NovelToon NovelToon
So Fever Together Him

So Fever Together Him

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Konflik Rumah Tangga-Pembalasan dendam / Bayi imut / Tamat
Popularitas:71.5k
Nilai: 5
Nama Author: kulid

Memet dan Bety telah menikah. Dan mereka menikmati kehebohan menjalani bahtera rumah tangga karena menikah muda.

Keduanya kerab kali cek-cok mempermasahkan hobi Memet yang suka main game online.
Sementara Bety, ia sangat kesal diabaikan oleh suaminya itu.

Suatu ketika Bety membuat rencana, memberi obat pada minuman Memet, sehingga lelaki itu mabuk tak sadarkan diri.
Bety memutuskan untuk pergi meninggalkan Memet setelah malam pertama mereka.

Tak ada angin tak ada hujan, di saat Memet pusing memikirkan istrinya, sembilan bulan kemudian tiba-tiba saja orang mengantarkan bayi laki-laki kepadanya. Orang itu mengatakan kalau Bety telah meninggal setelah melahirkan anaknya.
Lima tahun kemudian Bety kembali dari luar negeri. Ia menyamar dengan dua anak kecil berumur lima tahun.
Ia melakukan itu untuk menghindari Memet, ia yakin kalau Memet masih marah kepadanya karena telah berani membohonginya.
Tetapi penyamarannya terbongkar, ia ketahuan oleh Memet, hingga membuat lelaki itu murka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kulid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kesayanganku

Memet mengeluarkan ponselnya tetapi layarnya mati. Ia tergagap tidak percaya melihat Bety yang menatapnya mengejek.

“Apa? Mengapa kau juga meniru nada dering ponselku?” kata Memet menggertak, membuat Bety terdiam beberapa saat.

Telepon itu terus berdering dan Memet membentak bety dengan tidak sabar.

“Angkat teleponnya!”

Bety mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar dan melihat nama penelepon “Kesayanganku” mencoba menghubunginya. Pada saat itu Bety terkejut hingga ponsel itu terjatuh dari tangannya.

Bety panik dan membungkuk untuk mengambil ponsel, tetapi tangan Memet lebih dahulu merebutnya.

“Kesayanganku?” kata Memet membaca nama kontak si penelepon dan ia tersenyum mencemooh.

Bety sangat cemas. Ia sangat khawatir kalau Memet akan menjawab telepon dan mengetahui keberadaan putranya yang lain, Celo.

Seperti dugaan Bety, Memet mengangkat telepon itu tanpa ragu-ragu. Dengan cepat Bety melompat dan menabrak tubuh Memet. Ia segera merebut telepon nya dan buru-buru berteriak pada Celo di seberang telepon.

“Tolong aku!” kemudian, ia menutup telepon dengan secepat mungkin.

“Minta pertolongan?” kata Memet dengan nada sarkas.

“Aku penasaran dengan kesayanganmu itu. Baiklah, aku akan menantikan kekasihmu itu untuk menyelamatkanmu dariku!”

Bety mengedipkan bulu matanya dengan perasaan sedih. Ia berharap dalam hati, apakah anaknya Celo akan datang sekarang setelah mendengarnya menangis meminta tolong.

Apakah ia akan menghubungi polisi?

Jika ia tahu kalau ibunya berada dalam bahaya sekarang, dan apakah ia akan sanggup untuk menjaga adiknya, Celine?

“Bety, aku akan memberi waktu satu hari untuk kekasihmu menyelamatkanmu,” kata Memet tiba-tiba.

“Jika kalian bisa melarikan diri dari sini, maka aku akan membiarkan masalah ini berlalu. Kalau tidak….” Mata Memet menyala dengan nyala api yang membara.

Bety menggigil dan suaranya bergetar karena ketakutan. “Kalau tidak, apa?”

"Kalian berdua bisa pergi ke neraka bersama-sama,” kata Memet dengan  kejam.

Memet mengambil pisau buah di lantai. Sudah ada garis merah darah beku di wajah Bety. Memet melangkah dengan sengaja ke arahnya, dengan pisau di tangannya.

Bety menutupi wajahnya dan berteriak putus asa.

“Memet, kalau kau membunuhku, putra kita akan membencimu selamanya!”

Pisau buah yang dipegang Memet jatuh ke lantai dengan suara berisik. Tiba-tiba, suara Aley bergema berulang kali di kepalanya: “Aku ingin ibu! Aku ingin ibu!”

Aley tidak pernah menjadi anak yang cerewet di tahun-tahun awalnya, tetapi tiga dari lima kali ia  membuka mulut, ia hanya mengucapkan kata-kata itu. Ia bahkan mengucapkan kata-kata itu ketika bermimpi di tidurnya.

Ketika ingatan itu membanjiri kepala Memet, ia dengan kesal melemparkan pisaunya ke samping, tetapi amarah yang membanjiri dirinya belum reda.

“Bagaimana bisa kau memenuhi syarat untuk menjadi ibunya?” Memet mendesis, “Apa yang telah kau lakukan untuknya dalam lima tahun terakhir?”

Bety mulai menangis, tuduhan yang menyedihkan dari mulut Memet mengoyak hatinya.

“Tidak ada ibu di dunia yang akan meninggalkan anaknya,” isaknya.

“Jika tidak ada alasan yang kuat, aku akan kembali menemuinya sejak dulu!”

“Kau adalah wanita yang kejam dan pengecut!” geram Memet.

Bety bisa saja memperdebatkan hal itu. Ia telah membuat keputusan yang menyedihkan dengan meninggalkan anak pertamanya untuk bisa memberikan kesempatan kepada dua bayi lainnya untuk mendapatkan masa depan yang cerah. Selain itu, ia tahu bahwa bayi pertamanya juga akan tubuh dengan baik jika diasuh oleh keluarga Memet.

Namun, itu adalah kesedihan yang tidak pernah bisa ia ceritakan kepada siapapun.

“Ya, aku pengecut,” Bety mengerang, mengesampingkan harga dirinya dan menanggung penghinaan demi kelangsungan hidupnya.

Memet mengangkat Bety dan mendorongnya dengan kasar ke bawah meja. Ia melepas dasi birunya dan mengikat tangan Bety ke kaki meja. Setelah itu, ia mengambil kain lap dari meja dan memasukkannya ke dalam mulut Bety.

Yang bisa dilakukan Bety hanyalah terus menyerang Memet dengan kedua kakinya yang tidak diikat. Sayangnya, perjuangannya sia-sia karena perbedaan kekuatan Memet lebih besar.

Melihat Bety yang sudah tidak bisa bergerak, Memet menyeringai.

“Bety, jujurlah padaku,” kaki Memet menendang dengan keras kaki kecil Bety yang tergeletak.

Merasakan kepuasan sesaat, Memet lalu dengan santai mengeluarkan ponselnya dan menelepon anak laki-lakinya. Ia meninggalkan Bety dengan rambutnya yang acak-acakan, pakaiannya sobek, dan kakinya yang awalnya putih bersih dipenuhi dengan memar.

Bety menatap Memet dengan marah dan mengeluarkan rengekan teredam dari mulutnya yang tersumbat. Tetapi, ia tidak menangis atau semacamnya.

Jeritan yang tak terdengar  sebenarnya adalah umpatan dan makian untuk Memet. Ia menyumpahi bahwa Memet akan tertabrak truk jika ia di jalan nanti, ia akan ditelan tsunami jika pergi ke laut dan mengalami tornado jika ia naik pesawat.

“Dasar laki-laki kadal! Apa dia tidak mengaca dulu sebelum bekerja? Upilnya yang sebesar kelingking sangat menjijikan.”

Umpatan Bety tertahan di saat suara anak kecil yang tenang bergema di telepon Memet.

“Ayah!”

Bety terdiam. Suara itu? suara bayi kecilnya yang telah ia tinggalkan dulu. Tiba-tiba mata Bety memerah menahan genangan air mata, menatap pada ponsel Memet.

Memet memandang Bety dengan jijik. Kemejanya menjadi longgar setelah ia melepas dasinya, memperlihatkan leher seksinya.

Bety sebenarnya sedang menatap telepon, tetapi dari sudut pandang Memet, sepertinya Bety sedang menatap garis lehernya.

Betapa narsisnya Memet di saat itu menganggap Bety terpesona kepadanya. Memet jadi mengingat malam kejadian lima tahun yang lalu.

Tiba-tiba wajah Memet masam menatap Bety dengan dingin.

“Kalau tidak ada yang penting, jangan telepon aku. Aku sibuk,” Aley berkata dengan dingin setelah Memet terdiam lama.

Tepat ketika Aley hendak menutup telepon, Memet, yang sangat mengenal putranya, berkata dengan santai, “ Buat makan siangmu sendiri hari ini.”

“Tidak mau!”

Kata-kata itu menutup panggilan telepon, sebelum akhirnya berbunyi klik dan kemudian berubah sunyi. Wajah Memet yang tampan tiba-tiba saja berubah lebih murka.

Di antara banyak manusia yang ia kenal, hanya Aley yang berani menutup telepon darinya. Sejujurnya, Memet juga tidak terlalu tahu bagaimana caranya mengurus anak. Memet menghelakan napas yang hampir tak terdengar ketika jam dinding mendentangkan waktu yang baru.

Tidak ada yang pernah menyangka bahwa Memet yang berwibawa dan terhormat harus dipaksa pulang ke rumah tepat waktu hanya memasak  untuk anaknya. Malah kejadian itu berlangsung selama lima tahun ke belakang.

Aley memiliki banyak kebiasaan dan tidak mengizinkan wanita manapun untuk memasuki rumah mereka. Ia juga dikenal karena mewarisi sifat ayahnya yang obsesif.

Dan yang lebih parah lagi, Aley tidak pernah memakan makanan yang disiapkan oleh orang lain selain ayahnya. Alasannya sederhana. Masakan orang lain tidak enek.

Jika ada yang bertanya kepadanya apa yang menurutnya kurang dari makanan itu, ia akan memutar matanya dan menjawab, “Rasa cinta ayahku.”

Jadilah setiap hari Memet harus buru-buru pulang satu jam sebelum istirahat makan siang. Ketika ia harus melakukan perjalanan bisnis, ia akan menyiapkan terlebih dahulu makanan untuk putranya dan menyimpannya di lemari es.

Memet dulu berpikir bahwa mengajari Aley cara memasak pasti akan menyelesaikan masalah. Aley adalah seorang anak yang berbakat dengan IQ yang tinggi, tetapi ia tidak menampilkan bakatnya dalam  memasak.

Memet secara pribadi telah mengajari putranya berkali-kali, tetapi hidangan yang dibuat Aley selalu berakhir ke dalam tempat sampah karena tidak bisa dimakan.

Akhirnya, setelah beberapa pertengkaran ayah dan putranya, Aley dengan enggan berkompromi dan setuju untuk menerima makanan yang dimasak oleh neneknya.

Harus menjaga anak yang berkepribadian sombong dan tidak normal, membuat Memet merasa agak sedih. Ia melirik ke arah wanita yang diikat di meja dan amarah yang baru saja padam, menggelembung lagi.

Jika bukan karena wanita licik ini, mungkin hidupnya akan terhindar dari banyak kesulitan. Memet tahu ia bukanlah lelaki yang sempurna. Masalah kecil dalam hidupnya bisa ia tangani, tetapi…

“Bety.” Memet melangkah mendekati Bety dan berjongkok di sampingnya.

Memet melepas kain dari mulut Bety dan berkata dengan nada jahat, “ Kau beruntung. Aku akan pergi sebentar, jadi kau lebih baik berdoa agar kekasihmu bergegas untuk menyelamatkanmu. Maaf, kalau kau masih di sini saat aku kembali, kau bisa menantikan kematian yang mengerikan!”

“Dasar baji…” Bety mulai berteriak, tetapi tarikannya terhenti di saat tangan Memet menyumpal kembali mulutnya dengan kain.

Memet berdiri dan mengambil kunci mobilnya dari atas meja kayu dan kemudian ia bergegas pergi.

Bety mendengarkan Memet memerintahkan pengawalnya di luar pintu.

“Kalian boleh pergi. Tidak ada yang boleh membuka kunci pemindai sidik jari. Kalian bisa kembali ke bawah. Aku pulang dulu.”

“Baik pak.”

 

 

1
Dhina ♑
Ceritanya cukup menarik, tulisannya rapi.
ayo promo thor, jangan biarkan karya anda terbengkalai
Dhina ♑
di rate & like dulu
Dhina ♑
🎆🎇🎆🎇🎇🎇
Dhina ♑
👰👰👰
Dhina ♑
💃💃💃
Dhina ♑
🎉🎉🎉
Dhina ♑
😍😍😍🤣🤣🤣
Dhina ♑
😘😘😘👻👻
Dhina ♑
👻👻👻
Dhina ♑
👍👍👍👍
Dhina ♑
😱😱😱😱
Dhina ♑
🎉🎉🎉🎉
Dhina ♑
👌👌👌👌
Dhina ♑
💏💏💏💏💏
Dhina ♑
🥀🥀🥀🥀
Dhina ♑
👍👍👍
Dhina ♑
hfod58rugnvkhdtdy
KULID
aku senang loh, tiap hari kamu selalu hadir 😄
KULID
oke. jangan bosan hadir di sini 😊
KULID
keren bgt pantunnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!