WARNING!!!!
BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN!!!
Mengisahkan dua orang pria dan wanita yang terlibat sebuah pernikahan tanpa cinta. Tetapi sama-sama saling membutuhkan pernikahan tersebut demi kepentingan masing-masing.
Menghadapi pria yang dingin dan kaku, Naja sering menahan sesak karena tindakan dan ucapan pria yang telah menjadi suaminya itu.
Sedangkan Excel, yang tidak pernah berhubungan dengan wanita selain Mikha, harus menyesuaikan diri dengan istrinya yang ceroboh dan pemarah.
Mampukah mereka mempertahankan pernikahan mereka?
Hanya cerita biasa ajah, hiburan semata!
Alur selow Yess ✌, no visual di dalamnya...visual di taro di igeh...
21+ AREA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jauh Di Lubuk Hatiku ... Terukir Namamu
"Lalu siapa yang kamu sukai, Nak?" lirih Kira. Wanita itu melemahkan dirinya. Berharap kelembutan mampu menembus dinding hati Excel yang begitu keras.
Excel tidak segera menjawab pertanyaan Mamanya, gemuruh di dadanya akibat ucapan Jen saja belum reda kini dia malah mendapati fakta baru bahwa selama ini Jen mengatakan omong kosong pada orang tua mereka.
Mikha ... adalah jawaban untuk pertanyaan itu. Tetapi layakkah hubungan tanpa kejelasan dengan Mikha disebut di sini?
Excel menghela napas, “Tidak ada Ma, Excel tidak menyukai wanita manapun!”
Jawaban Excel membuat hati Kira dan Harris sedikit kecewa. Lebih-lebih Kira. “Kenapa Sayang ...?" Kira menipiskan bibirnya. "Masih menunggu Mikha?”
Excel menggeleng.
“Iya Ma, Kakak masih mengharapkan Mikha.” Sahut Jen dengan cepat. Dia kesal sekali dengan kakaknya yang munafik. Jelas-jelas dia mengatakan tidak bisa melupakan Mikha, gerutu Jen dalam hati.
Kira begitu terperanjat mendengar penuturan Jen. “Benar itu Kak?”
"Kak ...." Bila Kira memanggilnya seperti itu artinya dia sedang dalam mode tegas.
“Enggak Ma, itu ngga bener!” mati-matian Excel menutupi semua ini dari Mamanya malah Jen dengan mudah membongkar rahasia yang begitu dalam dipendam. “Jen hanya asal ngomong.”
“Aku ngga asal kok, ini Naja juga mendengar sendiri waktu kakak bilang kalau sampai kapan pun Kakak tidak akan melupakan Mikha. Iya kan, Ja?” Jen menggebu-gebu.
Naja gelagapan saat mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Jen. Sungguh Naja tidak ingin terlibat lagi dalam pertikaian seperti beberapa waktu lalu. Tetapi sekarang, dia malah mengulangi kesalahan yang sama. Salah ketika dia memilih kembali ke sini hari ini.
“JA ...?” sekali lagi Jen mengulangi pertanyaannya. “Aku berkata jujur kan, Ja? Kau juga dengar kan kemarin?”
Naja mengerjap berulang, andai bisa memilih dia ingin lenyap saja saat itu juga. Pamit dan tidak pernah kembali. Naja tahu saat ini Excel sedang berada di ujung kemurkaan orang tuanya. Tetapi tatapan permohonan dari Jen juga tak bisa diabaikan begitu saja. "I-iya ....”
Jen tersenyum penuh kemenangan. “Alasan kenapa Kakak sampai tidak menyukai wanita manapun karena masih mengharapkan Mikha itu kembali ...,”
Excel seperti dibedah oleh Jen, dikeluarkan isi hatinya di hadapan kedua orang tuanya. Belum pernah Excel merasa buruk di depan mereka sebelum ini. Belum pernah dia menyembunyikan hal besar yang sudah diwanti-wanti sebelumnya.
“I-itu ngga bener ... aku-aku suka kok sama gadis lain ... dia ... dia,” Excel mengigit bibir, kelimpungan mencari seorang gadis yang bisa diajak bekerja sama.
“Siapa Cel? Mama ngga mau dengar alasan kamu mengapa masih menunggu Mikha, bukankah sudah jelas, Mikha meninggalkanmu ketika hari pertunanganmu sudah di depan mata? Apa seorang wanita baik akan bertingkah kurang ajar seperti itu bila bibirnya sudah bermanis-manis kata di depan Mama?” Kira meledakkan amarahnya. Wanita yang tampak kalem itu begitu marah hingga wajahnya memerah. Rasa malu bertahun lalu rasanya masih mengambang jelas di pipinya.
Excel menelan ludah. Seumur hidup baru kali ini Mamanya membentak dirinya. Mungkin kesabaran Kira sudah diambang batas. Tidak lagi bisa menahan semua itu lebih lama.
“Katakan pada Mama, siapa wanita itu Cel?” desak Kira dengan nada tinggi. Harris yang sebenarnya juga menahan geram, menarik istrinya perlahan. Menenangkan dengan mengusap lembut lengan Kira.
“Dia ... Naja Pa, Ma ....” Hanya satu nama itu yang terlintas di pikiran seorang Excel. Hanya nama itu yang tiba-tiba menggusur semua ingatan akan Mikha. Tapi ... Excel menggerus balik bayangan Naja. Menyangkal. Naja? Tidak ... bukan tipe Excel banget.
Bibir Naja menganga, ingin mengucap sesuatu tapi suaranya sudah terbirit-birit meninggalkan dirinya. Kelopak mata Naja melebar seakan manik matanya menyanggah ucapan Excel.
Dia ... bagaimana bisa dia?
Bukan hanya Naja, semua orang terkejut bukan main. Bagaimana bisa, Excel dan Naja memiliki hubungan khusus tanpa terendus? Jen bahkan menggulirkan tatapan tak percaya dan sedikit senang. Bahkan Tanna sudah meluruhkan seluruh tubuhnya, wanita itu bagai lelehan lilin, berserak tak tersisa.
Meraih tasnya dengan kasar, Tanna berlari keluar rumah tanpa pamit. Hatinya begitu sakit, oleh pria yang amat dicintainya dan sahabat yang menusuknya dari belakang.
Air mata Tanna menghambur tanpa bisa dicegah lagi. Wanita anggun itu menutup mulutnya agar tidak berteriak. Menekan luka di dadanya dengan tas tangan bertabur kelip permata. Entah mana yang harus didahulukan untuk ditangisi, cintanya? Sahabatnya? Atau rasa malu yang tak bisa disembunyikan di hadapan orang tua Excel.
"Tanna," teriak Jen dari sudut ruang tamu keluarga Dirgantara. Tanna menghentikan langkahnya sejenak, menyeka pipinya dengan kasar, lalu melangkah lagi dengan cepat.
"Tanna, tunggu!" Jen berlari secepat kilat menyambar lengan Tanna. Jen menarik Tanna hingga mereka berhadapan.
"Tanna, ini semua tidak seperti yang kau pikirkan!" Jen membingkai pipi Tanna yang basah dengan kedua telapak tangannya.
Tanna yang semula memejam dengan air mata berderai, kini menatap Jen dengan sayu. "Lalu seperti apa, Jen? Semua sudah jelas, apa selama ini kau tidak tahu? Atau kau juga menyembunyikannya dariku? Kau sengaja membuatku malu di depan Excel, benar kan?"
"Tanna ..." lirih Jen di sela tangisan Tanna yang terdengar begitu pilu. Jen mengusap rambut Tanna dengan lembut, dia juga bingung dengan keadaan ini.
"Tanna, aku tak tahu mengapa bisa jadi seperti ini, tapi, sungguh!" Jen menekan bahu Tanna dengan erat, "aku tidak pernah bermaksud buruk padamu! Kau harus tahu, Naja juga pasti tidak mungkin sengaja melakukan ini."
"Sudahlah Jen!" Tanna meluruhkan tangan Jen, hatinya sungguh sakit mengingat kejadian barusan. Apalagi saat Naja disebut, amarahnya tersulut. "Jangan mengatakan apapun saat ini, aku lelah. Biarkan aku pulang!"
"Tanna, biar supir mengantarmu, ya! Jangan mengemudi saat kau sedang kalut! Kau bisa celaka!" Tapi sepertinya Tanna tak peduli, dia berlalu begitu saja menuruni undakan depan.
Jen masih mengejar Tanna hingga Tanna membuka pintu mobilnya.
"Tanna..." teriak Naja dari ambang pintu. Wanita itu membeku, saat bersitatap dengan Tanna yang menghujamkan pandangan tajamnya ke arah Naja.
Tanna menghentak pintu mobil dengan sangat keras sehingga membuat Jen dan Naja meringis. Begitu kencang, Tanna melajukan mobilnya meninggalkan halaman luas nan asri pun sepi ini.
"Semoga Tanna baik-baik saja!" Jen terlihat khawatir dengan keadaan temannya itu, hingga tanpa sadar dia meremas jemarinya.
"Jen, maafkan aku!" Lirih Naja di belakang Jen. "Aku ... aku tidak tahu mengapa Kakakmu mengatakan itu. Aku ... aku sungguh tidak memiliki hubungan apapun dengan dia."
Naja menyeka air matanya dengan kasar. Menengadahkan wajah agar air matanya mau berhenti. Entah apa salahnya hingga harus seperti ini. Apa dirinya hanya sebuah lelucon bagi Excel hingga dia dengan mudah menyebut namanya di depan kedua orang tuanya?
Jen menghela napas, dia berbalik dengan perasaan sungkan. Ditatapnya lekat-lekat gadis berusia 23 tahun itu. Gadis lugu yang amat dipercayainya.
"Ini bukan salahmu, Ja!" Jen mengulurkan tangannya menggapai lengan Naja yang berbalut kain hingga sampai siku. "Ini salahku kerena terlalu bersemangat menjodohkan mereka! Salahku karena aku memberi Tanna harapan palsu bahwa Kakak akan takluk di hadapannya."
Naja menatap Jen lekat penuh permohonan, "Jen, aku tak tahu apa maksud Kak Excel padaku. Aku juga sama bingungnya dengan kalian! Ku mohon percaya padaku, tolong bilang sama Tuan dan Nyonya kalau kak Excel tidak serius dengan ucapannya."
"Sudahlah, kita pikirkan lagi semuanya besok. Mama dan Papa pasti bingung jika kamu menyangkalnya sekarang. Yang ada malah kalian dapat masalah baru." Jen hanya menduga saja. Otaknya berputar sangat cepat hingga membuatnya pusing. Kesalahan paling telak sebenarnya ada padanya.
"Tapi Jen—"
Jen membungkam Naja dengan telunjuknya. "Sssttt ... diamlah! Aku pusing sekarang, bagiku tak masalah kau atau Tanna yang menjadi kekasih kakakku, aku menyukai semuanya. Dan kau pasti akan jadi kekasih yang cocok untuk Kak Excel!"
Naja membelalak lebar, "Kau ini ngaco ya, Jen! Bisa-bisanya kau malah mendukung Kakakmu? Dengan Tanna saja tidak mau, apalagi sama aku?"
"Aku malah suka kalau kamu yang jadi iparku, kita bisa seru-seruan tiap hari!" Jen terkekeh.
Naja merengut, tapi Jen mengabaikannya. Malah merangkul Naja masuk ke rumah lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻