NovelToon NovelToon
TERTUKAR DI RS ELISABETH SEMARANG

TERTUKAR DI RS ELISABETH SEMARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Lensa Kamera

Keesokan paginya, suasana SMA Loyola terasa jauh lebih berat dari biasanya. Udara pagi yang biasanya segar tapi kali ini seolah diisi oleh ketegangan tak kasat mata yang merayap di setiap sudut koridor. Para murid berbisik-bisik dalam kelompok kecil, melirik ke arah Aurel dan Cristan yang berjalan berdampingan menuju gedung utama dengan langkah tegap.

Berita mengenai teror di loker Aurel kemarin tampaknya telah menyebar lewat desas-desus cepat antarkelas. Namun, alih-alih menciutkan nyali, kemarahan dingin di dalam diri Aurel justru bertransformasi menjadi strategi yang terukur. Semalam, ia tidak tidur hanya untuk meratapi nasib modul biologinya yang rusak; ia memanfaatkan salinan digital dari catatannya yang tersimpan di laptop untuk menyusun kembali materi kuis minggu depan, sekaligus memikirkan satu celah kecil yang mungkin dilewati oleh si pelaku.

"Kamu yakin tidak mau melaporkan ini langsung ke ruang BK, Aurel?" bisik Cristan saat mereka tiba di dekat loker lantai dua tempat kejadian perkara kemarin yang kini telah dibersihkan tanpa sisa.

Aurel menggeleng pelan, manik matanya menatap tajam ke arah sudut langit-langit koridor. "Melapor ke BK tanpa barang bukti yang kuat hanya akan membuat mereka berkelit, Cris. Clarissa dan antek-anteknya pintar bermain aman secara birokrasi. Kita butuh bukti telak yang tidak bisa mereka sangkal."

Cristan mengikuti arah pandangan Aurel, lalu tersenyum tipis. "Pikiran kita sejalan. Karena itulah aku tidak tinggal diam semalam."

Dari balik saku jaketnya, Cristan mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam dan menyerahkannya kepada Aurel.

"Apa ini?" tanya Aurel, menatap benda kecil itu dengan sebelah alis terangkat.

"Rekaman CCTV dari kamera pengawas di ujung koridor lantai dua dan area kantin," jawab Cristan dengan nada rendah namun penuh percaya diri. "Ayahku memang salah satu penyandang dana utama yayasan Loyola, tapi bukan berarti aku memanfaatkan status itu secara sembarangan. Hanya saja, meminta salinan rekaman keamanan pada pihak IT sekolah untuk alasan 'keamanan inventaris pribadi' bukanlah hal yang sulit bagiku."

Aurel menyambut flashdisk itu dengan debaran jantung yang sedikit meningkat. Ini adalah kunci pembuka gerbang perburuan senyap mereka.

Jam istirahat pertama berbunyi, menandakan saat yang tepat untuk melancarkan langkah kedua. Sesuai rencana, Cristan sengaja memancing perhatian publik dengan berdiri di dekat mading utama bersama beberapa anggota OSIS, seolah-olah sedang membahas persiapan pentas seni tahunan. Kehadiran Cristan di sana langsung menarik kerumunan kecil, termasuk beberapa pengikut setia Clarissa yang selalu ingin tahu perkembangan situasi.

Di sisi lain, di ruang multimedia yang sedang kosong, Aurel menancapkan flashdisk tersebut ke salah satu komputer jinjing. Jemari lentiknya bergerak cepat membuka file video berformat MP4 dari rekaman CCTV koridor kemarin pagi, tepat sebelum jam pelajaran dimulai waktu di mana suasana kelas masih sepi dan sangat memungkinkan bagi seseorang untuk menyelinap ke lokernya tanpa ketahuan.

Aurel mempercepat putaran video hingga pukul 06.45 WIB.

Layar monitor menampilkan suasana koridor yang lengang. Beberapa siswa berlalu-lalang, hingga sosok seorang gadis dengan gaya rambut dikuncir kuda dan ransel bermerk terkenal muncul dari arah tangga darurat.

Gadis itu berhenti tepat di depan deretan loker. Dengan gerakan cepat dan terlatih, ia mengeluarkan sebuah kunci cadangan atau kawat pengait lalu membuka pintu loker milik Aurel. Tak lama kemudian, ia memasukkan botol kecil cairan pembersih dan secarik kertas, menutupnya kembali, lalu bergegas pergi sambil menoleh ke kanan dan kiri seolah memastikan tidak ada saksi.

Meskipun kualitas video dari sudut atas tidak memperlihatkan wajah secara jernih, Aurel sangat mengenali jaket varsity berlogo klub basket putri dan postur tubuh itu.

Karina.

Sebelum Aurel sempat bernapas lega, pintu ruang multimedia mendadak terbuka dengan suara berderit pelan. Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah belakang.

"Aurel!"

Aurel menoleh dengan cepat. Di ambang pintu, berdiri Sinta teman sebangku Aurel yang dikenal pendiam namun cukup observan. Napas Sinta memburu seolah habis berlari menaiki tangga.

"Ada apa, Sinta?" tanya Aurel, menutup separuh layar laptopnya secara insting.

"Kamu... kamu harus lihat ini sekarang," ucap Sinta terbata-bata sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Aurel. "Tadi aku lewat ke ruang guru dan kantin... Anak-anak buah Clarissa sedang menyebar gosip baru. Mereka bilang... mereka bilang kalau catatan ekonomi yang hilang itu sebenarnya sengaja kamu buang sendiri demi mencari perhatian dan simpati seluruh sekolah!"

Aurel tertegun sejenak, lalu seringai tipis yang dingin terukir di bibirnya. Jadi ini serangan balasan mereka? Membalikkan keadaan dan memainkan opini publik sebelum bukti ini sempat disebarkan?

"Mereka benar-benar tidak punya lelah," gumam Aurel pelan, namun tatapannya menyiratkan api perlawanan yang semakin menyala terang.

Sinta menatap Aurel dengan cemas. "Terus kita harus bagaimana? Murid-murid lain mulai termakan isu itu karena mereka pikir tidak mungkin ada yang berani menyentuh loker pribadi di sekolah ini kecuali pemiliknya sendiri yang ceroboh."

Aurel berdiri dari kursi kayunya, mengambil flashdisk di meja, dan memasukkannya ke dalam saku rok seragamnya. Ia menepuk pundak Sinta pelan untuk menenangkan.

"Tenanglah, Sinta," ucap Aurel tenang namun tegas. "Biarkan mereka menikmati panggung sandiwara itu sebentar lagi. Karena sebentar lagi di aula utama, pentas yang sesungguhnya akan segera dimulai."

Sementara itu, di sudut kantin yang strategis, Karina dan dua orang temannya sedang menikmati tawa kemenangan kecil. Meja mereka dikelilingi oleh beberapa siswa lain yang mendengarkan cerita Karina dengan antusiasme yang dibuat-buat.

"Sumpah, muka anak udik itu tadi pagi pas nyari bukunya kelihatan konyol banget," ujar Karina dengan nada suara yang sengaja dibiarkan cukup keras agar didengar oleh meja-meja sekitarnya. Ia menyesap jus jeruknya dengan gaya angkuh. "Makanya, jangan sok jual mahal di sekolah ini. Mentang-mentang kemarin ditolong Cristan, dia pikir dia bisa jadi ratu baru menggantikan Clarissa. Padahal, aslinya cuma pencari perhatian murahan."

Beberapa siswa di sekitar meja itu mengangguk-angguk setuju, termakan oleh narasi busuk yang sengaja disebarkan oleh kelompok Karina. Mereka tidak tahu bahwa setiap kata yang diucapkan Karina saat itu sedang direkam dengan jernih oleh sebuah ponsel pintar yang disembunyikan di dalam saku kemeja milik salah satu teman sepemikiran Cristan yang berdiri tidak jauh dari bilik dispenser air.

"Bagaimana rencana kita selanjutnya, Kar?" tanya salah satu teman Karina penasaran. "Apakah kita perlu bikin aksi lanjutan biar dia benar-benar kapok dan pindah sekolah?"

Karina menyeringai licik. "Tunggu sampai jam istirahat kedua selesai. Nanti, di jam pelajaran olahraga, kita buat tasnya berantakan lagi saat dia di lapangan. Biar dia sadar diri bahwa Loyola bukan tempat untuk orang miskin sepertinya."

Namun, sebelum Karina sempat melanjutkan kalimat provokatifnya, suara dentang bel sekolah berbunyi nyaring menandakan berakhirnya jam istirahat pertama. Bersamaan dengan itu, suara pengeras suara dari pusat informasi sekolah mendadak aktif, mengeluarkan bunyi dengungan singkat sebelum suara berat seorang guru BP Pak Darmawan menggema ke seluruh penjuru ruangan, termasuk kantin, koridor, hingga ruang kelas.

“Kepada seluruh pengurus OSIS inti, serta siswi atas nama Karina kelas 12 IPS dan Aurel dari kelas yang sama, diminta untuk segera berkumpul di Ruang Aula Utama sekarang juga. Ada hal penting terkait ketertiban sekolah yang harus diselesaikan.”

Suasana kantin yang tadinya riuh mendadak senyap seketika. Karina yang tadinya duduk dengan penuh percaya diri langsung menghentikan gerakan tangannya. Senyum meremehkan di bibirnya membeku dalam hitungan detik.

"P-Pak Darmawan manggil kita ke aula?" bisik teman di sebelah Karina dengan wajah pucat pasi. "Kar... jangan-jangan... jangan-jangan mereka tahu soal..."

"Diam!" potong Karina cepat, mencoba menyembunyikan kepanikan yang tiba-tiba merayap di dadanya. Ia berdiri sambil merapikan rok seragamnya dengan tangan yang sedikit bergetar. "Jangan panik. Bisa jadi ini cuma rapat biasa soal pentas seni atau evaluasi ujian. Tidak mungkin ada yang tahu."

Meski berkata demikian, langkah kaki Karina terasa sangat berat ketika ia berjalan keluar dari kantin menuju gedung aula utama.

Di dalam aula utama yang luas dan beratap tinggi, tirai jendela sebagian besar ditutup, menciptakan suasana setengah temaram yang khidmat. Di bagian depan, di atas panggung kecil dekat podium utama, Pak Darmawan berdiri dengan ekspresi wajah yang tegas dan melipat tangan di dada. Di sisi kanannya, Cristan dan Aurel berdiri berdampingan. Aurel tampak begitu tenang dengan tatapan lurus yang menghunjam tajam, sementara Cristan memasang ekspresi dingin tanpa kompromi.

Beberapa guru bidang kesiswaan dan perwakilan pengurus OSIS juga tampak duduk di kursi barisan depan, menyaksikan dengan rasa penasaran.

Begitu Karina dan kedua temannya membuka pintu besar aula dan melangkah masuk, seluruh mata di ruangan itu langsung tertuju kepada mereka. Tekanan psikologis yang begitu besar seketika menghantam mental Karina.

"Karina, silakan maju ke depan," perintah Pak Darmawan dengan suara berat yang menggema di setiap sudut ruangan kosong tersebut.

Dengan langkah ragu-ragu dan napas yang mulai memburu, Karina berjalan mendekati panggung, berusaha memasang topeng setenang mungkin. "Ada apa ya, Pak? Kenapa saya dipanggil ke sini bersama Aurel?"

Pak Darmawan tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Aurel dan Cristan, lalu memberi isyarat dengan anggukan kepala.

Cristan melangkah maju mendekati proyektor digital yang terhubung dengan layar besar di belakang panggung. Ia menekan tombol play pada remot kecil di tangannya.

Dalam sekejap, layar lebar di aula menampilkan rekaman CCTV berdurasi jelas tanpa jeda: detik-detik di mana Karina menyelinap ke loker Aurel, membuka pintunya dengan kawat pengait, memasukkan botol cairan pembersih, dan meletakkan surat ancaman tersebut. Tidak hanya itu, di bagian akhir video, layar beralih menampilkan rekaman audio-visual dari kantin beberapa menit lalu, di mana suara Karina sendiri dengan jelas membanggakan tindakan pengrusakan tersebut serta menyebarkan fitnah bahwa Aurel sengaja membuang catatannya sendiri.

Aula utama mendadak sunyi senyap. Suara rekaman itu bergema begitu jelas, menghancurkan setiap kata sangkal yang sedari tadi disiapkan oleh Karina.

Wajah Karina seketika berubah pucat pasi, kehilangan seluruh warna kemerahan di pipinya. Bibirnya terbuka kecil, namun tidak ada satu pun suara yang keluar untuk membela diri. Kakinya terasa lemas seolah kehilangan seluruh tenaganya.

"Karina," suara Pak Darmawan memecah keheningan dengan nada penuh kekecewaan mendalam. "Kamu adalah siswi kelas 12 yang sebentar lagi akan lulus. Apa penjelasanmu tentang tindakan vandalisme, pencurian properti pribadi, dan fitnah terstruktur yang kamu lakukan di lingkungan sekolah ini?"

Karina menoleh panik ke arah teman-temannya di belakang, lalu menatap Aurel dengan sorot mata penuh kebencian yang tak lagi bisa ditutupi. Namun, di hadapan bukti digital yang tidak terbantahkan dan tatapan tajam Cristan Dewangga yang berdiri melindungi Aurel, Karina menyadari satu hal: permainan kotor yang ia bangun bersama bayangan Clarissa telah runtuh sepenuhnya dalam satu serangan telak.

1
Gabutz
kalau aku pengen cepet" ketauan bhwa Clarissa itu sebenarnya bukan anak orkay wkwk
Siti Gemini 75
Ok siap
Gabutz
lanjuttt thor, gak sabar nunggu kebenaran bahwa mereka ketukerr
Siti Gemini 75
Ok kak 👍
Siti Gemini 75
Ok siap
Gabutz
lanjuttt ceritanya bagusss...
kalau bisa double up
Putri Sajak
Semngat nulis kak💪, yok singgah di karya aku komen komen n like kk🤭
ANGGA
🗿
ANGGA
kapan update lagi
Siti Gemini 75: ini udah aplod lagi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!