Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.
Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.
Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.
Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Complicated Couple (19) Tragedi
Seminggu berlalu namun kondisi mama masih belum menunjukkan peningkatan. Setiap hari Poppy selalu berada di rumah sakit menemani mama. Irzal sendiri mulai fokus pada pekerjaannya di yayasan dan persiapan pendirian perusahaan.
Irzal baru saja selesai menyelesaikan pekerjaannya di yayasan. Waktu sudah pukul sepuluh malam. Dia segera memacu mobilnya menuju rumah sakit untuk menjemput Poppy. Irzal menghentikan mobilnya di depan sebuah mini market yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah sakit. Dia hendak membeli cemilan untuk Dimas.
Irzal turun dari mobil dan berjalan menuju mini market. Di depan pintu masuk dia bertemu dengan seseorang yang tak ingin ditemuinya lagi, Della. Mereka berpapasan, Irzal hanya tersenyum kecil dan terus berjalan. Namun suara Della menahannya.
“Zal, bisa kita bicara?”
Irzal membalikkan badannya.
“Sepertinya ngga ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita,” suaranya begitu dingin.
“Ada Zal, kalau aku ngga bicara, itu akan menjadi penyesalan seumur hidupku, aku mohon.”
Melihat Della yang begitu memelas, Irzal menuruti. Mereka menuju meja yang disediakan mini market lalu duduk berhadapan, Della belum berbicara. Dia terus saja memandangi lelaki tampan ini. Irzal merasa tak nyaman dengan tatapan Della.
“Mau bicara apa?” tanya Irzal tanpa basa-basi. Della tersenyum. Irzal masih seperti itu, selalu to the point.
“Aku mau minta maaf karena dulu menghilang tiba-tiba.”
“Aku udah maafin kamu. Itu aja?”
“Alasanku sebenarnya meninggalkan kamu..”
“Udah ngga penting Del. Apapun alasannya, itu semua masa lalu dan sekarang aku sudah menikah, jadi itu semua udah ngga berarti lagi,” Irzal langsung memotong ucapan Della. Della terdiam, hatinya terasa sakit, sikap Irzal begitu dingin.
“Banyak hal yang kamu ngga tau tentang aku, termasuk aku yang pecandu narkoba. Setelah bertemu denganmu, aku ingin berubah menjadi lebih baik, aku benar-benar ingin keluar dari lingkaran setan itu. Dan saat kamu melamarku, aku merasa sangat bahagia, tapi itu ngga bertahan lama. Sehari setelah itu, dokter memvonisku terkena HIV. Aku bingung saat itu, di satu sisi aku sangat mencintai kamu dan ingin menikah denganmu, tapi di sisi lain aku ngga mau kamu terjebak bersamaku. Aku ngga mau kamu tertular penyakit terkutuk ini, walau berat aku memutuskan untuk pergi.”
Della berhenti bicara, matanya berkaca-kaca. Irzal tak bereaksi, dia hanya diam. Della kembali berbicara.
“Saat bertemu denganmu lagi aku sangat senang sekaligus kecewa karena kamu sudah menikah. Tapi pertemuan kedua kita dan sekarang terjadi tanpa disengaja, itu membuatku merasa mempunyai harapan lagi, apa benar di antara kita sudah benar-benar usai? Apa masih ada perasaan cinta untukku?”
“Siapa bilang aku ngga tahu tentang kamu? Aku tahu tentang kamu, keluargamu, teman-temanmu dan soal kamu menggunakan narkoba, aku juga tahu. Tempat rehabilitasi yang kamu datangi dibiayai oleh yayasan kami, mana mungkin aku ngga tahu soal kamu.”
Della terhenyak mendengarnya.
“Setelah tahu, kamu masih ingin menikah denganku. Sebesar itukah cintamu?”
Irzal tersenyum tipis.
“Jujur aku ngga tau yang aku rasakan saat itu, apakah itu cinta atau karena egoku. Sebagai lelaki aku merasa tertantang untuk mengubahmu menjadi sosok yang lebih baik, seperti yang selalu abi ajarkan padaku. Tapi apapun itu, semua adalah masa lalu, buatku itu bukan hal penting lagi. Aku bersyukur kamu meninggalkanku. Bukan karena aku terhindar penyakit berbahaya. Tetapi karena akhirnya aku bisa bertemu dengan wanita terbaik yang menjadi bagian hidupku saat ini. Yang kurasakan sekarang berbeda dengan yang kurasakan padamu dulu. Perasaanku padanya lebih kuat dan dalam, aku sangat mencintainya. Itu jawabanku atas pertanyaanmu.”
Della terdiam, hatinya seperti ditusuk seribu sembilu. Dia mengepalkan tangannya, menahan rasa sedih dan marah.
“Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, aku pergi, Poppy sudah menungguku.”
Irzal berdiri dari duduknya, sedang Della masih terdiam. Dia berjalan menuju mobilnya. Dari arah kiri dia melihat sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi. Di sebuah persimpangan yang tak jauh dari tempatnya berdiri muncul sebuah mobil. Mobil itu menghantam keras motor saat melintasi persimpangan. Pengemudi motor terlempar beberapa puluh meter ke depan lalu jatuh menghantam aspal. Irzal terhenyak melihat kejadian di depannya, sesaat dia hanya terdiam. Begitu pula Della, lamunannya buyar ketika mendengar suara tabrakan keras.
Irzal yang tersadar segera berlari ke arah korban. Lalu dia melihat pengemudi mobil dan seorang temannya turun menghampiri korban. Namun hanya beberapa saat mereka langsung pergi lagi. Irzal berusaha menahan kepergian mereka, namun mereka langsung memacu mobilnya. Irzal berlari ke arah korban, darah nampak merembes keluar dari sela-sela helmnya. Della datang menghampiri, beberapa orang yang melintas ikut menghampiri.
“Pak, tolong pegang lehernya,” ucap Irzal pada seorang pria di dekatnya. Pria itu segera memegang leher korban, perlahan dia membuka helm orang tersebut. Korban adalah seorang lelaki muda berusia dua puluh tahunan.
Irzal meletakkan telunjuknya di depan hidung korban, lalu menempelkan tangannya di pergelangan tangan korban. Denyut nadinya masih ada walau lemah. Terlihat ada pecahan kaca tertancap pada bagian kiri atas perut. Darah mulai merembes keluar membasahi pakaian pemuda itu. Irzal segera berlari menuju mobilnya, menjalankan mobil lalu berhenti di dekat korban. Kemudian membuka pintu belakang.
“Pak tolong bantu masukkan ke dalam mobil.”
Irzal bersama dua orang lainnya segera menggotong korban dan memasukkannya ke dalam mobil. Tak lama dia menutup pintu, lalu masuk ke mobilnya, Della ikut naik ke mobil.
“Aku ikut,” ucapnya.
Tanpa berkomentar Irzal segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempat Dewi dirawat. Lima menit kemudian dia sampai dan langsung menghentikan mobilnya di depan IGD. Irzal turun dari mobil, berlari ke dalam IGD memanggil perawat. Tak lama dia keluar bersama dua orang perawat pria dengan membawa blankar. Dengan cepat mereka mengeluarkan korban dari mobil dan membawanya masuk.
Beberapa dokter langsung memberikan pertolongan pertama pada korban. Irzal berdiri tak jauh dari ruang tindakan. Tak lama Della menghampirinya. Dia melihat tangan Irzal yang berlumuran darah.
“Zal, tangan kamu.”
Irzal melihat tangannya, lalu menuju toilet untuk membersihkan tangannya. Tak lama Irzal kembali, seorang dokter yang selesai memeriksa berjalan menuju meja perawat.
“Suster siapkan ruang operasi dan hubungi dokter Regan, ada operasi darurat.”
Usai memberikan perintah dia kembali memeriksa korban. Irzal berjalan mondar-mandir, lalu mengambil ponselnya menelpon Agung. Dia melaporkan kecelakaan yang baru saja terjadi. Seorang perawat menghampirinya.
“Maaf, bapak keluarga korban?”
“Bukan sus, saya kebetulan ada di lokasi kecelakaan.”
“Oh begitu, bisa tolong ikut saya sebentar pak.”
Irzal mengikuti perawat tersebut menuju meja pendaftaran pasien IGD. Della tak berhenti mengikutinya. Irzal mengisi beberapa lembar formulir. Dia meletakkan ponselnya di meja. Tak lama datang dua orang petugas polisi, mereka langsung menemuinya. Irzal berbicara serius dengan mereka.
Della masih mengawasi di dekat meja perawat. Tiba-tiba ponsel Irzal bergetar. Ada panggilan masuk dari Poppy. Sejenak Della terdiam, lalu dia mengambil ponsel Irzal dan berjalan menjauh dari meja perawat.
“Halo,” Della menjawab panggilan Poppy.
“Halo.. ini dengan siapa?”
“Ini aku Della.”
“Kenapa hp a Irzal ada sama kamu? Dimana a Irzal?”
“Dia sedang mandi, nanti kamu tanyakan saja sama Irzal apa yang dia lakukan bersamaku. Itu juga kalau dia mau jujur sama kamu.”
Della segera memutuskan hubungan, lalu menghapus riwayat panggilan dari Poppy dan mematikan ponsel. Sambil tersenyum licik Della berkata dalam hati.
Aku akan menjadi badai dalam pernikahan kalian, kita lihat saja sejauh mana kalian bisa bertahan.
Della kembali ke dekat meja perawat. Saat akan meletakkan ponsel di meja, dia melihat Irzal keluar bersama dua orang polisi tadi. Della mengikuti mereka keluar.
Della terus menjaga jarak dari Irzal dan terus memperhatikannya. Setelah menunjukkan lokasi kecelakaan Irzal kembali ke rumah sakit. Baru saja dia memasuki pelataran parkir tiba-tiba seorang pria menghadangnya.
“Siapa kamu?” tanya Irzal. Pria tu tidak menjawab, tak lama datang lagi seorang pria dan langsung memukul tengkuknya. Irzal jatuh pingsan. Kedua pria itu segera memasukkan Irzal ke dalam mobil dan membawanya pergi.
Della terkesiap melihatnya. Dia segera berlari menuju Irzal, namun terlambat mobil itu telah melaju pergi. Della lalu melihat sebuah mobil memasuki pelataran parkir. Dia langsung berdiri mencegat mobil tersebut. Seketika pengemudi yang tak lain adalah Agung menginjak rem. Sambil menurunkan kaca mobil, dia menghardik Della.
“Heh, kamu sudah gila ya!” hardik Agung.
Della langsung menghampirinya.
“Pak, tolong saya, teman saya diculik. Itu mobilnya baru aja keluar rumah sakit,” ucap Della panik sambil menunjuk Xenia hitam yang sedang melewati pintu keluar.
“Ayo masuk!”
Della segera masuk ke dalam mobil. Agung langsung tancap gas mengejar mobil tersebut. Dia berusaha mengejar mobil tersebut, namun tertahan di sebuah lampu merah. Setelah lampu berubah hijau, mobilnya kembali melaju kencang. Dari jauh mobil tersebut masih terlihat, tapi sesampainya di persimpangan jejaknya menghilang. Setelah berpikir sejenak, Agung memilih untuk berjalan lurus.
Setelah berbelok ke kiri dari persimpangan tadi, mobil yang membawa Irzal berhenti di sebuah gudang tua yang kosong. Mereka membawa Irzal yang masih tak sadarkan diri masuk ke dalam gudang. Di dalam gedung sudah ada empat orang yang berjaga, mereka langsung mendudukkan Irzal di atas kursi lalu mengikat tangan dan kakinya.
❤️❤️❤️
Irzal mulai tersadar, perlahan-lahan dia membuka matanya. Kepalanya masih sedikit pusing. Dia mencoba menggerakkan tangannya namun ikatan talinya cukup kuat. Irzal melihat ke sekeliling. Ada enam pria di ruangan ini, salah satunya sedang menelpon. Selesai menelpon pria itu mendatangi temannya.
“Bos bilang habisin aja, buang mayatnya ke laut.”
Irzal langsung menebak kalau orang yang akan dihabisi adalah dirinya. Dengan tubuh masih terikat di sebuah kursi kayu, dia mencoba berdiri dan dengan sekuat tenaga menghempaskan tubuhnya ke tembok. Setengah bagian kursi terlepas, Irzal menggerakkan tangannya keluar dari ikatan tali.
Keenam pria tersebut terkejut, mereka langsung menghampirinya. Setelah berhasil melepas ikatan tangannya, Irzal buru-buru melepaskan ikatan kakinya. Keenam pria itu telah sampai di hadapannya, mereka langsung mengeroyoknya. Dengan cepat Irzal mengelak dan menghajar mereka satu per satu. Dia mengambil kayu bekas kursi dan menggunakannya sebagai senjata kemudian memukul dua pria di sebelah kanannya dan menendang pria di depannya hingga jatuh menimpa tiga rekan di belakangnya. Saat mereka semua terjatuh, Irzal menggunakan kesempatan ini untuk kabur.
Agung memutar balik mobilnya kembali ke persimpangan, kemudian berbelok ke arah kanan. Dia menyusuri jalan yang sepi dan gelap. Terlihat sebuah bangunan tak jauh di depan sana. Agung mengarahkan mobilnya ke sana.
Irzal berlari keluar gudang, keenam pria itu masih mengejarnya. Salah seorang berhasil mengejarnya dan menariknya dari belakang. Irzal terjatuh, pria itu langsung menghajarnya. Saat akan menghajar lagi, Irzal mengelak dan balas memukul. Dia kembali berlari menjauh, lalu datang pria lain sambil membawa kayu, dan langsung memukul punggungnya dengan keras. Irzal kembali terjatuh.
Di saat yang bersamaan Agung sampai di tempat. Dia dan Della langsung keluar dari mobil. Della menjerit melihat Irzal terjatuh setelah dihantam kayu. Agung mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke udara. Melihat kedatangannya, keenam pria itu langsung kabur. Della segera berlari menghampiri Irzal yang tak sadarkan diri.
“Irzal,” panggil Della.
Agung datang membantu, betapa terkejutnya dia melihat Irzal yang tergeletak tak sadarkan diri. Dia segera memapah Irzal masuk ke dalam mobil. Setelah itu dengan cepat membawanya ke rumah sakit.
❤️❤️❤️
Sementara itu di rumah sakit, Poppy berjalan mondar-mandir di depan kamar. Perasaannya tidak enak, berkali-kali dia mencoba menelpon Irzal tapi terhubung pada kotak suara. Dimas keluar kamar dan memanggil Poppy.
“Kak.. mama kak.”
Poppy segera masuk ke dalam, kondisi mama semakin kritis. Poppy menghampiri mama, ummi dan Rena yang sedari tadi terus berada di samping mama Dewi.
“Ma, mama harus kuat ya,” Poppy memegang tangan mama. Detak jantung mama semakin melemah, dengan sisa-sisa kekuatannya dia memanggil ummi.
“Ceu,” Ummi mendekat.
“Aku titip Poppy dan Dimas. Tolong jaga mereka.”
“Iya, In Sya Allah aku juga Irzal akan menjaga mereka.”
Ummi memegang tangan mama Dewi erat, airmatanya jatuh membasahi pipi. Dokter Ibrahim masuk dengan beberapa suster, memeriksa Dewi. Poppy mulai menangis, ummi merangkul Poppy. Kondisi Dewi semakin melemah, perlahan angka di monitor turun dan terus menurun, hingga akhirnya detak jantungnya berhenti untuk selamanya.
“Mama..!” teriak Poppy dan Dimas. Mereka berlari menuju Dewi dan memeluknya, seketika tangis mereka pecah.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” ucap ummi lirih, Rena pun tak dapat menahan tangisnya.
“Waktu kematian pukul 00.38 menit,” ucap dokter Ibrahim pelan.
Poppy duduk terdiam, Rena dengan setia menemani. Ummi tampak berbicara dengan dokter Ibrahim, dia bermaksud membawa pulang jenazah Dewi malam ini juga. Tak lama datang seorang perawat yang bertugas mengurus administrasi. Dia mengajak ummi untuk membereskan persyaratan administratif. Sebelum pergi ummi meminta Dimas untuk memanggil pak Anton yang berada di ruang tunggu lantai dasar. Dimas pun segera turun.
Sesampainya di bawah Dimas langsung menemui pak Anton. Saat akan pergi dia melihat Agung memasuki IGD. Dimas meminta pak Anton naik lebih dulu, dia lalu menuju IGD hendak menemui Agung. Dimas menengok kanan dan kiri mencari lelaki itu. Sosoknya terlihat di dekat ranjang paling ujung, Dimas menghampiri. Saat akan menyapa, dia terkejut melihat Irzal sedang duduk di atas ranjang.
“Zal kamu mau kemana, lebih baik istirahat dulu.”
“Ngga bang, aku mau lihat mama. Perasaanku ngga enak,” Irzal hendak bangun tapi Agung menahannya.
“Kamu istirahat aja dulu, nanti biar aku yang cek kondisi mama. Lagi pula bagaimana kamu menjelaskan keadaan kamu yang seperti ini? Oh iya kamu tahu siapa orang yang sudah menculik kamu?”
“Aku ngga tau mas.”
“Sepertinya ini ada hubungannya dengan korban kecelakaan yang kamu tolong. Kamu tahu siapa korban itu?” Irzal hanya menggeleng.
“Dia anak bungsu Willy Irawan, pemilik grup Golden Chains. Mereka baru saja tiba, dan anehnya mereka mau polisi menutup kasus kecelakaan ini. Mereka bahkan memblokir media. Ada yang aneh dengan kecelakaan ini, bisa jadi kecelakaan tadi adalah unsur kesengajaan.”
“Bisa jadi mas, tadi aku dengar mereka bilang mau habisin aku dan buang mayatku ke laut.”
Dimas tercekat mendengar percakapan kedua orang itu. Dia hanya berdiri mematung, wajahnya memucat.
“Lebih baik kamu berhati-hati, mereka bukan orang sembarangan. Kamu jangan melakukan apapun sampai aku selesai menyelidikinya.”
Dimas berjalan menjauhi ranjang Irzal. Mendengar apa yang dialami kakak iparnya itu, rasanya dia tak sanggup memberitahukan tentang mama.
❤️❤️❤️
**Hai readers setia, author balik lagi nih. Della keterlaluan banget ya. Orang lagi kena musibah malah diambil kesempatan. Oops kenapa jadi ikutan esmosi jiwa nih🤭
Kira-kira usaha Della misahin Irzal dan Poppy berhasil ngga ya? Tunggu di bab selanjutnya ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment dan vote.
Terima kasih sebanyak-banyaknya buat pembaca setia CLBK Couples. Love you all mmmuaaachh😘😘😘**