Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Hari terus berganti Andrew dan Sean sama-sama fokus dengan pekerjaan mereka. Sementara Carol juga terlihat sangat tenang berada di rumah mamanya.
Hari ini kesepakatan kerjasama antara perusahaan Andrew dan perusahaan Rose akan segera ditandatangani. Selama mereka ada di sana Andrew juga menepati janjinya dia mengajari Rose banyak hal tentang mengurus perusahaan, tentu saja dia juga dikawal oleh Sean yang memang sama-sama sudah mengenal Rose sejak kecil.
Jadi tidak ada sedikitpun ruang untuk Rose ataupun Gerald untuk mendekat-dekatkan Rose pada Andrew. Semuanya dihandle dengan baik oleh Sean.
Di atas meja panjang di perusahaan milik Gerald ini, beberapa orang-orang penting sudah duduk di tempatnya masing-masing mereka akan menyaksikan penyerahan berkas dan tanda tangan dari kedua belah pihak.
Dua orang penting, yaitu Rose dan Andrew mulai membubuhkan tanda tangannya pada kertas putih yang sudah terisi kalimat-kalimat penting itu. Dan sekarang perusahaan Rose sudah resmi dan akan mengalirkan sebagian dananya kepada perusahaan Andrew.
Semua orang bertepuk tangan dan Andrew tersenyum senang. Semua perjuangannya selama ini bagaimana dia menahan diri selama berhari-hari tanpa Carol di sisinya membuahkan hasil yang sangat baik.
Sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Carol, Andrew dibantu oleh Sean bisa menyelesaikan semuanya.
"Terima kasih, Andrew." ucap Rose sebelum pria itu pamit pergi.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, perusahaanmu sudah memberi kepercayaan yang sangat besar kepada perusahaanku."
"Itu semua karena kau pantas mendapatkannya. Aku harap kerja sama kita selalu berjalan baik."
"Tentu saja."
"Dan kau Sean, aku juga sangat berterima kasih. Selama disini kalian berdua sudah membimbingku dengan baik."
"Sama-sama." balas Sean, "Sampai jumpa dua minggu lagi di acara ulang tahun perusahaan."
"Oh, jadi aku harus datang?"
"Tentu saja, kamu adalah investor baru kami."
Rose tersenyum mendengarnya, "Baiklah, aku tunggu undangannya."
"Aku yang akan mengirimnya untukmu." balas Sean bersemangat.
"Oke. Oh iya, sampaikan juga salamku pada Carol. Aku belum banyak mengobrol dengannya."
"Akan aku sampaikan." lagi-lagi Sean menyambar.
Andrew tersenyum tipis melihatnya, sepertinya Sean memang ada niat terselubung. Biarlah, duda tua itu melancarkan aksinya.
Rose mengantar mereka sampai ke lobi, saat mobil yang ditumpangi kedua teman masa kecilnya itu pergi dia langsung kembali ke dalam.
Ketika sampai di hotel mereka langsungmasuk ke kamar masing-masing untuk berkemas.
Rencananya malam ini juga kedua pria itu akan segera pulang ke kotanya. Dan besok pagi Andrew akan langsung menyusul Carol ke rumah mantan mertuanya. Dia akan meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan membujuk Carol untuk pulang bersamanya.
Meskipun sepertinya akan sulit karena tempatnya yang tidak memungkinkan, tapi dia akan berjuang demi cintanya.
Keduanya pulang menggunakan helikopter pribadi milik Andrew.
"Good luck, bro!" ucap Sean sebelum mereka berpisah di bandara.
"Thank you!"
Merekapun masuk ke dalam mobil masing-masing dan kali ini Andrew meminta sopir untuk mengantarnya ke apartemen yang ditempati Carol. Dia akan menginap disana untuk malam ini.
Setelah memasukan password ke smart lock, pintu itu akhirnya terbuka. Dia melangkah masuk ke dalam.
Dihirupnya aroma penyejuk ruangan kesukaan Carol, sangat menenangkan hati. Andrew juga membuka pintu kamar Carol dan berdiri di ambang pintu, hanya berdiri, sambil menghirup aroma khas Carol yang memenuhi ruangan ini, sungguh dia sangat-sangat merindukan gadisnya.
Setelah puas, dia kembali menutup pintunya. Dia tidak akan tidur di dalam, dia akan tidur di sofa saja.