NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Jejak yang Tertinggal

Satu tahun telah berlalu sejak helikopter Profesor Darmono mendarat di pelataran Markas Besar Kepolisian. Navasari kini bukan lagi sekadar desa di pelosok; ia telah menjadi fenomena global. Namun bagi Arum, kejayaan itu hanyalah deretan angka di atas kertas jika tidak diiringi dengan ketenangan jiwa.

Pagi itu, Arum berjalan menuju makam ibunya di pinggiran hutan pinus. Makam itu sederhana, namun kini dikelilingi oleh bunga-bunga liar yang tumbuh subur. Ia meletakkan sebuah buku kecil di atas nisan laporan tahunan pertama BUMDes Navasari yang mendapatkan opini "Wajar Tanpa Pengecualian" dari lembaga audit internasional.

"Auditnya sudah selesai, Bu," bisik Arum. "Semua hutang sejarah sudah dilunasi."

Namun, langkah Arum terhenti saat ia melihat sosok wanita berdiri di bawah pohon kamboja besar tak jauh dari sana. Wanita itu mengenakan syal tebal untuk menutupi sebagian wajahnya. Sekar.

"Aku pikir kau sudah pergi ke luar negeri dengan identitas baru," ujar Arum tanpa rasa terkejut.

Sekar mendekat, matanya menatap makam kakaknya dengan sendu. "Aku tidak bisa pergi sebelum memberikan ini padamu. Ini adalah potongan terakhir dari 'Operasi 1995' yang selama ini kusembunyikan, bahkan dari Darmono."......

Sekar menyerahkan sebuah kunci digital berbentuk kristal kecil. "Di dalamnya ada data tentang deposit mineral serupa di lima desa lain di negeri ini. Darmono bukan satu-satunya predator, Arum. Dia hanya yang paling sombong."

Arum menerima kristal itu, merasakan beban berat kembali hinggap di pundaknya. "Kau ingin aku memulai perang lagi?"

"Tidak," Sekar menggeleng. "Aku ingin kau mendidik 'Arum-Arum' baru di desa-desa itu. Kirimkan anak-anak muda Navasari untuk mengajari mereka cara membangun benteng hukum seperti yang kau lakukan di sini. Jadikan Navasari sebagai guru, bukan sekadar pemilik harta."

Arum menatap kristal di tangannya, lalu menatap ke arah desa Navasari di bawah sana. Ia melihat Marno sedang memandu rombongan mahasiswa yang datang untuk belajar tentang sistem ekonomi berbasis komunitas. Ia melihat Baskara sedang tertawa bersama para petani di pematang sawah.

Arum menyadari bahwa misinya belum benar-benar berakhir. Navasari bukan tujuan akhir, melainkan sebuah purwarupa (prototype) untuk keadilan yang lebih luas.

Sore harinya, Arum duduk di ruang kerjanya yang baru di menara desa. Ia membuka laptopnya dan mulai mengetik baris kode pertama untuk jaringan komunikasi antar-desa yang aman dari peretasan korporasi.

"Mas," panggil Arum pada Baskara yang baru masuk membawa segelas jus jeruk. "Sepertinya kita harus menyiapkan anggaran untuk perjalanan dinas panjang tahun depan."

Baskara tersenyum, seolah sudah menduga jawaban itu. "Ke mana tujuan kita, Rum?"

"Ke mana pun ada ketidakadilan yang perlu diaudit," jawab Arum mantap.

Di layar laptopnya, sebuah peta digital Indonesia mulai berpendar di lima titik baru. Arum menyesap jusnya, matanya berbinar dengan kecerdikan yang sama yang telah meruntuhkan sebuah dinasti korupsi. Bagi Arum, hidup adalah sebuah audit yang berkelanjutan dan ia tidak akan berhenti sampai setiap neraka ketidakadilan berubah menjadi surga transparansi.

Lampu-lampu di menara desa Navasari mulai menyala satu per satu, membentuk formasi cahaya yang kontras dengan kegelapan hutan di sekelilingnya. Arum masih memegang kristal digital dari Sekar, memutar-mutarnya di antara jemarinya yang ramping.

"Sekar," panggil Arum saat bibinya itu hendak berbalik pergi ke kegelapan hutan. "Kenapa sekarang? Kenapa memberiku beban ini saat aku baru saja mulai bernapas lega?"

Sekar berhenti, namun tidak menoleh. "Karena hanya orang yang sudah merasakan beratnya beban yang tahu cara membawanya tanpa terjatuh. Darmono jatuh karena dia tidak merasa terbebani oleh moral. Aku memberikan ini padamu bukan sebagai hukuman, tapi sebagai amanah."

Setelah Sekar menghilang di balik pepohonan pinus, Arum kembali ke kantornya. Ia memasukkan kristal itu ke dalam port laptopnya. Seketika, layar monitornya dipenuhi oleh data geospasial yang sangat detail.

Data itu menunjukkan bukan hanya lokasi lithium, melainkan cadangan nikel, kobalt, dan thorium yang tersembunyi di bawah desa-desa miskin lainnya. Di setiap titik, terdapat nama perusahaan cangkang yang berbeda-beda, namun semuanya memiliki satu benang merah: Pola investasi yang identik dengan cara kerja Darmono.

"Mas," Arum memanggil Baskara yang sedang asyik memeriksa laporan panen warga di meja sebelah. "Lihat ini. Ini bukan sekadar kasus korupsi lokal. Ini adalah desain besar untuk memiskinkan desa secara sistematis agar sumber dayanya bisa dikeruk tanpa perlawanan."

Baskara mendekat, keningnya berkerut melihat peta yang berpendar merah itu. "Jadi, Darmono hanya salah satu dari banyak 'Darmono' lainnya?"

"Tepat. Dan Navasari adalah satu-satunya yang berhasil memutus rantai itu," Arum berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah desa. "Kita tidak bisa diam saja sementara desa-desa lain ini sedang menuju jurang yang sama dengan kita dulu."

Arum mengambil buku catatannya, menuliskan sebuah konsep baru: "Navasari Institute: Audit untuk Kedaulatan Desa."

"Mulai besok, kita akan mengundang perwakilan dari lima desa ini. Kita tidak akan memberi mereka uang. Kita akan memberi mereka 'senjata'," Arum menatap Baskara dengan binar mata yang penuh tekad.

"Senjata apa, Rum?"

"Pengetahuan hukum, sistem transparansi digital, dan keberanian untuk berkata 'tidak' pada kontrak yang tidak adil. Kita akan membangun aliansi desa-desa cerdik," jawab Arum.

Malam itu, Arum tidak tidur. Ia mulai menyusun kurikulum audit untuk para pemuda desa. Ia menyadari bahwa warisan ibunya bukan hanya map merah atau rahasia sumur tua, melainkan semangat untuk menjadi "mata" bagi mereka yang selama ini dibutakan oleh kemiskinan.

Navasari kini benar-benar telah melampaui batas-batas desanya sendiri. Ia telah menjadi sebuah ide. Dan seperti yang Arum ketahui dari dunia audit, sebuah angka bisa dihapus, sebuah dokumen bisa dibakar, tapi sebuah ide yang sudah meresap ke dalam hati rakyat adalah aset yang tidak akan pernah bisa disita oleh siapa pun.

Di kejauhan, fajar mulai menyingsing. Cahayanya menyentuh ujung menara desa, memantulkan harapan baru bagi setiap jengkal tanah yang selama ini terabaikan. Arum menutup laptopnya, tersenyum pada matahari yang terbit, dan bersiap untuk audit terbesar dalam hidupnya: Mengaudit masa depan sebuah bangsa, mulai dari desa.

1
Wanita Aries
seruuu thor
Wanita Aries
mampir thorrr
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!