harus berpegangan pada meja kasir ketika merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Melihat hal itu salah satu pelayan toko menghampiri Andi.
“Mas nggak papa?” tanya pelayan toko tersebut sembari memegangi lengan Andi. Mencoba membantu tubuh Andi tetap tegak dan tidak jatuh tersungkur.
Setelah rasa sakitnya cukup reda, Andi menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Ia kemudian berterimakasih kepada pelayan toko yang telah membantunya.
Jika Andi mengetahui efek samping dari menerima pengalaman-pengalaman yang dijual oleh sistem seperti ini, maka dirinya tidak akan melakukan hal ini. Tidak pada tempat umum dan tidak menerima dua pengalaman sekaligus. Itu sangat menyakitkan.
Kedepannya, Andi perlu memastikan dirinya benar-benar siap jika ingin membeli pengalaman-pengalaman di toko sistem. Setidaknya Andi perlu berada di tempat yang aman dan nyaman. Pengalaman pertamanya ini akan Andi jadikan pelajaran untuk kedepannya.
Setelah efek menerima pengalaman-pengalaman dari sistem menghilang, Andi bisa menemukan ingatan baru. Ingatan tersebut mengenai seseorang belajar mengendarai mobilnya, kemudian ia mencoba mengendarai mobil tersebut pertama kalinya di sikuit balap. Andi juga mengingat dengan jelas balapan pertama yang diikuti oleh pembalap tersebut.
Selain itu, Andi memiliki ingatan mengenai seseorang yang belajar memotong sayur-sayuran dengan berbagai ukuran. Ia melihat bagaimana orang tersebut mempelajari teknik-teknik memasak seperti menumis, menggoreng juga pemorosesan bahan.
Dalam ingatan itu, Andi memakai sudut pandang orang kedua yang melihat mereka mengumpulkan pengelaman-pengalaman itu. Namun anehnya itu terasa seperti Andi sendiri yang memiliki pengalaman-pengalaman tersebut.
Andi yakin jika seseorang memintanya mengendarai mobil, atau bahkan mem-fillet ayam, Andi bisa melakukannya dengan baik. Meskipun sebenarnya dia tidak pernah sedikitpun melakukan dua kegiatan itu. Ini sangat menakjubkan menurut Andi.
Benar kata sistem, ia harus mengumpulkan banyak pengalaman untuk bisa memperkuat diri. Jika orang lain mengumpulkan pengalaman dengan cara terus menerus melatih keahlian mereka, maka Andi hanya perlu membelinya melalui sistem. Ia lebih cepat mengumpulkan pengalaman dari berbagai bidang lebih cepat.
Andi jadi tidak sabar menunggu tanggal 1 tiba. Pada tanggal tersebut sistem akan menjual pengalaman-pengalaman baru di sana. Sekarang ini sudah tanggal 26 berarti empat hari lagi dirinya bisa mengecek pengalaman baru apa yang dijual di sana.
Andi berharap itu adalah sebuah pengalaman baru. Atau setidaknya itu adalah pengalaman lanjutan dari pengalaman yang ia miliki saat ini. Pengalaman yang dimilikinya saat ini hanyalah pengalaman tingkat 1, tentunya itu akan ada tingkat lanjutannya.
*****
Andi merebahkan tubuhnya di sofa. Pemuda itu kini berada di ruang tamu yang ada di apartemen barunya. Ia belum berniat untuk pulang kembali ke kotanya. Berbelanja banyak hal membuatnya lelah. Andi berencana pulang besok pagi. Dirinya sudah menelfon ibunya untuk memberitahu hal tersebut.
Andi beralasan kepada ibunya bahwa dirinya ketinggalan kereta dan sedikit kebingungan jika naik bus. Memang bisa dibilang ini adalah kali pertama Andi pergi ke luar kota sendirian. Jadi alasan itu bisa ia berikan kepada Anisa.
Pemuda mengatakan kepada ibunya bahwa dirinya akan menginap di sebuah kos harian yang tidak jauh dari stasiun. Ia bilang pada ibunya bahwa untuk menginap di sana ia hanya perlu mengeluarkan uang lima puluh ribu rupiah untuk semalam. Mendengar hal tersebut Anisa mengijinkan Andi menginap dengan syarat besok pagi-pagi dirinya sudah harus dalam perjalanan pulang.
Andi pikir, sejak dirinya memiliki sistem ia jadi sangat pandai berbohong, terutama berbohong kepada keluarganya. Berawal dari satu kebohongan bertambah dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Andi sudah tidak bisa menghitung berapa kali ia berbohong kepada keluarganya.
Ding!
Bunyi dentingan dari mesin pengering yang ada di apartemennya membangunkan Andi dari lamunannya. Tadi memang Andi mencuci beberapa pakaian dan handuk. Ia tidak memiliki baju ganti sehingga Andi perlu terlebih dahulu mencuci pakaian yang baru ia beli sebelum memakainya.
Setelah pulang dari mall tadi Andi memang mampir ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan dasar. Ia juga membeli beberapa roti, sereal dan susu untuk makan malamnya dan sarapannya besok bagi. Dirinya terlalu lelah jika nanti harus keluar lagi untuk mencari makan malam. Jadi pemuda itu memutuskan untuk membeli beberapa makanan ketika berada di supermarket.
Andi mengambil handuk, sebuah kaos, celana pendek dan pakaian dalmnya dari dalam pengering. Ia ingin segera membersihkan diri dan pergi ke alam mimpi. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Andi.
*****
“Jadi ini baju buat Amira, ini buat Arfan, yang ini buat Ayah sama Ibu.”
Andi membagi-bagikan beberapa plastik hitam berisi pakaian kepada keluarganya. Ini hanya sebagian dari pakaian yang kemarin Andi beli. Pemuda itu ingin sekali membawa semuanya, namun ia tahu dirinya pasti akan kewalahan dengan barang sebanyak itu. Tidak hanya membawanya tetapi juga kewalahan menjelaskan asal usul semua pakaian itu.
Tanpa menunggu diperintah pun kedua adik Andi membuka plastik hitam yang diserahkan oleh kakak mereka. Keduanya langsung disuguhi dengan pemandangan beberapa potong pakaian dari dalam sana.
“Wow Kak Andi ini beneran buat aku? Banyak banget bajunya. Ini celananya juga bagus, jaketnya juga.” Ucap Arfan dengan penuh semangat. Anak laki-laki itu terlihat mengangkat sebuah jaket di depan wajahnya. Ia terlihat mengamati pakaian pemberian kakaknya itu.
Tidak mau kalah dengan adiknya, Amira juga mengamati satu persatu pakaian yang diberikan oleh kakanya. Bahkan gadis itu sekarang sudah menjoba sebuah outer di atas seragamnya. Ia terlihat memutar badannya beberapa kali untuk melihat bagaimana pakaian itu di tubuhnya.
Memang kepulangan Andi berbarengan dengan kepulangan Amira dari sekolahnya. Jadi adiknya itu masih memakai baju seragamnya ketika mencoba pakaian yang diberikan oleh Andi.
Jika kedua adiknya nampak senang dengan pemberian Andi, hal itu tidak terjadi pada Anisa. Ibu tiga orang anak itu menampakkan raut kekhawatiran di wajahnya. Ia memandangi lekat-lekat ke arah anak sulungnya yang baru pulang dari luar kota ini.
“Kok kamu malah menghambur-hamburkan uang kayak gini sin Nak. Berapa ini yang udah kamu keluarin untuk membeli semua ini?” tanya Anisa kepada Andi.
“Ehm…. Nggak banyak kok Bu. Semua pakaian ini aku beli dari pasar baju bekas. Kebanyakan pakaian di sana masih bagus jadi aku beli buat semuanya. Sepotong baju nggak sampai tiga puluh ribu. Bahkan aku dapet kaos bagus cuma dengan dua puluh ribu.” Bohong Andi untuk yang kesekian kalinya.
Ia memang memberikan ini sebagai alasan kepada keluarganya. Andi memang pernah mendengar dari seorang temannya bahwa di salah satu tempat di Surabaya memang ada yang menjual pakaian bekas dengan harga murah setiap hari Minggu.
Maka dari itu Andi telat pulang ke rumah. Selain karena dirinya bangun kesiangan, Andi juga perlu memotong semua tag yang ada di pakaian keluarganya. Ia juga berusaha membuat pakaian-pakaian itu sekusut mungkin supaya keluarganya percaya.
Anisa masih memandangi anak sulungnya itu dengan tatapan menelisik. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan putranya itu. Mana mungkin pakaian bekas memiliki warna yang masih cerah seperti ini. Anisa amati semua pakaian yang dibawa Andi pulang memiliki warna yang masih sangat jelas khas pakaian yang belum pernah dipakai.
Sayangnya Anisa tidak memiliki bukti bahwa Andi berbohong kepadanya tentang semua ini. Sepertinya ia perlu membicarakan semua ini dengan suaminya ketika dia pulang kerja nanti. Mereka tidak bisa membiarkan anak mereka ini menjalani hidup boros seperti ini. Memiliki uang banyak tidak membuat kita bisa dengan mudah menghabiskan semuanya. Anis perlu meminta suaminya untuk menasehati putra sulung mereka ini.
baru kali ini baca novel sistem yang mc nya gak mampu menjelaskan uangnya 😁