NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 1: when i meet her

SUARA rumput yang diinjak, ranting yang patah, dedaunan yang digesek oleh sesuatu, serta deru napas yang tidak beraturan terdengar samar-samar dari kejauhan. Melintasi jalan setapak lebih panjang lagi, suara tersebut makin jelas dan kini terdengar seseorang berbisik. Aku lantas menarik tali kendali kuda, membuat rombongan prajurit di belakang ikut terhenti. Bersamaan dengan itu, sekelompok orang keluar dari dalam hutan.

Mereka memakai pakaian kualitas buruk, membawa senjata, salah satunya menggendong karung goni di punggung. Air mukanya sertamerta menampilkan kegelisahan setelah melihat simbol di bendera yang dipegang oleh prajurit bagian depan–bunga kamboja yang diapit oleh dua buah pedang yang saling menyilang, lambang kekaisaran Adenium.

Dari gelagat mereka, sepertinya mereka telah salah mengambil jalan ketika sedang melarikan diri karena bukannya pergi ke tempat aman, mereka justru masuk ke kandang harimau, seolah memberikan nyawa mereka secara cuma-cuma. Pria yang memiliki postur paling besar menatapku dengan kaki yang gemetar sebelum dia mengeluarkan pedang dari dalam sarung.

“Harusnya kalau sudah tahu, kalian kabur saja.” Aku menyeringai. “Tetapi, kabur pun juga percuma.”

Yang di belakang saling melirik, bimbang. Bergantian memandang satu sama lain sebelum menatap lama punggung pemimpinnya. Tanpa diduga, Hamon, ajudan sekaligus tangan kananku, telah melompat turun dari kuda hitamnya.

“Saya yang akan membereskan hal ini, Yang Mulia.”

“Tidak perlu.”

Aku melompat turun dari kuda, menarik pedang dari sarung, segera menerjang tanpa memberi kesempatan mereka berbalik melarikan diri. Satu per satu tanpa sempat menggunakan senjata untuk menyerang, mereka jatuh dan terkapar di tanah. Seragam berwarna biru malam dengan bawahan hitam dan jubah yang senada di tubuhku mendadak memiliki pola abstrak berwarna merah yang basah.

Teriakan kesakitan memecah kesunyian hutan dan membuat burung-burung terbang menjauh dari dalam hutan, seolah menjadi latar belakang ketika pedangku merobek bagian dadanya secara diagonal. Karung di pundaknya jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk ke tanah. Dengan napas yang pendek dan mata yang lemah menatap, tangan kanannya bergerak pelan memegang ujung sepatuku dan memohon,

“To–tolong selamatkan sa–saya, Yang Mulia–”

“Ck.”

Ujung mata pedang bersarang di jantungnya. Bola mata yang seolah ingin keluar, tubuh yang menegang, mulut yang terbuka, lalu disusul dengan kejang selama beberapa detik sebelum dia menjadi tak bernyawa. Aku mengelap darah yang mengenai pipi sebelah kiri menggunakan punggung tangan, mengibas pedang yang sedari tadi meneteskan cairan merah sebelum memasukkannya kembali ke dalam sarung. Karung goni yang bergerak  tiba-tiba lantas menarik perhatianku yang sedang menyarungkan pedang.

“Periksa itu.”

“Baik, Yang Mulia.”

Hamon sigap maju ke depan. Baru saja hendak menduduk untuk membuka serat akar pohon yang mengikat, ikatan tersebut kendur dan tak lama kemudian sebuah kepala muncul dari dalam karung.

Pandangan kami bertemu.

Rambut kuning yang bergelombang, wajah yang berkeringat, bibir yang pucat, serta bola mata berwarna biru cerah yang memandangku polos. Aku terdiam kaku bersama dengan Hamon sementara ksatria yang juga menyaksikan ikut berbisik pelan. Anak perempuan yang sekarang memberikan pandangan yang lugu memiliki penampilan fisik yang sama denganku. Semua orang terkejut sekaligus bingung, begitu pula denganku.

Dia bergerak pelan, merangkak keluar dari dalam karung goni lalu berpijak dengan kedua kaki tanpa alas. Sembari merapatkan kedua tangan dia memiringkan kepala, menatapku dengan ekspresi bingung tanpa berkedip. Angin berhembus dan menerbangkan bagian bawah dress putihnya yang tipis dan kumal. Bagaikan sebuah takdir yang lucu, sebuah variabel lemah hadir di hadapanku.

Aku mendekat, menarik kembali pedang sebelum meletakkannya di lehernya, membiarkan dia merasakan ketakutan sebagai kerendahan hati yang kuberikan. Dengan suara rendah yang dingin, aku berkata, “Kau harus mati.”

Namun, anak itu sama sekali tak terlihat takut bahkan ketika darahnya telah menetes turun ke leher dan mengotori mata pedang. Dia tidak memberontak, tidak juga memohon untuk hidup, atau bahkan menangis. Dia hanya menutup mata, seolah pasrah dengan apa yang kulakukan selanjutnya. Sikapnya yang seperti itu memudahkanku untuk mengibaskan pedang, membunuhnya, tetapi yang kulakukan adalah memasukkan kembali pedangku ke dalam sarung dan berbalik.

“Kita berangkat sekarang.”

Aku segera menaiki kuda diikuti Hamon. Dari atas pelana yang kududuki, aku memandangnya untuk terakhir kali sebelum menghentakkan kaki kanan ke perut kuda dan bergerak maju melewatinya.

“Yang Mulia.” Hamon yang berada tidak jauh di belakangku bertanya, “Bagaimana dengan anak itu?”

“Biarkan saja. Dia akan mati dengan sendirinya.”

Aku memperlambat laju begitu melihat gerbang perbatasan dari kejauhan. Pengawal perbatasan segera mengumumkan pembukaan gerbang begitu melihatku dari kejauhan. Bersama dengan sinar matahari yang menusuk mata, pertemuan tidak sengaja tadi seolah sirna begitu saja digantikan dengan pemandangan bunga-bunga asters yang berwarna-warni di sepanjang jalan, menandakan musim panas di Adenium telah berlangsung.

***

Dinding kaca yang dilapisi sihir anti panas memantulkan sinar matahari masuk ke dalam ruang kerja, membuatnya sangat terang, tetapi sama sekali tidak membakar punggung saat duduk membelakanginya. Aroma tinta bersama dengan gerakan menulis menimbulkan gesekan antara permukaan kertas dan ujung pena yang saling beradu. Di tengah keheningan itu, suara dedaunan yang terkadang ditabrak angin masuk melalui ventilasi udara membuat suasana di ruangan ini terkesan damai dan sunyi selama beberapa saat sebelum butler memberitahukan kedatangan Duke of Astello.

“Faksi bangsawan mendesak kelanjutan pembicaraan yang sempat tertunda dua tahun lalu saat Yang Mulia harus ke medan perang.” Duke of Astello membuka suara. “Menurut mereka, hal ini sudah tidak bisa ditunda lagi mengingat Anda telah kembali membawa kemenangan bagi Adenium. ‘Hal baik akan diikuti dengan hal yang baik pula’, itulah yang mereka katakan, Yang Mulia.”

Aku meletakkan pena bulu di meja setelah membubuhkan tanda titik, lalu mendongak malas dengan punggung tangan yang menopang dagu. Dari semua tumpukan pekerjaan yang harus dilakukan, rapat dengar pendapat adalah hal yang paling membosankan, terutama untuk masalah ini.

Pembicaraan pewaris adalah hal yang lumrah dan topik paling sensitif yang sangat disukai oleh bangsawan karena pada kesempatan ini, apapun bisa menjadi titik balik kehidupan. Kekuasaan dan kekayaan yang akan diperoleh jika terpilih merupakan harapan setiap orang, termasuk para bangsawan itu. Namun, tidak ada gunanya memikirkan semua ini karena aku tidak tertarik pada wanita. Tetapi, susunan dan tatanan negara adalah persoalan lain.

“Kau cerewet juga.”

“Maafkan saya, Yang Mulia.”

Seluruh bangsawan biasanya akan mengikuti rapat dengar pendapat. Namun, kali ini Duke of Astello yang datang sendiri sebagai perwakilan. Aku memang menyuruh mereka mengadakan rapat dengan Duke of Astello dan Perdana Menteri sebagai representasi kehadiranku, lalu garis besarnya akan disampaikan oleh Duke of Astello secara langsung.

“Aku ingin menundanya sampai beberapa tahun lagi. Sekarang, kau kembalilah dan sampaikan keputusanku.”

Duke of Astello yang tidak mengiyakan akhirnya buka suara. Wajah teduhnya datar menyembunyikan emosi seperti biasa. Dia menatap lurus tanpa rasa takut. “Anda telah menunda pembicaraan penerus sebanyak tiga kali, Yang Mulia. Ini sudah saatnya Anda memikirkan persoalan ini dengan serius.”

Anak.

Itu adalah variabel merepotkan yang mau tidak mau harus kupikirkan dengan matang. Meski aku bisa dengan mudah menghilangkan nyawa seseorang yang mengganggu, tidak terkecuali bangsawan, aku tetap tidak bisa melakukannya sesuka hati karena aku juga membutuhkan mereka sebagai bawahan walaupun hampir semuanya adalah bawahan yang tidak berguna.

“Yang Mulia.” Duke of Astello memecahkan lamunanku. “Sehubungan dengan adanya desakan dari kelompok bangsawan yang mendukung Yang Mulia, saya mewakili mereka untuk memohon kepada Yang Mulia agar memikirkan kembali keputusan Anda.”

Ini mulai merepotkan.[]

1
Pengabdi Uji
Tau gk yg mulia ibu asli el itu saya lho🤭
Pengabdi Uji
Keknya elora itu bsa ngontrol bapaknya ya? Punya kekuatan sejenis apatuh
studibivalvia: nyembuhin lebih tepatnya kak 🤣 kekuatannya ntar dijelaskan di bab yg berikutnya tapi kayaknya masih agak lama ketahuan nya
total 1 replies
Alessandro
"hamon tidak mati kan?"
ya ampun.... elora
Alessandro
saripati darah dong, thor...
detil sekali penjelasannya
Laila Sarifah
Agak anomali Kaisar satu ini, masa anaknya disuruh lompat dari ketinggian😭
Alessandro: 🤣🤣🤣 aku jg gemes dr kmrn...
tp ya gmn lg terserah sang pemilik cerita 🤣
total 1 replies
Laila Sarifah
Mudahan dgn adanya Elora di samping Kaisar, hati Kaisar menjadi lebih lembut
Aruna02
😭😭sadis
Aruna02
iiiikh gumush bnget elola 🤣🤣
Sinchan Gabut
Lah... kmrin pingsan, skrg malah cengengesan liat bapaknya habis bantai penduduk desa. jd bokem kamu El? 🤔😆🤣
Sinchan Gabut
gemes bgt sama Elora... 😘
Pengabdi Uji
El apa dy calon calon bocil baddas nanti diajarin sma bapaknya?
Pengabdi Uji
Kan kata gua jg apa, ni bocil pasti dibawa org lucu bgini🤣🤣
Alessandro
agak lain bapak ini....
Alessandro
hati yang mulia keras juga ya.....
butuh siraman cinta agar lebih melunak
Laila Sarifah
Yang Mulia nggak mau kah cari siapa Ibu aslinya Elora😫
studibivalvia: nggak dong kak 😔
total 4 replies
Laila Sarifah
Ya jgn lah di bunuh anakmu sendiri Yang Mulia, nanti anda menyesal
Aruna02
😩😩😩nungguin bapak nya
Aruna02
babi nggak tuh 😭😭😭
Aruna02
jadi, elora beban ya yang mulia🙄
Pengabdi Uji
Pasti ujung ujungnya mah diajak kan? Gk tega kan ninggalin anak ny
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!