OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Surat lama itu ternyata jauh lebih sulit dipahami daripada yang Nadira bayangkan.
Bukan karena bahasanya rumit, melainkan karena terlalu banyak bagian yang terasa sengaja dibuat samar.
Ada nomor referensi, keterangan mengenai bantuan medis, dan beberapa tanda tangan yang tintanya mulai memudar. Pada halaman terakhir, tercantum kode AP-17 serta sebuah kalimat pendek yang membuat Nadira berhenti membaca.
Salinan pemberitahuan kepada pihak penerima telah disiapkan sesuai prosedur.
Pihak penerima.
Nadira mengulang frasa itu dalam hati.
Siapa yang dimaksud? Ibunya? Rumah sakit? Atau seseorang yang mengurus bantuan tersebut atas nama yayasan?
Ia membalik surat itu, berharap menemukan catatan tambahan. Tidak ada apa-apa selain bekas lipatan dan noda kecokelatan di sudut kertas.
Ponselnya tergeletak di samping laptop. Pesan anonim semalam masih terbuka.
Karena kebenaran tidak selalu membuat hidupmu lebih baik.
Nadira mendengus pelan.
“Kalau memang ingin membuatku berhenti, setidaknya gunakan alasan yang lebih meyakinkan.”
Ia mengambil foto setiap halaman surat, kemudian menyimpannya dalam folder khusus. Setelah itu, ia mengirim pesan kepada Ratna Wibisono, direktur program Yayasan Adhitama Peduli, untuk meminta penjelasan mengenai prosedur akses arsip AP-17.
Ia tidak meminta data pribadi yang bukan haknya. Ia hanya ingin mengetahui bagaimana surat tersebut terhubung dengan program bantuan medis yang pernah menyelamatkan ibunya.
Balasan Ratna datang beberapa menit kemudian.
Saya akan memeriksa kode tersebut melalui arsip resmi. Untuk dokumen yang berkaitan dengan penerima bantuan, kami tetap membutuhkan persetujuan dan verifikasi yang sesuai. Saya akan menghubungi Anda setelah ada perkembangan.
Nadira membaca pesan itu dua kali.
Setidaknya, seseorang bersedia membantunya melalui jalur yang benar.
Ia membalas dengan ucapan terima kasih, lalu menutup laptop.
Penyelidikan ini tidak akan selesai hanya dengan menatap selembar surat.
Dan ia tidak berniat membiarkan orang asing menentukan kapan ia harus berhenti mencari.
Di kantor Adhitama Global, Raka sedang berusaha memahami mengapa ayahnya menganggap semua percakapan sebagai rapat yang belum selesai.
“Program yayasan bukan sekadar kegiatan sosial,” kata Adrian sambil menunjuk laporan di meja. “Setiap keputusan harus bisa dipertanggungjawabkan.”
Raka mengangguk.
Ia sudah membaca laporan anggaran, prosedur persetujuan, dan ringkasan program bantuan medis. Semuanya tampak wajar, setidaknya di permukaan.
“Kalau begitu, kenapa beberapa arsip lama tidak tercantum dalam laporan tahunan?” tanyanya.
“Karena laporan tahunan hanya memuat ringkasan program. Dokumen individual disimpan secara terpisah demi kerahasiaan penerima bantuan.”
“Dan siapa yang berwenang mengaksesnya?”
“Pengelola yayasan, bagian kepatuhan, serta pihak yang memiliki dasar permintaan sesuai prosedur.”
Raka menatap ayahnya.
“Apakah ada sesuatu dalam arsip lama yang perlu kita khawatirkan?”
Adrian tidak segera menjawab.
Jeda itu singkat, tetapi cukup untuk menarik perhatian Raka.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Karena Ayah meminta aku meninjau laporan lima tahun lalu. Aku ingin tahu apakah ada persoalan yang belum diselesaikan.”
Adrian menyandarkan punggung ke kursi.
“Tidak semua hal dari masa lalu merupakan masalah. Kadang-kadang, kita hanya perlu memastikan bahwa keputusan lama masih bisa dipertanggungjawabkan.”
Jawaban itu terdengar masuk akal.
Namun, Raka mengenal ayahnya cukup baik untuk mengetahui bahwa Adrian jarang menghindari pertanyaan tanpa alasan.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan melanjutkan pemeriksaan.”
Adrian mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan ke rapat dewan berikutnya.
Raka mengikuti pembahasan itu, tetapi pikirannya tertinggal pada laporan lama.
Ada nama rumah sakit yang masih mengusiknya. Ia yakin pernah melihatnya di suatu tempat, tetapi belum bisa mengingat kapan.
Ia membuka kembali dokumen yang tadi dibacanya.
Nama itu masih tercetak di sana.
Untuk beberapa detik, ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hampir terjangkau oleh ingatannya.
Kemudian ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Nadira muncul di layar.
Nadira: Kamu sedang sibuk?
Raka segera membalas.
Raka: Tergantung. Apakah ini pertanyaan yang membutuhkan jawaban profesional atau pertanyaan yang akan membuatku mengerutkan kening?
Nadira: Aku belum memutuskan.
Raka: Kalau begitu, aku punya waktu.
Raka menunggu balasan berikutnya.
Ia tidak tahu bahwa Nadira sedang duduk di kamarnya, memandangi surat lama yang mungkin menghubungkan mereka dengan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada perselisihan mereka sebelumnya.
Mereka akhirnya bertemu melalui panggilan video malam itu.
Nadira mengenakan kaus sederhana dan duduk di depan meja yang dipenuhi catatan. Raka masih mengenakan pakaian kerjanya, dengan lengan kemeja digulung hingga siku.
“Wajahmu seperti orang yang baru saja menemukan masalah baru,” kata Raka.
Nadira mengangkat alis.
“Wajahku memang begini.”
“Tidak. Biasanya kamu terlihat seperti orang yang sedang bersiap menemukan masalah baru.”
“Terima kasih atas analisis yang sangat mendalam.”
“Sama-sama.”
Nadira tersenyum kecil sebelum mengambil napas.
“Aku sedang menelusuri program bantuan medis dari Yayasan Adhitama Peduli.”
Ekspresi Raka berubah lebih serius.
“Program yang lima tahun lalu?”
Nadira mengangguk.
“Aku menemukan surat lama dengan kode AP-17. Aku sudah meminta yayasan memeriksa arsipnya secara resmi.”
Raka terdiam.
Ia tidak tahu apakah sebaiknya memberi tahu Nadira bahwa ia juga sedang meninjau dokumen yayasan atas permintaan ayahnya.
Ia tidak memiliki jawaban mengenai bantuan yang diterima Ratih. Bahkan, ia belum menemukan hubungan yang jelas antara dokumen yang diperiksanya dan keluarga Nadira.
Namun, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama: menyembunyikan sesuatu hanya karena takut percakapan akan menjadi sulit.
“Ayahku baru-baru ini meminta aku meninjau laporan lama yayasan,” katanya akhirnya. “Aku menemukan nama beberapa rumah sakit, tetapi belum mengetahui apakah ada kaitannya dengan yang sedang kamu cari.”
Nadira menatap layar dengan saksama.
“Kamu sedang memeriksa dokumen yang sama?”
“Sebagian dokumennya mungkin berkaitan. Aku belum bisa memastikan.”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?”
Raka menerima pertanyaan itu tanpa membela diri.
“Karena awalnya aku tidak tahu bahwa kamu sedang menyelidiki program tersebut. Setelah tahu, aku masih belum punya informasi yang bisa kuberikan.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi aku seharusnya memberitahumu bahwa aku sedang memeriksa arsip yayasan. Aku tidak mau kamu mengetahui sesuatu lagi dari orang lain.”
Nadira menunduk, memikirkan jawabannya.
Ia menghargai keterusterangan itu, meskipun tidak berarti semua keraguannya lenyap.
“Aku tidak memintamu mencari informasi rahasia untukku,” katanya. “Aku juga tidak ingin kamu melanggar prosedur hanya karena kita sedang mencoba memperbaiki hubungan.”
“Aku mengerti.”
“Kalau ada dokumen yang memang boleh dibagikan, kita bisa membicarakannya. Kalau tidak, aku akan tetap mengikuti jalur resmi.”
Raka mengangguk.
“Itu adil.”
Nadira menatapnya beberapa detik sebelum bertanya, “Kamu tidak keberatan aku terus menyelidiki keluargamu?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat hingga Nadira mengerutkan kening.
Raka tersenyum tipis.
“Aku mungkin akan merasa tidak nyaman kalau kamu menemukan sesuatu yang buruk tentang keluargaku. Tapi itu bukan alasan untuk menghentikanmu mencari fakta.”
Nadira terdiam.
Itu bukan jawaban yang sempurna. Justru karena terdengar jujur, jawaban itu terasa lebih berarti.
“Baik,” katanya pelan.
Raka melirik tumpukan kertas di belakangnya.
“Sudah makan malam?”
Nadira berkedip.
“Kita sedang membicarakan arsip yayasan.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak lupa makan.”
“Aku sudah makan.”
“Bagus.”
“Kamu?”
“Belum.”
Nadira menatapnya tidak percaya.
“Raka, kamu baru saja menasihatiku agar tidak lupa makan, sementara kamu sendiri belum makan?”
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku ahli dalam menerapkan nasihatku sendiri.”
“Setidaknya kamu menyadari masalahnya.”
Raka tertawa.
Nadira menggeleng, lalu menunjuk layar dengan telunjuknya.
“Makan dulu. Setelah itu baru kembali menjadi pewaris yang sibuk.”
“Baik, Bu Wartawan.”
“Dan jangan makan mi instan lagi.”
Raka terdiam.
“Bagaimana kamu tahu aku mau makan mi instan?”
“Karena kamu selalu memilih jalan pintas ketika tidak punya waktu.”
Raka menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil.
“Sepertinya kamu mulai mengenalku.”
Nadira hendak menjawab, tetapi kata-kata itu membuatnya berhenti.
Ya.
Mungkin ia memang mulai mengenal Raka.
Dan mungkin itulah yang membuat semua ini terasa semakin rumit.
Setelah panggilan berakhir, Nadira kembali memeriksa surat lama dari ibunya.
Di bagian bawah halaman terakhir, ia menemukan sebuah tulisan kecil yang sebelumnya terlewat karena tertutup lipatan kertas.
Tulisan itu tampak seperti catatan tangan seseorang.
Pemberitahuan belum diterima oleh pihak keluarga. Kirim ulang melalui alamat korespondensi yang tercatat.
Nadira mendekatkan surat ke lampu meja.
Jadi, pernah ada pemberitahuan yang seharusnya sampai kepada keluarganya.
Namun, apakah pemberitahuan itu berisi informasi mengenai sumber dana? Penjelasan tentang bantuan? Atau sekadar dokumen administratif biasa?
Ia belum tahu.
Nadira mengambil foto catatan tersebut dan menambahkannya ke folder penyelidikan.
Besok, ia akan meminta Ratna memeriksa apakah ada catatan pengiriman surat dalam arsip resmi.
Ia tidak akan menuduh siapa pun hanya berdasarkan satu kalimat.
Tetapi sekarang ia memiliki arah baru untuk ditelusuri.
Seseorang pernah berusaha mengirimkan informasi kepada keluarganya.
Dan karena alasan yang belum diketahui, informasi itu mungkin tidak pernah sampai.
Nadira menutup amplop, lalu menyimpannya kembali dengan hati-hati.
Di luar, Jakarta tetap sibuk seperti biasa, seolah tidak ada rahasia lama yang sedang perlahan-lahan muncul ke permukaan.
Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, Nadira merasa bahwa jawaban itu mungkin benar-benar bisa ditemukan.
Ia hanya belum tahu apakah dirinya siap menghadapi apa yang akan terungkap ketika semua bagian cerita akhirnya bertemu.