"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Orang Paling tak Diinginkan
Chilla turun ke dapur untuk mengambil minum seraya memainkan ponselnya. Ia seorang diri di rumah. Seperti biasa, Kak Lagha bimbel dan Mbak sudah pulang ke rumahnya sendiri.
Saat mengambil gelas di lemari, sebuah tumbler menarik perhatian Chilla. Itu bukan miliknya atau pun milik Kak Largha. Itu milik... Jonas! Astaga! Ia lupa mengembalikannya. Sudah lama sekali.
Batal mengambil gelas, Chilla malah mengambil botol minum berbahan stainless tersebut. Kemudian ia duduk di meja pantri. Lama ia terpekur memandangi layar ponselnya, menimang-nimang keputusan yang tepat.
Haruskah ia menghubungi Arnas? Sekarang?
Chilla memegang keningnya. Lagipula, keningnya sudah disterilkan Jonas, dan itu lebih membekas daripada kecupan Arnas.
Oke.
Chilla memutuskan. Ditekannya nomor Arnas. Sejenak ia menunggu panggilannya dijawab orang di seberang rumah sana.
"Hal—" Chilla baru memulai, namun Arnas langsung menyela, "Udah waras?"
"Lo kata gue gila?" tanya Chilla, tekanan darahnya mulai naik.
"Mau apa?" Arnas mengabaikan protes Chilla.
"Jonas di rumah? Lagi ngapain?"
"Barusan baru turun mau makan."
Waktu yang tepat, pikir Chilla.
"Makan siang?"
"Makan subuh," sahut Arnas, terdengar jengkel.
"Oke, bye!" Chilla sudah hampir memutuskan sambungan ketika ia teringat sesuatu yang membuatnya waswas. "Lo gak lagi di deket Jonas kan, Ar?"
"Ya, enggaklah," balas Arnas sewot. "Lo kira gue noob?!"
Tut... tut...
Sialan memang si Arnas. Masa dia mematikan telepon lebih dulu? Kan seharusnya itu tugasnya.
Bodo ah.
Chilla menggeleng, mengeluarkan segala perihal Arnas dari kepala. Ia harus tenang dan elegan, auranya harus baik saat bertemu Jonas dan calon mertua nanti.
Bersama senyam-senyum gilanya yang tercipta karena bayangan menyenangkan tentang berkunjung ke rumah tetangga depan, Chilla berlalu menuju kamarnya seraya memesan kue dari toko kue terdekat dan tercepat.
Ia harus punya kesan bagus pada calon mertua.
Hehe.
Sesampainya di kamar, Chilla segera masuk kamar mandi. Cuci muka dan gosok gigi. Ia bahkan mengeramas poninya supaya tetap badai. Setelah itu ia berganti pakaian, mencari dress kasual yang sederhana namun cantik. Dan pilihannya jatuh pada gaun polos sepanjang lutut berwarna kuning. Terlihat segar menjelang sore begini.
Usai mengeringkan poni, Chilla mengaplikasikan make up ringan di wajahnya. Tak lupa ia mengatur rambutnya dalam satu kepang sederhana.
Perfect, pikir Chilla ketika sudah memakai selop rumah untuk mengukuhkan kesan santai kemudian pergi berkaca di cermin setinggi tubuhnya.
Tok, tok, tok!
Tergesa Chilla ngacir begitu mendengar ketukan pintu itu. Ia yakin yang mengetuk adalah ojol yang mengantar pesanannya. Dan dugaannya tepat ketika ia mengangkat telepon di ponselnya.
Chilla sungguh puas saat membuka paket yang baru di terimanya dari abang ojol yang ia beri bintang lima dan tips dua puluh ribu (sungguh murah hati). Sebuah puding mangga yang dingin. Kurang direstui apa coba PDKT-nya hingga tepat saat ia memesan puding mangga, ada orang yang baru saja membatalkan pesanannya?
Chilla pun memindahkan puding itu ke kotak makan yang berukuran besar, agar tak terlalu terlihat bila puding ini hasil beli di toko kue kompleks sebelah. Dengan itu, ia siap pergi ke rumah calon mertua.
Dalam-dalam ia menghela napas di depan pintu rumahnya. Ancaman Kak Largha beberapa malam yang lalu bermain di benaknya.
"Awas kamu sampe keluar rumah tanpa seizin Kakak—kecuali ada gempa bumi sama angin ****** beliung—Kakak laporin sama Papa kejadian malam ini. Apalagi kalo kamu ketahuan pergi ke rumah depan lagi."
Kak Largha kan hanya berkata bila ketahuan, kalo tidak ketahuan mah pasti boleh. Aman.
Dengan keyakinan itu, Chilla mengambil langkah pertama menjauhi rumahnya bersama sekotak puding dan sebuah tumbler. Menyeberangi jalan aspal yang merupakan garis batas paling nyata menurut kakaknya.
Sesuai instruksi yang telah Chilla kirimkan lewat chat, Arnas yang membukakan pintu dan memberikan laporan terperinci mengenai apa yang sedang dan akan Jonas lakukan.
"Dia baru selesai makan. Bentar lagi mau naik, belajar," lapor Arnas dengan wajah kesal. "By the way, lo bertamu ke depan rumah perlu banget dandan kayak mau kondangan? Mana baju ngejreng banget kayak kuning telor ayam kampung goreng."
"Nyinyir aja lo kayak netizen."
Chilla mengekori Arnas memasuki rumah, terus hingga memasuki dapur yang menyatu dengan ruang makan. Di sana, di salah satu kursi di belakang meja besar-panjang, duduklah Jonas yang sedang makan sebuah apel.
"Chilla," ucap Jonas begitu melihat sosok Chilla. Suaranya terdenger terkejut, namun air mukanya tampak senang.
"Hai," sapa Chilla, tersenyum sumringah. "Ibu kamu mana? Mau balikin ini," ia mengangkat tumbler di satu tangan, "sama mau ngasih ini," lalu mengangkat kotak makan di tangan lain.
"Oh. Sebentar aku panggilin." Jonas sudah beranjak dari duduknya ketika Arnas yang terlupakan berkata masam, "Biar gue aja." Karena Chilla baru saja menyepak pelan kakinya tanpa kentara.
Sepeninggal Arnas, Jonas langsung mengajak Chilla duduk. Air mukanya masih sama, gembira.
"Ibu aku pasti seneng deh kamu di sini," ucap Jonas, menatap mata Chilla dengan binar yang biasa.
Kini Chilla sudah tak malu-malu lagi balas memandang mata Jonas. Ia malah senang dan kecanduan. Sebab tatapan Jonas itu dalam dan punya kesan yang seolah berkata kau-adalah-hal-yang-paling-berharga. Tak akan membosankan memandang sepasang mata kelabu gelap itu lama-lama.
"Semoga. Aku malah takut dia marah karena aku lama banget balikin tumblernya."
"Ya, enggalah. Cuma tumbler doang."
Tak lama terdengar derap langkah menuruni tangga. Membikin Chilla deg-degan. Ia menduga mungkin seperti ini rasanya dikenalkan dengan keluarga pacar.
"Halo Chilla," ujar ibu si kembar, ramah. "Kenapa nyariin Ibu?"
Chilla yang sudah berdiri mendekati wanita yang punya kemiripan nyata dengan Jonas itu. Wanita itu berpakaian rapi serta membawa sebuah dompet dan tas belanja.
"Ini Tante, Chilla mau balikin tumbler. Maaf ya lama. Dan makasih buat jamunya." Chilla memberikan tumbler ditangannya.
"Ih gak pa-pa," ujar ibu Jonas dengan baik hati, mengambil alih barang miliknya. Sementara putranya yang bernama Arnas di belakang sana tengah mencebik.
"Manjur gak jamunya?"
"Manjur banget Tante."
"Ibu ngasih jamu ke Chilla?" Arnas bersuara. "Curang banget. Aku yang sering minta bikinin susu jahe aja Ibu bilang capek," protesnya.
Baru kali ini Chilla mendengar Jonas berbicara seperi itu. Terdengar kekanakan dan manja.
"Karena kamu mintanya kalo udah mau tidur. Udah larut malam. Ibu udah ngantuk."
"Ibu mah ngeles aja memang," ujar Arnas, memberengut.
"Duduk sini,'' ujar Jonas, menarik lembut tangan Chilla.
"Oh!" seru ibu Arnas, terdengar terkejut. "Ibu kira Chilla lagi ngapelin Arnas, tapi kayaknya Ibu salah sangka." Ia melirik tangan Jonas dan Chilla yang bertaut.
Oh my gosh.
Ruangan langsung hening. Jonas buru-buru menarik tangannya ke sisi semula. Rasanya jadi canggung sekali.
"Seinget Ibu, kamu bilang Chilla suka sama kamu." Tanpa dosa, satu-satunya wanita dewasa di sana menoleh memandang Arnas yang super syok.
"Bu!" protes Arnas.
Chilla kaku, bingung mau bereaksi apa. Sebenernya apa yang telah bacot Arnas gembar-gemborkan di depan ibunya?
"Bu, Chilla bawa sesuatu buat Ibu," ucap Jonas, memecah keheningan yang canggung.
"Oh, ya?"
Terlebih dulu Chilla berdehem kecil mencoba mengembalikan pikirannya ke jalan yang benar. Kemudiaan ia berujar, "Iya Tante. Ini tadi Mbak bikin puding," seraya mengulurkan kotak makanan di tangannya.
"Makasih ya, Chilla. Jadi ngerepotin." Ibu Jonas menerima pemberian itu.
"Enggak kok, Tante."
"Panggil Ibu aja, biar kayak Jonas sama
Arnas."
Lebar sekali Chilla tersenyum. Kurang sukses apa pendekatannya pada calon mertua sampai sudah dimintai memanggil 'ibu'.
"Iya, Bu."
Ibu tersenyum. Diusapnya puncak kepala Chilla sekilas sebelum membawa kotak pemberiannya ke atas meja makan untuk dibuka.
"Wah..." Jonas berkata takjub. "Puding mangga. Kesukaanku." Senyumnya terkembang lebar dan matanya berbinar. Membuat Chilla yang memperhatikannya ikut gembira.
"Okey, sabar dulu!" Ibu berseru menahan tangan putra sulungnya yang sudah akan mencomot puding itu. "Biar Ibu potong dulu."
Begitu Ibu pergi memotong puding, Jonas berpaling pada Chilla, menarik tangannya untuk kembali mengisi kursi di sisinya. Chilla tersenyum, mematuhi anjuran itu.
"Makasih," ujar Jonas pelan.
Chilla mengangguk kecil, tetap bersama senyum yang enggan meninggalkan bibirnya bila berada di dekat Jonas. "Sama-sama."
Tak butuh waktu lama, empat piring kecil berisi sepotong puding sudah tersaji di atas meja. Dan seketika puding itu jadi fokus utama Jonas dan yang lainnya, kecuali Chilla. Sebab diam-diam di bawah meja, ia menarikan jarinya dengan cepat pada layar ponsel yang menyala, mengetik sebuah pesan dan menggati mode ponselnya menjadi silent mode.
Ponsel lain di ruang itu berbunyi. Jelas itu milik Arnas, melihat dari sang empunya yang seketika grasak-grusuk merogoh sakunya.
Me: Lo bilang sama Ibu kalo gue suka sama ?!
Me: Gila ya lo! Apa yang nyokap lo pikirin nanti pas gue jadian sama Jonas? Dikiranya gue ngembat dua anaknya lagi.
Arnas Prawira: Nyokap gue cuma bercanda, *****.
Arnas Prawira: Lagian gak usah berekspektasi berlebihan. Lo gak bakal jadian sama Jonas.
Arnas Prawira: Mimpi lo!
Chilla mendelik pada Arnas yang duduk di seberang meja. Laki-laki itu balas menatapnya dengan sepasang alis terangkat. Songong sekali. Membikin Chilla ingat lagi betapa ia benci melihat wajah manusia satu itu. Bahkan darahnya mulai naik ke ubun-ubun.
Dalam usaha menenangkan diri dari emosi jiwa yang mulai merasuki, Chilla membuang muka, berakhir memandang Jonas kembali. Dan ia mendapati jika sang pujaan hati tengah memperhatikannya dan Arnas secara bergantian.
Chilla menyengir. Mendadak khawatir bila Jonas tahu ia sedang berbalas pesan dengan adiknya secara diam-diam.
"Chilla maaf ya, Ibu harus pergi ke supermarket," ucap Ibu dengan nada menyesal. Beliau sudah beranjak dari kursinya, melenggang menuju sink bersama piring kosong di tangan. "Mau belanja bulanan."
"Iya gak pa-pa, Bu."
"Sering-sering main ke sini, ya. Ibu seneng kalo kamu mau sering main ke sini. Arnas sama Jonas juga pasti seneng." Ibu mengerling jahil pada kedua putranya. "Iya kan, Ar?"
"Ibu..." rengek Arnas.
Ibu terkekeh. "Oke kalo gitu, Ibu pergi dulu. Baik-baik di rumah, ya."
Ruangan jadi hening sepeninggal Ibu. Mereka bertiga yang tinggal sudah menandaskan suapan terakhir punding mereka. Jonas sedang pergi mengambil potongan puding kedua, Arnas sibuk dengan ponselnya, sementara Chilla? Ia sedang sibuk memberi kode kepada Arnas untuk segera pergi, sebab manusia itu terus mengabaikan pesannya. Cari gara-gara memang.
Dukk!
Chilla menendang kaki Arnas, membuat sang empunya kaki mengaduh.
"Kenapa Ar?" tanya Jonas, menoleh pada saudara kembarnya.
"Arnas kalah main game," Chilla menyahut, mewakili Arnas yang langsung mendelik tidak terima. Namun Chilla bergerak cepat, menendang kaki Arnas lagi untuk membungkam laki-laki itu.
"Oh..." Jonas mengangguk-angguk. "Kamu mau puding lagi, Chill?" Ia beralih pada Chilla.
Chilla menggeleng disertai senyum manis. Sehingga Jonas kembali fokus pada perkerjaan sebelumnya.
"Pergi sana," gumam Chilla tanpa suara.
Pada akhirnya Arnas berdiri. Ia mencondongkan tubuhnya lalu menoyor kening Chilla. "Ngeselin lo," Arnas bergumam, tak bersuara. Lantas ia berlalu, mendaki anak tangga hingga hilang dari pandang.
"Arnas ke mana?" tanya Jonas, kembali ke kursinya.
"Ke atas."
Chilla tersenyum melihat piring kecil Jonas yang sudah berganti besar. Di sana tergolek segumpal besar puding mangga.
"Suka banget ya?"
Jonas mengangguk malu. "Banget."
"Syukur deh kalo kamu suka."
"By the way..." Jonas menggantungkan ucapannya.
"Apa?" Alis Chilla terangkat.
"Kamu lebih cantik dari biasanya hari ini."
Ingin rasanya Chilla menggelepar di lantai mendengar pujian Jonas itu. Jelas ini bukan pujian pertama, sebab Jonas memang tipe orang yang suka memuji dengan terus terang. Tapi kata 'lebih cantik' itu jelas-jelas sesuatu yang baru.
"Mau pergi?"
"Enggak kok," ujar Chilla tersipu.
"Kamu lucu banget tahu kalo lagi malu gitu. Gemes." Jonas mencubit ringan hidung Chilla.
Mau meninggal rasanya... Astaga... Ini manusia satu di depannya suka sekali memang Chilla ingin menyublim saking bapernya.
"Eh, Jo..."
"Hm?" Jonas mengangkat alisnya. Matanya tak lepas dari mata Chilla.
"Ada bulu mata jatuh, tuh."
"Di mana?" tanya Jonas, mendekatkan wajahnya pada wajah Chilla.
Napas Chilla tertahan, mata mengerjap akan jaraknya dan Jonas yang terlalu dekat.
"Ini." Chilla mengambil sehelai bulu mata di pipi Jonas. Dan dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat iris kelabu Jonas dengan sangat jelas. Warnanya sungguh cantik.
"Uhuk! Uhuk! UHUK!" suara batuk lebay seorang Arnas Prawira sungguh menghancurkan momen. Membuat Jonas menarik diri.
"Obat batuk ada di kulkas, Ar," Jonas menyarankan.
"Enggak. Gue nyari... bolas basket."
"Sejak kapan lo naro bola di dapur?"
"Kagak tahu. Gue kan cuma lagi nyari aja," ujar Arnas. Kemudian ia langsung berbalik pergi.
Baru saja Chilla dan Jonas mulai mengobrol lagi, membicarakan warna mata Jonas yang tidak umum untuk ukuran warna mata orang Indonesia (ternyata merupakan warisan dari kakek buyutnya yang merupakan orang Jerman), Arnas hadir lagi.
"Lihat tali sepatu lari gue yang warna merah gak, Jo?"
"Enggak."
Dan Arnas kembali pergi. Meninggalkan Chilla yang mulai negatif thinking. Jangan-jangan Arnas ingin mengganggu waktu PDKT-nya?
"Mau tebak-tebakan, gak?"
"Tebak-tebakan apa?"
"Kalo Arnas ke sini lagi, kamu harus sering-sering main ke rumah. Kalo enggak..."
"Kamu jangan terlalu maksain diri buat belajat kelewat batas." Chilla melirik jemari Jonas yang dibalut plester luka.
"Oke," Jonas langsung menyetujui.
Sebetulnya, Arnas turun atau tidak, Chilla merasa tetap diuntungkan. Jadi ia setuju-setuju saja ikut taruhan yang ditawarkan Jonas.
"Kamu... kenapa pengen aku main ke sini lagi?" tanya Chilla ragu.
"Karena Ibu seneng kamu main ke sini," jawab Jonas enteng.
"Kamu sendiri gimana?"
"Seneng. Seneng banget."
Chilla tak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya mendengar jawaban Jonas itu.
"Arnas juga seneng kayaknya," tambah Jonas, memandang lurus ke depan. Hal itu membuat Chilla menoleh, mengikuti arah pandangannya. Dan Chilla menemukan sosok Arnas yang berdiri di anak tangga terbawah. Laki-laki itu nampak seperi seorang tersangka yang tertangkap basah.
Ada apa dengan Arnas, sih? Kenapa dia aneh sekali bolak-balik selama lima belas menit belakang?
Tok, tok, tok!
Terdengat suara ketukan pintu. Arnaslah yang bergerak lebih dulu untuk membuka pintu utama. Tak lama laki-laki itu kembali, ada ekspresi kemenangan di wajahnya.
"Ada yang nyariin, Jo," umumnya. Bukannya memandang Jonas, Arnas malah melabuhkan fokusnya pada Chilla.
"Siapa?" Jonas berdiri.
"Kak Zeeta."
∆∆∆
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh