NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Taman Belakang Mansion Paramitha - Sore Hari

Ayunan tua di bawah pohon mangga berderit pelan, mengikuti irama ayunan Anindita yang melambat. Di ayunan sebelahnya, Vyan duduk diam—tidak mengayun, hanya duduk dengan tangan menggenggam rantai ayunan, kepala tertunduk, wajah yang biasanya ceria kini dipenuhi kegelisahan yang tidak sesuai usianya.

"Vyan," panggil Anindita, berhenti mengayun. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu jadi pendiam seperti ini?"

Vyan tidak menjawab. Rahangnya mengeras—gesture yang terlalu dewasa untuk anak berusia 6 tahun.

Semalam. Semalam dia tidak bisa tidur. Karena dia mendengar sesuatu yang membuatnya ketakutan—percakapan di taman ini, di kegelapan malam, antara dua orang yang dia tidak bisa lihat wajahnya dengan jelas.

Tapi suara-suara itu... suara-suara itu bicara tentang memisahkan keluarga Paramitha dan Syailendra. Tentang rencana jahat. Tentang ancaman.

Dan salah satu suara itu... terdengar seperti dari keluarga Kusuma.

Tapi dia tidak bisa bilang. Belum. Tidak sampai upacara penobatannya sebagai pewaris Syailendra terjadi. Papa bilang, sebelum upacara itu, dia tidak boleh membocorkan rahasia apapun yang dia dengar tentang dunia gangster.

"Vyan!" Anindita turun dari ayunan, berdiri di hadapan sahabatnya dengan wajah cemberut. "Apa kamu masih mencemaskanku? Bukankah sudah kubilang aku baik-baik saja?"

Vyan mengangkat kepalanya, menatap Anindita dengan mata yang penuh konflik. "Aku tahu, Dita. Tapi kamu sudah melanggar perjanjian persahabatan kita."

Anindita tersentak. Perjanjian mereka. Perjanjian yang mereka buat saat berusia 4 tahun—dengan sumpah kelingking dan darah dari jari yang ditusuk jarum yang kemudian membuat mereka berdua menangis dan dimarahi pengasuh mereka.

"Kita akan selalu bersama. Kemana pun pergi, harus bilang satu sama lain. Tidak boleh ada rahasia."

"Astaga!" Anindita langsung merasa bersalah. "Aku minta maaf, Vyan! Lain kali aku pasti akan mengajakmu kalau mau pergi kemana-mana!"

Dia mencoba tersenyum, mencoba meringankan suasana. "Jangan marah, Vyan. Sisi juga minta maaf sama kamu nih, lihat..." Anindita mengangkat boneka kelincinya, membuat suara lucu dengan menggerak-gerakkan boneka seolah boneka itu yang bicara.

Tapi Vyan tidak tersenyum. Wajahnya makin serius.

"Dita."

Nada suara Vyan berubah—menjadi sangat serius, sangat dewasa. Anindita berhenti bermain dengan bonekanya, menatap sahabatnya dengan mata membulat.

"Ada apa, Vyan?" bisiknya, tiba-tiba merasa takut dengan perubahan ini.

Vyan berdiri dari ayunan, melangkah mendekat, menatap langsung ke mata Anindita dengan intensitas yang membuat gadis kecil itu mundur selangkah.

"Jangan terlalu dekat dengan Kak Zaverio."

Hening.

Anindita menatap Vyan seolah sahabatnya baru saja bicara dalam bahasa alien. "Apa... apa maksudmu? Kak Zaverio orang baik! Dia membawaku untuk ngobrol dengan Mama dan Papa—"

"Aku tahu!" potong Vyan, frustrasi terdengar di suaranya yang masih cempreng. "Tapi Dita, kamu harus percaya padaku. Ada sesuatu yang tidak beres dengan keluarga Kusuma."

"Vyan!" Anindita mundur, wajahnya memerah—bukan karena malu, tapi karena marah. "Kamu tidak boleh bicara seperti itu tentang keluarga Kak Zaverio! Keluarga Kusuma itu sahabat Kakek dan Papa kita! Tidak mungkin mereka jahat!"

"Dita, dengarkan aku—" Vyan mencoba meraih tangan Anindita tapi gadis itu menghindar.

"Tidak! Kamu yang harus dengarkan AKU!" Anindita berteriak—untuk pertama kalinya dalam hidupnya berteriak pada Vyan. "Kamu salah, Vyan! Kamu pasti salah dengar!"

"Aku tidak salah dengar!" Vyan berteriak balik, air matanya mulai menggenang. "Semalam, di taman ini, aku mendengar sendiri! Mereka bicara tentang memisahkan keluarga kita! Tentang rencana jahat! Dan salah satu suaranya—"

"CUKUP!" Anindita menutup telinganya dengan tangan. "Aku tidak mau dengar!"

"Dita, kumohon—"

"Kamu lihat Kakek Darwan, Kak Zaverio dan keluarga Kusuma lainnya kan?" Anindita menatap Vyan dengan mata berkaca-kaca. "Mereka sangat baik kepada kita. Kakek Darwan selalu membawakan hadiah untuk kita. Kak Zaverio membuat tempat khusus agar aku bisa bicara dengan Mama dan Papa. Bagaimana mungkin orang-orang sebaik itu jahat?"

Vyan menggeleng frustasi. Bagaimana cara menjelaskan pada sahabatnya yang terlalu polos ini? Bagaimana cara membuatnya mengerti bahwa di dunia ini, orang jahat tidak selalu terlihat jahat?

"Dita..." Vyan mencoba dengan nada lebih lembut. "Papa dan Paman Aditya pernah bilang ke kita, ingat? Kita tidak boleh percaya siapapun 100%. Bahkan pada keluarga kita sendiri."

Dia melangkah mendekat, tangannya terangkat ingin menggenggam tangan Anindita. "Dan kamu sudah mempercayai mereka terlalu banyak, Dita. Kamu bahkan pergi ke tempat yang tidak ada yang tahu, sendirian dengan Kak Zaverio, tanpa penjagaan—"

"Karena aku PERCAYA padanya!" Anindita berteriak, air matanya mulai jatuh. "Kenapa kamu tidak bisa percaya pada orang yang aku percaya, Vyan?!"

"Karena aku takut kehilanganmu!" Vyan akhirnya berteriak dengan putus asa, air matanya jatuh deras. "Karena aku takut kalau suatu hari aku akan kehilangan sahabat terbaiku seperti aku kehilangan Mama! Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!"

Anindita membeku mendengar itu. Untuk pertama kalinya, dia melihat ketakutan yang sesungguhnya di mata Vyan—ketakutan kehilangan yang begitu dalam.

Tapi dia terlalu muda untuk memahami sepenuhnya. Yang dia rasakan hanya kemarahan karena Vyan menuduh orang-orang yang baik padanya.

"Kalau kamu terus bicara seperti ini," kata Anindita dengan suara gemetar, "aku tidak mau bicara lagi denganmu."

"Dita, tidak—"

"Dengan menganggap keluarga Kusuma jahat? Itu SALAH, Vyan!" Anindita menatap sahabatnya dengan mata yang menyala. "Kalau kamu menuduh keluarga Kusuma seperti itu, itu sama saja seperti menghina AKU! Karena Kak Zaverio adalah SAHABATKU juga!"

"Dita, kumohon, aku hanya ingin melindungimu—"

"AKU TIDAK AKAN BICARA DENGANMU SAMPAI KAU MINTA MAAF!" Anindita berteriak, kemudian berbalik dan berlari—berlari secepat kaki kecilnya bisa, meninggalkan Vyan yang berdiri sendirian di taman dengan air mata mengalir di pipinya.

"Dita!" Vyan berteriak, tapi gadis itu sudah menghilang di dalam mansion.

Vyan jatuh berlutut di rumput, tangannya mencengkeram dada—tempat di mana rasanya seperti ada yang robek. "Aku sudah melukai hatinya..." bisiknya putus asa. "Aku... aku hanya ingin melindunginya... kenapa dia tidak mengerti?"

...****************...

Di Dalam Mansion - Koridor Lantai Dua

Anindita berlari dengan air mata mengalir, boneka Sisi tergenggam erat di tangannya. Dia tidak tahu mau kemana, dia hanya ingin menjauh—menjauh dari kata-kata Vyan yang membuatnya bingung dan takut.

Di belokan koridor, dia hampir menabrak seseorang.

"Dita?"

Zaverio berdiri di sana, matanya langsung membesar melihat Anindita menangis.

Tapi Anindita tidak berhenti. Dia bahkan tidak menyapa. Dia hanya berlari melewati Zaverio, menuju kamar kakeknya di ujung koridor.

Zaverio berdiri membeku, watching Anindita menghilang di balik pintu kamar Darma.

Ada yang terjadi. Ada yang membuat Anindita menangis.

Dengan langkah pelan, Zaverio mengikuti—tidak masuk ke kamar, tapi berdiri di luar pintu yang sedikit terbuka, mendengarkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!